Senin, 26 April 2010

Chapter 1: Rain

“Tiff?”

“...”

“Tiff?”

“...”

“TIFF!”

“DUH! Aku sudah bangun, Lena!” keluh Tiffany sambil mengerang. “Kau tak perlu menyiramku pakai airmu seperti itu!”

Allena mencibir.

“Kau tidak berkonsentrasi sejak pelajaran sejarah, kau tahu?”

Well, kenyataannya tidak begitu.”

WELL, kenyataannya begitu, Lady Tiffany Sherrine Yang Agung,” Allena memutarbalikkan perkataan teman sebangkunya itu. “Kau bengong pada pelajaran sejarah, menguap pada pelajaran fisika, dan kau tidur di pelajaran trigonometri. Dan Ansell sukses mengambil fotomu saat tidur—ia bilang foto itu akan dimasukkan ke internet.”

Mata Tiffany membelalak, sebelum akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya dan berteriak.

“ANSELL MCFADDEN, HAPUS FOTO ITU ATAU HIDUPMU TAKKAN PERNAH TENANG!!”

***

Menjadi seorang pengendali api umumnya akan dianggap mulia, mengingat bahwa pada masa kini, sudah tidak terlalu banyak penerus dari pengendali yang konon merupakan raja dari semua elemen itu.

Tapi hal itu tidak berlaku untuk seorang Tiffany Sherrine.

Ia hanyalah seorang gadis yang moody dan tidak terlalu populer di Deordical. Tidak seperti Celiann Amherst dan Ruthven Ecclair yang atlet lari, atau Ann Mightray yang merupakan salah satu petinggi di kelompok baris berbaris. Juga Renee Hainsworth yang ditakuti setiap kali ia melangkah di koridor, Zach Samlerr yang merupakan kalkulator berjalan, Vincent Nightray yang konon akan menjadi seniman yang mengalahkan pencapaian Picasso di masa mendatang, ataupun Stephen Wickliff yang...yang...yah, minimal dia punya satu penggemar; Adelaide Holywell, si gadis cantik pengendali air.

Dan Tiff? Ia hidup normal tanpa bakat yang gemilang. Oke, mungkin menulis atau fotografi. Tapi Aylie Carnbell, Ruu Ashford, serta Ada sepertinya lebih berbakat dalam bidang itu.

Jadi inilah ia; seorang Tiffany Sherine melangkah di koridor menuju lokernya, mengambil keperluan yang ia butuhkan untuk mengikuti ilmu pertahanan. Setelahnya, ia kembali melangkah ke kelas, menemukan Ann, Ruthven, dan Vincent di dalam sana, serta buku Renee dan Stephen di atas meja mereka masing-masing.

“Siang,” gumamnya pelan sebelum menghempaskan dirinya di kursinya.

“Hei, Tiff. Aku berhasil membuat gambar baru,” Vincent mencolek bahunya dari belakang, membuat Tiffany menoleh—menatapinya dengan tatapan malas. Tiffany meraih gambar ombak yang berada di genggaman Vincent dan menatapinya. “Menurutmu bagaimana?”

“Mmm. Bagus.”

Alis Vincent bertaut. “Kau serius tidak?”

“Kau pikir aku berbohong?”

Well, kau tampak tidak semangat—faktor yang membuatmu terlihat seperti tidak serius.”

Tiffany menguap sembari mengembalikan gambar Vincent kepada tuannya. “Begitulah. Aku mengantuk. Dan moodku sedang berantakan.” Dalam kepalanya, menggema suara Allena yang mengatakan bahwa Ansell berhasil mendapatkan fotonya saat ia tidur. Tiffany mendesis sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya di meja.

Brak!

Suara itu tak pelak langsung membuat Tiffany mengadahkan kepalanya, melirik ke samping kiri dengan tatapan gusar. Stephen sedang berdiri di antara kursi miliknya dan kursi milik Tiff—kebetulan kursi mereka bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh jalan kecil. Pemuda itu tampak tersenyum lebar ke arah pintu.

“BISAKAH kau berjalan lebih TENANG?!” tukas Tiffany gusar, meski Stephen tampak tak menggubrisnya dan masih tersenyum lebar kepada Dillon yang berdiri di ambang pintu. Seraya itu pula, bel berbunyi.

“Awas kau, Steph!” teriak Dillon dari pintu dengan nada setengah tertawa—ya, kelihatan jelas sekali bahwa dua sahabat itu baru saja bercengkrama. Setelah Dillon menghilang dari ambang pintu, Stephen memandang Tiffany yang masih tampak kesal kepadanya.

“Dasar tukang sewot,” cibirnya sebelum ia duduk. Tiffany menggeram menahan amarahnya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidak menghiraukan Stephen—serta senyum nakal yang mengembang di wajah Ann yang duduk di depan Stephen—dan kembali berusaha untuk pergi ke alam mimpi.

“Siang, anak-anak,” suara Mr. Joash kembali membuat Tiff mengadahkan kepalanya—dan juga kembali menggerutu kesal karena usahanya gagal lagi. Mr. Joash berdiri di belakang meja guru, bersamaan dengan koor anak-anak yang membalas sapaan itu. “Kurasa kita bisa langsung memulai pelajaran hari ini, bukan begitu?”

“Terserah kau saja,” Renee memutar bola matanya.

Well then, kalau begitu kita akan belajar bagaimana membuat badai api,” Mr. Joash menyalakan komputernya, dan seluruh murid dapat melihat presentasi yang telah dibuat oleh Mr. Joash untuk pelajaran hari ini.

“Badai api, salah satu ilmu yang cukup dahsyat bagi pengendali api—setidaknya jika dibandingkan dengan bola api,” ucap Mr. Joash kemudian menggeser ke slide berikutnya, dimana di slide itu ditunjukkan sebuah animasi yang memperagakan prinsip kerja badai api.

“Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana, namun butuh energi yang cukup besar juga. Kita tinggal mengerahkan semua energi api yang ada dalam diri kita sampai membakar diri kita, kemudian meneriakkan mantera untuk ‘menerbangkan’ api itu ke lawan kita.” Mr. Joash menggeser ke slide berikutnya, dimana tertoreh sebuah mantera yang dibutuhkan untuk menggunakan jurus itu.

“Khusus untuk ilmu ini, kita memakai mantra—hei, takkan sekompleks dengan mantera-mantera kelas Mystical, kok. Manteranya adalah Sthram Preirofa. Sebenarnya, kita butuh meneriakkan mantera itu dengan cukup keras juga, berhubung teriakkan itu juga memberikan energi yang dibutuhkan untuk menghempaskan badai tersebut,” Mr. Joash menyudahi presentasi itu. “Kurasa presentasi ini singkat saja, yang penting kalian sudah punya gambaran tentang ilmu ini. Lebih baik sekarang kita praktekkan langsung. Ayo.”

Dengan aba-aba itu, seluruh anak-anak mengikuti Mr. Joash keluar dari kelas menuju atap sekolah. Deordical punya dua atap sekolah, tapi mereka tahu pasti satu atap lagi digunakan oleh para pengendali angin.

“Zach, kurasa kau dapat giliran pertama,” ucap Mr. Joash kepada anak-anak didiknya yang duduk bersandar pada dinding bata pendek yang membatasi pinggiran atap. Zach bangkit kemudian berdiri mendekati gurunya. Ia berdiri menyampingi kawan-kawannya, menghadap ke pintu atap—supaya badainya tidak terkena dan melukai anak-anak lain.

“Sekarang, pusatkan pikiranmu. Buat api menyelimuti tubuhmu, kemudian hempaskan api tersebut ke arah pintu. Anggaplah pintu itu adalah musuhmu.”

Zach mengangguk, sebelum akhirnya ia menatap pintu besi tersebut. Ia memusatkan fokusnya, kemudian dapat dilihat oleh anak-anak lain bahwa api sudah mulai membakar tubuh Zach.

Sthram Preirofa!!”

Dengan teriakan tersebut, api dari tubuh Zach menghempas pintu tersebut. Ya, ia berhasil melakukan jurus itu. Ia tersenyum lebar, bangga atas pencapaiannya.

...harusnya begitu.

Apa yang terjadi adalah kini Celiann berdiri di samping pintu dengan mata yang membelalak kaget. Ia baru saja tiba dari toilet dan ia bisa saja terkena api Zach jika dia tidak melindungi dirinya dengan pintu yang sedang dibukanya.

Tatapan Celiann yang kaget itu lama-lama berubah jadi tatapan marah. Kini, Zach yang membelalak begitu melihat amarah Celiann muncul dengan wujud api yang membakar tubuhnya.

Sthram Preirofa!!”

Zach dan Mr. Joash segera menghindar sebelum api Celiann menghanguskan tubuh mereka.

***

Usaha Tiffany untuk tidur masih juga belum berhasil sampai pelajaran terakhir untuk serentetan pendidikan Defense hari ini. Kini, ia sedang menatap pertarungan pedang antara Renee dan Stephen dalam pelajaran ilmu pedang. Keduanya tampak sama-sama terbakar oleh api amarah, berhubung mereka memang selalu bertengkar. Namun begitu, sebenarnya mereka akrab sekali seperti saudara.

“Langitnya menyeramkan.”

Tiffany menoleh. Aylie dan Helen tampak sedang sibuk memperbincangkan langit di atas sana. Karena penasaran, Tiffany pun mengadahkan kepalanya. Seperti apa kata Aylie, langit di atas begitu menyeramkan. Warnanya hitam kelam, dan berkali-kali terlihat cahaya kilat yang diikuti suara gemuruh petir.

“Awannya tebal sekali,” Leslie pun ikut terlibat dalam konversasi tersebut. “Tampaknya hujan akan turun kali ini. Yeah, kau tahu, kan, dari kemarin, cuaca memang sudah mendung, namun hujan juga tak kunjung turun.”

“Tapi yang kemarin, awannya tidak setebal ini dan langit juga tak segelap ini,” kilah Helen cepat.

Tiffany tampak tak tertarik dengan pembicaraan ketiga sahabatnya itu. Ia memutuskan untuk mencoba usahanya tidur kembali. Namun tak lama setelah membenamkan kepalanya ke kedua pahanya yang terlipat, apa yang dibicarakan Helen menjadi kenyataan; tetes air hujan pertama jatuh ke kepala Tiffany sebelum akhirnya rintik-rintik hujan mulai menderas.

“Hei, kita sudahi pelajaran kali ini—ayo, segera berteduh semuanya!” komando Mr. O’Shea selaku guru ilmu pedang. Keempat puluh anak Estinese—setelah pelajaran pengendalian empat elemen, mereka kembali bergabung menjadi satu—segera masuk ke dalam bangunan utama sekolah, kemudian membereskan barang-barang mereka yang ada di loker sebelum akhirnya kembali ke asrama mereka masing-masing.

***

“Pemirsa sekalian, seperti yang kita ketahui, sudah lima hari lamanya hujan turun membasahi kawasan kita. Namun yang lebih mengejutkannya lagi, semua daerah di muka bumi juga mengalami hujan yang tak kalah derasnya. Belum ada ilmuwan yang dapat menjelaskan apa-apa tentang hujan ini. Curah hujan yang sekarang turun memang masih menunjukkan angka 40 milimeter, yang berarti masih masuk ke golongan hujan sedang. Namun, jika hujan ini terus berlanjut, bahkan curah hujan meningkat, dikhawatirkan dampak yang parah akan melanda.”

Beberapa siswa tampak serius memandangi layar televisi yang ada di kantin sambil menggeluti makan siang mereka. Tiffany—yang baru saja menaruh nampan makananannya—tampak kurang tertarik dengan berita tersebut, namun sebenarnya telinganya menyerap informasi yang diberitakan.

Ia melangkah keluar menuju lokernya, mengambil barang-barang yang diperlukan untuk rentetan pelajaran Defense hari ini. Sebenarnya, ia agak malas mengikuti pelajaran Defense hari ini, terutama pelajaran empat elemen. Sejak hujan turun, ia dan anak-anak pengendali api lainnya tidak bisa menggunakan pengendalian api mereka. Api yang mereka kendalikan selalu padam oleh tetesan air hujan. Padahal, selama ini, mereka masih bisa menggunakan pengendalian mereka meskipun hujan turun. Ya, api pengendali memang tidak bisa dipadamkan oleh air biasa.

Tiffany mengunci lokernya dan berjalan kembali menuju ruang kelas pengendalian elemen. Namun begitu telinganya mendengar sesuatu saat ia melintas di depan ruang rapat para guru, ia tak bisa tahan untuk tidak menempelkan telinganya di pintu.

“Akuilah aku memang benar; hujan ini bukan hujan biasa!” Tiffany dapat mendengar suara Mr. Joash yang cukup keras dari dalam sana.

“Joash, kau berkata layaknya kau tak pernah melihat hujan.”

“Anak-anak didikku tak pernah ada yang berhasil menggunakan ilmu pengendalian api mereka setelah hujan ini turun!” sengit Mr. Joash. “Kalian tahu api pengendali tidak mudah dipadamkan, bahkan oleh pengendali air sekalipun—hanya pengendali air yang hebat yang dapat memadamkan api para pengendali api.”

Untuk sejenak, kesunyian menghampiri ruangan tersebut.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita bahkan tidak tahu siapa dalang di balik semua ini.”

Well, sebenarnya aku punya analisis, namun aku sendiri masih meragukan kebenarannya,” ucap Mr. Joash. “Kalian tahu Fionn Lansford?”

Tiffany menahan napas mendengar nama tersebut. Profesor Doktor Fionn Switzerland Lansford, salah satu profesor terjenius yang pernah ada dan juga salah satu kriminal terjenius yang pernah ada. Ia pernah ditahan karena usahanya menguasai dunia dengan alat-alat temuannya, namun kini ia telah bebas.

“Aku baru saja mengetahui bahwasannya dia adalah salah satu pengendali air yang hebat.”

Kini, Tiffany terkesiap.

“Darimana kau tahu akan hal itu?”

“Aku punya teman pengendali air yang mengenal orang itu,” ucap Mr. Joash. “Aku curiga bahwa obsesinya menjadi diktator itu belum juga terhapus dari otaknya dan ia meluncurkan cara lain seperti mengulangi apa yang terjadi 700 tahun yang lalu.”

Alis Tiffany bertaut.

“Joash, kau bahkan belum lahir pada tahun itu.”

“Namun aku cukup pandai untuk mengetahui hal itu karena aku tahu di jaman ini sudah ada buku dan internet,” sepertinya Mr. Joash menggunakan nada yang menyindir. “700 tahun yang lalu, terjadi Hujan Kenelzh yang mirip—bahkan mungkin sama—seperti apa yang terjadi sekarang.”

“Dan bagaimana caranya hujan itu berhenti? Hujan itu tak mungkin bertahan sampai 700 tahun lamanya, kan?”

Well, itu...”

Tiffany memundurkan kepalanya dan melangkah mundur. Ia memang penasaran akan apa yang akan dikatakan Mr. Joash berikutnya, namun hasratnya untuk mencari informasi sendiri soal Hujan Kenelzh itu lebih besar, sehingga ia mulai berlari. Ia sempat berpikir untuk pergi ke ruang komputer, namun ia tahu ruangan itu tidak boleh dipakai kecuali saat pelajaran yang bersangkutan—dikhawatirkan anak-anak akan menggunakan internet untuk alasan yang tidak benar. Jadi ia berbelok menuju perpustakaan.

Sesampainya di sana, ia membuka pintu dan langsung disambut oleh hembusan pendingin ruangan yang membuatnya menggigil sejenak—perpustakaan memang dikenal sebagai ruangan yang paling dingin. Ia menempelkan kartu perpustakaannya di tempat yang telah disediakan, kemudian mendekati komputer katalog. Ia mengetikkan Hujan Kenelzh, dan monitor hanya menunjukkan satu judul buku yang menjelaskan tentang hal ini.

Sejarah Milenium Pertama, Seri Ketiga: Tahun 1300-1400, oleh Ernesto Fonseca.
Rak C3 baris 4.

Maka Tiffany berjalan menuju rak yang ditunjuk. Ia menelusuri koridor antara rak C3 dan C4, menelengkan kepala kepada rak C3, khususnya kepada baris keempat rak tersebut. Menemukan judul yang ia cari, ia mengambil buku tersebut, kemudian duduk di salah satu tempat yang kosong dan mulai membuka buku itu, mencari halaman yang akhirnya ia temuka beberapa saat kemudian.

Hujan Kenelzh
Hujan Kenelzh merupakan salah satu fenomena terburuk yang pernah terjadi di muka bumi ini. Terjadi pada pagi hari 13 April 1321, hujan turun secara serempak di seluruh muka bumi. Para penduduk awalnya menganggap bahwa hujan ini adalah hujan biasa. Namun begitu menyadari bahwa sudah satu minggu hujan ini tidak berhenti-henti juga, masyarakat menyadari bahwa ada yang aneh dari hujan yang turun ini.

Meskipun curah hujan hanya berkisar antara 20 sampai 50 milimeter, namun karena hujan terus berlanjut tanpa henti sampai hampir dua minggu, banjir pun mulai melanda dan melalap habis pulau-pulau di bagian Oseania dan Karibia, serta hampir menenggelamkan kepulauan di Asia Tenggara.

Seorang prajurit asal Irlandia, Siegfried Ackelsenn, konon menjadi satu-satunya orang yang berani mencari tahu tentang hujan ini. Rupanya, seorang ahli mistik bernama Leonas-lah yang menciptakan hujan mistik ini. Ia bermaksud untuk menghancurkan dunia dengan banjir yang diciptakannya secara perlahan-lahan melalui Hujan Kenelzh. Siegfried, dengan Pedang Api Abadi yang dimilikinya, berhasil mengalahkan Leonas dan menghentikan Hujan Kenelzh tepat sebulan setelah hujan pertama kali berlangsung.

Yang menjadi misteri sampai sekarang adalah Pedang Api Abadi yang dimiliki oleh Siegfried. Pedang yang dinamakan sebagai artian “api yang tak kalah oleh air” ataupun “semangat yang tidak pernah mati” ini tak pernah diketahui keberadaannya. Konon, pedang ini masih dipegang oleh Siegfried sendiri, yang berarti ada pada jasad Siegfried. Namun makam Siegfried yang sesungguhnya juga tak pernah diketahui kepastiannya.


Teng...teng...!

Lonceng telah dibunyikan, tanda sesi pelajaran Defense akan segera dimulai. Tiffanny pun segera menutup buku tersebut dan mendekapnya. Setelah mengisi daftar peminjaman buku, ia segera keluar dari perpustakaan dan berlari menuju kelasnya.

Ia dapat melihat seluruh kawan-kawannya sesama pengendali api dari Estinese sedang duduk. Terlihat jelas sekali dari wajah mereka bahwa mereka bosan. Tiffany memandang meja guru. Mr. Joash belum datang, dan Tiffany yakin bahwa penyebab Mr. Joash belum datang adalah perdebatan itu.

Tiffany menduduki kursinya, kemudian kembali berkutat dengan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Ia berusaha untuk mendalami kisah tentang Hujan Kenelzh beserta Siegfried Acklesenn dan Pedang Api Abadinya tersebut.

“Untuk apa kau terus-terusan begitu?”

Tiffany menoleh kepada Celiann yang mengernyit pada Renee. Gadis itu tengah duduk di mejanya—meja, bukan kursi—dan sudah sedari tadi ia memetik jarinya, membuat percikan api keluar dari jemarinya tersebut.

“Aneh,” gumam Renee. “Aku bisa membuat api di dalam sini, tapi jika di luar, aku tidak bisa membuat api.”

“Bodoh. Kau baru sadar sekarang, padahal hal itu sudah terjadi sejak hari pertama hujan?” Stephen tersenyum sinis.

Renee mengerut dan turun dari mejanya, kemudian menggebrak meja tersebut, membuat satu kelas melonjak kaget.

“Lantas MENGAPA jika aku baru sadar sekarang?!” tanya Renee tidak senang.

“Jadi kita tidak bisa membuat api karena hujan tersebut?” Ann berusaha mengembalikan pembicaraan ke topik sebelum kedua orang itu mulai membuat kerusuhan.

“Tapi bukankah api pengendali tidak bisa padam begitu saja jika terkena air?” kata Ruthven. “Api pengendali hanya bisa padam oleh air dari pengendali, itupun pengendali yang cukup mahir.”

“Darimana kau tahu?” alis Zach bertaut.

“Mr. Joash pernah menjelaskannya. Kau tidak masuk.”

“Jadi intinya, kau beranggapan bahwa sesungguhnya hujan ini disebabkan oleh seorang pengendali air yang hebat?” tanya Celiann.

Well, aku tidak berkata begitu,” Ruthven mengangkat bahu.

Sementara perdebatan itu berlanjut, Vincent masih menggeluti sketsa yang dibuatnya. Namun ujung matanya dapat melihat Tiffany yang duduk di depannya tampak diam. Vince berpikir bahwa mungkin gadis itu—akhirnya—berhasil mendapatkan sesi tidur yang nyaman. Tetapi begitu ia melihat tangan Tiffany tampak membalik halaman sebuah buku, ia jadi penasaran apa yang sedang dilakukan oleh kawannya itu. Ia meletakkan pensilnya, kemudian bangkit dan berjalan ke depan mendekati meja Tiffany. Gadis itu tampak tak menyadari kedatangannya, jadi Vincent memutuskan untuk mengintip sedikit apa yang dibaca oleh Tiffany.

“Hujan Kenelzh?” Vincent mengernyit. “Apa itu?”

Tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya, Tiffany menjawab cuek. “Kemungkinan besar yang membuat kita tidak bisa menggunakan ilmu pengendalian kita.”

Tiffany terus membaca halaman tersebut. Namun, ia merasa aneh begitu ia menyadari bahwa sejak ia berbicara tadi, seisi kelas menjadi sunyi. Perlahan-lahan, ia menengadah dan menemukan bahwasannya seluruh pasang mata di kelas tersebut memandanginya.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Renee memastikan.

Tiffany Sherrine baru saja membuat langkah yang salah; ia baru saja membeberkan apa yang belum menjadi kebenaran.

Ia mendesah tanda menyerah sembari menghempaskan punggunya kepada sandaran kursinya. Kemudian, ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan kelas sambil membawa buku tersebut.

Well, sebenarnya aku tidak mau memberitahukan hal ini sebelum aku tahu kebenarannya, tapi...” Tiffany menghela napas. “Yeah, jadi aku baru saja melintas di depan ruang rapat guru dan mendengar bahwa Mr. Joash menduga bahwa hujan ini adalah hujan yang dibuat oleh Profesor Lansford.”

“Kriminal gila itu?” tanya Celiann.

“Begitulah,” Tiffany mengangkat bahu. “Hujan yang dibuatnya adalah Hujan Kenelzh—hal yang sedang kuselidiki sekarang ini.” Tiffany menyerahkan buku yang dipegangnya kepada Renee, membiarkan gadis itu membaca apa yang ada di halamannya sementara ia sendiri menjelaskan Hujan Kenelzh itu.

“Singkatnya, fenomena dengan karakteristik yang sama seperti ini pernah terjadi 700 tahun yang lalu. Hujan yang sesungguhnya dibuat oleh seorang ahli mistik bernama Leonas berlangsung selama satu bulan dan berhasil membuat pulau-pulau kecil di Oseania tenggelam habis karena banjir. Seorang prajurit asal Irlandia, Siegfried Acklesenn, berhasil untuk menghentikan Leonas dan hujan tersebut setelah dua bulan berlangsung dengan Pedang Api Abadi yang dimilikinya. Pedang Api Abadi ini dianggap sebagai satu-satunya ‘api yang tidak bisa mati oleh air’.”

“Jadi menurutmu semua ini—”

“Menurut Mr. Joash,” Tiffany meralat perkataan Ann.

“Yeah, apapun itu. Jadi begitu? Hujan ini adalah hujan Kenelzh?”

“Mr. Joash belum berani mengatakan bahwa itu benar. Namun bukankah segalanya sama seperti apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu? Dan kalian tahu, kan, tujuan Profesor Lansford selama ini?”

“Menguasai dunia dengan alat-alat anehnya itu?” tanya Vincent.

“Tujuannya sama dengan Leonas.”

Kesunyian menghampiri ruangan itu. Masing-masing dari mereka berpikir.

Renee menciptakan suara dengan menutup buku tersebut. “Jadi jika ada Leonas, ada Siegfried yang menghentikannya,” ucapnya. “Dan jika ada Profesor Lansford sebagai Leonas, maka ada seseorang dengan Pedang Api Abadi tersebut yang berperan untuk menghentikan Profesor Lansford.”

“Masalahnya...” Tiffany mendesah. “Pedang Api Abadi itu tidak pernah diketemukan. Ada yang berkata bahwasannya pedang itu bersama Siegfried. Dan—”

Well, kalau begitu, cari saja orang bernama Siegfried itu,” seru Zach enteng.

“Dia sudah mati, bodoh,” dengus Celiann.

“—yang menjadi poin masalah kedua adalah...kuburan Siegfried Acklesenn tidak pernah diketemukan seperti halnya pedangnya,” Tiffany melanjutkan perkataannya.

Renee menaruh bukunya di meja, kemudian menepuk tangannya sekali. “Terdengar seperti tantangan bagiku—aku suka itu.”

Apa?!” Tiffany membelalak. “Renee, kebenaran akan analisis ini bahkan belum terbukti kebenarannya, tapi kau sudah bertindak gegabah dengan memutuskan untuk mencari pedang itu—kau gila, ya?!”

Senyum di bibir Renee malah makin mengembang. “Aku tidak berkata seperti itu dan kau malah memberikanku ide untuk mencarinya—kau jenius, Tiffany!”

Tiffany melongo. Ia kembali membuat kesalahan; mengusulkan sesuatu yang sesungguhnya belum diusulkan, padahal itu ide buruk.

Renee berbalik menghadap keenam kawannya yang lain. “Jadi, bagaimana menurut kalian? Tertantang untuk mencari makam Siegfried?”

“Kedengarannya keren,” komentar Stephen.

“Yeah, sepertinya asyik,” timpal Zach.

“Kau mau menerobos keluar komplek Deordical? Gila! Kita bisa diseret ke sidang!” ucap Tiffany.

Geez, itu akan menjadi sidang keduaku*,” gumam Ruthven. Dalam bayangannya, terbayang sidang tentang insiden kecurangan dalam lomba estafet beberapa waktu lalu, dimana ia dibawa ke dalam sidang sebagai saksi.

“Tiff, kau tidak tahu bahwa petugas keamanan kita mudah sekali dibodohi?” Renee tertawa. “Berikan saja makanan—bahkan yang diberi obat tidur sekalipun mereka takkan menyadarinya—dan kartu poker. Selesai.”

Tiffany berkacak pinggang sambil mengernyit, masih kurang setuju akan usul berani Renee ini.

“Lalu bagaimana caranya kita mengetahui lokasi makam Siegfried?” tanya Ann.

Well, ya, entahlah. Karenanya kita akan mencarinya.”

“Dan uang untuk transportasinya?” sambung Celiann.

“Pamanku bekerja di Trans-European Transport Networks,” Renee mengangkat bahu. “Kita bisa ke mana saja dengan gratis selama kita di Eropa—ayolah, takkan sampai Asia, kan?”

“Itu untuk transportasi laut atau udara. Bagaimana dengan transportasi darat seperti taksi atau bis atau apalah?”

“Memang kau tidak punya tabungan?”

Celiann terdiam.

“Terserahlah.”

“Oke, kuanggap kalian semua setuju!” seru Renee—membuat Tiffanny makin membelalak. “Tiga hari lagi, kita berangkat!”

Yang mengejutkan, anak-anak itu menunjukkan secercah antusiasme, terutama Stephen, Zach, dan tentu saja Renee.

Maka dengan itu, lengkap sudah catatan kebodohan Tiffany; ia tidak bisa mencegah kawan-kawannya untuk tidak menerobos keluar Deordical Academy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar