Minggu, 09 Mei 2010

Chapter 5: Runaway

DICARI!
Delapan remaja yang buron dari Liverpool, Inggris

  • Caitlyn Stenberg
  • Carina Walton
  • Christopher Clifford
  • Halley Holt
  • Leith Brodbeck
  • Nicholas Anholts
  • Rachel Charlton
  • Riley Lachance

Segera hubungi Kepolisian Dublin jika anda melihatnya. Akan ada hadiah bagi yang dapat menemukan mereka.


Dengan adanya foto mereka pada selebaran tersebut, maka lengkap sudah keterkejutan Ruthven dan Renee. Tapi seiring dengan mengerasnya sirine polisi di telinga Renee, maka ia sadar bahwa mereka tak bisa terus menerus mematung dan harus segera memberitahukan hal ini kepada kawan-kawan mereka.

“Ayo.” Ia segera menarik tangan Ruthven yang bergeming, kemudian berlari sekencang-kencangnya menuju motel. Tak ada Mrs. Clifford di meja respsionis, maka mereka segera naik ke atas.

“Beritahu kawan-kawan agar berkemas dalam lima menit,” ucap Renee kepada Ruthven ketika mereka sampai di depan kamar mereka masing-masing. Segera mereka masuk ke dalam.

Renee menemukan Celiann yang sedang menyisir rambutnya, Ann yang baru keluar dari kamar mandi, serta Tiffany yang masih tertidur. Melihat rambut Renee, mulut Ann menganga kaget, begitu juga Celiann—bahkan sisirnya sampai jatuh ke lantai.

“Cepat! Kita harus segera pergi dari sini. Kita dianggap sebagai buronan yang kabur dari Inggris!” kilah Renee cepat sambil mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam ranselnya.

“Ada apa dengan rambutmu?!” tanya Celiann heran.

“Akan kuceritakan nanti, sekarang cepat berkemas!!” tukas Renee panik. Maka Ann segera membereskan barang-barangnya, sementara Celiann membangunkan Tiffany—yang tampak ogah dibangunkan dan kebingungan begitu melihat kepanikan kawan-kawannya. Lima menit kemudian, mereka berhasil membereskan barang-barang mereka dan keluar dari dalam ruangan. Mereka dapat melihat Ruthven—yang sudah mengenakan kacamatanya—sedang menjelaskan segalanya kepada para cowok yang masih tampak tak percaya dengan apa yang terjadi.

Renee merebut kertas selebaran yang digenggam Ruthven, kemudian memberikannya kepada Celiann, Ann dan Tiffany. Sontak mereka bertiga terkesiap kaget melihatnya, tetapi Steph, Vince, dan Zach tak kalah kaget begitu melihat rambut Renee. Rene pun cepat bertindak.

“Ayo, segera kita keluar dari sini sebelum para polisi itu menemukan kita!” Ia segera berlari disusul teman-temannya. Mereka menuruni tangga dengan cepat, kemudian berlari menuju arah pintu motel.

Tetapi langkah mereka terhenti begitu melihat Mrs. Clifford di meja resepsionis. Wanita itu sedang menggenggam sebuah kertas dan membacanya. Bahkan dari jauh pun Renee dan Ruthven dapat menerawang bahwasannya itu adalah kertas pengumuman pencarian mereka.

Mendengar suara langkah yang tergesa-gesa dan baru berhenti, Mrs. Clifford menoleh dan terkesiap, menatap kedelapan remaja itu tak percaya.

“Christopher.” Tetapi kini pandangan matanya beralih kepada Stephen. “Kau...buron?”

“Oh, Tuhan,” desah Stephen. Ia menatap Renee, dan Renee memberikan tatapan buatlah-kebohongan-yang-bagus.

Stephen pun mengalihkan pandangan kembali kepada Mrs. Clifford. “Tidak, Bi. Tidak—selebaran itu benar-benar salah! Aku tidak buron! Aku tidak pernah melakukan tindak kriminal apapun! Percayalah padaku!”

Suasana hening sejenak. Mrs. Clifford menatap tajam kepada mata Stephen. Tak lama kemudian, ia mendesah.

“Aku percaya padamu,” ucap Mrs. Clifford. “Aku percaya tak ada anggota keluarga Clifford yang melakukan tindak kriminal sampai menjadi buron dan dicari banyak polisi. Lagi, kau adalah keponakanku dari kakakku yang begitu kusayangi.”

Stephen tersenyum tipis, begitu juga kawan-kawannya yang lain. Tak mereka sangka kebohongan mereka dapat membantu mereka sampai sejauh ini.

“Terima kasih atas pengertiannya, Bibi. Tapi kita harus segera pergi sebelum para polisi itu menemukan kita,” kata Renee cepat.

“Soal itu, kalian tak usah khawatir,” Mrs. Clifford mengibaskan tangannya. Kemudian, sambil merendahkan suaranya dan menunjuk ke suatu titik, ia berkata, “Pergilah ke gudang belakang. Kalian akan menemukan lubang yang langsung tembus sampai stasiun kereta Dublin. Aku di sini akan mengatasi segalanya.”

Kedelapan anak itu saling bertatapan.

“Pergilah!”

Akhirnya kedelapan anak itu mengangguk, kemudian berlari ke arah yang ditunjuk Mrs. Clifford. Dan tak lama setelah itu, mereka menemukan sebuah pintu. Satu-satunya pintu di sana yang mereka yakini adalah gudang yang dimaksud Mrs. Clifford. Stephen membuka pintunya, dan mereka dapat melihat berbagai benda-benda bekas bertumpukan di sana. Mata mereka mulai mencari-cari manakah lubang yang dimaksud oleh Mrs. Clifford sampai Celiann menemukan sesuatu di lantai gudang tersebut.

Ini yang dimaksud dengan lubang itu?”

Ketujuh kawannya segera berkerubung. Ada sebuah penutup gorong-gorong berukir tulisan-tulisan dalam bahasa Gaelik dan juga sebuah gambar yang mereka juga tak pahami apakah itu. Tapi mereka tahu pasti bahwa inilah lubang yang dimaksud oleh Mrs. Clifford.

“Maksudnya lubang comberan?!” suara Ann meninggi. “Oh, sial. Padahal aku baru saja mandi.”

“Sudahlah, tak ada jalan lain. Ayo, cepat!” tukas Renee. Maka Ruthven segera mengangkat penutup lubang itu dan menggesernya. Renee-lah yang pertama masuk, kemudian disusul dengan Celiann, Ann, Vincent, Zach, Tiffany, Ruthven, sampai akhirnya Stephen yang terakhir masuk dan menutup kembali lubang tersebut.

Ya, rupanya lubang itu memang benar merupakan sebuah saluran air. Saluran air yang tampaknya sudah tak terpakai lagi—terbukti dari dinding dan dasarnya yang cukup kering. Dan tentunya juga berbagai sarang laba-laba dan tikus yang berkeliaraan sampai membuat para cewek menjerit beberapa kali.

Tapi mata Renee akhirnya menemukan kembali sebuah penutup lubang setelah selama sepuluh menit mereka berjalan. Perlahan-lahan, Renee membuka tutup tersebut dan menyembulkan kepalanya. Ia dapat melihat bangunan Stasiun Dublin di seberang jalan sana, dan begitu ia memutar kepalanya, rupanya mereka ada di bawah sebuah kafe, dimana rumbai-rumbai merah menggantung di jendelanya, sehingga membuat kepalanya tidak terkena hujan.

Renee cepat-cepat naik ke jalanan, kemudian membantu teman-temannya naik satu per satu. Mereka menaikkan tudung mereka, lalu berlari menerobos hujan, menyebrangi jalan sampai akhirnya mereka tiba di Stasiun Dublin.

“Jadi sekarang kita langsung ke Westmeath, eh?” tanya Vincent.

“Begitulah,” jawab Renee. “Kapan kereta berikutnya akan jalan?”

Mereka menengadah dan melihat bahwa kereta berikutnya menuju Westmeath akan berangkat pukul 13:15. Mereka menoleh kepada jam dinding yang menunjukkan pukul 13:10.

“...EH?!” mereka baru sadar bahwa waktu yang dimiliki mereka tipis. Maka mereka segera berlari ke loket yang terhitung sepi itu. Renee segera mengeluarkan sebuah kartu dari kantungnya—kartu dari pamannya yang membuat mereka dapat menaiki pesawat, kapal, dan kereta secara cuma-cuma—kemudian sedikit menggedor kaca loket—membuat sang penjaga loket agak melonjak kaget.

“Delapan tiket, ke Westmeath, sekarang!!” serunya. Petugas itu pun dengan sigap mencetak delapan tiket yang dipesan Renee. Renee segera mengambilnya, kemudian bersama teman-temannya yang lain berlari menuju peron 4C. Dapat didengar oleh mereka deru mesin kereta yang akan membawa mereka ke Westmeath.

Segera mereka berlari masuk ke dalam kereta melalui pintu yang terdekat dari mereka. Dan bertepatan dengan masuknya Stephen sebagai orang terakhir, kereta itu berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar