”Zach!” bentak Celiann. Zach hampir menjatuhkan bekal Celiann. Dan hari ini adalah ke-9 kalinya. Hal yang biasa bagi seorang Zach Samlerr melakukan kesalahan yang sama lebih dari tiga kali. Ruine, yang duduk di sebelah Celiann, hanya melirik sebentar lalu melakukan aktivitasnya semula, menulis berbagai kejadian yang terjadi di kelasnya hari ini di notebooknya. Oke, dia dapat tergolong orang yang aneh salah satunya.
Kelas terbilang sepi siang ini. Kebanyakan para murid mengikuti kelas tambahan, pergi ke klub, atau beristirahat di kamar masing-masing. Zach, Celiann, Ruine, Elsenn, dan Dillon. Yap, hanya mereka yang tersisa. Mereka yang pengangguran atau mereka yang telah menyelesaikan tugas-tugasnya.
Setelah memastikan Zach tidak mengganggunya lagi, dengan elegan Celiann melanjutkan makannya. Namun, ada interupsi ke-2. Sebuah pesawat kertas masuk ke dalam mocca milkshake kesukaan Celiann. Ruine hanya menghela nafas begitu lebih dulu tahu barang bersayap itu punya siapa, lalu beranjak keluar kelas. Tepat seperti yang ia duga, Celiann marah besar. Tentunya kepada Elsenn, sang pemilik dan penerbang si pesawat kertas itu. Suara Celiann terdengar sampai keluar kelas.
”Permisi.“
”Ada apa?” tanya Ruine setelah menoleh untuk bermaksud melihat siapa yang tadi mengucapkan satu kata itu padanya. Cowok di depan Ruine kemudian tersenyum lembut, tapi bagi Ruine itu senyum yang sangat, sangat terpaksa. Terlihat sekali kalau orang di depannya ini jarang tersenyum. Dan satu poin lagi cowok ini adalah kakak kelasnya, seorang murid Senior High School.
”Apakah Ms. Spencer ada?” cowok itu balik bertanya.
”Belum kembali. Kurasa dia mengikuti pelajaran tambahan matematika.”
”Baiklah, terima kasih Ruine.” Cowok itu pun berlalu.
”Darimana dia tahu namaku?” bisik Ruine pelan lalu mengedikkan bahunya dan melakukan kebiasaan aneh keduanya, menatap langit dengan kedua bola mata coklatnya.
***
Phoenix of Luthvea. Sousei Dormitory. 18.24 PM.
”Spencer! Spencer!” seru Ruine seraya melambaikan tangannya pada sosok Arriley yang mendekat. Arriley berlari-lari kecil ke arah gerbang asramanya melihat Ruine dengan seorang laki-laki di sampingnya.
”Ruu! Sudah berkali-kali kubilang panggil aku Arriley!” tapi Ruine tidak memperdulikan bantahan Arriley. Ia hanya menunjuk laki-laki di sampingnya dengan lirikan matanya.
”Dia yang tadi siang mencarimu,” ujar Ruine kemudian berjalan pergi meninggalkan Arriley dan cowok itu berdua. Tapi langkahnya terhenti saat dapat menangkap kata-kata yang diucapkan si laki-laki itu, tentunya Ms. Spencer punya koneksi yang bagus terhadap keluarga Sullivan. Dan itu membuat Ruine berfikir siapa cowok itu sebenarnya dan apa yang akan dia lakukan. Dan sebuah sosok familiar hadir di benaknya. Takut dicurigai, ia memilih untuk berjalan lagi, melakukan tugas malamnya.
***
”Spencer,” Ruine kembali menggerakkan tangannya, tepat di hadapan wajah Arriley. Spaceout Arriley hari ini benar-benar sudah melampaui batas. Celiann hanya memandangi mereka, bingung, sambil sesekali memasukkan suap demi suap paella-bekalnya kali ini-ke dalam mulutnya. Arriley kemudian menunduk saat kedua temannya itu menyadari bahwa ia melamun.
”Rin!“
”Yah, si pengganggu datang,” desis Celiann saat mendengar pangilan itu. Celiann jelas sudah hafal kebiasaan Elsenn memanggil Ruine dengan Rin saja, bukan Ruu seperti lainnya. Dan keuntungannya, jelas sang pemilik nama tidak pernah marah kepada Elsenn karena ia sangat tidak suka saat dipanggil Ruu.
”Hah, siapa yang pengganggu?” Elsenn pura-pura tidak mengerti lalu dialihkan tatapannya pada Ruine, ”Rin, kau dicari ketua dewan keamanan tuh.”
”Siapa ya?” tanya Ruine.
Celiann langsung alert mendengar ini. ”Ruu! Kau tidak tahu siapa ketua dewan keamanan?”
Ruine menggeleng. Elsenn menaikkan sebelah alisnya kemudian berkata,
“Bukankah dia salah satu atasan kalian berdua, ya?”
“Iya sih, tapi aku tidak berminat untuk mengetahuinya,” balas Ruine santai.
”Dia adalah Nellson Authbert! Dia-“
”Oke, biar kujelaskan kalau kau tidak tahu,” Elsenn memotong perkataan Celiann. Celiann langsung memberikan death glare pada Elsenn.
”Nellson Authbert, si ketua dewan keamanan yang sinis, sombong, dan sekarang dia kelas X-4. Tapi menurut para perempuan termasuk si Amherst ini,” ia menunjuk Celiann, ”dia itu cool, tampan, baik, pintar, walaupun aku terkadang berat untuk mengakui bahwa dia memang jenius.”
”Oh, sepertinya dia tipe yang menyebalkan, ya, Elsenn?”
“Begitulah,” jawab Elsenn dengan suara nyaring, setuju dengan opini Ruine. Sedangkan Celiann menatap mereka berdua tidak percaya. Ruine kemudian berdiri dari tempat duduknya kemudian berbisik pada dua orang di dekatnya,
“Tolong jangan biarkan Arriley mendekati Chloe dan Jasper sampai aku kembali, ya.”
***
”Jadi kau yang namanya Nellson?” tanya Ruine sinis saat ia melihat laki-laki berambut coklat yang ditemuinya kemarin. Ia seolah yakin, pasti dialah penyebab Arriley menjadi lebih sering melamun. Entah kenapa ia merasa bahwa ia tidak akan pernah benar-benar akrab dengan orang ini karena salah satu faktornya, sebuah senyum pura-pura yang untuk kedua kalinya ia lihat.
”Selamat siang Ms. Ashhford,” ia tersenyum kecil, ”terima kasih sudah memenuhi panggilanku kemari, jarang sekali seorang perempuan berani mendatangiku langsung di Phoenix of Nordembiazor ini, apalagi adik kelas. Nah, duduklah.”
Ruine kukuh berdiri. Bahkan kemudian ia berjalan mundur dan bersandar di dekat jendela seolah-olah ingin menjauh dari laki-laki itu.
”Baiklah, langsung ke intinya saja, aku ingin kau menjadi wakilku,” Nellson mendekatinya dan mengulurkan tangannya.
Ruine menepis tangan Nellson. Lalu dengan mata tajam dan sinis yang berlebihan dia berkata, ”Aku lebih senang berada di lapangan daripada harus seruangan dengan orang sepertimu.”
“Kau memang sangat ahli di lapangan. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu lagi, Ruine.”
Ruine menyerngitkan keningnya dan membalas ucapan Nellson, “aku tidak merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya. Dan tolong jangan main-main denganku.”
“Sebentar saja tidak boleh? Padahal ini mengasyikkan, lho. Apalagi kemampuanmu di lapangan menurun, kan? Dulu… berapa banyak manusia yang tewas di tanganmu, Ruu?”
“Maaf. Aku benar-benar tidak mengenalmu jadi jangan seenaknya berkata-kata tentang kemampuanku sekarang ataupun dulu.”
Kemudian Ruine sukses membanting pintu ruang dewan keamanan, meninggalkan Nellson yang tertawa pelan kemudian berbisik, “jahat sekali. Padahal aku mengenalmu, lho.”
***
Semua anak 96 memperhatikan dengan seksama pelajaran sejarah pagi ini. Semua? Ternyata tidak. Arriley sejak tadi hanya mengetik asal di notebooknya. Tatapannya sama sekali tidak tertuju pada layar proyektor di depan kelas. Teman-teman di sekitarnya hanya bertatapan bingung dan khawatir tentunya. Karena Mr. Forse tidak membiarkan murid-muridnya tidak memperhatikan pelajarannya. Dan mereka hanya membiarkannya sampai bel istirahat berbunyi nyaring.
”Sherline.“
”Ada apa Ruu?” mendengar Sherline memanggilnya seperti itu spontan Ruine memandangnya sinis.
”Duh, kau ini, ada apa Ruine?“
”Apakah benar kau teman masa kecil Spencer?“
Sherline mengangguk.
”Bisa ceritakan bagaimana dia dulu?” tanya Ruine lagi.
”Apa tidak apa-apa?” Sherline ragu-ragu saat beberapa teman mendatangi meja Sherline karena ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan. Ruine pun melihat arah pandang Sherline.
”Bukan masalah,” balasnya meyakinkan Sherline. Sherline pun mulai bercerita.
”Ehm, aku sudah kenal Arriley sejak dulu karena ayah kami adalah rekan bisnis dalam perusahaan dan semua itu dimonitor oleh ayah Chloe dan Jasper dan dengan otomatis, ayah mereka yang berkuasa. Arriley adalah anak yang ceria. Arriley hampir tidak pernah tidak tersenyum tiap harinya. Tapi pada suatu hari, Arriley dengan muka masam datang ke sekolah. Aku tidak berani menanyakan langsung padanya karena ia sinis sekali saat itu.Malamnya, ayahku bercerita bahwa perusahaan ayah Arriley bangkrut, salah satu penyebabnya adalah keluarga Sullivan memutuskan hubungan kerja dengan mereka.
“Aku berfikir ayah Arriley dan keluarganya pasti sangat kecewa saat itu. Ayahku menduga bahwa ada adu domba di antara mereka karena setahu ayahku, keluarga Sullivan sangat baik pada siapapun. Dan ternyata itu benar. Sayangnya hal itu terbukti 1 tahun kemudian saat Arriley sudah pindah ke Los Angeles. Aku yakin sekali hal itu sangat menyakitkan bagi Arriley. Dan di antara kami, tak ada yang pernah menyinggung hal itu lagi. Dan sampai sekarang hubungan kami baik-baik saja sekalipun hubungan antar Arriley dengan Chloe dan Jasper. Umm…”
“Ada apa Sher? Lanjutkan ceritanya,” pinta Renee.
“Ruine… kemana?“ tanya Sher.
Semua anak yang masih menyimak cerita Sherline hanya menunjuk pintu kelas.
“Eh?! Dia sudah keluar kelas?!“
Phoenix of Nordembiazor, Ruang Dewan Keamanan.
”Arriley…” Chloe memandang Arriley takut.
”Bagaimana Ms. Spencer, setidaknya lukai dia atau kau akan dikeluarkan dari sekolah? Kau penah dilukai juga oleh keluarganya juga, kan? Sekarang saat kamu membalasnya,” ujar Nellson atau lebih tepatnya, mengancam.
’Tidak,’ Arriley mendesah dalam hati, ’aku tidak boleh sedikitpun menyentuh Chloe dengan pedang ini, tapi… kalau tidak, aku akan dikeluarkan dari sekolah, apa kata ayah nanti? Ayah pasti akan kecewa padaku kalau ia tak tahu alasan sebenarnya.’

(pedang berukuran kecil yang digenggam Arriley)
BRAAKK…!!
“Hah ! Tidak seru,“ ujar Nellson saat menyadari seorang perempuan hadir di tengah-tengah pertunjukannya.
Ruine yang baru saja mendobrak pintu langsung meraih pisau dari tangan Arriley dan membuangnya ke lantai. ”Apa yang kau inginkan?!“
”Ms. Ashhford, kuakui kau datang tepat waktu sekarang.“
”Yang kutanyakan, apa maumu sebenarnya Nellson?!“
”Mauku? Mengadakan… sedikit permainan,” Nellson tersenyum licik, ”dan kau menghancurkan boneka pertamaku (Arriley), yang membuat kau, harus membayarnya.“
”Apa? Apa maksudmu?“
”Sudah kuputuskan, pelan-pelan aku akan membuat dirimu pergi dari sekolah ini.” Nellson kemudian menyeringai kecil dan keluar dari ruangan itu.
”Ruine!” Chloe memeluk Ruine, lalu Arriley. Ruine menepuk bahu Arriley,” teman-teman mengharapkan kau yang biasa Spencer.”
Arriley pun menitikkan air mata, ”ta… tapi Ruu, gara-gara aku kau yang akan dikeluarkan dari sekolah.”
”Aku tidak peduli akan kata-katanya,” balas Ruine.
”Ta.. tapi..”
”Arriley, tak ada gunanya kau menangis dan menyesal seperti ini. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana pemecahan masalahnya, ” sahut Chloe.
”Chloe, baiklah, dan maafkan aku… tadi.” Chloe memeluk kembali Arriley.
Sedangkan Ruine hanya bisa menggigit bibirnya, takut untuk menyadari bahwa semuanya akan terulang kembali.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar