Senin, 05 Juli 2010

Chapter 8: Chosen (part 2)

“HA, kau lihat itu?!”

Tiffany dan Celiann terbahak melihat layar netbook. Lebih tepatnya, mereka terbahak melihat objek pada layar tersebut yang ditunjuk Zach. Seorang bodyguard baru saja berputar terhunyung layaknya orang mabuk di tepi danau, dan saat itu juga, seorang bodyguard yang meleng berlari menabraknya, sehingga kedua bodyguard itu sukses jatuh ke dalam danau dan tenggelam.

“Lihat—bahkan mereka tak punya kekuatan untuk setidaknya mengangkat tangan dan meminta tolong!” Tiffany menyeka air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

“Dan tak ada satupun yang menyadari tenggelamnya mereka—oh, kasihan sekali!” tawa Celiann.

Ya, sedari tadi, mereka terus menertawakan tingkah laku konyol para bodyguard yang sudah kelelahan dan tak sanggup berlari lagi—apalagi dihadang oleh hujan yang terus turun. Tiffany mengendalikan CCTV yang berada paling dekat dengan danau, sehingga mereka bertiga dapat melihat pemandangan yang menjadi bahan tertawaan itu.

Di tengah-tengah tawanya, sudut mata Tiffany dapat melihat ada sesuatu pada taskbar-nya. Tulisan.

Tiffany Sherrine (tiffsher@mail.co.uk)
Inbox: 103
Spam: 8 (1)

Ia lupa ada WiBro yang tampaknya berasal dari dalam mansion, sehingga ia bisa mengakses internet. Tulisan di taskbar itu rupanya adalah status dari alamat e-mail miliknya. Ia mengernyit melihat angka satu yang terkurung di sebelah angka delapan. Ada surat yang belum terbaca. Surat itu memang terletak di spam. Tetapi kadang server e-mail-nya suka menaruh e-mail penting ke folder spam.

Maka ia menggerakkan cursornya membuka folder spam, dan dahinya makin mengerut begitu melihat pengirim surat tersebut.

From: Fey Hartwell (fey_hartwell@mail.co.uk)
Subject: (No subject)

“Fey mengirim e-mail?” gumam Tiffany pelan, sampai Zach dan Celiann—yang sibuk mengobrol di belakang tentang para bodyguard bodoh itu—tidak mendengarnya. Ia membuka e-mail tersebut dan dapat melihat sebaris pesan dari Fey.

Kurasa ini dapat membantumu. Kutemukan dari sebuah buku yang kubaca.

Tiffany melirik ke bawah pesan itu. Matanya agak membulat membaca judul artikel tersebut.

“Pedang Api Abadi...?”

Ia pun mulai membaca artikel yang diberikan oleh Fey tersebut.

Pedang Api Abadi
Pedang Api Abadi ialah pedang yang dimiliki oleh Siegfried Acklesenn, seorang pria asal Irlandia yang berhasil menghentikan Leonas dan Hujan Kenelzh yang dibuatnya. Sekarang, pedang ini tak diketahui keberadaannya, meskipun banyak yang mengatakan bahwa pedang ini bersemayam bersama jenazah Siegfried pada makamnya—yang juga tak diketahui keberadaannya.

Paragraf itu memang biasa saja. Bagi Tiffany, paragraf berikutnya adalah paragraf yang mengguncang pikirannya.

Menurut cerita yang beredar, pedang ini memiliki koneksi dengan pemiliknya—dalam kasus ini adalah Siegfried Acklesenn. Pedang ini tak bisa digunakan oleh sembarang orang. Pedang itu sendiri yang akan menentukan siapakah yang pantas menggunakan pedang itu.Orang itu haruslah orang yang kuat dan tidak memiliki rasa takut.

Ia makin tercengang begitu melihat kalimat terakhir dari paragraf kedua itu.

Jika orang yang tidak pantas memegang pedang ini, maka konon katanya pedang itu akan menghantarkan panas yang membuat darah mendidih.

Matanya terpaku pada kalimat itu. Mulutnya mengaga lebar karena kaget. Oh, tidak, oh tidak...

“Kita harus segera menyusul mereka!” Tiffany tahu-tahu bangkit dan berlari, membuat Celiann serta Zach kaget bercampur panik. Mereka segera mengejar Tiffany yang sudah tergopoh-gopoh memasuki mansion Acklesenn.

“Hei, hei! Tunggu—ini payungnya!!” Dan bahkan seruan Zach itu tak digubris oleh Tiffany.

***

“Apa...ini...?”

Stephen, Ann, dan Vincent masih tercengang dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Di ujung ruangan itu, sebuah rangka yang sudah berwarna cokelat dan mengenakan baju zirah bersandar di dinding. Berbagai hewan antropoda sudah mengerubunginya—jelas membuat Ann jijik. Namun kemudian, mata mereka bertiga terpusat pada benda yang tertancap di tanah, berada di samping jasad tersebut.

“Pedang...Api...Abadi...” bisik Vincent. “Tak salah lagi. Ini adalah makam Siegfried Acklesenn.”

“Jadi maksudmu jasad di sana adalah Siegfried?” tanya Ann. “Jelas sekali dia tidak mendapat perawatan tubuh sebelum mati. Aku bisa membuat makalah sejarah tentang tidak adanya keberadaan salon dan alat kecantikan pada abad 14.”

Stephen menatap Pedang, kemudian jasad Siegfried, kemudian Pedang, Siegfried, Pedang, dan akhirnya ia terfokus pada pedang tersebut. Dengan mantap, ia pun mengambil satu langkah.

“Tunggu.” Tapi bahkan tepat pada saat telapak kakinya akan berpijak untuk membuat langkah pertama, kembali Vincent mencegah. “Menurutmu kita harus langsung mengambil pedang tersebut? Bukankah baiknya kita menunggu Tiff?”

Stephen mengernyit. “Untuk apa?”

“Aku setuju dengan Vincent,” ujar Ann. “Lebih baik kita menunggu Tiff—dia lebih paham soal pedang ini. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika pedang ini kita ambil tanpa izin.”

“Ck, ayolah!” dengus Stephen. Kini ia sudah berada di samping pedang tersebut. “Dia sudah mati, Ann. Lagi, kita mengambil pedangnya untuk kebaikan.” Bersamaan dengan itu, Stephen mencabut pedang tersebut dari tanah dan mengacungkannya kepada Ann dan Vincent. Pedang itu sama sekali tak termakan oleh waktu; tak ada sedikit pun karat yang menodai pedang tersebut. Malahan, pedang itu tampak berkilau, membuat Stephen, Ann, dan juga Vincent tak berkutik di hadapannya.

DRRR!

Tapi kemudian, terasa guncangan pada ruangan itu, membuat beberapa kerikil dan debu jatuh dari langit-langit ruangan. Mereka bertiga saling melempar pandangan, dan tanpa saling mengucap sepatah kata pun dan tanpa berpikir panjang, mereka segera berlari menyusuri terowongan dan sampai di ujung. Menengadah ke atas, mereka melihat Renee dan Ruthven. Dan tanpa aba-aba, kedua orang itu berusaha menolong mereka bertiga untuk naik, sebelum akhirnya lubang itu tertutup kembali secara ajaib tanpa meninggalkan bekas apapun.

Mereka berlima menatap area yang tadinya merupakan lubang menuju makam Siegfried itu dengan tatapan heran dan kaget. Tapi tak lama kemudian, suara langkah dari belakang membuat mereka berbalik. Dan dari jarak lima belas meter, mereka dapat melihat Tiffany, Zach, dan Celiann sedang berusaha mendekati mereka.

“Tunggu! Jangan dia—astaga....” Seruan Tiffany itu kemudian berubah menjadi sebuah bisikan begitu ia telah mendekat. Ia menatap pedang yang dipegang Stephen dengan tatapan tak percaya. Berkali-kali bibirnya berkontur membentuk kata “astaga” yang sama sekali tak terbaca maupun terdengar oleh kawan-kawannya.

“Ya, Tiff.” Renee tersenyum lebar, mengira bahwa Tifany kaget dan senang melihat pedang yang dipegang Stephen. Ia mengambil satu langkah ke depan, sehingga kini jaraknya tinggal sepuluh sentimeter.

“Kita telah mendapatkannya,” ucap Renee sembari berbalik kepada Stephen yang ada di belakangnya. “Pedang Api Abadi.” Renee mengulurkan tangannya. Dengan itu, Stephen tahu bahwa Renee ingin mengambil pedang tersebut. Maka ia pun menyodorkannya kepada Renee. Segera Tiffany sadar.

“Jangan!”

Ctak!

Terlambat.

Ting!

“AWW!” Renee cepat-cepat mengibaskan tangannya, membuat pedang itu jatuh ke tanah berumput yang basah itu. Ia menatap Stephen dengan tatapan tak percaya sekaligus kesal.

“Sialan! Kau mencoba untuk membunuhku, ya?!” tanya Renee marah besar, kini memegangi telapak tangannya. “Tadi itu panas, tahu?!”

“Apa?! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa!” Stephen mencoba membela diri. Masih menatap Renee dengan sebal, ia berjongkok dan mengambil pedang itu kembali.

“Tidak bisa sembarang orang yang memegang pedang tersebut.” Begitu Stephen menggenggam pedang tersebut, suara Tiffany terdengar di telinganya. Ia bangkit dan menatap Tiffany seperti yang kawan-kawannya lakukan sekarang.

“Hanya orang-orang terpilih lah yang dapat memegang dan memiliki pedang tersebut. Orang yang tidak kenal akan rasa takut,” terang Tiffany perlahan-lahan. “Jika pedang itu dimiliki—tidak, bahkan disentuh oleh orang yang tidak terpilih, maka pedang itu bisa menghantarkan panas yang mematikan.”

Dengan berakhirnya penjelasan itu, maka tak pelak, semuanya menegakkan kepala dan menolehkannya kepada satu titik. Titik yang sebenarnya adalah orang yang berdiri di tengah-tengah mereka dan menggenggam pedang pada tangannya.

“A-apa...?”

“Stephen Wickliff,” ucap Tiffany. “Kini kau adalah pemilik dari Pedang Api Abadi itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar