Termasuk juga rumah yang sedang dipantau oleh Ann, Renee, Zach, Stephen, dan Ruthven dari balik semak-semak yang bergemul di depan sebuah pagar hitam yang tinggi. Rumah yang luas itu memang bergaya klasik, dengan panorama Lough Lene—sebuah danau yang mengagumkan—di belakangnya. Lima belas bodyguard berperan serta dalam penjagaan rumah itu bersama dengan puluhan kamera CCTV yang terpasang di setiap sudutnya.
Mansion keluarga Acklesenn.
Derap langkah yang terdengar refleks membuat kelima remaja itu menoleh. Tiffany, Vincent, dan Celiann baru saja membungkuk-bungkuk mendekati mereka.
“Aku, Vince, dan Celiann sudah mengecek sistem pertahanan rumah ini. Dan kurasa aku bisa meminta bantuan Elsenn serta Austin lagi untuk menjebol pertahanan rumah ini,” terang Tiffany dengan suara yang rendah. “Kita butuh sebuah software yang lebih mutakhir lagi—pertahanan mansion ini rupanya jauh lebih ketat.”
“Kedengarannya bagus,” gumam Renee dengan rambut yang lebih rapi berkat Ann. “Kapan software-nya bisa selesai?”
“Well, melihat dari tingkatan yang agak sulit, kurasa dua hari lagi, pada siang hari, kita baru bisa mendapatkannya,” tutur Tiffany.
“Itu cukup lama,” komentar Vincent.
“Kita tidak bisa melakukan penyelundupan pada siang hari—terlalu riskan,” lanjut Celiann. “Kupikir kita dapat lakukan pada saat twilight—petang menuju malam.”
“Wha—geez, berarti waktu tidur kita berkurang lagi?” keluh Zach. Segera Ann memberikan tatapan dasar-cowok-pemalas.
“Oke. Kalau begitu, kita harus segera cari motel terlebih dahulu,” ucap Tiffany. “Well, sebenarnya aku berharap kita dapat menemukan motel lain milik keluarga Clifford.”
Stephen hanya membalas tatapan menyindir Tiffany dengan cara memutar bola matanya.
***
Waiting...
You are connected.
“Gahh, puji Tuhan ada WiFi,” desis Tiffany. Jemarinya mulai melakukan sedikit senam pada keyboard netbook, begitu pula pada mouse yang dipasangnya. Ia membuka Skype, lalu log in dengan identitasnya, sampai akhirnya ia menemukan sebuah nama pada daftar orang yang sedang online. Ia menggeser cursor ke nama tersebut, kemudian diklik sampai akhirnya muncul sebuah jendela yang tak lama kemudian disusul dengan tampilan dua orang dalam suasana yang agak gelap—maklum waktu sudah menunjukkan tengah malam, baik di Inggris maupun Irlandia.
“Hei, Tiff! How’s Ireland?” sapa Elsenn.
Tiffany tersenyum geli. “Keren. Estinese harus ke sini lain kali. Ah, kalian dimana?”
“Di perpustakaan Phoenix of Corresta. Kita berhasil mendapatkan kuncinya,” tutur Austin.
Alis Tiffany bertaut. “Phoenix of Corresta?” tanyanya sembari melipat tangan. “Oke, kalau kalian tidak keberatan, boleh aku tahu bagaimana cara mendapatkan kuncinya? Apa kalian menyamar jadi cewek? Karena setahuku Phoenix of Corresta dikhususkan untuk perempu—”
“OH, hei Tiffany!!” Suara Dhynella yang menusuk telinga itu membuat Tiffany refleks menutup telinganya. Matanya membelalak menatap layar netbooknya. Ia dapat melihat Dhynella baru saja muncul tiba-tiba di antara Elsenn dan Austin. Tampaknya Elsenn dan Austin juga kaget—mereka juga menutup kedua kuping mereka dengan tangan mereka masing-masing.
“Dhyn, apa yang kau lakukan?!” tanya Elsenn dengan suara tertahan. “Harusnya kau menjaga pintu!”
“Ups!” pekik Dhynella. “Hehe, maaf.” Dan setelahnya, gadis itu hilang ditelan kegelapan sembari bersenandung.
Austin mendesah sembari menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan kanannya. “Kurasa apa yang terjadi barusan sudah menjawab pertanyaanmu tadi.”
“Sabar, ya.”
“Oke, jadi apa yang kita dapat sekarang?”
Tiffany berdeham. “Cukup sulit—pertahanan sebuah mansion bahkan lebih rumit daripada sebuah akademi,” jelasnya. “Aku sudah membuat detilnya, dan sudah sedikit merancang software-nya. Tapi tampaknya masih agak berantakan. Boleh minta tolong rapikan, kan? Besok siang bisa jadi?”
“Bisa kulihat dulu datanya?” tanya Elsenn.
“Aku transfer sekarang.”
Tiffany mengirim data yang dimaksud kepada Elsenn dan Austin. Membiarkan Austin dan Elsenn menelaahnya dahulu, ia membuka berbagai situs, namun tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya. Tiffany memejamkan mata sejenak sembari memijat keningnya. Terlihat sekali ia lelah dan mengantuk. Ia membuka mata kembali setelah merasa agak baikan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara Elsenn yang menyapa.
“Kurasa kami bisa menyelesaikannya siang esok lusa,” ujar Austin.
“Trims, kawan-kawan,” senyum Tiffany. “Well, kurasa aku harus tidur sekarang. Salam untuk teman-teman yang lain.”
“Oke. Selamat tidur.”
“Sampai jumpa.”
Tiffany menekan tombol sign out dan mematikan netbook-nya, kemudian bersandar sejenak pada kursi yang didudukinya, sebelum memasukkan netbook-nya ke tas dan keluar dari kafe 24 jam di dekat motel itu.
***
Deordical Academy, Liverpool, Inggris.
Keesokan harinya.
“Tidakkah itu menyenangkan?” pekik Dhynella senang. “Tadi malam, aku, Elsenn, dan Austin berhasil berbicara dengan Tiffany secara diam-diam di perpustakaan Corresta!”
Dan berbagai respon pun datang dari anak-anak kelas IX-6 yang ikut dalam pembicaraan tersebut. Mereka bertanya kepada Dhynella bagaimana keadaan Tiffany, apa yang ia lakukan bersama dengan Elsenn serta Austin, dan sebagainya. Suara-suara itu menggema jelas di telinga seorang Fey Hartwell.
Tetapi Fey bukanlah tipe orang yang suka berbicara. Ia lebih suka duduk dengan tenang sambil membaca buku, seperti yang dilakukannya sekarang. Ia baru saja meminjam sebuah buku dari perpustakaan. Entah buku apa itu; Fey hanya mengambilnya secara acak, berhubung ia sedang tidak ada kerjaan.
Ia membuka halaman berikutnya. Dan artikel kali ini tampak membuatnya tertarik. Matanya pun mulai menelusur dari baris ke baris, membaca dan menyerap informasi dari artikel itu.
“Hmm,” Fey menggumam mengerti. Tak lama kemudian, sepintas ide berkelabat di benaknya. Ia segera bangkit dan berusaha mencari komputer yang terakses dengan internet.
***
Westmeath, Irlandia.
Esok harinya lagi.
“Hei, Tiff. Bangun.”
“Mm...”
“Tiff...”
“Mmmh...”
“...”
“...AWW!” Tiffany langsung terbangun begitu merasakan panas pada telapak kakinya. Matanya—yang telah kembali menjadi setengah terbuka setelah sempat membelalak tadi—itu dapat melihat Celiann yang baru saja mematikan jentik api di jarinya. Dengan keadaan setengah sadar itu, ia bahkan sempat bertanya-tanya mengapa Celiann bisa menggunakan pengendaliannya—tentu saja; ini, kan, di dalam ruangan. Mereka masih bisa menggunakannya selama tidak tersiram hujan Kenelzh.
“Apakah kau baru saja berusaha membunuhku?!” tanya Tiffany dengan suara yang meninggi.
“Well, kalau tidak dengan cara itu, kau tidak akan bangun, kan?” ucap Celiann, membuat Tiffany memutar bola matanya. “Omong-omong, Elsenn baru menghubungiku. Katanya software-nya sudah jadi.”
Tiffany melirik jam yang ada di samping tempat tidur. Jam menunjukkan pukul satu siang. Ia kembali menoleh kepada Celiann yang hanya mengangkat bahu. Oh, Tuhan. Sudah berapa lama aku tertidur?
Celiann dan Tiffany memasuki kafe yang tadi malam dikunjungi oleh Tiffany itu. Kawan-kawan mereka sedang duduk menikmati makan siang mereka, maka mereka ikut serta. Setelah Tiffany dan Celiann memesan makanan mereka, Tiffany menyalakan netbook-nya dan mendapatkan sebuah e-mail dari Elsenn.
Yo. Semoga berhasil.
—E dan A
Senyum di wajah Tiffany melebar begitu melihat attachment e-mail tersebut. Segera ia mengunduh semuanya, sebelum akhirnya mengirimkan pesan lagi kepada dua siswa IT genius Deordical itu.
Terima kasih banyak! Wish us bunch of lucks ;))
***
Petang datang. Zach mendadak menjadi tukang payung. Ia—apesnya—terpilih untuk melindungi Tiffany beserta netbook-nya agar tidak terkena tetesan hujan. Sambil menggerutu, ia terus memayungi Tiffany yang sedang berkutat dengan software kiriman Elsenn dan Austin dan berusaha menjebol pertahanan mansion Acklesenn. Kedelapan orang itu kini sedang duduk di bawah sebuah pohon—yang hanya memberi perlindungan 20% dari hujan, di depan mansion Acklesenn pada lokasi yang tersembunyi dari para bodyguard.
“Dan...” Tiffany menekan tombol Enter. Saat itu juga, sirine berbunyi, membuat mereka sedikit panik, begitu juga bodyguard-bodyguard penjaga itu.
“Perhatian kepada seluruh bodyguard! Dalam hitungan ketiga, kalian harus berlari mengelilingi Lough Lene selama tiga puluh kali! Diulangi, dalam hitungan KETIGA, kalian semua HARUS berlari mengelilingi Lough Lene selama TIGA PULUH KALI!!”
Suara dari pengeras suara itu membuat mulut kedelapan remaja tersebut menganga lebar, bahkan mungkin satu baskom sampah dapat muat masuk ke dalam mulut mereka. Para bodyguard juga saling memandang, keheranan bagaimana suara galak itu kini menggema di seluruh mansion tersebut. Bukankah tuan mereka sedang pergi ke luar negeri?
“Satu...”
Namun aba-aba itu tak pelak membuat mereka bersiap di gerbang.
“Dua...”
“TIGA!!!”
Dan para bodyguard itu berlari keluar dari mansion tersebut, menyisakan para pelayan yang kebingungan bukan main melihat tingkah para bodyguard tersebut. Sementara itu, delapan pengendali api yang masih bersembunyi itu masih menganga.
“Apa-yang-sebenarnya-terjadi?” tutur Renee.
“Kurasa Elsenn memberikan sedikit bumbu ‘humor’ pada software-nya,” terka Tiffany, masih kaget. “Ia mungkin mengambil sampel suara pria galak di internet dan membuatnya menjadi...yeah, menjadi seperti ini...”
“Hei, berapa lama kira-kira mereka akan berlari?” tanya Ruthven naif.
“Aku berani bertaruh belum sampai setengah jalan, para bodyguard itu sudah mati kecebur ke dalam danau,” jawab Zach asal.
“Elsenn itu...” Celiann menggeleng-gelengkan kepala. “Ia tidak bisa membedakan antara humor dan serius, ya? Well, humor yang satu ini memang membantu, sih.”
“Tapi dia membuat humor yang akan membunuh banyak orang—berlari keliling danau tiga puluh kali? Yang benar saja,” tambah Vincent. “Jangan-jangan ia punya dendam pribadi dengan para bodyguard itu.”
“Mungkin mereka mencuri teddy bear milik Elsenn.” Stephen tak kalah asalnya.
“Hah?! Elsenn punya teddy bear?!” Dan dengan suksesnya, Ann percaya akan bualan itu.
“Oke, teman-teman. Fokus,” desis Tiffany. “Para bodyguard itu bisa saja mati konyol dalam waktu sepuluh menit. Tapi mereka juga dapat kembali ke sini, memamerkan perut six pack mereka dengan bangga karena mereka berhasil melawan maut dalam sepuluh menit pula. Jadi sekarang, Renee, Ruthven, Ann, Vince, Steph, kalian masuk ke dalam sana dan cari pedangnya. Celiann, Zach, tetap di sini bersamaku.”
Mereka semua mengangguk. Ann, Renee, Ruthven, Stephen, dan Vincent bangkit, kemudian masuk ke dalam mansion tersebut melalui gerbang tanpa penjaga yang terbuka lebar.
***
Halaman belakang mansion Acklesenn benar-benar luas, mungkin lebih luas daripada mansionnya sendiri. Halaman itu sarat akan semak-semak dan terdapat belasan, bahkan mungkin puluhan pohon willow yang besar dan rindang. Dari sana, dapat juga terlihat Lough Lene yang jaraknya kira-kira hanya sepuluh meter dari sana, yang berarti mereka juga dapat melihat wajah kelelahan para bodyguard bodoh itu.
“Kau serius makam Siegfried ada di sini?” tanya Renee.
“Tyra yang berkata seperti itu,” Ann mengangkat bahu.
“Well, maka pencarian ini akan menjadi pencarian yang melelahkan,” gumam Ruhven, sembari mulai mencari, disusul oleh teman-temannya yang lain. Mereka mencari di setiap sudut yang memungkinkan; semak belukar misalnya—yang ternyata hasilnya nihil. Ruthven bahkan sempat menyempatkan diri memanjat salah satu pohon dan melihat dari atas apakah ada semacam batu nisan atau sebagainya. Tetapi, hal semacam itu tak kunjung ditemukan juga.
“Sial. Jangan-jangan senior eksentrik itu menipu kita semua.” Bersamaan dengan itu, Stephen melangkahkan kaki kirinya ke depan, menginjak sebuah batu—
BUGH!
“AAAH!” Dengan cepat, sebuah lubang besar terbentuk, membuat Stephen, Ann, dan Vincent—yang berdiri cukup berdekatan—terjatuh ke dalamnya. Pendaratan mereka tidak berjalan sempurna, sehingga kini mereka terjembap di dasar lubang—berupa tanah basah—yang dalamnya kira-kira enam meter itu.
“...u-ukh...” Stephen mengangkat kepalanya. Samar-samar, ia dapat melihat sesuatu pada dinding lubang tersebut, namun ia tidak yakin apakah itu.
“Hei, kalian tidak apa-apa—whoa, apa itu?!” Renee dan Ruthven yang baru saja berjongkok di tepian lubang tersebut terperangah melihat hal yang sama seperti Stephen, yang kini mereka yakini sebagai sebuah terowongan rahasia.
Stephen, Vincent, dan Ann perlahan-lahan bangkit. Kini mereka terperangah seperti Ruthven dan Renee, sama kagetnya seperti mereka. Pikiran mereka bertanya-tanya bagaimana bisa ada sebuah terowongan di tempat seperti ini.
“Menurutmu, terowongan itu tembus kemana?” tanya Ann.
“Kita tak pernah tahu sebelum menelusurinya,” tutur Stephen.
“Oke, kalau begitu, tunggu aku. Aku akan masuk ke dalam.” Renee mulai menjulurkan kaki kanannya ke dalam lubang.
“Tu-tunggu.” Namun ia menundanya begitu mendengar suara Vincent. “Bukankah lebih baik kau dan Ruthven menunggu di atas? Ingat tentang bodyguard itu.”
“Tapi mereka sudah diawasi oleh Cel—”
“Kurasa Vincent benar,” Ruthven menginterupsi. “Lagipula, jika mereka sudah selesai, siapa yang akan menarik mereka keluar?”
Renee terdiam untuk berpikir sejenak. Tak lama kemudian, ia menghela napas. “Baiklah. Semoga berhasil.”
Stephen mengangguk, kemudian berbalik menghadap terowongan itu. Ia mengambil obor tua yang tergantung di samping terowongan.
“Ayo.”
Disambut anggukan Ann dan Vincent, ketiga orang itu mulai berjalan menyusuri terowongan itu. Stephen membuat sebuah percik api yang berukuran sedang dan menyulut obor tua yang dipegangnya, sehingga mereka memiliki penerangan sekarang. Terowongan itu benar-benar gelap. Mereka tidak bisa melihat banyak hal. Maka pendengaran mereka benar-benar dibutuhkan di sini; yang mereka dengar hanyalah langkah kaki mereka, suara hujan di luar, serta desisan berbagai binatang—yang membuat Ann agak ngeri, bahkan tanpa sadar, ia memegang pergelangan tangan Vincent di belakangnya dan memegang bahu Stephen di depannya.
Setelah mereka melangkah selama tak lebih dari dua menit, mereka sampai di mulut terowongan. Terowongan itu berakhir pada sebuah ruangan yang tidak bisa Stephen lihat isinya. Karena itu, ia membuat sebuah bola api besar dan menerbangkannya. Bola itu melesat mengelilingi ruangan, sehingga obor yang ada di setiap ruangan itu menyala.
Dan bersamaan dengan itu, mereka tak dapat melakukan apa-apa kecuali terperangah karena melihat isi ruangan itu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar