Jumat, 02 Juli 2010

Chapter 4-Lose or Die

Pelajaran olahraga hari ini sungguh membosankan karena Mr. Haphfurd, entah kenapa sejak tadi tak bosan-bosannya membolak-balik daftar nilai kelas mereka. Dan pandangannya, serius sekali sampai Miles saja tak berani menegurnya. Guru yang masih berumur 19 tahun itu melakukannya seraya mengunyah satu potong sandwich di mulutnya. Sesekali telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, mengenyahkan keheningan. Sampai akhirnya, dia menghentikan semua aktivitasnya dan menatap lurus ke depan, menatap seluruh muridnya. Kontan semuanya menegakkan tubuhnya. Dan akhirnya dia berbicara.

          “Celiann, Dillon, Elsenn, dan Ruthven. Kalian berempat akan mewakili kelas ini untuk mengikuti lomba lari estafet. Sepulang sekolah nanti kita akan mulai berlatih di lapangan atletik Phoenix of Kronosa. Dan untuk sementara ini, tidak ada olahraga dulu.”

          Dillon bersorak. Elsenn yang tadinya menopangkan kepalanya di kedua tangannya, menatap Mr. Haphfurd tidak berminat. Ruthven menatap guru itu tidak percaya, mengingat larinya tidak tergolong sangat cepat. Celiann memiliki pandangan yang persis seperti Ruthven. Setidaknya itu memberikan alasan bagi Mr. Haphfurd untuk mempertimbangkan sekali lagi keputusannya. Namun ia berjalan keluar kelas begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun. Celiann merengut kesal.

          “Celiann sukses ya!” seru Shann tidak memperdulikan apa yang Celiann rasakan saat ini. Satu, ia satu tim dengan dua orang laki-laki yang dibencinya, Dillon dan Elsenn. Ia tak masalah akan kehadiran Ruthven, tapi lain jika kedua orang pembawa masalah itu. Dua, waktunya untuk bermain dan beristirahat menjadi berkurang karena kemungkinan besar latihan akan diadakan setiap hari mengingat lomba akan berlangsung seminggu lagi. Tiga, ia tidak punya cukup waktu untuk berfikir mengenai permainan Nellson, padahal ia mungkin hanya orang satu-satunya yang memperdulikan akan hal itu sampai tidak sempat memikirkan hal lain. Beruntung hasil try out ketiga yang diadakan tidak lama setelah try out kedua lebih bagus tentunya.

          “Celiann, aku tidak peduli kau mau mati atau tidak, yang penting kau harus menang!” ujar Audrey yang tidak kalah tidak berperasaannya. Seluruh murid Deordical Academy dari berbagai tingkatan dan section, seluruhnya pasti tahu sebuah perlombaan sudah seperti deklarasi perang antara murid-murid senior dan murid-murid junior. Celiann menatap kedua sahabatnya dengan tatapan putus asa namun pada akhirnya ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa bersiap sepulang sekolah nanti.

 

          ***

 

Lapangan atletik Phoenix of Kronosa. 14.20 AM.

       Mr. Haphfurd melirik jam tangannya. Kemudian ia melayangkan pandangannya kembali ke arah keempat muridnya. Dillon, yang memang dikenal sebagai pelari tercepat di tingkat junior telah menyelesaikan lima putaran lapangan sebagai latihan hari ini sejak tiga menit yang lalu dan kini sedang beristirahat di pinggir lapangan. Sedangkan Ruthven, ia sudah menyelesaikan empat putaran tanpa berkata-kata karena ia tahu percuma saja ia melayangkan protes kepada Mr. Haphfurd.

          Mr. Haphfurd kemudian memandangi Elsenn dengan pandangan kesal. Ia baru saja berlari untuk putaran keempat dengan santai. Ia tak peduli Mr. Haphfurd mengamatinya dari jauh atau tidak, ia hanya berlari sesukanya. Celiann sendiri mulai terengah-engah saat menyelesaikan tiga putaran penuh apalagi Mr. Haphfurd memandanginya seolah-olah ia adalah anak yang tidak berguna.

          Mr. Haphfurd kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan atletik itu. Ia merasa ada yang mengamatinya, entah dari dekat atau dari jauh. Tubuhnya kemudian terpaku saat melihat seorang perempuan tiba-tiba ada di dekatnya. Perempuan itu tidak memperdulikan reaksinya, ia hanya mengamati dengan santai ketiga temannya yang masih ada di lapangan. Mr. Haphfurd hampir saja mau berbicara, namun perempuan itu terlebih dahulu berujar,

          “Siang, Mr. Haphfurd. Maaf mengganggu sesi latihanmu.” Ruine melirik ke arah guru itu seraya tersenyum miring. Mr. Haphfurd berusaha bersikap acuh tak acuh saat mendapat tanggapan santai dari perempuan itu.

          “Apa yang kau lakukan disini, Ruine Ashhford?” tanyanya dingin.

          “Melihat mereka latihan,” jawab Ruine polos.

          “Maksudku, mengapa kau hadir tiba-tiba di sampingku? Aku banyak mendengar reputasi tidak wajar tentangmu dari murid-muridku.”

          “Apa… anda juga masuk dalam permainan Nellson? Aku melihat kombinasi yang tidak bagus dalam pengelompokan mereka untuk lomba lari estafet. Tapi setelah kupikir lagi, pasti tidak akan ada jawaban, kan?”

          Mr. Haphfurd berusaha tidak menanggapinya. Namun kemudian ia menatap Ruine dengan pandangan kosong kemudian berkata,

          Silly. Kau selalu berpikiran buruk, ya.”

 

***

         

          Ruthven merenggangkan badannya selagi menunggu intruksi selanjutnya dari Mr. Haphfurd. Namun pandangan matanya tidak lepas dari Mr. Haphfurd yang menghabiskan waktunya sejak satu jam yang lalu berbicara di handphonenya. Mau tak mau ia penasaran siapa yang menghubungi Mr. Haphfurd sampai selama itu. Ia pun mengambil botol minumnya, dan menghabiskan setengah dari air mineral di dalamnya. Pandangannya kemudian terpaku pada Neff, yang baru saja memasuki lapangan atletik Phoenix of Kronosa, melambaikan tangannya pada dirinya kemudian berlari ke arahnya. Saat Neff di depannya pun Ruthven hanya kebingungan menatapnya.

          “Kau menyambutku seperti musuh saja. Padahal aku sudah merelakan waktu dan tenagaku untuk melihatmu berlatih disini,” ujar Neff.

          “Aku tidak butuh kau melihatku. Kau pasti ada perlu dengan Dillon, kan?”

          “Ya, mengingat ada penyaringan pemain untuk klub sepak bola, aku mau bertanya bagaimana detailnya. Tapi keadaanmu rasanya juga perlu dikhawatirkan.”

          “Apa?” Ruthven bertanya skeptis.

          “Kau tidak apa-apa sejauh ini? Pertandingannya dua hari lagi dan kami tidak akan memaafkanmu kalau kau kalah.”

          “Memangnya apa lagi yang dikatakan para senior itu?”

          “Aku tidak tahu pasti tapi sejak kejadian antara Chloe-Nellson-Arriley itu, rumor tentang skandal kepala sekolah kita diangkat kembali karena belum sempat diselesaikan. Jadi selain aku khawatir padamu, lebih tepatnya karena kemampuan larimu yang tidak sangat cepat, aku agak khawatir pada Celiann. Kecil kemungkinannya, kalau ia bilang ia tidak tahu masalah rumor itu.”

          “Oh ya? Tapi sejauh ini dia terlihat baik-baik saja. Dan tolong jangan mengejekku dengan frontal seperti itu.”

          “Ups, maaf, maaf. Lalu, kenapa aku merasa juga ada yang aneh dengan Mr. Haphfurd hari ini. Dia begitu menikmati waktunya melalui pembicaraan di teleponnya itu.” Ruthven mengangguk.

          “Ah, aku mengerti,” kata Neff lagi, “hanya satu orang yang dapat membuatnya berlama-lama di telepon. Nellson Authbert.” Satu-satunya orang yang paling mengerti semua hal di dunia ini.

 

Ruang Teknisi. Stadion utama Deordical Academy. 07.23 AM.

       “Irish! 25 kamera pengawas di tribun timur sudah siap, sedangkan di tribun barat, baru 23 kamera pengawas yang aktif,” ujar Allisha, salah satu panitia dari kelas 92. Sebuah kamera yang sejak awal dikalungkan di lehernya tidak juga dilepaskannya sejak dua jam yang lalu. Irish mengangguk kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke seratus dua puluh layar di depannya, memastikan tepat jam delapan nanti, semua kamera pengawas sudah menyala.

          “Ms. Aldaine! Kita kekurangan dua bangku di ruang VIP.” Kali ini salah satu junior yang memanggilnya. Irish, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar, menunjuk Allisha. Irish memutar matanya saat hampir seluruh kamera menyala, hanya tersisa dua kamera. Satu kamera, sekarang. Irish mengetuk-ngetukkan jarinya kesal, karena satu kamera itu tidak juga menyala padahal waktu pertandingan tinggal lima menit lagi.

          “Allisha!”

          “Duh, Irish, tidak perlu berteriak begitu, aku di dekatmu. Ada apa?” balas Allisha.

          “Kenapa sejak tadi kamera nomor sepuluh tidak menyala?”

          “Oh ya? Di bagian mana?” Irish segera menunjuk laptopnya, lebih tepatnya ke sebuah titik bertuliskan angka romawi sepuluh. Allisha mengerutkan dahinya, kemudian mengangguk-angguk mengerti.

          “Lorong dekat ruang tunggu, ya. Kemarin saat aku melihatnya, kondisinya masih baik-baik saja. Mungkin kamera itu rusak. Lagipula, Irish, lokasi itu sepertinya hanya dilalui para peserta yang bertanding di waktu terakhir, kan. Kurasa tidak ada masalah akan itu dan kita juga tidak punya waktu lagi.”

          “Kita harus mencari penggantinya. Apapun yang dapat digunakan sebagai pengganti kamera pengawas itu, kita harus tetap mencarinya,” balas Irish keras kepala.

          “Irish! Bagaimana persiapannya?” seru Adelaide saat ia melenggang masuk dengan santai, tidak peduli tatapan beberapa murid yang masih sibuk di dalam ruangan itu. Irish sendiri menatapnya dengan mata terbinar-benar, lebih tepatnya ke arah sebuah handycam yang sedang digenggam Ada.

          “Ada, kumohon pinjamkan handycammu!”

 

Ruang Tunggu. Stadion Utama Deordical Academy. 11.35 AM.

          Dillon memastikan untuk kedua kalinya bahwa tali sepatunya telah terikat, kemudian ia memandang ketiga temannya yang masih sibuk mempersiapkan diri mereka. Celiann yang sedang memasang ikat kepalanya kemudian Elsenn dan Ruthven yang sibuk membaca sesuatu yang ada di lembaran-lembaran kertas yang sedang mereka genggam.

          “Apa yang kalian baca?” tanya Dillon. Elsenn hanya mengangkat kepalanya kemudian ia mengacuhkan sahabatnya, kembali pada kertas-kertas itu. Sedangkan Ruthven, ia tidak memperdulikan pertanyaan Dillon sekalipun sehingga membuat prince charming itu mendengus kesal. Celiann menahan tawanya saat melihat Dillon seperti itu, karena biasanya ia-lah yang selalu ada di pihak yang menahan kekesalan.

          “Mereka sedang membaca data tentang lawan terakhir kita,” ujar Celiann, menjawab pertanyaan Dillon. Dillon menatap Celiann, kemudian ia menatap kedua teman laki-lakinya, dan kembali menatap Celiann lagi. Ia pun berjalan mendekati Celiann dan menarik tangannya, kemudian membawanya keluar ruang tunggu. Elsenn mengangkat kepalanya lagi, melirik ke arah pintu ruang tunggu, kemudian tertawa kecil.

          “Apa yang kau tertawakan, El?” tanya Ruthven kebingungan.

          “Kau lihat tampang Dillon tadi. Hah! Ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu! Lucu sekali!” Tawa Elsenn semakin keras.

          “Hei, lebih baik kau susul dia sebelum dia semakin marah padamu.”

          “Yah! Memangnya kau mau apa lagi? Pertandingan kita sudah sebentar lagi, kaut tahu?” Ruthven menunjuk kedua sepatunya yang belum terikat rapi. Elsenn mengangkat bahunya kemudian keluar dari ruang tunggu, berlari kecil. Ruthven segera mengikat tali sepatunya, namun setelah itu bukannya keluar dari ruang tunggu ia meraih kertas-kertas yang sengaja ditinggalkan Elsenn. Ia hanya perlu membaca data satu orang lagi. Ia meraih kertas itu, baru beranjak dari ruang tunggu.

          “Ouch!” Ruthven kemudian mendengar suara rintihan dua orang, namun dengan tipe suara yang berbeda. Ruthven mempercepat jalannya kemudian melihat Elsenn terjatuh terduduk dan juga seorang perempuan yang sama-sama terjatuh, tepat di atas Elsenn. Perempuan itu segera bangkit dan berkali-kali meminta maaf pada Elsenn kemudian ia berbalik, ke arah stadion. Ruthven menatapnya lekat-lekat, kemudian dia beralih menatap selembar kertas yang ia bawa. Dia…

         

Stadion Utama Deordical Academy. 11.45 AM.

          “Pertandingan final antara kelas IX-6 dan X-2! IX-6 posisi pertama ditempati oleh putri kepala sekolah kita, Celiann Amherst! Posisi kedua, Elsenn Hantway. Posisi ketiga, Ruthven Ecclair. Dan posisi terakhir, Dillon Humphrey! Sedangkan X-2, posisi pertama ada Saphire Eloinne. Posisi kedua, Michelle Northan. Posisi ketiga, Nathaniel Holywell. Dan posisi terakhir, Nevian Hepburd. Nah, siapakah yang akan menang tahun ini?! Apakah sang senior, atau malah sang junior?? Ya, semua peserta telah bersiap di posisi masing-masing. One… Two… Three, GO!“

 

          Setelah pembawa acara meneriakkan aba-aba, Celiann segera berlari sebisa mungkin bukan secepat mungkin. Ia sebenarnya malas sekali harus mengikuti lomba ini kalau saja Mr. Haphfurd tidak memaksanya dan ini semua demi kelasnya. Entah apa yang ada di pikiran Mr. Haphfurd, padahal masih banyak anak laki-laki lainnya yang kemampuan berlarinya lebih cepat dari Celiann.

          Celiann kembali fokus. Dilihatnya Elsenn sudah menunggu di depan. Ia terlihat berkeringat padahal ia belum berlari dan ia terlihat seperti menahan sakit. Celiann mau tak mau mengerutkan keningnya, mengira-ngira apa yang telah terjadi pada Elsenn. Namun saat Elsenn menyambar tongkat kelas mereka dengan kasar, mau tak mau Celiann hanya mendengus kesal. Ia mengatur nafasnya, kemudian memperhatikan Elsenn berlari dengan kecepatan yang lebih baik daripada saat latihan. Namun Michelle, lawan mereka berada pada garis yang seimbang. Celiann tak menyangka kakak kelasnya itu dapat menyaingi kecepatan lari Elsenn. Celiann dari jauh terus menatap Elsenn. Namun ada yang aneh dengan laki-laki yang akhir-akhir ini suka membuatnya marah itu. Celiann dapat melihat kecepatannya semakin melambat. Dan kemudian, ia… jatuh.

          Celiann ingin berlari mengejar Elsenn, namun mengurungkan niatnya saat melihat Ruthven telah melakukan apa yang diniatkannya. Celiann kemudian berlari memasuki lorong di bagian tribun barat, dan berlari melewati lorong yang menuju tribun utara. Saat melihat Elsenn kesulitan membawa tubuhnya sendiri, Celiann mendekatinya kemudian memapahnya ke ruang kesehatan. Dan itu adalah pertama kalinya Celiann melihat Elsenn begitu lemah dan tidak bertenaga seakan-akan semua tenaganya telah terserap habis oleh suatu hal. Setelah Elsenn meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja, Celiann meninggalkannya sendirian di ruang kesehatan. Celiann kemudian berjalan dengan segala kebingungan akan kejadian tadi. Namun ia mengehentikan langkahnya saat melihat sosok Ruine. Ia memutuskan untuk menjulurkan sedikit badannya untuk mengintip apa yang sedang terjadi. Dan betapa kagetnya Celiann saat melihat Ruine meretakkan dinding lorong dengan sebuah pedang kecil tergenggam di tangan kanannya dan Nellson tepat persis di depannya. Mereka saling bertatapan tanpa mengeluarkan satupun kata. Celiann terus memperhatikan mereka sampai ia tiba-tiba melihat, sahabatnya itu menundukkan kepalanya tanpa melepaskan pedangnya dan ia juga melihat Nellson menyeringai lebar. Buruk. Namun di samping itu, semua berjalan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja meskipun pada akhirnya hal itu membawa masalah yang lebih buruk lagi dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar