Minggu, 27 Juni 2010

Chapter 2-How Much You Know Your Friend?

Chloe mengusap air matanya setelah menangis satu jam penuh setelah pulang sekolah. Sebelumnya, ia memang terlihat kuat di depan kedua temannya tapi sebenarnya ia tidak menyangka bahwa ada orang lain yang memanfaatkan masa lalu yang terjadi karena keluarganya. Ia merasa sangat bersalah pada Arriley. Chloe, yang ayahnya kini menggenggam peran penting di bidang industri, dengan salah satu pesaingnya yang tidak lain adalah ayah Arriley membuat Chloe semakin ragu untuk menjadi sahabat Arriley lagi, dan malah semakin menjauhinya. Jasper, kakak kembarnya, yang sejak kecil menetap di New Jersey, memang tidak tahu apa-apa tentang keluarganya secara detail. Lagipula, semuanya telah terjadi.

          “Chloe, boleh aku masuk?” sebuah suara dari depan pintu kamarnya mengusiknya. Ia tahu betul suara itu, suara Jasper. Jasper yang dingin, namun sebenarnya sangat protektif pada Chloe. Entah apa yang akan dilakukannya kalau Jasper melihatnya dalam kondisi seperti sekarang. Tapi ia tidak punya alasan untuk menolak kehadiran Jasper. Biarpun dia saudara yang menyebalkan, Jasper adalah satu-satunya orang yang ia percaya di keluarganya.

          “Masuklah, Jasper,” balas Chloe akhirnya. Jasper segera masuk dan duduk di tepi tempat tidur Chloe setelah memastikan pintu kamar adiknya tertutup rapat.

          “Ada apa kau kesini?” tanya Chloe santai, menunjukkan bahwa tidak terjadi apa-apa pada dirinya sebelumnya. Jasper mengerutkan keningnya kemudian membalas ucapan Chloe dengan intonasi yang sama,

          “Aku tidak mengerti apa yang terjadi antara kau, Arriley, Nellson, dan Ruu? Di kalangan senior tersebar isu bahwa Ruu akan dikeluarkan dari sekolah karena mengganggu urusan Nellson, kau dan Arriley.”

          “Oh ya? Apa Ruu tidak mengatakan sesuatu padamu?”

          “Dia hanya bilang, ‘kau bodoh’ dengan raut datar setelah itu dia pergi begitu saja.” Chloe menaikkan sebelah aslinya kemudian mengerti apa yang dimaksud Ruine.

          “Maksudnya, kau jangan percaya pada macam isu seperti itu. Isu selamanya isu, kau tidak perlu khawatir, Jasper.” Chloe tersenyum meyakinkan.

          “Terserah katamu, tapi jangan memaksakan dirimu.” Jasper mengacak pelan rambut Chloe. Tapi Chloe yang biasanya tidak suka saat Jasper melakukannya, kini hanya terdiam, menahan keinginannya untuk mengatakan segalanya pada Jasper.

 

***

 

          Alice menggenggam sebuah amplop di tangannya dengan ragu-ragu. Amplop yang berisikan sebuah surat pemindahan paksa jabatan di tangannya, untuk temannya sendiri, Ruine, yang dititipkan oleh Nellson. Surat yang sudah ditandatangi baik oleh ketua dewan keamanan itu sendiri, surat itu juga ditandatangi oleh ketua patroli. Alice ragu memberikannya tapi ia juga tidak berani membantah Nellson, apalagi mengingat dia adalah anak kepala yayasan Deordical Academy.

          “Ruu-chan!” suara Celiann menggema di sepanjang koridor, sekaligus mengagetkan Alice. Ia belum siap memberikan surat itu pada Ruine. Ia pun melihat Ruine baru saja keluar dari kelas 95, memberikan Celiann pandangan kesal. Celiann tidak peduli dan mempercepat jalannya menuju tempat dimana Ruine berdiri.

          “Murid-murid Deordical Academy banyak yang membicarakanmu, lho. Apa benar kau punya hubungan spesial juga masa lalu dengannya?” tanya Celiann menggoda.

          “Mana Annalise?” tanya balik Ruine dengan setiap penekanan pada kedua katanya. Alice dapat melihat setiap kata Ruine dan Celiann juga memperhatikan gerak-geriknya. Tangan Ruine mulai mengepal.

          “Oh-hei, ini bukan salah klub jurnalis, kok!” Tapi Celiann terlambat. Ruine terlebih dahulu berjalan menuju kelas mereka dengan kekesalan di raut wajahnya. Celiann buru-buru menahannya, dengan menarik tangan kirinya.

          “Lepaskan,” katanya dingin. Celiann mempererat genggaman tangannya. Ruine tidak peduli dan berjalan lagi, sehingga ia terlihat mengikutsertakan Celiann dalam langkahnya. Alice meletakkan surat itu di kantung blazernya, segera berlari dan menarik tangan kanan Ruine.

          “Oh, hai, Alice,” sapa Ruine dengan nada datar.

          “Ah… Ru-Ruine, ini memang bukan salah klub jurnalis bahkan Annalise. Ma-masalahnya, Nellson memang sudah memberikan pengumuman kalau kau sebentar lagi akan menjadi wa-wakil ketua dewan keamanan,” ujar Alice spontan saat melihat Ruine menatapnya, meminta penjelasan mengapa ia tiba-tiba ada disini. Alice pun meraih surat di kantung blazernya dan menyerahkannya pada Ruine. Ruine menerimanya kemudian langsung merobeknya menjadi dua bagian.

          “Nah, selesai. Kalau dia menanyakan padamu masalah surat itu, katakan saja sejujurnya, dan katakan padanya jangan mengganggu kelas kita lagi.” Ruine menarik kedua tangannya dari genggaman Alice dan Celiann dan berjalan pergi. Sedangkan mereka berdua menatap temannya itu tidak percaya.

 

***

 

          “APA?! Dia merobeknya?!” seru Nellson membuat semua yang ada di ruangan dewan keamanan bergidik ngeri. Alice sejak tadi hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Nellson. Bukan hanya rumor ternyata, bahwa Nellson tidak suka dengan orang yang main-main dengannya juga menentang perintahnya. Sedangkan ketakutan merayapi tubuh Shann, salah satu anggota OSIS yang menemani Alice. Selama tiga tahun ia bersekolah disini, ia belum pernah sekalipun melihat Nellson sampai berteriak seperti itu. Nellson kemudian meraba keningnya dan menarik nafas dalam-dalam, saking dalamnya sampai seluruh orang-sehebat apapun-tak akan bisa muncul kembali ke permukaan, saking ia depresi, layaknya… mendisiplinkan seorang anak berumur tiga tahun. Tapi setidaknya, ia masih sanggup berbicara.

          “Maaf. Tapi karena kalian berdua adalah teman sekelasnya, aku meminta kalian agar dapat mempertemukanku dengan anak itu. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Katakan padanya seperti itu. Kalau tidak, Alice, Shann, kalian berdua tidak akan kuizinkan untuk mengikuti try out kedua minggu depan.”

          “Ketua! Apa tidak berlebihan melakukan itu sebagai hukuman? Bagaimanapun mereka akan naik kelas,” ujar salah satu anggota dewan keamanan.

          “Ya, ketua! Apalagi hanya untuk seorang perempuan.”

          “Ketua, kenapa kau tidak mendatanginya sendiri?” sahut yang lain.

          “Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti itu,” balas Nellson kemudian mengalihkan pandangannya kepada dua korban di depannya. “Get her, or I will get all of you into my games.”

         

***

 

          Games?” Celiann memutar matanya, mencerna pengekuan Shann tentang sikap Nellson yang jauh dari kata sempurna sebagai seorang idola sekolah.

          “Bukankah lebih menyenangkan mengikuti permainan daripada kalian harus membawa Ruu ke hadapan Nellson?” ujarnya lagi. Shann menatapnya kesal seolah-olah dia adalah orang yang terakhir yang akan ia berikan kejutan mengingat sering kali, ia tidak peduli sejahat apapun manusia yang terpenting ia adalah idolanya. Oh my god, apakah ia mengerti apa yang sudah Nellson lakukan kemarin-kemarin? Shann berfikir dalam hati.

          “Jawab aku, SHANN!” teriak Celiann tepat di telinga Shann.

          “ARGH! Begini, Celiann. Yang dimaksud Nellson dengan permainan adalah, dia akan mempermainkan dan membuat kita semua kerepotan dengan berbagai masalah yang dibuatnya, mengerti?”

          “Aku mengerti sejak tadi. Hanya saja, aku baru pertama kali melihat Ruu semakin keras pada orang lain jadi aku mengingatkan saja, aku rasa kalian berdua tidak akan berhasil.”

          “Jadi… kita akan membiarkan Nellson bertindak begitu saja?”

          “Ya. Karena sejak awal kalian berdua telah masuk dalam permainannya.”

          “Permainan… apa?”

          “Permainan pertama, seberapa banyak kau mengenal temanmu. Dan hasilnya, kurasa gagal. Kalian tidak mengetahui sifat Ruu jika kekesalannya sudah melebihi batas. Tapi… aku masih tidak mengerti mengapa Nellson melakukan ini, maksudku padahal ia sendiri yang memulai. Dan yang bisa kubaca sampai saat ini, Ruu sejak awal memang telah terincar dan juga beberapa di antara kita sehingga dia bermaksud menariknya keluar. Itu sih, menurutku.” Celiann tersenyum lebar saat melihat Shann hanya bisa terdiam.

          “Ah, aku tidak sadar akan hal ini sebelumnya.”

          “Ck…” Celiann menggerak-gerakkan telunjuknya pada Shann, “peraturan Deordical Academy nomor lima, perhatikan langkahmu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar