Senin, 05 Juli 2010

Chapter 8: Chosen (part 2)

“HA, kau lihat itu?!”

Tiffany dan Celiann terbahak melihat layar netbook. Lebih tepatnya, mereka terbahak melihat objek pada layar tersebut yang ditunjuk Zach. Seorang bodyguard baru saja berputar terhunyung layaknya orang mabuk di tepi danau, dan saat itu juga, seorang bodyguard yang meleng berlari menabraknya, sehingga kedua bodyguard itu sukses jatuh ke dalam danau dan tenggelam.

“Lihat—bahkan mereka tak punya kekuatan untuk setidaknya mengangkat tangan dan meminta tolong!” Tiffany menyeka air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

“Dan tak ada satupun yang menyadari tenggelamnya mereka—oh, kasihan sekali!” tawa Celiann.

Ya, sedari tadi, mereka terus menertawakan tingkah laku konyol para bodyguard yang sudah kelelahan dan tak sanggup berlari lagi—apalagi dihadang oleh hujan yang terus turun. Tiffany mengendalikan CCTV yang berada paling dekat dengan danau, sehingga mereka bertiga dapat melihat pemandangan yang menjadi bahan tertawaan itu.

Di tengah-tengah tawanya, sudut mata Tiffany dapat melihat ada sesuatu pada taskbar-nya. Tulisan.

Tiffany Sherrine (tiffsher@mail.co.uk)
Inbox: 103
Spam: 8 (1)

Ia lupa ada WiBro yang tampaknya berasal dari dalam mansion, sehingga ia bisa mengakses internet. Tulisan di taskbar itu rupanya adalah status dari alamat e-mail miliknya. Ia mengernyit melihat angka satu yang terkurung di sebelah angka delapan. Ada surat yang belum terbaca. Surat itu memang terletak di spam. Tetapi kadang server e-mail-nya suka menaruh e-mail penting ke folder spam.

Maka ia menggerakkan cursornya membuka folder spam, dan dahinya makin mengerut begitu melihat pengirim surat tersebut.

From: Fey Hartwell (fey_hartwell@mail.co.uk)
Subject: (No subject)

“Fey mengirim e-mail?” gumam Tiffany pelan, sampai Zach dan Celiann—yang sibuk mengobrol di belakang tentang para bodyguard bodoh itu—tidak mendengarnya. Ia membuka e-mail tersebut dan dapat melihat sebaris pesan dari Fey.

Kurasa ini dapat membantumu. Kutemukan dari sebuah buku yang kubaca.

Tiffany melirik ke bawah pesan itu. Matanya agak membulat membaca judul artikel tersebut.

“Pedang Api Abadi...?”

Ia pun mulai membaca artikel yang diberikan oleh Fey tersebut.

Pedang Api Abadi
Pedang Api Abadi ialah pedang yang dimiliki oleh Siegfried Acklesenn, seorang pria asal Irlandia yang berhasil menghentikan Leonas dan Hujan Kenelzh yang dibuatnya. Sekarang, pedang ini tak diketahui keberadaannya, meskipun banyak yang mengatakan bahwa pedang ini bersemayam bersama jenazah Siegfried pada makamnya—yang juga tak diketahui keberadaannya.

Paragraf itu memang biasa saja. Bagi Tiffany, paragraf berikutnya adalah paragraf yang mengguncang pikirannya.

Menurut cerita yang beredar, pedang ini memiliki koneksi dengan pemiliknya—dalam kasus ini adalah Siegfried Acklesenn. Pedang ini tak bisa digunakan oleh sembarang orang. Pedang itu sendiri yang akan menentukan siapakah yang pantas menggunakan pedang itu.Orang itu haruslah orang yang kuat dan tidak memiliki rasa takut.

Ia makin tercengang begitu melihat kalimat terakhir dari paragraf kedua itu.

Jika orang yang tidak pantas memegang pedang ini, maka konon katanya pedang itu akan menghantarkan panas yang membuat darah mendidih.

Matanya terpaku pada kalimat itu. Mulutnya mengaga lebar karena kaget. Oh, tidak, oh tidak...

“Kita harus segera menyusul mereka!” Tiffany tahu-tahu bangkit dan berlari, membuat Celiann serta Zach kaget bercampur panik. Mereka segera mengejar Tiffany yang sudah tergopoh-gopoh memasuki mansion Acklesenn.

“Hei, hei! Tunggu—ini payungnya!!” Dan bahkan seruan Zach itu tak digubris oleh Tiffany.

***

“Apa...ini...?”

Stephen, Ann, dan Vincent masih tercengang dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Di ujung ruangan itu, sebuah rangka yang sudah berwarna cokelat dan mengenakan baju zirah bersandar di dinding. Berbagai hewan antropoda sudah mengerubunginya—jelas membuat Ann jijik. Namun kemudian, mata mereka bertiga terpusat pada benda yang tertancap di tanah, berada di samping jasad tersebut.

“Pedang...Api...Abadi...” bisik Vincent. “Tak salah lagi. Ini adalah makam Siegfried Acklesenn.”

“Jadi maksudmu jasad di sana adalah Siegfried?” tanya Ann. “Jelas sekali dia tidak mendapat perawatan tubuh sebelum mati. Aku bisa membuat makalah sejarah tentang tidak adanya keberadaan salon dan alat kecantikan pada abad 14.”

Stephen menatap Pedang, kemudian jasad Siegfried, kemudian Pedang, Siegfried, Pedang, dan akhirnya ia terfokus pada pedang tersebut. Dengan mantap, ia pun mengambil satu langkah.

“Tunggu.” Tapi bahkan tepat pada saat telapak kakinya akan berpijak untuk membuat langkah pertama, kembali Vincent mencegah. “Menurutmu kita harus langsung mengambil pedang tersebut? Bukankah baiknya kita menunggu Tiff?”

Stephen mengernyit. “Untuk apa?”

“Aku setuju dengan Vincent,” ujar Ann. “Lebih baik kita menunggu Tiff—dia lebih paham soal pedang ini. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika pedang ini kita ambil tanpa izin.”

“Ck, ayolah!” dengus Stephen. Kini ia sudah berada di samping pedang tersebut. “Dia sudah mati, Ann. Lagi, kita mengambil pedangnya untuk kebaikan.” Bersamaan dengan itu, Stephen mencabut pedang tersebut dari tanah dan mengacungkannya kepada Ann dan Vincent. Pedang itu sama sekali tak termakan oleh waktu; tak ada sedikit pun karat yang menodai pedang tersebut. Malahan, pedang itu tampak berkilau, membuat Stephen, Ann, dan juga Vincent tak berkutik di hadapannya.

DRRR!

Tapi kemudian, terasa guncangan pada ruangan itu, membuat beberapa kerikil dan debu jatuh dari langit-langit ruangan. Mereka bertiga saling melempar pandangan, dan tanpa saling mengucap sepatah kata pun dan tanpa berpikir panjang, mereka segera berlari menyusuri terowongan dan sampai di ujung. Menengadah ke atas, mereka melihat Renee dan Ruthven. Dan tanpa aba-aba, kedua orang itu berusaha menolong mereka bertiga untuk naik, sebelum akhirnya lubang itu tertutup kembali secara ajaib tanpa meninggalkan bekas apapun.

Mereka berlima menatap area yang tadinya merupakan lubang menuju makam Siegfried itu dengan tatapan heran dan kaget. Tapi tak lama kemudian, suara langkah dari belakang membuat mereka berbalik. Dan dari jarak lima belas meter, mereka dapat melihat Tiffany, Zach, dan Celiann sedang berusaha mendekati mereka.

“Tunggu! Jangan dia—astaga....” Seruan Tiffany itu kemudian berubah menjadi sebuah bisikan begitu ia telah mendekat. Ia menatap pedang yang dipegang Stephen dengan tatapan tak percaya. Berkali-kali bibirnya berkontur membentuk kata “astaga” yang sama sekali tak terbaca maupun terdengar oleh kawan-kawannya.

“Ya, Tiff.” Renee tersenyum lebar, mengira bahwa Tifany kaget dan senang melihat pedang yang dipegang Stephen. Ia mengambil satu langkah ke depan, sehingga kini jaraknya tinggal sepuluh sentimeter.

“Kita telah mendapatkannya,” ucap Renee sembari berbalik kepada Stephen yang ada di belakangnya. “Pedang Api Abadi.” Renee mengulurkan tangannya. Dengan itu, Stephen tahu bahwa Renee ingin mengambil pedang tersebut. Maka ia pun menyodorkannya kepada Renee. Segera Tiffany sadar.

“Jangan!”

Ctak!

Terlambat.

Ting!

“AWW!” Renee cepat-cepat mengibaskan tangannya, membuat pedang itu jatuh ke tanah berumput yang basah itu. Ia menatap Stephen dengan tatapan tak percaya sekaligus kesal.

“Sialan! Kau mencoba untuk membunuhku, ya?!” tanya Renee marah besar, kini memegangi telapak tangannya. “Tadi itu panas, tahu?!”

“Apa?! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa!” Stephen mencoba membela diri. Masih menatap Renee dengan sebal, ia berjongkok dan mengambil pedang itu kembali.

“Tidak bisa sembarang orang yang memegang pedang tersebut.” Begitu Stephen menggenggam pedang tersebut, suara Tiffany terdengar di telinganya. Ia bangkit dan menatap Tiffany seperti yang kawan-kawannya lakukan sekarang.

“Hanya orang-orang terpilih lah yang dapat memegang dan memiliki pedang tersebut. Orang yang tidak kenal akan rasa takut,” terang Tiffany perlahan-lahan. “Jika pedang itu dimiliki—tidak, bahkan disentuh oleh orang yang tidak terpilih, maka pedang itu bisa menghantarkan panas yang mematikan.”

Dengan berakhirnya penjelasan itu, maka tak pelak, semuanya menegakkan kepala dan menolehkannya kepada satu titik. Titik yang sebenarnya adalah orang yang berdiri di tengah-tengah mereka dan menggenggam pedang pada tangannya.

“A-apa...?”

“Stephen Wickliff,” ucap Tiffany. “Kini kau adalah pemilik dari Pedang Api Abadi itu.”

Jumat, 02 Juli 2010

Chapter 5-Move, Fight, Get Back

Elsenn membuka matanya dari tidur nyenyaknya sejak seminggu yang lalu ia tidak bisa tidur sedikitpun karena menahan sakit. Sakit di kakinya akibat terjatuh saat pertandingan lari estafet itu. Untungnya, gara-gara ia terjatuh, kemenangan kelasnya tidak terlepas. Pada akhirnya kelasnya menang. Ia harus berterimakasih pada Dillon dan Ruthven, yang berlari setelahnya, tentunya pada Celiann juga karena gadis itu telah menolongnya.

          Boleh dibilang, ia jatuh tanpa sebab yang jelas karena sejak awal pertandingan ia merasa kakinya sakit namun tidak ada luka. Karena sakit itu pula, ia merasa kesal dan akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya saat berlari. Namun semakin banyak kakinya digerakkan, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sejak ia menabrak seorang perempuan yang tak lain adalah lawannya saat itu, ia mulai merasakan sakit di kakinya. Ya, sejak bertemu dia. Elsenn bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mengamati sesaat kakinya yang mulai berwarna kebiruan. Ia tak mengerti mengapa. Ia pun cengan cepat memakai seragamnya, meraih tas dan laptopnya kemudian keluar dari kamarnya, berjalan menuju gedung sekolahnya.

          “Pagi, Elsenn!” sebuah suara menyadarkannya dari lamunannya. Sosok Dhynella sudah muncul tepat di samping Elsenn, tersenyum ceria seperti biasanya. Elsenn hanya bisa memberinya senyum palsu.

          “Bagaimana kondisi kakimu?“ ujar Dhynella lagi.

          “Sudah lebih baik dari seminggu lalu, Dhyn,” balas Elsenn berbohong.

          “Oh, ya? Baguslah kalau begitu. Membosankan sekali kalau bukan kau yang biasanya.” Dhynella tersenyum lagi pada Elsenn, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

          Thanks,” hanya kata itu yang mampu Elsenn ucapkan dari mulutnya. Dhynella menepuk punggungnya friendly kemudian berlari ke arah Adelaide yang baru saja melambaikan tangannya pada keduanya.

          Elsenn menghela nafas. Dhynella bukanlah orang pertama yang ia bohongi. Ia menahan sakit setiap harinya dan itu jelas sangat berat untuknya. Ia tidak mengerti. Ya, hanya tidak mengerti. Tapi apakah ketidakmengertiannya itu malah membawanya kepada kemungkinan hal yang buruk lagi? Elsenn selalu mengatakan pada dirinya sendiri, berulang-ulang kali. Ia bahkan tidak bisa menceritakannya pada Reo, sahabatnya yang paling ia percaya, juga Erissa, saudaranya sendiri. Tapi ia tahu, kali ini ia pasti dapat melakukan segalanya sendiri. Ya, ia akan meminta penjelasan perempuan yang telah menabraknya sebelum pertandingan itu. Ia tahu betul ini pasti ada kaitannya dengannya. Michelle Northan, si bungsu dari salah satu keluarga mafia terbesar di dunia.

 

***

 

Perpustakaan Phoenix of Kronosa. Sepulang sekolah.

          “Rin? Kau baik-baik saja?” tanya Reo khawatir saat melihat perubahan muka sahabatnya itu saat menatap sebuah pedang kecil di tangannya, yang terbuat dari perak itu. Lagipula ia juga tak mengerti bagaimana bisa dia membawa benda seperti itu, tanpa perasaan khawatir jika ada saja guru yang melihatnya.

          “Tidak,” balas Ruine dengan penuh kejujuran. Ia memandangi pedang di depannya beberapa detik lagi kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Reo dan berkata, “kenapa kau melihatku seperti itu?”

          “Ah… aku tidak habis pikir kenapa kau sampai serius melayani setiap kata-kata dan permainan Nellson. A-aku tidak tahu mengapa dia melakukan ini dan siapa dia sebenarnya, tapi ini yang paling aku takutkan dari dulu. Kalau kau sudah terlibat dengannya, kau tidak bisa kembali lagi.”

          “Aku tidak bodoh, Reo. Aku tahu semuanya. Aku selalu tahu semuanya tentang kalian.”

 

Kelas IX-6. Pada saat yang sama.

          “Jadi… kau belum menemukan kaset rekamannya?” tanya Adelaide untuk ketiga kalinya. Ia tidak yakin pada apa yang ia dengar dari Irish, bahwa kaset rekaman dari handycamnya hilang dan tidak dapat ditemukan. Dan Irish, untuk ketiga kalinya menggeleng.

          “Ada, lagipula itu hanya kaset rekaman, kan. Yang penting handycammu tidak hilang. Apa ada sesuatu yang sebelumnya telah kau rekam disana?”

          “Irish, kaset rekaman itu lebih penting dari rekaman-rekaman yang sebelumnya. Ehm, begini Irish Aldaine, kau tentu dapat melihat dengan jelas Elsenn jatuh saat pertandingan itu, kan? Aku mulai merasakan ada hal yang tidak wajar dengannya mengingat Elsenn tidak mudah kehilangan energinya seperti itu KECUALI dia telah mengalami sesuatu sebelumnya. Dan kau ingat, sebelum mereka ada di stadion, secara otomatis mereka pasti ada di ruang tunggu dan handycamku adalah satu-satunya alat yang merekam seluruh kejadian di bagian lorongnya. Jadi, dengan kata lain, aku yakin ini pasti ada kaitannya dengan hilangnya kaset rekamanku yang terakhir!”

          “Adelaide Holywell! Hentikan permainan detektif-detektifanmu itu! Memangnya para senior mau melakukan apa pada Elsenn?”

          “Sesuatu yang berbahaya, jelas!” Ada berteriak lebih keras. Mukanya memerah setiap detik ia menarik nafas dan berusaha agar suaranya lebih keras daripada Irish.

          “Kubilang hentikan analisa asal-asalanmu itu!”

          “Aku tidak-

          “Hentikan,” ujar Stephen pelan, seraya memasuki kelas dan menatap Irish dan Ada, satu per satu. Meneliti raut muka mereka. Kemudian dia menarik lengan Ada, memaksanya agar dia mau mengikutinya keluar kelas.

          “Apa… Stephen?”

          “Benarkah apa yang kau katakan tadi?” tanya balik Stephen.

          “Apa…?”

          “Benarkah… Elsenn dalam bahaya?” suara Stephen memelan, seolah-olah ia takut akan kenyataan yang akan diberikan Ada.

          “Ya, mungkin benar apa kata Irish kalau aku hanya menganalisa asal-asalan, tapi dugaanku tidak pernah salah.”

          “Terus cari kaset rekaman itu. Aku akan membuat Elsenn bicara.”

 

***   

 

          “Astaga, Elsenn. Ada apa denganmu?!” tanya Stephen panik saat melihat lebam-lebam di wajah Elsenn. Begitu juga dengan kedua tangannya, bahkan terdapat goresan-goresan layaknya telah dikenai benda tajam. Kemeja putihnya bernodakan darah, entah darahnya atau darah orang lain. Dan saat melihat kakinya, ia menatap tak percaya bahwa ada darah yang sedikit demi sedikit terus mengalir. Pandangannya sayu, mukanya sangat pucat, dan ia terlihat lemas sekali.

          Stephen segera meraih tangannya dan memapah Elsenn masuk ke dalam kamarnya. Dibantunya Elsenn agar ia dapat berbaring di tempat tidur. Ia pun meraih jaketnya dan berniat untuk keluar asrama, mencari pertolongan. Tapi Elsenn menarik tangannya, dan mengatakan satu kalimat di sisa-sisa kesadarannya,

          “Reo… kau hanya boleh… memanggil Reo.”

Chapter 4-Lose or Die

Pelajaran olahraga hari ini sungguh membosankan karena Mr. Haphfurd, entah kenapa sejak tadi tak bosan-bosannya membolak-balik daftar nilai kelas mereka. Dan pandangannya, serius sekali sampai Miles saja tak berani menegurnya. Guru yang masih berumur 19 tahun itu melakukannya seraya mengunyah satu potong sandwich di mulutnya. Sesekali telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, mengenyahkan keheningan. Sampai akhirnya, dia menghentikan semua aktivitasnya dan menatap lurus ke depan, menatap seluruh muridnya. Kontan semuanya menegakkan tubuhnya. Dan akhirnya dia berbicara.

          “Celiann, Dillon, Elsenn, dan Ruthven. Kalian berempat akan mewakili kelas ini untuk mengikuti lomba lari estafet. Sepulang sekolah nanti kita akan mulai berlatih di lapangan atletik Phoenix of Kronosa. Dan untuk sementara ini, tidak ada olahraga dulu.”

          Dillon bersorak. Elsenn yang tadinya menopangkan kepalanya di kedua tangannya, menatap Mr. Haphfurd tidak berminat. Ruthven menatap guru itu tidak percaya, mengingat larinya tidak tergolong sangat cepat. Celiann memiliki pandangan yang persis seperti Ruthven. Setidaknya itu memberikan alasan bagi Mr. Haphfurd untuk mempertimbangkan sekali lagi keputusannya. Namun ia berjalan keluar kelas begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun. Celiann merengut kesal.

          “Celiann sukses ya!” seru Shann tidak memperdulikan apa yang Celiann rasakan saat ini. Satu, ia satu tim dengan dua orang laki-laki yang dibencinya, Dillon dan Elsenn. Ia tak masalah akan kehadiran Ruthven, tapi lain jika kedua orang pembawa masalah itu. Dua, waktunya untuk bermain dan beristirahat menjadi berkurang karena kemungkinan besar latihan akan diadakan setiap hari mengingat lomba akan berlangsung seminggu lagi. Tiga, ia tidak punya cukup waktu untuk berfikir mengenai permainan Nellson, padahal ia mungkin hanya orang satu-satunya yang memperdulikan akan hal itu sampai tidak sempat memikirkan hal lain. Beruntung hasil try out ketiga yang diadakan tidak lama setelah try out kedua lebih bagus tentunya.

          “Celiann, aku tidak peduli kau mau mati atau tidak, yang penting kau harus menang!” ujar Audrey yang tidak kalah tidak berperasaannya. Seluruh murid Deordical Academy dari berbagai tingkatan dan section, seluruhnya pasti tahu sebuah perlombaan sudah seperti deklarasi perang antara murid-murid senior dan murid-murid junior. Celiann menatap kedua sahabatnya dengan tatapan putus asa namun pada akhirnya ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa bersiap sepulang sekolah nanti.

 

          ***

 

Lapangan atletik Phoenix of Kronosa. 14.20 AM.

       Mr. Haphfurd melirik jam tangannya. Kemudian ia melayangkan pandangannya kembali ke arah keempat muridnya. Dillon, yang memang dikenal sebagai pelari tercepat di tingkat junior telah menyelesaikan lima putaran lapangan sebagai latihan hari ini sejak tiga menit yang lalu dan kini sedang beristirahat di pinggir lapangan. Sedangkan Ruthven, ia sudah menyelesaikan empat putaran tanpa berkata-kata karena ia tahu percuma saja ia melayangkan protes kepada Mr. Haphfurd.

          Mr. Haphfurd kemudian memandangi Elsenn dengan pandangan kesal. Ia baru saja berlari untuk putaran keempat dengan santai. Ia tak peduli Mr. Haphfurd mengamatinya dari jauh atau tidak, ia hanya berlari sesukanya. Celiann sendiri mulai terengah-engah saat menyelesaikan tiga putaran penuh apalagi Mr. Haphfurd memandanginya seolah-olah ia adalah anak yang tidak berguna.

          Mr. Haphfurd kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan atletik itu. Ia merasa ada yang mengamatinya, entah dari dekat atau dari jauh. Tubuhnya kemudian terpaku saat melihat seorang perempuan tiba-tiba ada di dekatnya. Perempuan itu tidak memperdulikan reaksinya, ia hanya mengamati dengan santai ketiga temannya yang masih ada di lapangan. Mr. Haphfurd hampir saja mau berbicara, namun perempuan itu terlebih dahulu berujar,

          “Siang, Mr. Haphfurd. Maaf mengganggu sesi latihanmu.” Ruine melirik ke arah guru itu seraya tersenyum miring. Mr. Haphfurd berusaha bersikap acuh tak acuh saat mendapat tanggapan santai dari perempuan itu.

          “Apa yang kau lakukan disini, Ruine Ashhford?” tanyanya dingin.

          “Melihat mereka latihan,” jawab Ruine polos.

          “Maksudku, mengapa kau hadir tiba-tiba di sampingku? Aku banyak mendengar reputasi tidak wajar tentangmu dari murid-muridku.”

          “Apa… anda juga masuk dalam permainan Nellson? Aku melihat kombinasi yang tidak bagus dalam pengelompokan mereka untuk lomba lari estafet. Tapi setelah kupikir lagi, pasti tidak akan ada jawaban, kan?”

          Mr. Haphfurd berusaha tidak menanggapinya. Namun kemudian ia menatap Ruine dengan pandangan kosong kemudian berkata,

          Silly. Kau selalu berpikiran buruk, ya.”

 

***

         

          Ruthven merenggangkan badannya selagi menunggu intruksi selanjutnya dari Mr. Haphfurd. Namun pandangan matanya tidak lepas dari Mr. Haphfurd yang menghabiskan waktunya sejak satu jam yang lalu berbicara di handphonenya. Mau tak mau ia penasaran siapa yang menghubungi Mr. Haphfurd sampai selama itu. Ia pun mengambil botol minumnya, dan menghabiskan setengah dari air mineral di dalamnya. Pandangannya kemudian terpaku pada Neff, yang baru saja memasuki lapangan atletik Phoenix of Kronosa, melambaikan tangannya pada dirinya kemudian berlari ke arahnya. Saat Neff di depannya pun Ruthven hanya kebingungan menatapnya.

          “Kau menyambutku seperti musuh saja. Padahal aku sudah merelakan waktu dan tenagaku untuk melihatmu berlatih disini,” ujar Neff.

          “Aku tidak butuh kau melihatku. Kau pasti ada perlu dengan Dillon, kan?”

          “Ya, mengingat ada penyaringan pemain untuk klub sepak bola, aku mau bertanya bagaimana detailnya. Tapi keadaanmu rasanya juga perlu dikhawatirkan.”

          “Apa?” Ruthven bertanya skeptis.

          “Kau tidak apa-apa sejauh ini? Pertandingannya dua hari lagi dan kami tidak akan memaafkanmu kalau kau kalah.”

          “Memangnya apa lagi yang dikatakan para senior itu?”

          “Aku tidak tahu pasti tapi sejak kejadian antara Chloe-Nellson-Arriley itu, rumor tentang skandal kepala sekolah kita diangkat kembali karena belum sempat diselesaikan. Jadi selain aku khawatir padamu, lebih tepatnya karena kemampuan larimu yang tidak sangat cepat, aku agak khawatir pada Celiann. Kecil kemungkinannya, kalau ia bilang ia tidak tahu masalah rumor itu.”

          “Oh ya? Tapi sejauh ini dia terlihat baik-baik saja. Dan tolong jangan mengejekku dengan frontal seperti itu.”

          “Ups, maaf, maaf. Lalu, kenapa aku merasa juga ada yang aneh dengan Mr. Haphfurd hari ini. Dia begitu menikmati waktunya melalui pembicaraan di teleponnya itu.” Ruthven mengangguk.

          “Ah, aku mengerti,” kata Neff lagi, “hanya satu orang yang dapat membuatnya berlama-lama di telepon. Nellson Authbert.” Satu-satunya orang yang paling mengerti semua hal di dunia ini.

 

Ruang Teknisi. Stadion utama Deordical Academy. 07.23 AM.

       “Irish! 25 kamera pengawas di tribun timur sudah siap, sedangkan di tribun barat, baru 23 kamera pengawas yang aktif,” ujar Allisha, salah satu panitia dari kelas 92. Sebuah kamera yang sejak awal dikalungkan di lehernya tidak juga dilepaskannya sejak dua jam yang lalu. Irish mengangguk kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke seratus dua puluh layar di depannya, memastikan tepat jam delapan nanti, semua kamera pengawas sudah menyala.

          “Ms. Aldaine! Kita kekurangan dua bangku di ruang VIP.” Kali ini salah satu junior yang memanggilnya. Irish, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar, menunjuk Allisha. Irish memutar matanya saat hampir seluruh kamera menyala, hanya tersisa dua kamera. Satu kamera, sekarang. Irish mengetuk-ngetukkan jarinya kesal, karena satu kamera itu tidak juga menyala padahal waktu pertandingan tinggal lima menit lagi.

          “Allisha!”

          “Duh, Irish, tidak perlu berteriak begitu, aku di dekatmu. Ada apa?” balas Allisha.

          “Kenapa sejak tadi kamera nomor sepuluh tidak menyala?”

          “Oh ya? Di bagian mana?” Irish segera menunjuk laptopnya, lebih tepatnya ke sebuah titik bertuliskan angka romawi sepuluh. Allisha mengerutkan dahinya, kemudian mengangguk-angguk mengerti.

          “Lorong dekat ruang tunggu, ya. Kemarin saat aku melihatnya, kondisinya masih baik-baik saja. Mungkin kamera itu rusak. Lagipula, Irish, lokasi itu sepertinya hanya dilalui para peserta yang bertanding di waktu terakhir, kan. Kurasa tidak ada masalah akan itu dan kita juga tidak punya waktu lagi.”

          “Kita harus mencari penggantinya. Apapun yang dapat digunakan sebagai pengganti kamera pengawas itu, kita harus tetap mencarinya,” balas Irish keras kepala.

          “Irish! Bagaimana persiapannya?” seru Adelaide saat ia melenggang masuk dengan santai, tidak peduli tatapan beberapa murid yang masih sibuk di dalam ruangan itu. Irish sendiri menatapnya dengan mata terbinar-benar, lebih tepatnya ke arah sebuah handycam yang sedang digenggam Ada.

          “Ada, kumohon pinjamkan handycammu!”

 

Ruang Tunggu. Stadion Utama Deordical Academy. 11.35 AM.

          Dillon memastikan untuk kedua kalinya bahwa tali sepatunya telah terikat, kemudian ia memandang ketiga temannya yang masih sibuk mempersiapkan diri mereka. Celiann yang sedang memasang ikat kepalanya kemudian Elsenn dan Ruthven yang sibuk membaca sesuatu yang ada di lembaran-lembaran kertas yang sedang mereka genggam.

          “Apa yang kalian baca?” tanya Dillon. Elsenn hanya mengangkat kepalanya kemudian ia mengacuhkan sahabatnya, kembali pada kertas-kertas itu. Sedangkan Ruthven, ia tidak memperdulikan pertanyaan Dillon sekalipun sehingga membuat prince charming itu mendengus kesal. Celiann menahan tawanya saat melihat Dillon seperti itu, karena biasanya ia-lah yang selalu ada di pihak yang menahan kekesalan.

          “Mereka sedang membaca data tentang lawan terakhir kita,” ujar Celiann, menjawab pertanyaan Dillon. Dillon menatap Celiann, kemudian ia menatap kedua teman laki-lakinya, dan kembali menatap Celiann lagi. Ia pun berjalan mendekati Celiann dan menarik tangannya, kemudian membawanya keluar ruang tunggu. Elsenn mengangkat kepalanya lagi, melirik ke arah pintu ruang tunggu, kemudian tertawa kecil.

          “Apa yang kau tertawakan, El?” tanya Ruthven kebingungan.

          “Kau lihat tampang Dillon tadi. Hah! Ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu! Lucu sekali!” Tawa Elsenn semakin keras.

          “Hei, lebih baik kau susul dia sebelum dia semakin marah padamu.”

          “Yah! Memangnya kau mau apa lagi? Pertandingan kita sudah sebentar lagi, kaut tahu?” Ruthven menunjuk kedua sepatunya yang belum terikat rapi. Elsenn mengangkat bahunya kemudian keluar dari ruang tunggu, berlari kecil. Ruthven segera mengikat tali sepatunya, namun setelah itu bukannya keluar dari ruang tunggu ia meraih kertas-kertas yang sengaja ditinggalkan Elsenn. Ia hanya perlu membaca data satu orang lagi. Ia meraih kertas itu, baru beranjak dari ruang tunggu.

          “Ouch!” Ruthven kemudian mendengar suara rintihan dua orang, namun dengan tipe suara yang berbeda. Ruthven mempercepat jalannya kemudian melihat Elsenn terjatuh terduduk dan juga seorang perempuan yang sama-sama terjatuh, tepat di atas Elsenn. Perempuan itu segera bangkit dan berkali-kali meminta maaf pada Elsenn kemudian ia berbalik, ke arah stadion. Ruthven menatapnya lekat-lekat, kemudian dia beralih menatap selembar kertas yang ia bawa. Dia…

         

Stadion Utama Deordical Academy. 11.45 AM.

          “Pertandingan final antara kelas IX-6 dan X-2! IX-6 posisi pertama ditempati oleh putri kepala sekolah kita, Celiann Amherst! Posisi kedua, Elsenn Hantway. Posisi ketiga, Ruthven Ecclair. Dan posisi terakhir, Dillon Humphrey! Sedangkan X-2, posisi pertama ada Saphire Eloinne. Posisi kedua, Michelle Northan. Posisi ketiga, Nathaniel Holywell. Dan posisi terakhir, Nevian Hepburd. Nah, siapakah yang akan menang tahun ini?! Apakah sang senior, atau malah sang junior?? Ya, semua peserta telah bersiap di posisi masing-masing. One… Two… Three, GO!“

 

          Setelah pembawa acara meneriakkan aba-aba, Celiann segera berlari sebisa mungkin bukan secepat mungkin. Ia sebenarnya malas sekali harus mengikuti lomba ini kalau saja Mr. Haphfurd tidak memaksanya dan ini semua demi kelasnya. Entah apa yang ada di pikiran Mr. Haphfurd, padahal masih banyak anak laki-laki lainnya yang kemampuan berlarinya lebih cepat dari Celiann.

          Celiann kembali fokus. Dilihatnya Elsenn sudah menunggu di depan. Ia terlihat berkeringat padahal ia belum berlari dan ia terlihat seperti menahan sakit. Celiann mau tak mau mengerutkan keningnya, mengira-ngira apa yang telah terjadi pada Elsenn. Namun saat Elsenn menyambar tongkat kelas mereka dengan kasar, mau tak mau Celiann hanya mendengus kesal. Ia mengatur nafasnya, kemudian memperhatikan Elsenn berlari dengan kecepatan yang lebih baik daripada saat latihan. Namun Michelle, lawan mereka berada pada garis yang seimbang. Celiann tak menyangka kakak kelasnya itu dapat menyaingi kecepatan lari Elsenn. Celiann dari jauh terus menatap Elsenn. Namun ada yang aneh dengan laki-laki yang akhir-akhir ini suka membuatnya marah itu. Celiann dapat melihat kecepatannya semakin melambat. Dan kemudian, ia… jatuh.

          Celiann ingin berlari mengejar Elsenn, namun mengurungkan niatnya saat melihat Ruthven telah melakukan apa yang diniatkannya. Celiann kemudian berlari memasuki lorong di bagian tribun barat, dan berlari melewati lorong yang menuju tribun utara. Saat melihat Elsenn kesulitan membawa tubuhnya sendiri, Celiann mendekatinya kemudian memapahnya ke ruang kesehatan. Dan itu adalah pertama kalinya Celiann melihat Elsenn begitu lemah dan tidak bertenaga seakan-akan semua tenaganya telah terserap habis oleh suatu hal. Setelah Elsenn meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja, Celiann meninggalkannya sendirian di ruang kesehatan. Celiann kemudian berjalan dengan segala kebingungan akan kejadian tadi. Namun ia mengehentikan langkahnya saat melihat sosok Ruine. Ia memutuskan untuk menjulurkan sedikit badannya untuk mengintip apa yang sedang terjadi. Dan betapa kagetnya Celiann saat melihat Ruine meretakkan dinding lorong dengan sebuah pedang kecil tergenggam di tangan kanannya dan Nellson tepat persis di depannya. Mereka saling bertatapan tanpa mengeluarkan satupun kata. Celiann terus memperhatikan mereka sampai ia tiba-tiba melihat, sahabatnya itu menundukkan kepalanya tanpa melepaskan pedangnya dan ia juga melihat Nellson menyeringai lebar. Buruk. Namun di samping itu, semua berjalan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja meskipun pada akhirnya hal itu membawa masalah yang lebih buruk lagi dari sebelumnya.

Minggu, 27 Juni 2010

Chapter 3-The Poor Princess and The Fake Prince

“Celiann!“ Irish melambaikan tangannya. Terlihat Leslie dari belakang mengikutinya.

“Ada apa?“ balas Celiann. Ia terlihat lemas sekali hari ini. Selain karena ia lelah akibat patroli semalam, ia juga merasakan firasat buruk. Sudah seminggu ia menunggu permainan Nellson yang kedua setelah yang pertama, dua orang telah gagal. Nellson sepertinya sudah mengincar hal itu sejak awal, lagipula ia sepertinya tidak akan berani memasukkan Ruine ke dalam dewan keamanan.

“Hasil try out bersama kemarin sudah keluar, aku baru saja melihatnya di shield metal,” sahut Leslie. Celiann yang tadinya melamun menyebabkan ia hanya mengangguk acuh tak acuh. Ia pun mengutak-atik shield metalnya dan mencari namanya.

IPA         : 85

 

Celiann Amherst

MTK         : 60

B. Inggris  : 90

IPA         : 70

 

Chloe Sullivan

          Celiann menatap shield metalnya dengan mata membesar dan mulut setengah terbuka. Apa-apaan nilai ini?! serunya dalam hati. Aku mengerjakannya dengan baik, tapi kenapa nilainya seperti ini?! Tidaaakkk! Semenit kemudian Celiann tidak merubah pandangannya. Ia juga terpaku di tempatnya. Sampai…

          “Celiann! Kalau kau tidak cepat, kau akan terlambat masuk kelas!” seru Irish dari balkon kelasnya. Celiann mengerutkan keningnya kemudian hanya bisa menghela nafas panjang. Permainan keduakah?

          Peraturan Deordical Academy nomor satu, jangan biarkan permainan menguasaimu.

 

***

         

          Fey menyimak sederet paragraf yang baru saja ia baca di sebuah novel yang kemarin dipinjamnya dari perpustakaan yang berbeda dengan perpustakaan tempat ia menghabiskan waktu siangnya sekarang.

          Aku adalah pengkhianat yang selamanya pengkhianat. Beribu-ribu kali aku mencoba tetap saja aku tidak dapat memasuki lingkaran itu lagi karena sejak awal aku adalah lingkup luar dari mereka. Selama aku di tempat ini, aku mengikuti seluruh permainan mereka, kemudian aku akan menghancurkannya. Ya, aku akan menghancurkan lingkaran itu dan membakarnya. Karena aku adalah pengkhianat.

          Fey menghela nafas pendek saat kalimat itu mulai menggaung-gaung di dalam pikirannya. Ia tidak sanggup membaca lagi, kemudian merebahkan kepalanya di atas meja. Namun ia semakin membayangkan bagaimana akhir nasib si tokoh utama. Akankah dia tetap menjadi pengkhianat? Ataukah dia kembali dan membangun sebuah lingkaran baru? Sebenarnya jawabannya ada dalam dirinya sendiri. Karena dia adalah si tokoh utama itu. Tokoh utama dalam kisah hidupnya.

          “Hei, sudah dengar tentang Nellson dan anak junior itu?”

          Fey mengangkat kepalanya, membuyarkan paksa lamunannya, saat mendengar suara-suara di dalam perpustakaan itu. Ia pun mendengarkannya dengan hati-hati. Masalah Nellson dan anak junior yang tak lain adalah Ruine ini, cukup menarik perhatiannya.

          “Ini pertama kalinya Nellson tertarik dengan anak junior. Katanya anak junior itu terus melawannya. Biasanya, tak ada yang berani kan, melawan Nellson itu?”

          “Ya, apalagi kalau sudah terjebak dalam permainannya. Biasanya tak ada yang pernah selamat karena itu.”

          Fey menaikkan sebelah alisnya kemudian matanya terpaku pada shield metal di tangan kirinya. Ia baru ingat, ia belum melihat nilai try out kedua yang dikeluarkan sejak tadi pagi. Tapi sebelum ia mencapai namanya, ia  terpaku pada sebuah nama. Nilainya bisa dibilang buruk, namun bagi Fey itu justru menjadi pertanda bagus bagi dirinya. Ia meraih handphonenya kemudian mencari nama itu di phonebooknya. Setelah menemukannya, ditekanlah opsi call. Dua dering terlewat sampai sebuah suara dari lawan bicaranya, membuatnya tersenyum kecil.

          “Celiann disini. Ada apa Fey?”

          Ini kesempatanku untuk memenangkan permainannya, bisik Fey dalam hati.

         

***

 

Perpustakaan Phoenix of Kronosa. 14.34 PM.

       “Kukira ada apa, ternyata kau mau mengajariku untuk mengikuti ujian susulan. Thanks, Fey,” ujar Celiann seraya meletakkan notebooknya di atas meja. Kemudian ia menarik sebuah kursi yang terletak tepat di hadapan Fey. Fey tersenyum kecil kemudian berkata,

          “Kau sendirian?”

          “Tidak. Tadi setelah kau menghubungiku, Ruu bersikeras ingin menemaniku sampai perpustakaan. Katanya sebagai sesama teman kita harus saling membantu. Dan kini dia menghilang entah kemana. Sepertinya ada yang ingin dia cari disini.”

          “Ruine suka membaca buku?” Sial. Dia juga menyadarinya, pikir Fey.

          “Sangat, Fey. Tapi akhir-akhir ini dia suka membaca buku-buku sejarah tentang keluarga-keluarga bangsawan di dunia.”

          “Keluarga bangsawan? Apa kau tahu apa yang ia cari? Mungkin aku bisa membantunya.”

          “Hmm… akhir-akhir ini dia berbicara tentang Gawlore dan Baskerville. Tapi aku tidak tahu, apa yang dimaksud dengan kedua kata itu. Aku pernah mendengarnya, tapi aku tidak pernah tahu bahwa itu merupakan keluarga bangsawan juga.”

          Gawlore… dan Baskerville. Apa yang dia pikirkan? Fey berfikir lagi. Tapi ia tidak memiliki petunjuk lebih, kecuali… ia bertemu dan berbicara langsung dengan dia.  

          “Fey, kau melamun. Ada apa?”

          “Tidak. Tidak ada apa-apa. Kita mulai sekarang saja, Celiann.”

          Celiann mengerutkan keningnya namun pada akhirnya dia hanya menjawab, “baiklah.”

 

 

          “Hmm… sejarah… sejarah…,” Ruine kembali menelusuri setiap deret buku yang ada. Sebenarnya ia tak perlu repot mencari buku tentang sejarah keluarga Baskerville kalau saja topik itu ada di internet. Tapi sayangnya tidak ada satupun yang menunjukkan hasil pencarian itu. Dan ia hampir saja bosan kalau sekarang jarinya tidak menunjuk pada sebuah buku berjudul History of Baskerville.

          Buku tebal dengan hardcover pula, ditariknya dengan tangan kanannya. Tiba-tiba lemari di samping lemari terletaknya buku itu runtuh ke dalam tanah dan memunculkan sebuah pintu besar berarsitektur mewah. Disentuhnya pintu itu dan merasa bahwa pintu itu sudah lama ada. Setelah berfikir sebentar diletakkanlah kembali buku itu tanpa berniat untuk membacanya sedikitpun dan pintu itu menghilang seperti sedia kala. Ruine tersenyum kecil, kemudian ia segera pergi dan mencari Celiann. Ia pun menemukan Celiann dan Fey yang sepertinya masih belajar bersama. Ruine yang tadinya berencana untuk meninggalkan mereka berdua, terdiam di tempatnya saat melihat Fey menyadari kehadirannya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat keduanya. Ia agak kaget saat Fey tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya. Ruine pun menyambut tangannya disertai dengan sebuah senyum miring. Setelah melepaskan tangan masing-masing, Ruine pun membiarkan keduanya kembali masuk ke dalam dunia mereka. Ia sedikit mengasihani Fey, karena ia tidak tahu apa yang dirinya tahu. Permainan kedua, kau berhasil. Namun permainan ketiga, kau gagal Fey, bisik Ruine dalam hati. Karena aku tahu, apa yang kau tidak tahu.  

 

        

Chapter 2-How Much You Know Your Friend?

Chloe mengusap air matanya setelah menangis satu jam penuh setelah pulang sekolah. Sebelumnya, ia memang terlihat kuat di depan kedua temannya tapi sebenarnya ia tidak menyangka bahwa ada orang lain yang memanfaatkan masa lalu yang terjadi karena keluarganya. Ia merasa sangat bersalah pada Arriley. Chloe, yang ayahnya kini menggenggam peran penting di bidang industri, dengan salah satu pesaingnya yang tidak lain adalah ayah Arriley membuat Chloe semakin ragu untuk menjadi sahabat Arriley lagi, dan malah semakin menjauhinya. Jasper, kakak kembarnya, yang sejak kecil menetap di New Jersey, memang tidak tahu apa-apa tentang keluarganya secara detail. Lagipula, semuanya telah terjadi.

          “Chloe, boleh aku masuk?” sebuah suara dari depan pintu kamarnya mengusiknya. Ia tahu betul suara itu, suara Jasper. Jasper yang dingin, namun sebenarnya sangat protektif pada Chloe. Entah apa yang akan dilakukannya kalau Jasper melihatnya dalam kondisi seperti sekarang. Tapi ia tidak punya alasan untuk menolak kehadiran Jasper. Biarpun dia saudara yang menyebalkan, Jasper adalah satu-satunya orang yang ia percaya di keluarganya.

          “Masuklah, Jasper,” balas Chloe akhirnya. Jasper segera masuk dan duduk di tepi tempat tidur Chloe setelah memastikan pintu kamar adiknya tertutup rapat.

          “Ada apa kau kesini?” tanya Chloe santai, menunjukkan bahwa tidak terjadi apa-apa pada dirinya sebelumnya. Jasper mengerutkan keningnya kemudian membalas ucapan Chloe dengan intonasi yang sama,

          “Aku tidak mengerti apa yang terjadi antara kau, Arriley, Nellson, dan Ruu? Di kalangan senior tersebar isu bahwa Ruu akan dikeluarkan dari sekolah karena mengganggu urusan Nellson, kau dan Arriley.”

          “Oh ya? Apa Ruu tidak mengatakan sesuatu padamu?”

          “Dia hanya bilang, ‘kau bodoh’ dengan raut datar setelah itu dia pergi begitu saja.” Chloe menaikkan sebelah aslinya kemudian mengerti apa yang dimaksud Ruine.

          “Maksudnya, kau jangan percaya pada macam isu seperti itu. Isu selamanya isu, kau tidak perlu khawatir, Jasper.” Chloe tersenyum meyakinkan.

          “Terserah katamu, tapi jangan memaksakan dirimu.” Jasper mengacak pelan rambut Chloe. Tapi Chloe yang biasanya tidak suka saat Jasper melakukannya, kini hanya terdiam, menahan keinginannya untuk mengatakan segalanya pada Jasper.

 

***

 

          Alice menggenggam sebuah amplop di tangannya dengan ragu-ragu. Amplop yang berisikan sebuah surat pemindahan paksa jabatan di tangannya, untuk temannya sendiri, Ruine, yang dititipkan oleh Nellson. Surat yang sudah ditandatangi baik oleh ketua dewan keamanan itu sendiri, surat itu juga ditandatangi oleh ketua patroli. Alice ragu memberikannya tapi ia juga tidak berani membantah Nellson, apalagi mengingat dia adalah anak kepala yayasan Deordical Academy.

          “Ruu-chan!” suara Celiann menggema di sepanjang koridor, sekaligus mengagetkan Alice. Ia belum siap memberikan surat itu pada Ruine. Ia pun melihat Ruine baru saja keluar dari kelas 95, memberikan Celiann pandangan kesal. Celiann tidak peduli dan mempercepat jalannya menuju tempat dimana Ruine berdiri.

          “Murid-murid Deordical Academy banyak yang membicarakanmu, lho. Apa benar kau punya hubungan spesial juga masa lalu dengannya?” tanya Celiann menggoda.

          “Mana Annalise?” tanya balik Ruine dengan setiap penekanan pada kedua katanya. Alice dapat melihat setiap kata Ruine dan Celiann juga memperhatikan gerak-geriknya. Tangan Ruine mulai mengepal.

          “Oh-hei, ini bukan salah klub jurnalis, kok!” Tapi Celiann terlambat. Ruine terlebih dahulu berjalan menuju kelas mereka dengan kekesalan di raut wajahnya. Celiann buru-buru menahannya, dengan menarik tangan kirinya.

          “Lepaskan,” katanya dingin. Celiann mempererat genggaman tangannya. Ruine tidak peduli dan berjalan lagi, sehingga ia terlihat mengikutsertakan Celiann dalam langkahnya. Alice meletakkan surat itu di kantung blazernya, segera berlari dan menarik tangan kanan Ruine.

          “Oh, hai, Alice,” sapa Ruine dengan nada datar.

          “Ah… Ru-Ruine, ini memang bukan salah klub jurnalis bahkan Annalise. Ma-masalahnya, Nellson memang sudah memberikan pengumuman kalau kau sebentar lagi akan menjadi wa-wakil ketua dewan keamanan,” ujar Alice spontan saat melihat Ruine menatapnya, meminta penjelasan mengapa ia tiba-tiba ada disini. Alice pun meraih surat di kantung blazernya dan menyerahkannya pada Ruine. Ruine menerimanya kemudian langsung merobeknya menjadi dua bagian.

          “Nah, selesai. Kalau dia menanyakan padamu masalah surat itu, katakan saja sejujurnya, dan katakan padanya jangan mengganggu kelas kita lagi.” Ruine menarik kedua tangannya dari genggaman Alice dan Celiann dan berjalan pergi. Sedangkan mereka berdua menatap temannya itu tidak percaya.

 

***

 

          “APA?! Dia merobeknya?!” seru Nellson membuat semua yang ada di ruangan dewan keamanan bergidik ngeri. Alice sejak tadi hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Nellson. Bukan hanya rumor ternyata, bahwa Nellson tidak suka dengan orang yang main-main dengannya juga menentang perintahnya. Sedangkan ketakutan merayapi tubuh Shann, salah satu anggota OSIS yang menemani Alice. Selama tiga tahun ia bersekolah disini, ia belum pernah sekalipun melihat Nellson sampai berteriak seperti itu. Nellson kemudian meraba keningnya dan menarik nafas dalam-dalam, saking dalamnya sampai seluruh orang-sehebat apapun-tak akan bisa muncul kembali ke permukaan, saking ia depresi, layaknya… mendisiplinkan seorang anak berumur tiga tahun. Tapi setidaknya, ia masih sanggup berbicara.

          “Maaf. Tapi karena kalian berdua adalah teman sekelasnya, aku meminta kalian agar dapat mempertemukanku dengan anak itu. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Katakan padanya seperti itu. Kalau tidak, Alice, Shann, kalian berdua tidak akan kuizinkan untuk mengikuti try out kedua minggu depan.”

          “Ketua! Apa tidak berlebihan melakukan itu sebagai hukuman? Bagaimanapun mereka akan naik kelas,” ujar salah satu anggota dewan keamanan.

          “Ya, ketua! Apalagi hanya untuk seorang perempuan.”

          “Ketua, kenapa kau tidak mendatanginya sendiri?” sahut yang lain.

          “Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti itu,” balas Nellson kemudian mengalihkan pandangannya kepada dua korban di depannya. “Get her, or I will get all of you into my games.”

         

***

 

          Games?” Celiann memutar matanya, mencerna pengekuan Shann tentang sikap Nellson yang jauh dari kata sempurna sebagai seorang idola sekolah.

          “Bukankah lebih menyenangkan mengikuti permainan daripada kalian harus membawa Ruu ke hadapan Nellson?” ujarnya lagi. Shann menatapnya kesal seolah-olah dia adalah orang yang terakhir yang akan ia berikan kejutan mengingat sering kali, ia tidak peduli sejahat apapun manusia yang terpenting ia adalah idolanya. Oh my god, apakah ia mengerti apa yang sudah Nellson lakukan kemarin-kemarin? Shann berfikir dalam hati.

          “Jawab aku, SHANN!” teriak Celiann tepat di telinga Shann.

          “ARGH! Begini, Celiann. Yang dimaksud Nellson dengan permainan adalah, dia akan mempermainkan dan membuat kita semua kerepotan dengan berbagai masalah yang dibuatnya, mengerti?”

          “Aku mengerti sejak tadi. Hanya saja, aku baru pertama kali melihat Ruu semakin keras pada orang lain jadi aku mengingatkan saja, aku rasa kalian berdua tidak akan berhasil.”

          “Jadi… kita akan membiarkan Nellson bertindak begitu saja?”

          “Ya. Karena sejak awal kalian berdua telah masuk dalam permainannya.”

          “Permainan… apa?”

          “Permainan pertama, seberapa banyak kau mengenal temanmu. Dan hasilnya, kurasa gagal. Kalian tidak mengetahui sifat Ruu jika kekesalannya sudah melebihi batas. Tapi… aku masih tidak mengerti mengapa Nellson melakukan ini, maksudku padahal ia sendiri yang memulai. Dan yang bisa kubaca sampai saat ini, Ruu sejak awal memang telah terincar dan juga beberapa di antara kita sehingga dia bermaksud menariknya keluar. Itu sih, menurutku.” Celiann tersenyum lebar saat melihat Shann hanya bisa terdiam.

          “Ah, aku tidak sadar akan hal ini sebelumnya.”

          “Ck…” Celiann menggerak-gerakkan telunjuknya pada Shann, “peraturan Deordical Academy nomor lima, perhatikan langkahmu.”

Chapter 1-The Beginning of Past


”Zach!” bentak Celiann. Zach hampir menjatuhkan bekal Celiann. Dan hari ini adalah ke-9 kalinya. Hal yang biasa bagi seorang Zach Samlerr melakukan kesalahan yang sama lebih dari tiga kali. Ruine, yang duduk di sebelah Celiann, hanya melirik sebentar lalu melakukan aktivitasnya semula, menulis berbagai kejadian yang terjadi di kelasnya hari ini di notebooknya. Oke, dia dapat tergolong orang yang aneh salah satunya.

Kelas terbilang sepi siang ini. Kebanyakan para murid mengikuti kelas tambahan, pergi ke klub, atau beristirahat di kamar masing-masing. Zach, Celiann, Ruine, Elsenn, dan Dillon. Yap, hanya mereka yang tersisa. Mereka yang pengangguran atau mereka yang telah menyelesaikan tugas-tugasnya.

Setelah memastikan Zach tidak mengganggunya lagi, dengan elegan Celiann melanjutkan makannya. Namun, ada interupsi ke-2. Sebuah pesawat kertas masuk ke dalam mocca milkshake kesukaan Celiann. Ruine hanya menghela nafas begitu lebih dulu tahu barang bersayap itu punya siapa, lalu beranjak keluar kelas. Tepat seperti yang ia duga, Celiann marah besar. Tentunya kepada Elsenn, sang pemilik dan penerbang si pesawat kertas itu. Suara Celiann terdengar sampai keluar kelas.

”Permisi.“

”Ada apa?” tanya Ruine setelah menoleh untuk bermaksud melihat siapa yang tadi mengucapkan satu kata itu padanya. Cowok di depan Ruine kemudian tersenyum lembut, tapi bagi Ruine itu senyum yang sangat, sangat terpaksa. Terlihat sekali kalau orang di depannya ini jarang tersenyum. Dan satu poin lagi cowok ini adalah kakak kelasnya, seorang murid Senior High School.

”Apakah Ms. Spencer ada?” cowok itu balik bertanya.

”Belum kembali. Kurasa dia mengikuti pelajaran tambahan matematika.”

”Baiklah, terima kasih Ruine.” Cowok itu pun berlalu.

”Darimana dia tahu namaku?” bisik Ruine pelan lalu mengedikkan bahunya dan melakukan kebiasaan aneh keduanya, menatap langit dengan kedua bola mata coklatnya.



***



Phoenix of Luthvea. Sousei Dormitory. 18.24 PM.

”Spencer! Spencer!” seru Ruine seraya melambaikan tangannya pada sosok Arriley yang mendekat. Arriley berlari-lari kecil ke arah gerbang asramanya melihat Ruine dengan seorang laki-laki di sampingnya.

”Ruu! Sudah berkali-kali kubilang panggil aku Arriley!” tapi Ruine tidak memperdulikan bantahan Arriley. Ia hanya menunjuk laki-laki di sampingnya dengan lirikan matanya.

”Dia yang tadi siang mencarimu,” ujar Ruine kemudian berjalan pergi meninggalkan Arriley dan cowok itu berdua. Tapi langkahnya terhenti saat dapat menangkap kata-kata yang diucapkan si laki-laki itu, tentunya Ms. Spencer punya koneksi yang bagus terhadap keluarga Sullivan. Dan itu membuat Ruine berfikir siapa cowok itu sebenarnya dan apa yang akan dia lakukan. Dan sebuah sosok familiar hadir di benaknya. Takut dicurigai, ia memilih untuk berjalan lagi, melakukan tugas malamnya.



***



”Spencer,” Ruine kembali menggerakkan tangannya, tepat di hadapan wajah Arriley. Spaceout Arriley hari ini benar-benar sudah melampaui batas. Celiann hanya memandangi mereka, bingung, sambil sesekali memasukkan suap demi suap paella-bekalnya kali ini-ke dalam mulutnya. Arriley kemudian menunduk saat kedua temannya itu menyadari bahwa ia melamun.

”Rin!“

”Yah, si pengganggu datang,” desis Celiann saat mendengar pangilan itu. Celiann jelas sudah hafal kebiasaan Elsenn memanggil Ruine dengan Rin saja, bukan Ruu seperti lainnya. Dan keuntungannya, jelas sang pemilik nama tidak pernah marah kepada Elsenn karena ia sangat tidak suka saat dipanggil Ruu.

”Hah, siapa yang pengganggu?” Elsenn pura-pura tidak mengerti lalu dialihkan tatapannya pada Ruine, ”Rin, kau dicari ketua dewan keamanan tuh.”

”Siapa ya?” tanya Ruine.

Celiann langsung alert mendengar ini. ”Ruu! Kau tidak tahu siapa ketua dewan keamanan?”

Ruine menggeleng. Elsenn menaikkan sebelah alisnya kemudian berkata,

“Bukankah dia salah satu atasan kalian berdua, ya?”

“Iya sih, tapi aku tidak berminat untuk mengetahuinya,” balas Ruine santai.

”Dia adalah Nellson Authbert! Dia-“

”Oke, biar kujelaskan kalau kau tidak tahu,” Elsenn memotong perkataan Celiann. Celiann langsung memberikan death glare pada Elsenn.

”Nellson Authbert, si ketua dewan keamanan yang sinis, sombong, dan sekarang dia kelas X-4. Tapi menurut para perempuan termasuk si Amherst ini,” ia menunjuk Celiann, ”dia itu cool, tampan, baik, pintar, walaupun aku terkadang berat untuk mengakui bahwa dia memang jenius.”

”Oh, sepertinya dia tipe yang menyebalkan, ya, Elsenn?”

“Begitulah,” jawab Elsenn dengan suara nyaring, setuju dengan opini Ruine. Sedangkan Celiann menatap mereka berdua tidak percaya. Ruine kemudian berdiri dari tempat duduknya kemudian berbisik pada dua orang di dekatnya,

“Tolong jangan biarkan Arriley mendekati Chloe dan Jasper sampai aku kembali, ya.”



***



”Jadi kau yang namanya Nellson?” tanya Ruine sinis saat ia melihat laki-laki berambut coklat yang ditemuinya kemarin. Ia seolah yakin, pasti dialah penyebab Arriley menjadi lebih sering melamun. Entah kenapa ia merasa bahwa ia tidak akan pernah benar-benar akrab dengan orang ini karena salah satu faktornya, sebuah senyum pura-pura yang untuk kedua kalinya ia lihat.

”Selamat siang Ms. Ashhford,” ia tersenyum kecil, ”terima kasih sudah memenuhi panggilanku kemari, jarang sekali seorang perempuan berani mendatangiku langsung di Phoenix of Nordembiazor ini, apalagi adik kelas. Nah, duduklah.”

Ruine kukuh berdiri. Bahkan kemudian ia berjalan mundur dan bersandar di dekat jendela seolah-olah ingin menjauh dari laki-laki itu.

”Baiklah, langsung ke intinya saja, aku ingin kau menjadi wakilku,” Nellson mendekatinya dan mengulurkan tangannya.

Ruine menepis tangan Nellson. Lalu dengan mata tajam dan sinis yang berlebihan dia berkata, ”Aku lebih senang berada di lapangan daripada harus seruangan dengan orang sepertimu.”

“Kau memang sangat ahli di lapangan. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu lagi, Ruine.”

Ruine menyerngitkan keningnya dan membalas ucapan Nellson, “aku tidak merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya. Dan tolong jangan main-main denganku.”

“Sebentar saja tidak boleh? Padahal ini mengasyikkan, lho. Apalagi kemampuanmu di lapangan menurun, kan? Dulu… berapa banyak manusia yang tewas di tanganmu, Ruu?”

“Maaf. Aku benar-benar tidak mengenalmu jadi jangan seenaknya berkata-kata tentang kemampuanku sekarang ataupun dulu.”

Kemudian Ruine sukses membanting pintu ruang dewan keamanan, meninggalkan Nellson yang tertawa pelan kemudian berbisik, “jahat sekali. Padahal aku mengenalmu, lho.”



***



Semua anak 96 memperhatikan dengan seksama pelajaran sejarah pagi ini. Semua? Ternyata tidak. Arriley sejak tadi hanya mengetik asal di notebooknya. Tatapannya sama sekali tidak tertuju pada layar proyektor di depan kelas. Teman-teman di sekitarnya hanya bertatapan bingung dan khawatir tentunya. Karena Mr. Forse tidak membiarkan murid-muridnya tidak memperhatikan pelajarannya. Dan mereka hanya membiarkannya sampai bel istirahat berbunyi nyaring.



”Sherline.“

”Ada apa Ruu?” mendengar Sherline memanggilnya seperti itu spontan Ruine memandangnya sinis.

”Duh, kau ini, ada apa Ruine?“

”Apakah benar kau teman masa kecil Spencer?“

Sherline mengangguk.

”Bisa ceritakan bagaimana dia dulu?” tanya Ruine lagi.

”Apa tidak apa-apa?” Sherline ragu-ragu saat beberapa teman mendatangi meja Sherline karena ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan. Ruine pun melihat arah pandang Sherline.

”Bukan masalah,” balasnya meyakinkan Sherline. Sherline pun mulai bercerita.

”Ehm, aku sudah kenal Arriley sejak dulu karena ayah kami adalah rekan bisnis dalam perusahaan dan semua itu dimonitor oleh ayah Chloe dan Jasper dan dengan otomatis, ayah mereka yang berkuasa. Arriley adalah anak yang ceria. Arriley hampir tidak pernah tidak tersenyum tiap harinya. Tapi pada suatu hari, Arriley dengan muka masam datang ke sekolah. Aku tidak berani menanyakan langsung padanya karena ia sinis sekali saat itu.Malamnya, ayahku bercerita bahwa perusahaan ayah Arriley bangkrut, salah satu penyebabnya adalah keluarga Sullivan memutuskan hubungan kerja dengan mereka.

“Aku berfikir ayah Arriley dan keluarganya pasti sangat kecewa saat itu. Ayahku menduga bahwa ada adu domba di antara mereka karena setahu ayahku, keluarga Sullivan sangat baik pada siapapun. Dan ternyata itu benar. Sayangnya hal itu terbukti 1 tahun kemudian saat Arriley sudah pindah ke Los Angeles. Aku yakin sekali hal itu sangat menyakitkan bagi Arriley. Dan di antara kami, tak ada yang pernah menyinggung hal itu lagi. Dan sampai sekarang hubungan kami baik-baik saja sekalipun hubungan antar Arriley dengan Chloe dan Jasper. Umm…”

“Ada apa Sher? Lanjutkan ceritanya,” pinta Renee.

“Ruine… kemana?“ tanya Sher.

Semua anak yang masih menyimak cerita Sherline hanya menunjuk pintu kelas.

“Eh?! Dia sudah keluar kelas?!“



Phoenix of Nordembiazor, Ruang Dewan Keamanan.

”Arriley…” Chloe memandang Arriley takut.

”Bagaimana Ms. Spencer, setidaknya lukai dia atau kau akan dikeluarkan dari sekolah? Kau penah dilukai juga oleh keluarganya juga, kan? Sekarang saat kamu membalasnya,” ujar Nellson atau lebih tepatnya, mengancam.

’Tidak,’ Arriley mendesah dalam hati, ’aku tidak boleh sedikitpun menyentuh Chloe dengan pedang ini, tapi… kalau tidak, aku akan dikeluarkan dari sekolah, apa kata ayah nanti? Ayah pasti akan kecewa padaku kalau ia tak tahu alasan sebenarnya.’

 

(pedang berukuran kecil yang digenggam Arriley)

BRAAKK…!!

“Hah ! Tidak seru,“ ujar Nellson saat menyadari seorang perempuan hadir di tengah-tengah pertunjukannya.

Ruine yang baru saja mendobrak pintu langsung meraih pisau dari tangan Arriley dan membuangnya ke lantai. ”Apa yang kau inginkan?!“

”Ms. Ashhford, kuakui kau datang tepat waktu sekarang.“

”Yang kutanyakan, apa maumu sebenarnya Nellson?!“

”Mauku? Mengadakan… sedikit permainan,” Nellson tersenyum licik, ”dan kau menghancurkan boneka pertamaku (Arriley), yang membuat kau, harus membayarnya.“

”Apa? Apa maksudmu?“

”Sudah kuputuskan, pelan-pelan aku akan membuat dirimu pergi dari sekolah ini.” Nellson kemudian menyeringai kecil dan keluar dari ruangan itu.

”Ruine!” Chloe memeluk Ruine, lalu Arriley. Ruine menepuk bahu Arriley,” teman-teman mengharapkan kau yang biasa Spencer.”

Arriley pun menitikkan air mata, ”ta… tapi Ruu, gara-gara aku kau yang akan dikeluarkan dari sekolah.”

”Aku tidak peduli akan kata-katanya,” balas Ruine.

”Ta.. tapi..”

”Arriley, tak ada gunanya kau menangis dan menyesal seperti ini. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana pemecahan masalahnya, ” sahut Chloe.

”Chloe, baiklah, dan maafkan aku… tadi.” Chloe memeluk kembali Arriley.

Sedangkan Ruine hanya bisa menggigit bibirnya, takut untuk menyadari bahwa semuanya akan terulang kembali.

Prologue

*Gasp*

“Cepat pergi dari sini atau kau menyesal seumur hidupmu!” ujar seorang gadis seraya menghunuskan pedang kepada musuhnya, sahabatnya sendiri.

“Kalau aku mati, maka kau juga akan mati. Seluruh dunia juga akan mati,” jawab laki-laki yang tidak lain adalah sahabatnya itu. Matanya yang berwarna merah tua terlihat menyala-nyala saat gadis itu menggerakkan tubuhnya dengan gemulai, mengiris tangannya dalam waktu kurang dari tiga detik.

“Dunia tidak akan mati. Kami memang klan berkhas kegelapan, tapi bukan berarti kami tidak berhak mengatur dunia. Kalianlah yang nantinya akan menghancurkan dunia. Dugaanku tidak pernah salah, Algra. Aku telah mematai-matai kalian sebelumnya.”

Gadis itu memutar pedangnya dengan gerakan yang indah, sementara sahabatnya-Algra-sibuk menghindar dengan pedang yang sama.

“Kalau begitu, di saat dunia berputar lagi, kita tidak akan pernah bersatu lagi. Kita… musuh selamanya, Olive.”

Full of scenes


Full of adventures

Full of wars

Full of bloods

Full of tears

Full of love

Maybe you’re just an ordinary human

But no matter what you must stand by your feet

Although there are a thousand of guards will protect you

And a dozen of friends will beside you

Hold your tears and wake up

Crush your nightmare and hold your strength

Face the true world of yours


Tahun 2021. 14 September.

“Pagi, semuanya. Sudah dengar kabar pagi ini?” Adelaide berseru saat langkahnya memasuki kelas 96. Ia meletakkan tasnya di bangku paling depan, sekaligus memastikan pom-pom dan seragam cheerleadernya ada di dalam tasnya.

“Duh, ada apa sepagi ini kau sudah berteriak, Adelaide Holywell?” Dhynella Neilenn, sahabat sekaligus teman masa kecilnya bertanya. Tangannya sibuk mengutak-atik netbook terbarunya. Fey Hartway dan sahabatnya, Vincent Nightray, mau tak mau tertarik pada apa yang dibicarakan Ada, nickname Adelaide. Padahal biasanya, tidak ada yang mampu memecah perhatian Fey dari bukunya, dan Vincent, dari sketsa gambarnya.

“Kabar baru apa?” tanya Celiann Amherst dan Elsenn Hantway bersamaan. Sebuah energi tak bersahabat tidak lama kemudian mengalir dengan cepat di antara keduanya. Selalu, seperti itu, sejak tahun ajaran baru.

“Kau punya kabar baru? Bagaimana aku bisa tidak mengetahuinya?” Annalise Fletcher berujar dengan nada terheran-heran di setiap katanya. Biasanya, selalu ia yang memberikan kabar terbaru kepada teman-temannya, mengingat koneksinya cukup luas.

“Kerja bagus Ada! Kau mengalahkan Annalise kali ini!” seru Tiffany Sherrine, setelah menunjukkan sedikit sleepy face-nya yang semula tersembunyi oleh laptopnya. Ada dan Annalise, keduanya masing-masing menaikkan sebelah aslinya.

“Oh, ada kabar baru? Bukankah harusnya aku yang terlebih dahulu tahu?” tanya Miles Thornton, si ketua kelas. Matanya mengungkapkan bahwa ia baru saja terbangun dari mimpinya.

Gosh! Miles! Kau melupakan notebookmu! Apa yang kau inginkan, sih, sleepyhead?!” Stephen Wickliff, dengan nafas terengah-engah muncul tepat setelah Miles.

Geez… kalian ini selalu saja berisik setiap pagi,” sungut Renee Hainsworth yang terlihat kesal.

“Sama sepertimu, kan?” Avaline Macauley, membalas ucapan Renee dengan sedikit tawa setelahnya. Renee mengangkat bahunya, pertanda ia tidak mau peduli.

“Kenapa kalian perempuan harus bergosip setiap pagi, huh?” Dillon Humphrey, yang cukup dikenal dengan nicknamenya, prince charming.

“Yah! Dillon! Aku tidak bergosip!” bantah Ada. Dillon menyeringai kecil.

“Ya, Dillon benar kalian bergosip,” ujar Neff Ethelbert.

“Bergosip, tuh,” sambung Felix Craiss. Ruthven Ecclair dan Austin Lincoln, yang duduk tidak jauh dari keduanya menatap mereka dengan tatapan ‘hentikan komentar tidak berguna kalian’ dan dibalas dengan tatapan yang tidak jauh berbeda dari keduanya.

“Katakan langsung saja, Ada. Kau membuang-buang waktu mendengarkan komentar tidak berguna dari anak laki-laki yang juga tidak berguna.” Ruine Ashhford, teman sebangku Celiann berkata. Dalam seketika, aura hitam bercampur dingin keluar dari dirinya sampai ia kembali menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya.

“Ruu, kalau kau mengeluarkan aura mengerikan seperti tadi, Ada tidak akan berani menjawabmu,” ujar Arriley Spencer tepat di telinga Ruine.

“Ya! Arriley benar!” Audrey Schallon dan Shann Champney, berseru bersamaan dan lagi-lagi keduanya tertawa bersamaan.

“Pagi semuanya…!” seru Sherline Northcote dengan sepasang pom-pom di tangannya kemudian disusul gumaman ‘pagi’ dari Helen Flaherty.

“Oh my, Ruu! Siapa yang mengintimidasimu?” Sherline berlari-lari kecil ke arah Ruine. Ruine mengangkat kepalanya, menatap Sherline tajam kemudian menjawab,

“Tolong, Ms. Hantway, jangan ganggu aku.” Dan dia kembali ke posisinya semula. Tawa meledak, menggema di dalam kelas. Sherline kembali ke tempat duduknya, mengadu pada Lydia Shrewsbury, yang jelas-jelas gadis itu telah mendengar ejekan Ruine pada Sherline tadi.

“Yap, selesai tertawanya! Apa tidak ada yang mau kuberitahu tentang berita baru ini?” teriak Adelaide, setelah menepukkan tangannya berkali-kali di depan kelas agar kembali menarik perhatian teman-temannya.

“Silahkan, Ada,” ujar Naisha Kinsley dengan senyum lembutnya.

“Itu lebih baik daripada membiarkan Sherline diejek terus,” sambung Alice Whitney. Ia memang selalu baik dan membela orang lain.

“Sebenarnya-“

“Chloe dan Jasper akan kembali dari Paris, hari ini,” ujar Vineesha Connelly, memotong perkataan Adelaide.

“Whoa? Benarkah?” tanya Hanna Kithley dengan mulut setengah terbuka. Chloe Sullivan adalah sahabatnya. Sedangkan Jasper Sullivan, adalah kakak kembarnya.

“Kudengar dari televisi tadi pagi begitu, dua anak kembar pewaris tunggal keluarga Sullivan kembali dari kampung halamannya,” sahut Aylie Carnbell.

“Aku juga melihatnya di siaran langsung dari bandara, mereka berdua tidak henti-hentinya bertengkar,” ujar Karrel Eastcote.

“Bukankah itu sudah menjadi kebiasaan mereka, ya?” ujar Zach Samlerr dengan raut datar. Ia sepertinya terlihat kesulitan karena sesuatu.

“Benar, dan kita harus punya foto saat mereka bertengkar. Mereka kelihatan lucu sekali saat itu.” Ann Mightray berkata dengan wajah berseri-seri.

“Tenang saja Ann, aku sudah punya itu sejak dulu,” balas Ansell McFadden setelah memotret sosok Tiffany dan Miles yang sedang berdebat, juga Celiann dan Dillon yang beradu mulut. Padahal Celiann biasanya hanya mau beradu kata dengan Elsenn saja.

“Mereka? Bukankah yang kau maksud hanya Jasper, Ann?” Irish Aldaine menggoda Ann. Ann hanya mengangkat bahunya, sepertinya ia sudah mulai terbiasa dikatai seperti itu.

“Wah, Tiff, kau baru saja dipotret Ansell, lho,” ujar Allena Harcourt mengingatkan.

“APA?!” Tiff berseru marah, menoleh ke arah Ansell yang menunjukkan pandangan tak bersalah.

“Oh-uh, gawat,” bisik Kellisha Whittaker, membayangkan apa yang akan terjadi.

“Oh-hei! Sebentar lagi masuk, Ms. Louise akan memberikan petuah lagi kalau kalian berkejar-kejaran layaknya anak kecil seperti biasa!” ingat Leslie Chicester.

“Ya! Terlambat! Kemarikan kameramu, Ansell!” seru Tiffany, mengambil langkah untuk mulai mengejar Ansell. Ansell berlari menghindar.

“Ada apa ini?” Ms. Louise hadir secara tiba-tiba di depan kelas.

“O-ow. Tiff, Ansell, habislah riwayat kalian berdua,” bisik Scarell Houston, memulai pagi itu.