Banyak hal—atau pekerjaan—yang menjadi lebih mudah dengan bantuan kekuatan pikiran kita. Yep, Deordical Academy mengajarkan ini pada para mysticalist. Renee Hainsworth menantang anak Defense adu pedang. Dan, Ia berhasil mengalahkannya—bahkan—tanpa menyentuh pedang itu sedikit pun. Kalian pasti tercengang, aku juga. Pedang Renee bergerak dengan sendirinya. Dan, itulah yang membuat anak Defense yang malang itu lari ketakutan. Ini membuat Renee dan Miles Thornton—sebagai ketua kelas Satu-Enam—dimarahi.
Ada lagi, Austin Lincoln, Fey Hartwell serta Ruthven Ecclair membuat ratusan burung-burungan kertas dan menerbangkannya di ruang makan, hingga membuat suasana gaduh. Tapi, menurutku itu keren. Bayangkan, burung-burung kertas itu terbang berkeliaran ke seluruh pelosok ruang makan seakan hidup. Tapi sayangnya, seorang guru pengendali api tidak tinggal diam—Ia menjentikan jarinya dan seketika, burung kertas ‘hidup’ itu terbakar dan menjadi serpihan-serpihan abu. Miles pun kena marah (lagi).
Sekarang, izinkan aku bercerita sedikit tentang Masa Orientasi—karena ada hal penting yang harus kalian tahu—yang telah selesai sekitar seminggu yang lalu, dengan bimbingan dari para Dewan Senior. Setiap kelas dibimbing oleh—sekurangnya—seorang Dewan senior. Kelas Satu-Enam—yang sangat dibanggakan ini—mendapatkan bimbingan dari seorang Anabelle Martinez, gadis sekitar lima belas tahun—dua tahun lebih tua dari para junior tingkat satu, berambut ikal panjang keemasan, tinggi proporsional, langsing, cantik dan—seperti kata Dhynella—sangat sempurna.
Sejauh ini, mereka—para junior tingkat satu—belum bisa membuktikan tanggapan-tanggapan para senior—selain Dewan Senior—tentang sifat sok berkuasa dan bermuka dua yang dimiliki para Dewan Senior. Semua tanggapan itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang para junior lihat selama ini. Sangat mustahil dan pelik, bahwa para Dewan Senior yang terlihat layaknya malaikat penghuni surga—dengan segala kelebihan yang melimpah, akan berubah menjadi setan jahat buruk rupa dari neraka. Well, disinilah kita semua dituntut untuk mempelajari dua hal ini:
- Jangan mudah percaya terhadap tanggapan orang lain—kecuali, jika kau sudah melihat pembuktiannya.
- Jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya—seperti inner beauty atau inner handsome?
Mungkin, menurut kalian, untuk menerapkan dua prinsip sederhana ini adalah hal yang sangat mudah. Tapi, pada kenyataannya, dua hal diatas jauh—sangat-sangat jauh—lebih sulit daripada kelihatannya. Sebut saja Schallon, Naisha, Allena serta Vineesha—para jenius dari Satu-Enam, mereka lebih memilih mengerjakan dua ratus soal matematika dengan pangkat bilangan diatas lima puluh dibanding harus melaksanakan dua prinsip yang sulit dicerna itu. Bagaimana dengan kalian? Aku tahu kalian masih tetap memegang pendirian kalian tentang mudahnya kedua prinsip tadi. Tapi, tunggu sampai kalian mengalami kejadian seperti ini:
Jasper dan Chloe—si kembar Sullivan—berjalan menyusuri koridor lantai empat, menuju ke ruang kelas Satu-Enam yang berada di ujung koridor. Itu biasa, tapi ada sesuatu yang tidak biasa pagi ini. Semua murid kelas lain—yang juga berada di koridor—memandang mereka berdua dengan tatapan aneh; seperti tatapan merendahkan yang bercampur dengan rasa kasihan dan ditambahkan dengan tatapan mengejek yang konyol.
“ Apa mereka melihat ke arah kita, Jazzy?” tanya Chloe pada Jasper—yang berjalan tepat di kanannya—dengan suara nyaris tak terdengar.
“ Entahlah. Lagipula kau tidak usah merasa seperti artis. Belum tentu mereka melihat ke arahmu.” jawab Jasper menyebalkan. Chloe berhenti tiba-tiba dan Jasper pun seketika ikut berhenti. “ Ada apa lagi?” tanyanya tak bersemangat.
“ Hei, jelas-jelas mereka melihat ke arah kita. Kau ini sangat tidak peka ya. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Atau, Ha! ada selai cokelat yang masih tersisa di sekitar mulutku?” Chloe mengeluarkan sehelai tissue dari kantung blazer seragamnya dan dengan terburu-buru mengelapi sekitar mulutnya dan saat Ia melihat permukaan tissuenya, dahinya berkerut; tissue-nya masih bersih. “ Hem, tidak ada noda apa-apa. Jadi apa yang salah?”
“ Aku tidak tahu, bodoh. Lebih baik kita bergegas masuk kelas, menghindari mereka memandangi kita lebih lama.” keluh Jasper kemudian menarik tangan Chloe dengan tak sabaran.
Pertanyaan si Kembar Sullivan langsung terjawab saat mereka sampai di kelas. “ kalian lihat bagaimana mereka memandangi kita?” tanya Zach Samlerr yang duduk di meja sebelah jendela, menatap keanehan yang terjadi di luar kelas.
“ Jadi mereka melakukan itu juga kepadamu?” tanya Chloe antusias.
“ Yah, begitulah. Bukan hanya kalian berdua dan aku. Tapi, kepada semua anak-anak Satu-Enam.” jawab Zach, masih memandang keluar jendela.
“ BERHENTI MENATAPKU SEPERTI ITU, ATAU KALIAN AKAN TAHU AKIBATNYA. HEI, KAU JANGAN TERTAWA. MEMANGNYA ADA YANG LUCU DI SINI?” Renee masuk ke kelas dengan wajah merah padam, menahan kemarahannya yang terlanjur Ia lampiaskan kepada pintu ruang kelas—saksi bisu yang malang. “ Apa sih mau mereka? Memang ada yang salah denganku pagi ini? Aku mengakui kekalahan MU semalam memang agak memalukan, tapi Red Devil akan membalasnya, aku berjanji akan balik menatap kalian seperti tadi.” Renee meninju-ninju daun pintu kelas.
“ Hei, anak bodoh di depan pintu, mereka bukan memandangimu karena kekalahan memalukan ‘tim kesayanganmu’ semalam. Asal kau tahu saja, hal itu sungguh tidak penting untuk dijadikan alasan mengapa mereka memandangimu.” sindir Stephen dari sudut kelas.
“ Hei, anak bodoh di sudut kelas, jangan pernah memanggilku dengan sebutan si ‘anak bodoh di depan depan’. Kau akan tahu akibatnya, heh.” balas Renee.
Baiklah, mari kita keluar dari pertempuran ini.
“ Jadi, apa alasan mereka memandangiku seperti itu, hmm—maksudku memandangi kita semua seperti itu?” tanya Renee. Sekarang semua anak-anak Satu-Enam sudah berkumpul di ruang duduk asrama Hollyn, karena asrama itulah yang paling sepi dan berpenghuni paling sedikit.
“ Yep. Kita baru berada di sini selama kurang dari dua minggu. Dalam waktu sesedikit itu, kita bahkan belum sempat melakukan kesalahan apa-apa, maksudku kesalahan yang besar—selain menakut-nakuti murid Defense dan membuat gaduh suasana makan malam.” tambah Elsenn disusul sahutan setuju dari yang lain.
“ Pasti ada sesuatu di balik ini semua, yang tidak kita tahu dan harus kita cari tahu.”
* * *
“ Kalian berusaha mengambil perhatian dari para guru hanya karena kalian telah dicap sebagai anak-anak unggulan. Kalian tidak peduli bagaimana nasib kelas lain—yang yah, tidak seunggul kalian. Kalian ingin menyingkirkan kami semua, karena kalian ingin menjadi satu-satunya yang berhasil mengangkat nama Deordical Academy. Benar kan? Pada kenyataanya, kalian hanya anak-anak sok tahu, pengacau, pembuat onar, egois dan munafik.” jelas Patrick Morgan, ketua angkatan tingkat satu. Dia berdiri di depan kelas Satu-Enam. Berkata dengan lantang tanpa rasa takut sedikit pun. Anak-anak Satu-Enam mendengarkan dengan tenang, tanpa rasa marah. Mereka jelas-jelas tahu diri, mereka bukanlah orang seperti yang dikatakan bocah kurus ceking ini. Dia pasti telah dipengaruhi seseorang. Ya, pasti ada orang dibalik layar yang merencanakan ini semua.
“ Apa dasarmu sehingga kau menilai kami seperti itu?” tanya Miles dengan tenang.
“ Aku punya mata dan telinga, bodoh. Aku bisa mengetahui apa saja rencana busuk kalian terhadap kami semua. Tadinya, kami pikir kalian memang layak menjadi kelas paling unggul; kalian pintar, rajin dan ramah. Tapi, seseorang telah membuat kami sadar, bahwa sesungguhnya kalian sangat jauh dari kata layak. Kalian memang pintar, tapi kalian menggunakan kepintaran kalian itu untuk sesuatu yang tidak—sangat-sangat tidak—mulia.”
Naisha bangkit dari tempat duduknya dan mulai berbicara. “ Kau tadi bilang bahwa seseorang telah membuat kalian sadar. Perlu digarisbawahi di kata ‘seseorang’.”
Patrick tersenyum licik. “ Dewan Senior. Mereka ada di pihak kami. Mereka akan balik menyingkirkan kalian. Saatnya bagi kalian untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Deordical Academy.”
Sebenarnya, bukan Patrick yang harusnya tersenyum licik. Tapi, para Satu-Enamlah yang tersenyum licik.
* * *



Tidak ada komentar:
Posting Komentar