Senin, 10 Mei 2010

Chapter 6: Train

“Bisa saya minta tiket anda?”

Celiann dan Vincent memberikan masing-masing dua tiket—sebagai representasi atas dua orang lainnya yang tidak bisa memberikan tiket mereka berhubung keadaan mereka sekarang—kepada petugas berseragam itu. Petugas itu meneliti tiket mereka, kemudian merobek pinggirannya dan memberikannya kembali kepada Vincent dan Celiann.

“Semoga perjalanan anda menyenangkan.”

“Terima kasih,” ucap Vincent dan Celiann bersamaan, sembari dengan kepergian petugas itu dari ruangan mereka. Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Tapi dari ruangan di samping, mereka dapat mendengar berbagai ocehan seperti, “ANN, BOTAKI SAJA RAMBUTNYA!” ataupun “JANGAN DENGARKAN DIA, ANN! BRENGSEK KAU, STEPHEN!” dan juga “RUTHVEN, BISAKAH KAU MENENANGKAN KEDUA ORANG INI?! AKU TIDAK BISA BERKONSENTRASI MERAPIKAN RAMBUT RENEE—DIA BISA SAJA MENJADI BOTAK BETULAN!”

Celiann mendesah mendengar teriakan-teriakan itu. Jauh lebih melegakan berada di ruangan ini; duduk di samping Vincent yang sibuk menggeluti sketsanya, juga memandang kepada Tiffany dan Zach yang tertidur di hadapan mereka—mereka berdua sama-sama orang yang bangun terakhir pagi ini dan tentunya sama-sama tidak suka bangun pagi sehingga harus melanjutkan tidur mereka sekarang. Celiann menahan tawanya. Geli baginya melihat Zach yang mulutnya menganga lebar dan juga Tiffany yang secara tak sadar menyandarkan kepala di bahu Zach.

“Mereka terlihat seperti Jasper dan Chloe versi berandal,” tukas Celiann, membuat Vincent menengadah dan ikut tersenyum. Celiann melanjutkan, “Wajah mereka cukup mirip—lihat hidung mereka yang sama-sama besar. Jangan-jangan mereka saudara kembar yang sudah lama terpisah.”

Vincent tertawa kecil. “Mungkin. Dan oh—Chloe dan Jasper juga lumayan berandal, kok.”

Celiann tertawa lagi. Ekor matanya melirik buku sketsa Vincent, dan ia dapat melihat seorang pria yang tampak gagah. Gambarnya itu membuatnya tertarik.

“Hei, siapa dia?” Celiann lebih mencondongkan kepalanya ke sketsa Vincent.

“Oh. Hanya karakter ciptaanku. Well, sebenarnya ini adalah bayanganku tentang seorang Siegfried Acklesenn.”

Celiann manggut mengerti. Rupanya, dalam bayangan Vincent, Siegfried Acklesenn adalah seorang dengan rambut panjang, dengan sebuah luka sayat persis di bawah matanya. Pria itu memegang pedang, membuatnya terlihat seperti ksatria sejati.

“Dia benar-benar pria yang hebat,” gumam Celiann. “Bisa menyelamatkan dunia sendirian.”

“Yeah,” komentar Vincent pendek.

Celiann menoleh ke jendela yang ada di sebelah Vincent, mengamati setiap butiran air yang turun. “Apakah kita bisa seperti dia—mengulang keberhasilannya?”

“...jujur, aku tidak yakin.”

“...begitu juga denganku.”

Mereka larut dalam keheningan. Pikiran mereka yang sejalan lantas tidak membuat mereka bersemangat—bagaimana caranya mereka bisa semangat jika pikiran mereka sama-sama pesimistik?

“Dia adalah seorang pria dewasa yang gagah perkasa, sementara kita...” Celiann mendesah. “...hanya delapan bocah ingusan yang tak punya kekuatan seperti dia. Dan pedang itu...—”

“—yeah, bahkan kita belum menemukan pedangnya. Dan dari situlah aku sudah tidak yakin; apakah kita bisa menemukan pedang itu?”

“...ya.”

Celiann kembali terdiam, namun tak lama kemudian, ia kembali menarik napas panjang dan menghelanya perlahan-lahan. “Tetapi meski begitu...” lanjutnya. “...aku cukup bersyukur karena bisa ikut dalam perjalanan ini.”

Vincent melirik Celiann.

“Karena pelajaran ini, aku jadi lebih mengenal kalian semua. Well, memang sudah lama sekali kita berada dalam satu kelas; kelas pengendalian api. Tapi jujur, aku belum begitu mengenal kalian semua. Aku jadi tahu Ann ternyata orang yang suka panik, Tiff dan Zach yang suka tidur, Renee yang rupanya lemah dengan laut, dan kau...,” Celiann menolehkan kepalanya kepada Vincent. “Di balik kacamata dan wajah misteriusmu itu—yang kadang dianggap aneh oleh teman-teman, aku baru saja tahu bahwasannya kau punya fantasi yang begitu hebat, bahkan kau bisa melukiskan seorang Siegfried Acklesenn dengan mengagumkan.”

Kini, mata Vincent benar-benar terarah pada Celiann.

“Setidaknya, perjalanan ini lebih menyenangkan daripada kehidupan sekolah yang membosankan itu,” tambah Celiann.

Vincent tersenyum. “Well, kita sudah terlanjur melakukan perjalanan ini,” ucap Vincent. “Maka kenapa kita tidak melanjutkannya? Siapa tahu hal yang baik sedang menunggu di akhirnya.”

Celiann membalas senyuman Vincent sembari menepuk tangan kawannya itu. Dan tanpa mereka sadari, kereta mulai melambat, sampai akhirnya benar-benar berhenti.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar