Ruine menutup bukunya. Lagi-lagi, desahnya kesal. Ia menoleh kepada pemuda yang tengah berdiri dengan senyum lebarnya yang bagi Ruine, senyum itu adalah senyum tolol sekaligus paling memuakkan di muka bumi ini.
“Belum cukup kau menggangguku?”
Elsenn masih tersenyum lebar. “Kelas pengendalian elemen sudah mau mulai, lho. Ayo kita pergi.”
Ruine memutar bola matanya. Ia begitu berharap ada Celiann yang membantunya menyingkirkan orang menyebalkan ini.
“Elsenn, kau bilang satu jam itu sudah mau mulai?” tanya Ruine jengah sembari berbalik dan mulai berjalan menjauhi pemuda Hantway itu, mendekati Arriley Spencer yang tampak sedang sibuk berbincang dengan Avaline Macauley. “Sudah, deh. Aku mau pergi. Omong-omong, pacarmu mencarimu, tuh.”
Elsenn menautkan alis.
“Pacar?”
“Hei, Elsenn!”
Elsenn menoleh, menemukan sosok seorang Sherline Northcote, tak jauh dari tempatnya. “Ada apa?”
“Umm, bisa bantu aku dan Lydia?”
Elsenn terdiam sejenak, kemudian mendesah.
“Bantu apa?”
***
Bis itu telah mencapai pusat kota Áth Cliath, yang juga biasa disebut dengan Dublin; ibukota Republik Irlandia yang juga memiliki nama lain Blackpool, dengan populasi lebih dari lima ratus ribu dan tempat dimana banyak orang Gaelikan berkumpul. Kedelapan orang itu turun dari bis di depan distrik belanja bernama Grafton Street, dimana mereka langsung disambut oleh pemandangan yang relatif sepi.
“Grafton Street adalah salah satu pusat perbelanjaan teramai di dunia,” terang Vincent. “Tapi kurasa karena hujan ini...”
Mereka menatap prihatin kepada para pengamen jalanan—salah satu hal yang khas dari Grafton Street. Tak ada satupun dari mereka yang bersemangat melakukan atraksi mereka; menari, menyanyi, bermain sulap, pantomim. Bahkan ada juga yang berteduh dengan wajah murung, kecewa karena hujan ini.
Celiann lah yang pertama kali memecah kesunyian tersebut. “Sekarang, kita harus cari tempat istirahat terlebih dahulu. Ayo.”
Mereka mengangguk, kemudian melangkah menyusuri Grafton Street yang hanya dilalui beberapa orang tersebut. Sesekali, mereka melemparkan koin kepada para pengamen jalanan yang ada di sana, mengembalikan sediki senyum mereka.
Keluar dari Grafton Street, mereka menukik sedikit dan menemukan sebuah losmen khusus backpackers yang terlihat cukup nyaman. Setelah berbincang sedikit, mereka memutuskan untuk masuk dan segera mereka melihat wanita yang kira-kira berumur 40-an yang menjaga meja resepsionis.
“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya skeptis.
“Hai, uhm, kami ingin menyewa kamar,” ujar Tiffany.
Wanita itu memandangi mereka satu per satu.
“Untuk kalian berdelapan?”
“Ya.”
Wanita itu terdiam sejenak, kemudian berbalik mengambil dua buah kunci. “Dua kamar cukup—satu ruang memiliki dua tempat tidur tingkat. Ada di lantai tiga.”
“Baguslah, karena tentu saja aku tidak boleh berada dalam satu kamar bersama cewek-cewek menyebalkan ini,” dengus Stephen sambil tertawa sinis.
Sebelum ada yang berkomentar, Tiffany cepat-cepat berbalik menghadap Stephen dan berbicara dengan nada yang tertahan. “Biarkan aku yang mengurus semua ini. Jika kau ribut, maka akan kupanggil kau dengan nama Christopher Clifford untuk selamanya.”
Tiba-tiba, wanita itu menengadah dan menoleh kepada mereka. Tatapannya kaget seakan-akan ia baru saja melihat bulan jatuh di hadapannya. Namun sesungguhnya, ia menatap tajam kepada Stephen Wickliff.
“Christopher?” tanya wanita itu. “Kau Christopher Clifford?”
“Err, uhm...” Stephen berdeham. “Y-ya.”
Wajah wanita itu berubah menjadi cerah. “Astaga!” pekiknya. “Aku tak menyadarinya karena kau tampak berbeda dengan foto yang ditunjukkan ibumu. Katanya kau akan datang dari Belfast dua hari lagi?”
“A-apa—AWW!”
“Yeah, kami memajukan jadwal perjalanan kami,” Tiffany memasang senyum manis setelah menyikut perut Stephen.
“Dan...” wanita itu menatap Tiffany bingung. “Siapa kau?”
“Pacar—AKH!”
“Aku temannya, begitu juga yang lain.” Senyum di wajah Tiffany berubah agak masam setelah ia menginjak kaki Zach yang berdiri di sebelahnya. Senyum di wajahnya makin terlihat terpaksa begitu mendengar ada kekehan dari yang lainnya di belakang.
Wanita itu bertaut alis kepada Stephen. “Kukira kau datang sendiri.”
“Ngomong-ngomong, aku Caitlyn Stenberg,” Tiffany berjabat tangan dengan wanita itu. “Chris tidak menceritakan apa-apa kepada kami soal Bibi.”
“Oh, aku adik dari ibunya. Ellyane Clifford—senang bertemu denganmu,” ucap wanita itu menyudahi jabat tangannya dengan Tiffany. Dan saat itulah Celiann serta Vincent menoleh dan menemukan papan yang tidak disadari keberadaannya sejak mereka masuk tadi. Sebuah papan bertuliskan “Clifford Motel”.
“Well, kalau begitu, karena aku sudah berjanji kepada ibumu, maka kalian boleh menyewa kamar dengan gratis!”
Mereka semua termengu.
“Serius?” tanya Ann.
“Tentu. Silahkan naik ke atas!” serunya, membuat wajah kedelapan remaja itu mencerah. Segera mereka melangkah menuju tangga melingkar yang ada di pojok ruangan.
“Sudah kubilang, nama Christopher Clifford itu tak terlalu buruk,” bisik Tiffany mengejek saat melangkah bersama Stephen.
***
“Ha! Kena kau!!”
Irish menengadah. Ia sebal juga kepada Neff dan Felix di hadapannya yang dari tadi sedang adu pedang. Irish sendiri sedang membaca buku di pinggir balkon yang teduh dan tidak terkena hujan. Ia juga bingung kenapa ia memilih tempat itu—perpustakaan ramai, jadi ia malas berkutat di sana. Ia pikir terjebak bersama Neff dan Felix di balkon yang luas ini takkan mengapa-apa. Tapi sepertinya setelah ini akan ada apa-apa.
“Sialan!” Irish mendengar Neff memaki, kemudian berusaha menghunuskan pedang ke pinggang Felix.
“Eits!” Felix berhasil menghindar. “Kau perlu seratus tahun lagi untuk mengalahkanku!”
Neff tidak menyerah. Ia berlari, kemudian saling beradu pedang dengan Felix—pedang mereka menempel, sama-sama memberikan tekanan yang kuat, berusaha untuk mendorong lawan ke belakang. Tapi yang ada tekanan itu sama kuatnya, sehingga salah pedang terbang melayang....
...mengenai Irish.
Hampir. Puji Tuhan pedang itu membentur dinding yang ada di belakang Irish.
Irish termengu shock, begitu juga dengan Neff dan Felix. Dan tak lama kemudian, amarah dari dalam diri Irish berkobar. Ia bangkit, dan membuat bola air yang begitu besar. Dilemparkannya bola itu kepada Felix dan Neff.
“Aah!!’ Bola itu melempar Neff dan Felix dan mereka terpental cukup jauh sampai hampir menabrak dinding pemagar balkon. Tapi yang lebih membuat mereka shock adalah bola itu berhasil membuat lubang pada dinding bata pemagar balkon.
Felix dan Neff menatap lubang itu tak percaya. Biasanya, kekuatan sebuah bola—baik dari elemen apapun—takkan berdampak separah ini. Irish mendengus kesal sembari menutup bukunya dan berjalan sebal ke dalam ruangan. Felix dan Neff saling menatap, kemudian lari sekencang-kencangnya sebelum pihak sekolah mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.
***
Renee terbangun. Jujur, ia masih mengantuk dan belum ingin pergi dari alam mimpi. Namun orkestra yang sedang melakukan resitalnya di lambung Renee memaksanya pergi.
Ia menengadah. Celiann yang tidur di tempat tidur bagian atas masih terlelap, begitu pula dengan Ann dan Tiffany. Ia pun bangkit, kemudian mencuci mukanya di wastafel yang ada di kamar mandi. Menyisir rambut sebahunya, ia pun memutuskan untuk tidak menguncirnya—hal yang biasa dilakukannya dengan rambutnya.
Perlahan-lahan, ia membuka pintu kamarnya, kemudian melangkah turun ke bawah. Dilihatnya meja resepsionis kosong. Tetapi ia mendengar pintu utama dibuka. Dipercepat langkahnya sampai ke lantai bawah dan menemukan sesosok pemuda yang berdiri di ambang pintu yang telah terbuka sedikit.
“Ruthven?”
Merasa namanya dipanggil, pemuda itu menoleh. Renee dapat melihat wajah Ruthven yang terlihat lebih segar tanpa kacamata yang biasanya bertengger di sana itu. Renee tersenyum.
“Mana kacamatamu?” tanya Renee geli. “Dipecahkan Stephen, eh?”
“Hal yang sama harusnya kutanyakan juga mengenai rambutmu,” jawab Ruthven. “Tidak, Steph tidak memecahkannya. Aku lupa membawanya, dan aku terlalu malas untuk mengambil lagi ke atas—perutku sudah tidak tahan lagi untuk dimasukki oleh makanan.”
“Sama denganku,” senyum Renee sambil mendekati pemuda itu. “Ayo, sekalian beli untuk yang lainnya.”
Ruthven mempersilahkan Renee keluar dahulu, kemudian baru dirinya. Mereka melangkah, menukik memasuki kawasan Grafton Street. Tak perlu lama melangkah, mereka langsung menemukan sebuah bistro fastfood yang menjadikan fish and chips sebagai menu andalan mereka. Segeralah mereka masuk, memesan dua fish and chips untuk mereka makan di tempat dan enam lagi untuk dibungkus dan dibawa kembali ke motel. Setelah mendapat pesanannya, mereka duduk di salah satu tempat yang masih kosong; sebuah meja bulat dengan dua buah kursi.
“Ahh, akhirnya bisa makan juga,” Renee segera mencelupkan kentang gorengnya ke dalam saus tartar. “Mm, enak juga.”
“Semua kentang goreng rasanya sama, Renee,” Ruthven tertawa geli.
“Kecuali kentang basi,” gumam Renee dengan mulut yang penuh dengan kentang goreng.
Sejenak, mereka diam, mencoba untuk menghabiskan makanan dengan tenang. Namun tak lama kemudian, Ruthven tak bisa menahan hasratnya untuk bertanya.
“Apa kau pikir kita akan sukses?”
Renee menengadah.
“Maksudmu?”
“Well, kau tahu...” tukas Ruthven. “Menemukan pedang Siegfried Acklesenn, mengalahkan Fionn Lansford, dan menghentikan hujan ini dalam waktu dua minggu. Bagiku, itu agak mustahil. Apalagi dengan kekuatan kita yang terbatas ini.”
“Ck, kau pesimis sekali, sih?” desis Renee. “Aku percaya, bahkan dalam waktu kurang dari satu minggu, kita akan mengalahkan Lansford dan anak buahnya, kemudian kembali ke Deordical sebagai pahlawan.”
Alis Ruthven bertaut. Pahlawan? Benarkah mereka akan kembali sebagai pahlawan? Ruthven sering mendengar berbagai kisah pahlawan, terutama pahlawan super seperti yang ada di komik-komik. Tapi apakah mereka bisa kembali ke Deordical dengan menyandang gelar pahlawan karena telah menyelamatkan dunia? Agak mustahil baginya.Mereka bukan Superman yang punya tatapan laser, bukan Batman yang punya berbagai persenjataan lengkap, maupun Spiderman yang bisa bergelantungan dari satu gedung ke gedung lainnya. Mereka hanyalah remaja sekolahan biasa—well, kecuali dengan ilmu pengendalian mereka. Tapi bahkan ilmu pengendalian mereka tak bisa digunakan karena hujan ini.
Ruthven menggeleng dan melanjutkan makannya. Ia sempat menengadahkan kepala dan melihat ada tiga polisi yang sedang memesan fish and chips di konter. Ruthven sempat melakukan kontak mata dengan salah satu dari mereka. Tapi ia merasa tak ada apa-apa, jadi ia melanjutkan makannya.
Dan rupanya, perasaannya itu salah besar.
DOR!
Suara tembakan yang keras itu membuat seluruh orang dalam bistro itu menjerit serta menunduk, tak terkecuali Ruthven dan Renee yang berlindung di bawah meja mereka.
“Apa itu?!” bisik Renee kepada Ruthven. Tapi sebelum Ruthven dapat menjawabnya, meja mereka terkena tembakan, sehingga mereka harus berlari ke belakang sofa yang ada di dekat mereka. Namun tembakan itu tak kunjung berhenti ketika mereka telah berdiam di belakang sofa.
“Aku curiga polisi itu yang melakukannya,” ucap Ruthven.
“Polisi apa?! Kenapa?!”
“Kita lihat nanti. Sekarang, kita harus mengalahkan mereka dahulu,” Ruthven mengeluarkan shield metal dari balik jaketnya, kemudian mengeluarkan pistol dari dalam sana. “Untung shield metal ini bisa menyimpan senjata—setidaknya petugas keamanan imigrasi tak mendapati bahwa kita membawa pistol.”
Ruthven bangkit dan membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu menekan pelatuk dan...DOR! Ia berhasil menumbangkan salah satu polisi. Segera ia merunduk lagi sebelum ada peluru yang melukai tubuhnya.
“Tembakan yang bagus,” puji Renee.
“Masih ada dua lagi,” Ruthven menarik slide pistolnya. Ia kembali bangkit dan merubuhkan dua polisi yang tersisa dengan pistolnya. Merasa sudah aman, Renee pun bangkit, kemudian bersama Ruthven, ia mendekati tiga jasad polisi tersebut. Betapa kagetnya mereka begitu menemukan tak ada darah yang berceceran. Yang lebih membuat mereka kaget adalah apa yang mereka temukan di balik pakaian mereka.
“Cyborg police,” gumam Ruthven. “Mereka hanya robot-robot yang terprogram.”
“Terprogram untuk membunuh kita?!” tanya Renee gusar.
DOR!
PRANG!
Kali ini suara tembakan terdengar disertai dengan pecahnya kaca jendela bistro tersebut. Ruthven dan Renee refleks menunduk, tapi tak lama kemudian, mereka kembali bangkit dan mereka dapat melihat empat cyborg police sedang menodongkan senjatanya kepada mereka berdua.
“Tembak lagi, Ruthvy!” jerit Renee. Maka Ruthven kembali melancarkan tembakan, dan kali ini empat polisi berhasil dikenainya. Namun begitu ia ingin menumbangkan polisi ketiga...
CTAK!
“Apa?!”
CTAK! CTAK CTAK!
“Sial, pelurunya habis!” maki Ruthven sambil membanting pistolnya sampai hancur.
“Kau hanya mempersiapkan tiga peluru?! Dasar bodoh!” teriak Renee.
“Aku tak punya banyak waktu untuk mempersiapkan—”
DOR!
Tembakan itu membuat pertengkaran mereka tertunda dan refleks menundukkan badan. Tembakan itu terus-terusan berlanjut hingga mereka tak bisa bangkit.
“Oke, kau bisa marah padaku nanti, tapi sekarang pikirkan dulu rencana lain untuk mengalahkan robot-robot itu!” Ruthven mengeraskan suaranya agar terdengar di sela-sela kebisingan tembakan tersebut.
Renee menengadah dan melihat meja yang kini menjadi sebuah dinding yang melindunginya serta Ruthven dari tembakan-tembakan polisi itu. Sejurus ide pun terlintas di pikirannya.
“Bantu aku angkat meja ini,” Renee menyeringai.
“Hah?!”
“Sudahlah, lakukan saja!”
Tanpa basa-basi lagi, Renee dan Ruthven memegang meja itu, kemudian mengangkatnya, membuat para cyborg police itu menatap saling menatap keheranan. Renee menyeringai.
“LEMPAAAR!”
Dengan teriakan itu, kedua remaja itu melempar meja yang mereka pegang dan sukses merubuhkan keempat polisi tersebut. Mereka mengatur napas mereka yang berantakan.
“Kerja bagus, partner,” Renee mengulurkan tangannya, dan Ruthven pun menepuk telapak tangan gadis itu.
“Ayo, kita harus segera keluar dari sini—kita tak bisa membuat keributan di tempat umum,” ujar Ruthven. Renee mengangguk setuju. Mereka segera mengambil langkah-langkah cepat menuju pintu. Rencana mereka adalah pergi segera kembali ke motel, memberitahukan segala hal gila yang terjadi pada mereka sekarang.
Namun rencana itu tidak berjalan mulus begitu mereka melihat ada tujuh cyborg police yang telah menghadang jalan mereka di luar pintu. Yang membuat mereka makin frustasi adalah light saber yang tergenggam erat di tangan mereka.
“Brengsek,” umpat Renee, saling bertolak punggung dengan Ruthven, berusaha mempertahankan diri. “Sekarang bagaimana cara mengalahkan Jedi-Jedi ini?”
“Mungkin dengan menerapkan berbagai seni bela diri yang selama ini kita pelajari,” desis Ruthven.
“Terdengar bagus,” ucap Renee. “Kau mahir dalam apa?”
“Capoeira. Kau?”
“Aikido,” Renee tersenyum bersemangat. “Oke, lakukan kapan saja kau siap.”
“Aku selalu siap.”
Dan setelah selesainya perbincangan singkat itu, mereka berdua menendang lawan terdekat mereka dengan kaki kanan mereka, dilanjutkan dengan melakukan berbagai tonjokan dan pukulan maut ke tubuh keras para polisi tersebut. Ruthven menghadapi empat polisi cyborg itu, sementara Renee menghadapi sisanya. Ruthven, dengan tubuhnya yang lentur itu, berhasil membuat keempat polisi robot itu tunduk dengan berbagai jurus capoeira yang dikuasainya.
Begitu juga dengan Renee. Tidak seperti Ruthven yang tenang dalam menghadapi musuh-musuhnya, ia selalu berteriak setiap meluncurkan tendangan maupun tonjokan. Terlihat sekali ia bersemangat dalam pertengkaran itu. Tapi tak lama kemudian, ia mendapat ganjaran atas perilakunya yang terlalu semangat itu.
Tanpa disadarinya, seorang polisi yang masih bertahan tak jauh di belakang Renee berlari ke arah Renee yang sibuk menyikat polisi lainnya. Dan Renee terlambat menyikapi gerakan tersebut. Ia sempat menoleh, tapi ia harus kehilangan sesuatu dari dirinya.
“AKH!”
Rambut sebahunya mengenai light saber polisi tersebut. Kini rambutnya yang tadinya sebahu itu tinggal setengkuknya.
Melihat guguran rambutnya di jalanan membuat amarahnya tersulut. Sambil berteriak, ia menyerang polisi yang memotong rambutnya dan dalam satu kali pukulan yang keras, kepalan tangan Renee berhasil menembus dada polisi tersebut sampai bolong.
Renee dan Ruthven saling berdiri berdekatan, mengatur napas mereka yang tak karuan. Bola mata mereka terfokus kepada tujuh robot yang telah tersungkur di jalanan Grafton yang basah itu. Ada satu robot yang bahkan sampai kejang sebab adanya reaksi air dengan listrik di tubuhnya.
Ekor mata Ruthven dapat melihat rambut Renee, namun ia tak terlalu mempermasalahkannya, berhubung ia tahu bagaimana sifat gadis ini jika disinggung tentang hal yang tidak disukainya—jelas sekali ia terlihat kesal dengan perubahan gaya rambutnya yang tidak disengaja.
Ngiiing! Nguing, nguing!
Ruthven dan Renee menoleh ke belakang. Tak ada cahaya yang nampak, namun mereka tahu beberapa mobil polisi sedang mengarah ke daerah Grafton.
“Ayo, kita harus segera pergi dari sini,” tanggap Ruthven cepat, disambut anggukan Renee. Mereka segera berlari mengarah kembali ke motel. Tetapi kembali ekor mata Ruthven yang sensitif itu menyadari ada sesuatu. Kali ini, bukan dari seorang Renee, melainkan dari tembok sebuah bangunan di Grafton Street.
Matanya membulat kaget melihat sesuatu yang ada di tembok tersebut. Langkahnya terhenti, membuat Renee terpaksa menghentikan langkahnya juga. Ia mendekati kawannya yang masih termengu kaget itu.
“Hei! Ayo, cepat! Polisi akan datang!” tukas Renee sambil memegang tangan Ruthven dan menggoyang-goyangkannya. Tetapi Ruthven tak merespon. Malahan, tangannya yang tak terpegang oleh Renee melepas sebuah kertas yang tertempel di tembok itu. Renee memicingkan matanya melihat tingkah laku Ruthven, namun kemudian ia juga ikut menjadi shock begitu melihat isi kertas yang Ruthven pegang sekarang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar