“ Berapa lama kata ‘sebentar lagi’-mu itu, heh?” Dhynella bertanya dengan sinis.
“ Entahlah.”
Akhirnya Dhynella memutuskan untuk duduk diam di ruang duduk keluarga Holywell. Entah apa yang sedang ia lakukan dengan I-Phone 3Gs terbarunya sehingga bisa membuatnya tenang. Oke, Well, harus kutekankan, Dhynela Neilenn, anak bungsu dari keluarga Neilenn, adalah orang yang hampir tidak pernah diam. Selalu rusuh dan kesana-kemari seperti bola bekel. Ya, begitu pun Ada. Dia tidak jauh berbeda dengan Dhyn.
Hari ini mereka akan berangkat ke Deordical Academy, sekolah berasrama terbaik untuk dekade ini. Yang jelas mereka sangat senang dan tidak sabar. Dan beginilah jadinya jika kedua perasaan itu berlebihan: “ Sudah lengkap semuanya? Hei, kau sudah membawa perlengkapan tidur? Sebaiknya perlengkapan tidur dan mandi disimpan di tas yang berbeda, akan lebih mudah. Whooa, dimana charger laptopku? GGDDUBBRAAK, hati-hati dong, Sarah. Aku sedang terburu-buru.” dan sebagainya...
“ Beres.” Ada berjalan menuju ruang duduk, menghampiri Dhyn dengan kedua koper di kedua tangannya.
“ Oh, akhirnya. Kau hanya bawa koper dua?” Dhyn bertanya hampir dengan nada tak percaya. Ada mengangguk. Tidak ada yang salah dengan kedua kopernya, pikir Ada. “ Memangnya kau bawa koper berapa?” tanya Ada balik.
Dhynella menelengkan kepalanya kearah pintu depan. Disana berjejer tiga buah koper besar dan dua buah travel bag ukuran sedang. Ada melongo dengan bola mata membesar sebesar umm—bola basket? Tapi, Ada cepat-cepat menutup mulutnya. Ia sudah tau tabiat teman sejak kecilnya itu.
“ Dimana Dillon?” tanya Ada. Dillon? Siapa Dillon? Oke, sebaiknya aku menceritakannya dulu. Sepuluh tahun yang lalu, mereka bertiga sama-sama bersekolah di taman kanak-kanak yang sama. Mereka mulai bersahabat. Dan, saat keluarga Humphrey—keluarga Dillon—pindah ke sebelah rumah keluarga Holywell, mereka bertiga jadi semakin sering bermain bersama. Itu berlangsung sampai sekarang. Hingga akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk bersekolah di sekolah yang sama (lagi).
“ Kau menanyakan hal yang sudah kau tahu jawabannya.” jawab Dhyn sinis.
“ Ngaret maksudmu?”
“ Kita sudah berteman sejak sepuluh tahun yang lalu, dude. Dan kurasa kau sudah cukup mengenal dan mengetahui kalau Dillon adalah tukang ngaret.”
Oke, Ada menyerah. Ia duduk disamping Dhyn dan mencoba mengintip apa yang sedang dilakukannya dengan I-Phone terbarunya.
“ Asal kau tahu, Deordical Academy melarang kita membawa alat komunikasi dan elektronik ke dalam lingkup sekolah. Saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada I-Phone kesayanganmu itu, Dhyn.” goda Ada dengan berlebihan.
Dhyn tidak menanggapi godaan Ada barusan.
“ Halooo. Ya ampun—kalian menungguku? Sudah lama? Maaf, tadi aku sudah mencoba untuk...” Dillon masuk tanpa permisi. Dan, itu memang sudah menjadi kebiasaannya dari dulu.
“ Oke, oke. Aku mengerti. Kau pasti akan bilang : ‘Maaf, tadi aku sudah mengcoba untuk sangat cepat dan membuat kalian tidak perlu menunggu’. Kami sudah tau.” sergah Ada.
“ Baiklah. Kali ini aku benar-benar minta maaf. Aku sangat berharap untuk tidak mengacaukan kebahagianan kita di hari pertama di Deordical Academy. Oke?” ucap Dillon.
“ Oke, ayo kita berangkat sekarang juga.” Dhyn bangkit dengan gesit disusul Ada dan Dillon.
“ Sebaiknya kita berpamitan dulu dengan Mrs. Holywell.” ucap Dillon.
“ Mom, kami akan berangkat.” sahut Ada. Mrs. Holywell berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri mereka bertiga. “ Apa aku tidak perlu ikut, untuk mendampingi kalian?” tanyanya sedikit khawatir.
“ Tidak usah, Mom. Kami bisa sendiri.”
* * *
Stasiun sangat ramai hari itu. Dhyn, Dillon dan Ada mencoba untuk saling berdekatan untuk menghindari adanya salah satu dari mereka yang tersesat. Di papan keberangkatan tertulis: Deordical Academy jalur tujuh. Mereka bertiga pun mendorong trolley koper mereka menuju jalur tujuh.
Di jalur tujuh, terlihat kebanyakan dari mereka telah memakai seragam Deordical Academy. Mereka para senior. Sebagian dari mereka juga memakai tambahan jubah hitam dengan lencana keemasan yang berjejer. “ Mereka pasti para Dewan Senior.” ucap Ada. Kakaknya, yang sekarang berada di tingkat dua, menceritakan semua tentang Deordical Academy minggu lalu, termasuk tentang dewan senior yang agak sok berkuasa.
Mereka menghampiri Mrs. Turner. Sebelum berangkat, Mrs. Holywell memang berpesan agar mereka segera menemui Mrs. Turner saat sampai di stasiun. “ Dia adalah staff murid baru. Dia akan memberi kalian instruksi lebih lanjut setelah itu.” pesannya.
“ Mrs. Turner, kami siswa baru dari Brighton. Aku Dhynella Neilenn, ini Adelaide Holywell dan ini Dillon Humphrey. Senang bertemu denganmu.” Mereka bertiga menjabat tangan Mrs. Turner bergantian.
“ Halo. Aku Miranda Turner. Senang bertemu kalian juga. Oh, kalian silahkan berkumpul di barisan itu. Dan tunggu aku datang menghampiri kalian lagi untuk memberi intruksi selanjutnya.”
“ Terima kasih banyak, Mrs. Turner.” ucap Ada seraya tersenyum.
“ Sama-sama, Ms. Holywell.” balasnya.
Mereka bertiga berpisah dengan staff murid baru itu dan segera berjalan menuju kerumunan anak-anak tak berseragam—seperti mereka bertiga. Dillon duduk di bagian depan trolley kopernya. Begitu juga dengan Ada dan Dhynella.
“ Ada, kau lihat senior itu. Dia keren.” ucap Dhyn dengan mata berbinar-binar.
Ada menatap Dillon dan mereka memutar bola mata. “ Uh, oke, lebih keren mana dibanding cowok yang kau temui di bandara di China?” tanya Dillon. Dhyn tak menjawab. Matanya masih berbinar memandangi senior itu.
“ Harga kacang sedang melambung, Dillon.” ucap Ada sambil tertawa. Ha ha!
Dillon merengut. Ia mengambil bola kaki kesayangannya—yang selalu mengkilat sepanjang waktu—dan memainkannya di ujung kaki. “ Belum selesai memandangi senior itu?” Dillon mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Dhyn. “ Sadarlah, dia bahkan sudah tidak ada di tempatnya.” ucapnya lagi. Dhynella tak bergeming.
“ Sudahlah, Dillon. Lagipula, tidak ada urusannya denganmu, kan? Oh, aku tahu. Kau jealous kan?” goda Ada lagi.
“ Dalam mimpimu!” sahut Dillon dan Ia kembali memainkan bola kakinya.
“ Hei, bola yang keren. Itu keluaran terbaik dan termasuk limited edition. Hanya ada beberapa di Inggris. Wow, dimana kau mendapatkannya?” Seorang cowok—yang juga anak baru—menepuk pundak Dillon. Kelihatannya dia juga seorang football freak sama seperti Dillon.
“ Well, pamanku bekerja sebagai manager di pabrik pembuatan bola ini. Dan, Ia mamberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku yang kesepuluh.” jawab Dillon.
“ Cool.” Cowok itu masih memandangi bola di tangan Dillon. “ Oh, aku Stephen Wickliff. Senang bertemu denganmu.” ucapnya sambil menjulurkan tangan. Mereka berdua berjabat tangan.
“ Dillon Humphrey. Jadi menurutmu siapa yang akan menang di Liga Champion musim ini?” Dan pembicaraan pun terus berlanjut.
Dillon sudah mendapat teman baru, Dhynella masih asyik memperhatikan cowok-cowok senior sementara Ada masih duduk diam di trolley kopernya. Bosan, pikirnya. Ia mengeluarkan CD album Crush-nya David Archuleta dan hendak menyetelnya di CD Player.
“ Kau Archangel juga? Senangnya. Akhirnya ada juga yang memiliki pandangan sama denganku.” Seorang cewek anak baru menghampiri Ada dan berjongkok di sampingnya.
“ Oh, hehe, iya. CD ini jimatku.” Ada mengeluarkan CD dari Playernya dan memasukannya kembali ke tempat CD.
“ Jadi, siapa namamu?” tanya cewek itu.
“ Adelaide Holywell, dari Brighton. Kau?”
“ Tiffany Sherrine. London.”
Akhirnya, Ada menemukan teman baru juga.
* * *
Ada, Dhynella dan Dillon bergegas mencari tempat duduk untuk tiga orang—untuk mereka—saat Mrs. Turner kembali dan memberi intruksi untuk segera masuk ke dalam gerbong kereta untuk anak baru. Tak lama kemudian, Dillon berteriak dari ujung gerbong : “ Disini!” sambil melambaikan tangan ke arah kedua temannya. Ada dan Dhyn berusaha menerobos kerumunan orang untuk sampai ke ujung gerbong, tempat Dillon berada.
Tempat duduk di ujung lorong—yang ditemukan Dillon—adalah tempat duduk untuk empat orang. Terdiri dari dua banjar, masing-masing memuat dua orang, saling berhadapan dan sebuah meja di tengah-tengahnya. Dillon duduk di sebelah Dhynella. Sementara Ada duduk sendiri di pinggir, menghadap keluar jendela kaca kereta.
“ Apa tempat ini kosong?” tanya seorang cewek berambut sebahu dengan potongan bob. Dilihat dari baju yang ia kenakan, aku yakin dia juga seorang anak baru.
“ Ehm—yeah. Seperti kelihatannya.” jawab Dillon.
“ Boleh aku duduk di sini? Tempat lain sudah penuh.” ucap cewek itu lagi.
Mereka bertiga—Ada, Dhyn, serta Dillon—mengangkat kepala dan menoleh ke sekitar. Memang sudah penuh, pikir mereka. “ Silahkan. Kami tidak keberatan.” ucap Ada.
“Terima kasih.” ujar cewek itu sambil tersenyum.
Ia mencoba mengengkat travel bag-nya—yang bertuliskan SHERLINE NORTHCOTE—ketempat koper yang berada di atas kepala penumpang. Ia terlihat agak kesulitan—umm, atau benar-benar kesulitan? Travel bag-nya terlihat berat plus tingginya yang kurang memungkinkan untuk menaikan travel bag-nya ke tempat koper yang cukup tinggi. Oke, dia dinyatakan benar-benar kesulitan.
Ada mengisyaratkan Dillon untuk membantunya. “ Kau laki-laki.” desis Ada. Dillon baru saja akan membantu saat seseorang datang. “ Boleh aku bantu?” seorang cowok—juga anak baru—tinggi dan agak kurus, menawarkan diri untuk membantu. Ia tanpa kesulitan, berhasil menaikan travel bag cewek—yang mungkin bernama Sherline Northcote—tadi ke tempatnya secara rapi.
“ Terima kasih banyak. Aku Sherline Northcote.” ucap cewek tadi yang ternyata benar-benar bernama Sherline Northcote.
“ Aku Elsenn Hantway. Senang bertemu denganmu. Umm—dan akan sangat lebih menyenangkan lagi, jika kita bisa bertemu lagi dalam satu kelas.” ujar cowok kurus tadi sambil tersenyum. Mereka pun saling berjabat tangan.
* * *



Tidak ada komentar:
Posting Komentar