Minggu, 27 Juni 2010

Prologue

*Gasp*

“Cepat pergi dari sini atau kau menyesal seumur hidupmu!” ujar seorang gadis seraya menghunuskan pedang kepada musuhnya, sahabatnya sendiri.

“Kalau aku mati, maka kau juga akan mati. Seluruh dunia juga akan mati,” jawab laki-laki yang tidak lain adalah sahabatnya itu. Matanya yang berwarna merah tua terlihat menyala-nyala saat gadis itu menggerakkan tubuhnya dengan gemulai, mengiris tangannya dalam waktu kurang dari tiga detik.

“Dunia tidak akan mati. Kami memang klan berkhas kegelapan, tapi bukan berarti kami tidak berhak mengatur dunia. Kalianlah yang nantinya akan menghancurkan dunia. Dugaanku tidak pernah salah, Algra. Aku telah mematai-matai kalian sebelumnya.”

Gadis itu memutar pedangnya dengan gerakan yang indah, sementara sahabatnya-Algra-sibuk menghindar dengan pedang yang sama.

“Kalau begitu, di saat dunia berputar lagi, kita tidak akan pernah bersatu lagi. Kita… musuh selamanya, Olive.”

Full of scenes


Full of adventures

Full of wars

Full of bloods

Full of tears

Full of love

Maybe you’re just an ordinary human

But no matter what you must stand by your feet

Although there are a thousand of guards will protect you

And a dozen of friends will beside you

Hold your tears and wake up

Crush your nightmare and hold your strength

Face the true world of yours


Tahun 2021. 14 September.

“Pagi, semuanya. Sudah dengar kabar pagi ini?” Adelaide berseru saat langkahnya memasuki kelas 96. Ia meletakkan tasnya di bangku paling depan, sekaligus memastikan pom-pom dan seragam cheerleadernya ada di dalam tasnya.

“Duh, ada apa sepagi ini kau sudah berteriak, Adelaide Holywell?” Dhynella Neilenn, sahabat sekaligus teman masa kecilnya bertanya. Tangannya sibuk mengutak-atik netbook terbarunya. Fey Hartway dan sahabatnya, Vincent Nightray, mau tak mau tertarik pada apa yang dibicarakan Ada, nickname Adelaide. Padahal biasanya, tidak ada yang mampu memecah perhatian Fey dari bukunya, dan Vincent, dari sketsa gambarnya.

“Kabar baru apa?” tanya Celiann Amherst dan Elsenn Hantway bersamaan. Sebuah energi tak bersahabat tidak lama kemudian mengalir dengan cepat di antara keduanya. Selalu, seperti itu, sejak tahun ajaran baru.

“Kau punya kabar baru? Bagaimana aku bisa tidak mengetahuinya?” Annalise Fletcher berujar dengan nada terheran-heran di setiap katanya. Biasanya, selalu ia yang memberikan kabar terbaru kepada teman-temannya, mengingat koneksinya cukup luas.

“Kerja bagus Ada! Kau mengalahkan Annalise kali ini!” seru Tiffany Sherrine, setelah menunjukkan sedikit sleepy face-nya yang semula tersembunyi oleh laptopnya. Ada dan Annalise, keduanya masing-masing menaikkan sebelah aslinya.

“Oh, ada kabar baru? Bukankah harusnya aku yang terlebih dahulu tahu?” tanya Miles Thornton, si ketua kelas. Matanya mengungkapkan bahwa ia baru saja terbangun dari mimpinya.

Gosh! Miles! Kau melupakan notebookmu! Apa yang kau inginkan, sih, sleepyhead?!” Stephen Wickliff, dengan nafas terengah-engah muncul tepat setelah Miles.

Geez… kalian ini selalu saja berisik setiap pagi,” sungut Renee Hainsworth yang terlihat kesal.

“Sama sepertimu, kan?” Avaline Macauley, membalas ucapan Renee dengan sedikit tawa setelahnya. Renee mengangkat bahunya, pertanda ia tidak mau peduli.

“Kenapa kalian perempuan harus bergosip setiap pagi, huh?” Dillon Humphrey, yang cukup dikenal dengan nicknamenya, prince charming.

“Yah! Dillon! Aku tidak bergosip!” bantah Ada. Dillon menyeringai kecil.

“Ya, Dillon benar kalian bergosip,” ujar Neff Ethelbert.

“Bergosip, tuh,” sambung Felix Craiss. Ruthven Ecclair dan Austin Lincoln, yang duduk tidak jauh dari keduanya menatap mereka dengan tatapan ‘hentikan komentar tidak berguna kalian’ dan dibalas dengan tatapan yang tidak jauh berbeda dari keduanya.

“Katakan langsung saja, Ada. Kau membuang-buang waktu mendengarkan komentar tidak berguna dari anak laki-laki yang juga tidak berguna.” Ruine Ashhford, teman sebangku Celiann berkata. Dalam seketika, aura hitam bercampur dingin keluar dari dirinya sampai ia kembali menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya.

“Ruu, kalau kau mengeluarkan aura mengerikan seperti tadi, Ada tidak akan berani menjawabmu,” ujar Arriley Spencer tepat di telinga Ruine.

“Ya! Arriley benar!” Audrey Schallon dan Shann Champney, berseru bersamaan dan lagi-lagi keduanya tertawa bersamaan.

“Pagi semuanya…!” seru Sherline Northcote dengan sepasang pom-pom di tangannya kemudian disusul gumaman ‘pagi’ dari Helen Flaherty.

“Oh my, Ruu! Siapa yang mengintimidasimu?” Sherline berlari-lari kecil ke arah Ruine. Ruine mengangkat kepalanya, menatap Sherline tajam kemudian menjawab,

“Tolong, Ms. Hantway, jangan ganggu aku.” Dan dia kembali ke posisinya semula. Tawa meledak, menggema di dalam kelas. Sherline kembali ke tempat duduknya, mengadu pada Lydia Shrewsbury, yang jelas-jelas gadis itu telah mendengar ejekan Ruine pada Sherline tadi.

“Yap, selesai tertawanya! Apa tidak ada yang mau kuberitahu tentang berita baru ini?” teriak Adelaide, setelah menepukkan tangannya berkali-kali di depan kelas agar kembali menarik perhatian teman-temannya.

“Silahkan, Ada,” ujar Naisha Kinsley dengan senyum lembutnya.

“Itu lebih baik daripada membiarkan Sherline diejek terus,” sambung Alice Whitney. Ia memang selalu baik dan membela orang lain.

“Sebenarnya-“

“Chloe dan Jasper akan kembali dari Paris, hari ini,” ujar Vineesha Connelly, memotong perkataan Adelaide.

“Whoa? Benarkah?” tanya Hanna Kithley dengan mulut setengah terbuka. Chloe Sullivan adalah sahabatnya. Sedangkan Jasper Sullivan, adalah kakak kembarnya.

“Kudengar dari televisi tadi pagi begitu, dua anak kembar pewaris tunggal keluarga Sullivan kembali dari kampung halamannya,” sahut Aylie Carnbell.

“Aku juga melihatnya di siaran langsung dari bandara, mereka berdua tidak henti-hentinya bertengkar,” ujar Karrel Eastcote.

“Bukankah itu sudah menjadi kebiasaan mereka, ya?” ujar Zach Samlerr dengan raut datar. Ia sepertinya terlihat kesulitan karena sesuatu.

“Benar, dan kita harus punya foto saat mereka bertengkar. Mereka kelihatan lucu sekali saat itu.” Ann Mightray berkata dengan wajah berseri-seri.

“Tenang saja Ann, aku sudah punya itu sejak dulu,” balas Ansell McFadden setelah memotret sosok Tiffany dan Miles yang sedang berdebat, juga Celiann dan Dillon yang beradu mulut. Padahal Celiann biasanya hanya mau beradu kata dengan Elsenn saja.

“Mereka? Bukankah yang kau maksud hanya Jasper, Ann?” Irish Aldaine menggoda Ann. Ann hanya mengangkat bahunya, sepertinya ia sudah mulai terbiasa dikatai seperti itu.

“Wah, Tiff, kau baru saja dipotret Ansell, lho,” ujar Allena Harcourt mengingatkan.

“APA?!” Tiff berseru marah, menoleh ke arah Ansell yang menunjukkan pandangan tak bersalah.

“Oh-uh, gawat,” bisik Kellisha Whittaker, membayangkan apa yang akan terjadi.

“Oh-hei! Sebentar lagi masuk, Ms. Louise akan memberikan petuah lagi kalau kalian berkejar-kejaran layaknya anak kecil seperti biasa!” ingat Leslie Chicester.

“Ya! Terlambat! Kemarikan kameramu, Ansell!” seru Tiffany, mengambil langkah untuk mulai mengejar Ansell. Ansell berlari menghindar.

“Ada apa ini?” Ms. Louise hadir secara tiba-tiba di depan kelas.

“O-ow. Tiff, Ansell, habislah riwayat kalian berdua,” bisik Scarell Houston, memulai pagi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar