Jumat, 02 Juli 2010

Chapter 5-Move, Fight, Get Back

Elsenn membuka matanya dari tidur nyenyaknya sejak seminggu yang lalu ia tidak bisa tidur sedikitpun karena menahan sakit. Sakit di kakinya akibat terjatuh saat pertandingan lari estafet itu. Untungnya, gara-gara ia terjatuh, kemenangan kelasnya tidak terlepas. Pada akhirnya kelasnya menang. Ia harus berterimakasih pada Dillon dan Ruthven, yang berlari setelahnya, tentunya pada Celiann juga karena gadis itu telah menolongnya.

          Boleh dibilang, ia jatuh tanpa sebab yang jelas karena sejak awal pertandingan ia merasa kakinya sakit namun tidak ada luka. Karena sakit itu pula, ia merasa kesal dan akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya saat berlari. Namun semakin banyak kakinya digerakkan, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sejak ia menabrak seorang perempuan yang tak lain adalah lawannya saat itu, ia mulai merasakan sakit di kakinya. Ya, sejak bertemu dia. Elsenn bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mengamati sesaat kakinya yang mulai berwarna kebiruan. Ia tak mengerti mengapa. Ia pun cengan cepat memakai seragamnya, meraih tas dan laptopnya kemudian keluar dari kamarnya, berjalan menuju gedung sekolahnya.

          “Pagi, Elsenn!” sebuah suara menyadarkannya dari lamunannya. Sosok Dhynella sudah muncul tepat di samping Elsenn, tersenyum ceria seperti biasanya. Elsenn hanya bisa memberinya senyum palsu.

          “Bagaimana kondisi kakimu?“ ujar Dhynella lagi.

          “Sudah lebih baik dari seminggu lalu, Dhyn,” balas Elsenn berbohong.

          “Oh, ya? Baguslah kalau begitu. Membosankan sekali kalau bukan kau yang biasanya.” Dhynella tersenyum lagi pada Elsenn, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

          Thanks,” hanya kata itu yang mampu Elsenn ucapkan dari mulutnya. Dhynella menepuk punggungnya friendly kemudian berlari ke arah Adelaide yang baru saja melambaikan tangannya pada keduanya.

          Elsenn menghela nafas. Dhynella bukanlah orang pertama yang ia bohongi. Ia menahan sakit setiap harinya dan itu jelas sangat berat untuknya. Ia tidak mengerti. Ya, hanya tidak mengerti. Tapi apakah ketidakmengertiannya itu malah membawanya kepada kemungkinan hal yang buruk lagi? Elsenn selalu mengatakan pada dirinya sendiri, berulang-ulang kali. Ia bahkan tidak bisa menceritakannya pada Reo, sahabatnya yang paling ia percaya, juga Erissa, saudaranya sendiri. Tapi ia tahu, kali ini ia pasti dapat melakukan segalanya sendiri. Ya, ia akan meminta penjelasan perempuan yang telah menabraknya sebelum pertandingan itu. Ia tahu betul ini pasti ada kaitannya dengannya. Michelle Northan, si bungsu dari salah satu keluarga mafia terbesar di dunia.

 

***

 

Perpustakaan Phoenix of Kronosa. Sepulang sekolah.

          “Rin? Kau baik-baik saja?” tanya Reo khawatir saat melihat perubahan muka sahabatnya itu saat menatap sebuah pedang kecil di tangannya, yang terbuat dari perak itu. Lagipula ia juga tak mengerti bagaimana bisa dia membawa benda seperti itu, tanpa perasaan khawatir jika ada saja guru yang melihatnya.

          “Tidak,” balas Ruine dengan penuh kejujuran. Ia memandangi pedang di depannya beberapa detik lagi kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Reo dan berkata, “kenapa kau melihatku seperti itu?”

          “Ah… aku tidak habis pikir kenapa kau sampai serius melayani setiap kata-kata dan permainan Nellson. A-aku tidak tahu mengapa dia melakukan ini dan siapa dia sebenarnya, tapi ini yang paling aku takutkan dari dulu. Kalau kau sudah terlibat dengannya, kau tidak bisa kembali lagi.”

          “Aku tidak bodoh, Reo. Aku tahu semuanya. Aku selalu tahu semuanya tentang kalian.”

 

Kelas IX-6. Pada saat yang sama.

          “Jadi… kau belum menemukan kaset rekamannya?” tanya Adelaide untuk ketiga kalinya. Ia tidak yakin pada apa yang ia dengar dari Irish, bahwa kaset rekaman dari handycamnya hilang dan tidak dapat ditemukan. Dan Irish, untuk ketiga kalinya menggeleng.

          “Ada, lagipula itu hanya kaset rekaman, kan. Yang penting handycammu tidak hilang. Apa ada sesuatu yang sebelumnya telah kau rekam disana?”

          “Irish, kaset rekaman itu lebih penting dari rekaman-rekaman yang sebelumnya. Ehm, begini Irish Aldaine, kau tentu dapat melihat dengan jelas Elsenn jatuh saat pertandingan itu, kan? Aku mulai merasakan ada hal yang tidak wajar dengannya mengingat Elsenn tidak mudah kehilangan energinya seperti itu KECUALI dia telah mengalami sesuatu sebelumnya. Dan kau ingat, sebelum mereka ada di stadion, secara otomatis mereka pasti ada di ruang tunggu dan handycamku adalah satu-satunya alat yang merekam seluruh kejadian di bagian lorongnya. Jadi, dengan kata lain, aku yakin ini pasti ada kaitannya dengan hilangnya kaset rekamanku yang terakhir!”

          “Adelaide Holywell! Hentikan permainan detektif-detektifanmu itu! Memangnya para senior mau melakukan apa pada Elsenn?”

          “Sesuatu yang berbahaya, jelas!” Ada berteriak lebih keras. Mukanya memerah setiap detik ia menarik nafas dan berusaha agar suaranya lebih keras daripada Irish.

          “Kubilang hentikan analisa asal-asalanmu itu!”

          “Aku tidak-

          “Hentikan,” ujar Stephen pelan, seraya memasuki kelas dan menatap Irish dan Ada, satu per satu. Meneliti raut muka mereka. Kemudian dia menarik lengan Ada, memaksanya agar dia mau mengikutinya keluar kelas.

          “Apa… Stephen?”

          “Benarkah apa yang kau katakan tadi?” tanya balik Stephen.

          “Apa…?”

          “Benarkah… Elsenn dalam bahaya?” suara Stephen memelan, seolah-olah ia takut akan kenyataan yang akan diberikan Ada.

          “Ya, mungkin benar apa kata Irish kalau aku hanya menganalisa asal-asalan, tapi dugaanku tidak pernah salah.”

          “Terus cari kaset rekaman itu. Aku akan membuat Elsenn bicara.”

 

***   

 

          “Astaga, Elsenn. Ada apa denganmu?!” tanya Stephen panik saat melihat lebam-lebam di wajah Elsenn. Begitu juga dengan kedua tangannya, bahkan terdapat goresan-goresan layaknya telah dikenai benda tajam. Kemeja putihnya bernodakan darah, entah darahnya atau darah orang lain. Dan saat melihat kakinya, ia menatap tak percaya bahwa ada darah yang sedikit demi sedikit terus mengalir. Pandangannya sayu, mukanya sangat pucat, dan ia terlihat lemas sekali.

          Stephen segera meraih tangannya dan memapah Elsenn masuk ke dalam kamarnya. Dibantunya Elsenn agar ia dapat berbaring di tempat tidur. Ia pun meraih jaketnya dan berniat untuk keluar asrama, mencari pertolongan. Tapi Elsenn menarik tangannya, dan mengatakan satu kalimat di sisa-sisa kesadarannya,

          “Reo… kau hanya boleh… memanggil Reo.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar