Naisha mendelik.
“Yang mana?”
“Daftar nama. Aku tahu dari Alice.”
“Oh,” komentar Naisha pendek sembari membuka lokernya dan mengeluarkan buku berjudul Kamus Internasional Nama dan Artinya. Ia memberikan buku tersebut kepada Tiffany. Untung saja Naisha bukan gadis yang ingin tahu urusan orang, tetapi dengan bodohnya, Tiffany malah menjelaskan maksud dirinya meminjam buku tersebut karena berpikir Naisha akan salah paham.
“I-ini untuk keperluan fiksiku, kok. B-bu-bukan hal-hal aneh seperti...uhm—kau tahulah. A-aku gadis baik-baik, kok. A-aku—”
“Astaga, Tiffany,” Naisha tertawa anggun. “Aku tidak berpikir bahwa kau adalah gadis seperti itu. Lagipula, memangnya dengan memiliki atau membaca kamus nama, otomatis bahwa sang pembaca sedang...—kau bisa lanjutkan sendiri.”
Tiffany menutup mulutnya. Kenapa ia harus begitu sering salah dalam berbicara?
“A-aku ada urusan. Sampai jumpa. Akan kukembalikan nanti—trims,” sebelum wajahnya makin memerah karena malu, Tiffany segera berlari meninggalkan Naisha dan menuju ke taman sekolah. Ia duduk di sebuah gazebo yang tertutup semak-semak dan menghempas semua barang yang didekapnya tadi ke lantai; kamus nama yang dipinjamnya dari Naisha, binder, dan sebuah pulpen. Diambilnya pulpen dan binder dari atas lantai, kemudian dibukanya binder miliknya kepada sebuah halaman kosong. Setelahnya, ia mulai membuka kamus yang masih tergeletak di lantai. Nama demi nama ia telusuri, dan ketika ia menemukan nama yang cocok, dituliskannya di binder miliknya.
“Hei!”
“AH!” Tiffany melonjak kaget begitu merasakan tepukan di bahunya. Refleks dengan itu, ia juga menutup bindernya, kemudian merangkak mundur. Begitu ia menengadah, ia dapat melihat dengan jelas sebuah cengiran terukir di wajah seorang Adelaide Holywell.
“Ada!” jerit Tiffany gusar. “Apa yang kau lakukan di sini?!”
“Harusnya aku yang tanya begitu—tumben sekali kau ada di sini,” Adelaide mengangkat bahu. “Biasanya Stephen yang ada di sini.”
Tiffany tersenyum mengejek. “Kau ke sini mau mencarinya, ya?”
Spontan wajah Adelaide memerah. “D-duh, b-bu-bukan! Serius! Aku hanya kebetulan lewat!”
Tiffany menaikkan alisnya. “Aha. Aku mencium kebohongan di sini.”
Ada merengut.
“Oke, kau setengah benar—aku memang ada niat untuk mencari Stephen ke sini. Hari ini giliran kami yang mengisi Daily Chore dan aku sudah menyelesaikan setengahnya. Tapi aku tidak menemukannya, jadi kupikir ia ke sini, berhubung ini tempat favoritnya—”
“Hebat kau sampai tahu tempat favoritnya.”
Kini Adelaide mencibir, membuat Tiffany tertawa puas.
“Kau sendiri sedang apa di sini?”
Tiffany segera berhenti tertawa dan tahu bahwa harusnya ia tidak boleh mengatakan apa-apa soal apapun yang berhubungan dengan rencana pelarian para pengendali api dari Estinese. Ia segera memalingkan wajah dan berkata, “B-bukan apa-apa.”
“Aha. Aku mencium kebohongan di sini.”
Tiffany menatap Adelaide—yang sedang tersenyum lebar itu—tidak senang. Gadis itu baru saja mencuri ucapannya.
“Ah, ayolah, beritahu aku!” pinta Adelaide. “Aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa-siapa, kok.”
“Tidak boleh.”
“Ayolah.”
“Tidak, tidak, tidak.”
“Aaah!!” Karena kesal, Adelaide pun berusaha merebut binder yang dipegang oleh Tiffany. Tiffany mati-matian menggenggam erat bindernya, namun Adelaide juga tak kalah mati-matiannya merebut benda tersebut. Karena kepayahan, tak sengaja Tiffany melepas bindernya dan kini binder itu sudah ada dalam genggaman tangan Adelaide.
“Kembalikan!!” Tiffany berusaha merebut kembali bindernya yang telah dibuka oleh Adelaide. Namun, Adelaide cukup gesit untuk menjauhkan binder tersebut dari tangan sang pemilik selagi ia membacanya.
“Heeei, nama-nama apa ini?” tanya Adelaide penasaran membaca isi buku tersebut.
Pasrah, Tiffany menghela napas. “Hanya sebagian rencana untuk naskah fiksiku berikutnya.”
“Oh,” komentar Adelaide pendek. “Lalu mengapa ada nama Ann, Celiann, Renee, Ruthven...—oh, bukankah ini nama-nama pengendali api dari kelas kita?”
Tiffany sudah lelah. Gadis di hadapannya ini sulit untuk dibohongi. Karena terpaksa, ia mendesah.
“Dengar, Adelaide,” ucapnya dengan nada serius. “Yang akan kuberitahukan ini adalah rahasia. Kau ingat? R-A-H-A-S-I-A. Jadi jangan berani-berani kau adukan ke siapa-siapa, apalagi kepada Miles, atau Dhynella dan Ansell yang ribut, apalagi para guru.”
Adelaide mengangguk bersemangat. “Tak masalah. Kau bisa percaya padaku.”
Tiffany menggerakkan sudut matanya ke setiap penjuru, memastikan tak ada yang memerhatikan mereka. Setelah dipastikan aman, ia kembali menoleh kepada Adelaide dan menatapnya tajam.
“Kami, para pengendali api, berencana untuk melakukan pelarian esok saat fajar menjelang.”
Adelaide membelalak.
“APA?!”
“Bisakah kau tidak berteriak?!” ujar Tiffany dengan suara tertahan, membuat Adelaide menutup mulutnya dan mempersilahkan Tiffany melanjutkan. “Kami lari sesungguhnya bukan karena kami muak akan permasalahan sekolah. Kau tahu hujan yang sekarang sedang turun? Hujan ini bernama Hujan Kenelzh dan hujan ini mematikan kekuatan kami para pengendali api. Untuk menghentikan hujan ini, kami butuh mencari Pedang Api Abadi—satu-satunya benda yang dapat menghentikan hujan yang sebenarnya buatan Profesor Lansford, kriminal nomor satu di dunia.”
Adelaide terdiam sebentar, mencerna apa yang dikatakan oleh Tiffany.
“Bisa kau jaga rahasia itu?”
Tak lama kemudian, Adelaide mengangguk. “Tenang saja.”
Tiffany menyunggingkan senyum kecil. “Trims.”
“Lalu untuk apa nama-nama ini?” tanya Adelaide sambil kembali menelusur tulisan tangan Tiffany.
“Well, aku berpikir tak mungkin jika kita menggunakan nama asli kita nanti—itu akan membuat pihak sekolah gampang mendeteksi kami. Jadi, umm...aku memutuskan untuk membuat nama samaran untuk kami.”
Wajah Adelaide mencerah.
“Keren! Mau kubantu?”
Tiffany mengangkat bahu sambil melebarkan senyumnya.
***
Acklesenn, Acklesenn... Celiann mengerutkan dahi sambil berjalan menelusuri koridor sehari sebelum keberangkatan. Ia baru ingat rasanya pernah mendengar nama Acklesenn tersebut. Karena penasaran, ia pun berjalan menuju perpustakaan. Ia menempelkan kartunya, kemudian berjalan menuju komputer katalog dan mengetikkan nama Acklesenn.
Kali ini, beberapa nama buku ditampilkan di layar. Namun, ada satu buku yang membuat Celiann mengernyit.
Data Murid Deordical Academy Angkatan 3
Rak A1 baris 1
Rak A1 baris 1
ASTAGA!
Celiann tak kuasa untuk tidak melongo. Namun yang membuatnya malu adalah karena ia baru saja menyuarakan apa yang menggema di pikirannya. Seluruh orang yang ada di perpustakaan menatapnya tidak senang.
“Ups...maaf...” ringis Celiann menutup mulutnya, kemudian berlari keluar dari perpustakaan. Ia melangkah menuju Suisei Dorm yang terletak di Corresta. Saat ia memasuki gedung asrama tersebut, beberapa gadis memandangnya heran; jelaslah Celiann bukan penghuni gedung asrama tersebut.
Ia sampai di depan kamar dengan nomor 431. Secepat mungkin ia mengetuk pintu tersebut dan tak lama kemudian, sosok Ann muncul di balik pintu yang dibukanya.
“Celiann?” tanya Ann heran.
“Tyra anak kelas pertama SMA Deordical berada di Suisei, kan?”
Ann mengernyit. “Ya. Lalu?”
“Temani aku menemuinya.”
“Untuk?”
Celiann memutar bola matanya. “Tyra Acklesenn!!” jeritnya malas.
Ann membelalak mendengar nama marga kakak kelasnya tersebut. “Astaga, astaga! Kenapa kita baru sadar?!”
“Maka itu, ayo temani aku!”
Tanpa basa-basi, Ann mengangguk dan memandu Celiann turun menuju lantai 2. Langkah mereka terhenti begitu mereka sampai di depan kamar dengan nomor 202.
“Ini kamarnya,” ucap Ann, kemudian berkacak pinggang. “Geez, kenapa kita baru sadar sekarang?” Seraya dengan gumamannya itu, Celiann mengetuk pintu kamar tersebut. Pintu itu baru terbuka pada kali kedua Celiann mengetuk, dan orang yang membukakannya adalah seorang gadis dengan rambut yang berhighlight biru. Ia tampak mengernyit memandang Celiann dan Ann.
“Tyra Acklesenn?” tanya Celiann skepstis.
“Ya?” gadis itu masih keheranan.
“Hai, kenalkan, aku Celiann Amherst,” Celiann menjabat tangan Tyra. “Dan dia—”
“Ann, bukan?” Tyra menunjuk Ann sementara satu tangannya masih menjabat tangan Celiann. “Ann yang tinggal di lantai empat? Yang juga pengendali api itu?”
“Yup,” jawab Ann pendek. Ia baru ingat bahwa gadis di hadapannya ini juga merupakan pengendali api.
Tyra menyudahi acara jabat tangan dengannya dan Celiann. “Ada yang salah?”
“Well, sebenarnya kami ingin bertanya sedikit tentang salah satu kerabatmu—aku tidak tahu orang ini kerabat dekatmu atau bukan...” ucap Celiann menggantung. “Kau tahu Siegfried Acklesenn?”
Tyra makin mengernyit. “Aku tidak pernah bertemu dengannya berhubung dia sudah lama sekali meninggal. Namun namanya begitu diagung-agungkan di keluargaku.”
“Kau tahu beberapa hal lagi tentangnya?” Celiann masih berhati-hati dalam bertanya. “Misalnya...dimana ia dimakamkan?”
Alis Tyra kini bertaut.
“Masuklah.”
Tyra membuka pintu lebih lebar sehingga Celiann dan Ann dapat masuk ke dalam kamar Tyra. Kamar itu sepi. Tampaknya penghuni lainnya sedang pergi keluar dan tingggal Tyra yang ada di sana. Tyra menyeret dua kursi untuk dua tamunya duduki sebelum ia menyeret satu kursi lagi untuk didudukinya.
“Oke, mengapa kalian menanyakan makamnya?” tanya Tyra menyelidik. “Kalian mau mengincar Pedang Api Abadi?”
Celiann memandangi Ann sebelum ia memalingkan mukanya kepada Tyra dan berkata, “Begitulah.”
“Well, well,” gumam Tyra. “Banyak sekali orang yang mengincar pedang itu untuk keuntungan mereka sendiri. Yeah, tentu saja; nilai sejarah pedang itu, kan, tinggi sekali. Jadi...?”
“Tidak, tidak, tidak,” Celiann cepat-cepat membantah karena tahu apa yang diperkirakan oleh Tyra. “Sungguh, kami tidak bermaksud untuk mencari keuntungan dengan pedang tersebut. Alasan kami adalah hujan ini.”
Tyra menolehkan kepalanya kepada jendela yang ditunjuk oleh Celiann. Ia dapat melihat butir-butir air yang membasahi kaca yang berembun.
“Ah. Hujan yang membuat para pengendali api menjadi pecundang di mata pengendali lainnya.”
Ann dan Celiann agak mengernyit mendengar pemilihan kata yang digunakan kakak kelas mereka itu.
“Hujan ini dinamakan Hujan Kenelzh dan pernah berlangsung 700 tahun yang lalu. Dan anggota keluargamu, Siegfried, berhasil menghentikan hujan ini dengan Pedang Api Abadinya. Dan...uh, kami berpikir, mungkin dengan pedang tersebut, kami dapat menghentikan hujan ini,” jelas Celiann.
“Jika hujan ini terus dibiarkan, kemungkinan besar banjir akan melanda bumi dan...kau tahu kelanjutannya...” sambung Ann.
Tyra terkesiap. “Wow,” komentarnya. “Aku tak bisa membayangkan jika New York kotaku tercinta itu terhempas banjir.”
“Err, maaf. Bukankah kau berasal dari Irlandia?” tanya Celiann.
“Aku memang orang Irlandia, tapi aku lahir dan besar di NY,” jawab Tyra. “Itulah mengapa aku tidak memiliki aksen Gaelik.”
Celiann dan Ann saling bertatapan, berpikir bahwa mungkin kehidupan kota metropolitan itu yang membuatnya berani untuk memberikan highlight biru kepada rambutnya. Untung tak ada peraturan sekolah tentang cat rambut.
“Well, oke. Jika itu mau kalian, aku akan beritahu dimana makam Siegfried Acklesenn sebenarnya.”
Celiann dan Ann membelalakkan mata.
“Kau tahu makamnya?” tanya Celiann.
“Sebenarnya ini hanya rahasiaku dan kakak sepupuku, berhubung kami tahu betapa agungnya Siegfried dan pedangnya tersebut,” ucap Tyra. “Makamnya ada di belakang mansion keluarga Acklesenn. Aku dan kakak sepupuku sempat menemukannya, namun kami tak berani macam-macam.”
“Maaf, tapi dimanakah mansion Acklesenn berada?” tanya Ann.
Tyra menautkan alis.
“Tentu saja ada di kampung halaman kami.”
***
“IRLANDIA?!” Tiffany melonjak kaget.
“Ya,” jawab Celiann. “Aku dan Ann menemui Tyra, kakak kelas yang juga bermarga Acklesenn, dan rupanya ia tahu keberadaan makam Siegfried. Ia bilang makamnya ada di mansion milik keluarga Acklesenn di daerah Westmeath, dekat Lough Lene.”
Tiffany termengu tak percaya, sementara wajah Renee malah terlihat cerah.
“Keren! Aku jadi tak sabar untuk esok pagi!” soraknya. “Tiff, kau sudah siapkan softwarenya, kan?”
Untuk kesekian kalinya, Tiffany mendesah. “Ya.”
“Bagus,” Renee tersenyum lebar. “Aku juga sudah siapkan makanannya. Steph?”
Stephen yang duduk di tempatnya mengacungkan satu pak kartu poker tinggi-tinggi, membuat senyum Renee makin lebar.
“Oke. Kurasa kita bisa memulai rencananya sekarang,” gumam Renee. “Ayo, Steph, Tiff.”
Maka ketiga orang itu berjalan keluar dari kelas, melangkahkan kaki mereka menuju ruang pengamanan, dimana pusat kendali keamanan Deordical berpusat di sana. Sebelum masuk ke dalam sana, mereka sempat mengendap di balik tembok, memastikan bahwasannya tak ada satu orang pun yang sedang lewat.
“Ayo, Stephen,” ucap Renee yang kemudian disambut dengan anggukan Stephen. Segera mereka mengambil langkah-langkah besar yang cepat, meninggalkan Tiffany sendiri, dan masuk ke dalam ruang pengamanan yang terbuka lebar.
“Hei, Mr. Sheldon, Mr. Nick!” seru Renee kencang kepada dua pria yang sedang menatap layar-layar dari kamera CCTV dengan malas. “Lihat apa yang kami punya—donat dan kartu poker!”
Seketika juga, wajah kedua pria itu menjadi cerah. Segera mereka berempat duduk mengelilingi sebuah meja yang ada di pojok ruangan dan bermain kartu sembari mengemil donat. Namun sesungguhnya, Renee dan Stephen tak pernah menyentuh, apalagi memakan donat-donat tersebut.
Karena sesungguhnya donat itu mengandung obat tidur yang kemudian merobohkan Sheldon Hemingway serta Nick Thomas, dua penjaga sekolah yang kerjanya tak pernah becus itu.
Dengan buru-buru, Renee dan Stephen menyeret kedua pria itu keluar dari ruangannya—bahaya jika mereka dibiarkan di ruangan ini, kemudian memberikan tanda pada Tiffany. Tiffany melangkah masuk ke dalam ruang pengaman, dan memasukkan CD ke dalam sebuah CPU. CD itu merupakan CD untuk menjebol sistem keamanan Deordical agar esok saat pagi menjelang, kamera CCTV mati sejenak sehingga tak ada yang dapat mengetahui kepergian mereka. Selain itu, ada juga program untuk menjebol sistem shield metal agar alat itu tidak dapat mendeteksi keberadaan mereka. Semua program ini dibuatnya sendiri, dengan bantuan Austin dan Elsenn yang cukup pandai dalam elektronika.
Jemarinya yang lentik terus menari-nari di atas keyboard yang ada pada layar touchscreen komputer tersebut. Tangannya juga kadang mengganti dari satu jendela ke jendela lain—
“Tiffany?”
Tiffany melonjak kaget, kemudian berbalik sambil menjentikkan jarinya sehingga keluar api di ujung telunjuknya—jaga-jaga untuk melindungi diri. Ia makin shock begitu melihat ternyata orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu adalah gurunya sendiri.
“Mr. Joash?” tanyanya gugup. “Apa yang anda lakukan di sini?”
“Harusnya aku yang tanya begitu,” ucap Mr. Joash skeptis. “Apa yang sedang kau kerjakan?”
“T-ti-tidak ada.”
“...oh,” gumam Mr. Joash mengerti. “Kalau begitu, boleh permisi sebentar dari komputer itu?”
Dalam hati, Tiffany merutuk sifat Mr. Joash yang begitu teliti dan waspada. Pelan-pelan, ia mencoba mengulurkan jarinya ke layar komputer untuk menutup program yang sedang dipakainya. Namun Mr. Joash dapat mendorongnya minggir dan ia berhasil mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya.
“Aha,” pekiknya. “Salah satu muridku baru saja mencoba meretas jaringan keamanan Deordical Academy.”
“M-ma-maafkan aku, Mr. Joash! Tapi aku berani sumpah aku juga tidak ingin melakukannya!” cepat-cepat Tiffany membela diri. “Renee yang merencanakan semuanya—aku terdesak!!”
Mr. Joash berbalik dengan alis yang bertaut. “Rencana apa?”
Tiffany terdiam. Bibir bawahnya sudah tergigit.
“Tiffany, aku takkan melaporkanmu ke sidang jika kau berkata jujur.”
Tiffany masih terdiam, sampai akhirnya ia menghela napas. “Aku mendengar pembicaraanmu dengan guru-guru tempo hari yang lalu tentang Hujan Kenelzh. Aku memutuskan untuk menelitinya dan akhirnya hal ini bocor ke tangan para pengendali api di kelasku. Dan Renee—kau tahulah—merencanakan untuk kabur bersama besok pagi dengan mengatakan bahwa kami pulang ke rumah dan mencari makan Siegfried Acklesenn...”
Mr. Joash tampak menyerap perkataan Tiffany. “Hmp. Andai aku bisa menarik kata-kataku kembali dan melaporkan rencana ini ke sidang.”
Mata Tiffany membelalak.
“Oh, Mr. Joash! Kumohon—”
“Tapi,” ucap laki-laki itu lagi. “Setiap ada awal, selalu ada akhir. Dan jika sesuatu tak bisa berakhir, maka harus ada sesuatu yang mengakhirinya. Kurasa...kalian bisa menghentikan hujan ini.”
Kini Tiffany menatap Mr. Joash yang tersenyum. Awalnya, ia sempat tak percaya.
“Kau tidak akan mengadukan kami ke sidang?”
“Tentu tidak. Aku memang tidak bisa ikut, tapi aku bisa membantu kalian dari sini.”
“Bagaimana caranya?”
Mr. Joash membisu sejenak. “Akan kupikirkan nanti. Yang pasti, aku akan membantu kalian. Kapan kalian berangkat?”
“Esok subuh.”
“Hm, cepat juga,” gumam Mr. Joash.
“Well, sebenarnya kami sudah merencanakan dari beberapa hari yang lalu. Tapi kau baru menangkapku sekarang.”
Mr. Joash terkekeh geli, kemudian mengacak-acak rambut muridnya tersebut. “Berhati-hatilah. Pulanglah dengan selamat.”
Tiffany tersenyum.
“Sudah selesai dengan programmu?”
Tiffany membalikkan badan. “Sebentar lagi.” Ia mulai duduk dan berkutat dengan layar komputer lagi.
“Program apa yang kau gunakan untuk meretas jaringan sekolah yang super canggih ini?”
“Mmm, aku hanya mengatur agar kamera CCTV mati saat kami pergi esok, dan juga mengatur agar kalung para anjing penjaga menggelitik mereka sehingga mereka pergi kalang kabut dan penjaga pintu harus sibuk mengejar anjing itu dan kami punya peluang untuk keluar. Dan—oh. Aku juga mengatur agar shield metal kami agar pihak sekolah tidak bisa mendeteksi keberadaan kami.”
“
Whoa, keren. Ternyata kau sehebat itu—”
“Elsenn Hantway dan Austin Lincoln membantuku membuat program ini,” sela Tiffany.
“Tetap saja hebat,” lanjut Mr. Joash. “Tapi yang mau kutanyakan; bukankah shield metal selalu diminta jika siswa akan pulang?”
“Kami sudah mengumpulkan shield metal bekas—yang rupanya banyak disimpan di gudang—dan berencana akan memberikannya kepada Miles—ketua kelas kami. Oh, seluruh anak kelas kami memang sudah tahu rencana kami.”
“Oke,” Mr. Joash mengangguk. “Tapi bukankah jika ada siswa yang ingin pulang, orangtua harus menemui pihak sekolah?”
Tiffany membelalak, kemudian menghentakkan kakinya. “Sial! Kami belum memikirkannya.”
“Nah, mungkin bantuanku bisa diharapkan di sini.” Tiffany menoleh kepada Mr. Joash. “Aku bisa mengambil shield metal kalian dan berkata pada peninggi sekolah bahwa aku sudah menemui orangtua murid kalian.”
“Itu ide bagus,” pekik Tiffany. Ia bangkit dan merunduk, mengeluarkan CD dari CPU. “Trims, Mr. Joash.”
Setelah mendapat anggukan dari Mr. Joash, Tiffany melengos pergi. Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat berucap, “Oh, ya. Kurasa Renee dan Stephen menyeret Mr. Sheldon dan Mr. Nick yang sukses tertidur ke gudang.”
Secercah cahaya mentari berusaha menelusup melalui celah-celah awan kelabu. Meski masih kalah dengan awan-awan itu, namun cahayanya masih dapat menyinari lembah hijau, dimana Deordical berdiri dengan megah.
Dan tak jauh dari bangunan itu, tampak delapan orang bertudung, dengan ransel di punggung mereka, berjalan mengarungi lembah tersebut, menjauh dari Deordical dan mencoba mencapai jalan raya yang tak jauh dari sana.
“Tunggu.” Tiffany yang memimpin perjalanan itu berhenti dan berbalik kepada kawan-kawannya yang ikut berhenti. “Sebeluum kita melanjutkan, aku sudah membuatkan nama samaran untuk kita agar tak ada yang mengetahui keberadaan kita yang sebenarnya.”
“Whoa. Kau ini rupanya penuh persiapan juga,” gumam Zach.
“Kupikir kau tidak setuju dengan rencana ini,” Renee tersenyum menyindir, membuat Tiffany memutar bola matanya.
“Celiann Amherst,” Tiffany menunjuk Celiann dengan telunjuknya. “Sekarang kau adalah Carina Walton.”
Celiann tersenyum, tampak suka dengan nama itu.
“Ann,” Tiffany melempar pandangan kepada Ann. “Kau adalah Rachel Charlton.”
“Hampir mirip dengan namamu, Cel—uhm, Carina,” Ann menatap Celiann geli.
“Zach Samlerr,” Tiffany menunjuk Zach. “Riley Lachance.”
Zach menyeringai lebar.
“Ruthven Ecclair—Leith Brodbeck.”
Ruthven tersenyum tipis.
“Renee Hainsworth—Halley Holt.”
“Keren!” decak Renee kagum dengan wajah yang gembira. “Seperti nama komet!”
“Stephen Wickliff—Christopher Clifford.”
Stephen mendengus pelan. Tampaknya, ia kurang senang dengan nama tersebut. Namun Tiffany tak menggubrisnya.
“Dan Vince...” Tiffany menatap Vincent. “Nicholas Anholts. Tapi mungkin kita bisa memanggilmu Nick.”
Vincent mengangguk. “Oke.”
“Gunakan nama-nama itu saat perjalan kita—aku tak terima protes soal nama itu. Aku sudah membuatnya susah payah, jadi lebih baik kalian hargai,” ucap Tiffany arogan. “Ayo jalan. Kita tidak punya waktu yang cukup lama.”
“Hei, tunggu! Bagaimana denganmu?” seruan Vincent membuat Tiffany menghentikan langkahnya. “Siapa nammu?”
Tiffany terdiam sebentar, sampai akirnya ia berbalik kepada teman-temannya dan tersenyum.
“Caitlyn. Caitlyn Stenberg.”
“IRLANDIA?!” Tiffany melonjak kaget.
“Ya,” jawab Celiann. “Aku dan Ann menemui Tyra, kakak kelas yang juga bermarga Acklesenn, dan rupanya ia tahu keberadaan makam Siegfried. Ia bilang makamnya ada di mansion milik keluarga Acklesenn di daerah Westmeath, dekat Lough Lene.”
Tiffany termengu tak percaya, sementara wajah Renee malah terlihat cerah.
“Keren! Aku jadi tak sabar untuk esok pagi!” soraknya. “Tiff, kau sudah siapkan softwarenya, kan?”
Untuk kesekian kalinya, Tiffany mendesah. “Ya.”
“Bagus,” Renee tersenyum lebar. “Aku juga sudah siapkan makanannya. Steph?”
Stephen yang duduk di tempatnya mengacungkan satu pak kartu poker tinggi-tinggi, membuat senyum Renee makin lebar.
“Oke. Kurasa kita bisa memulai rencananya sekarang,” gumam Renee. “Ayo, Steph, Tiff.”
Maka ketiga orang itu berjalan keluar dari kelas, melangkahkan kaki mereka menuju ruang pengamanan, dimana pusat kendali keamanan Deordical berpusat di sana. Sebelum masuk ke dalam sana, mereka sempat mengendap di balik tembok, memastikan bahwasannya tak ada satu orang pun yang sedang lewat.
“Ayo, Stephen,” ucap Renee yang kemudian disambut dengan anggukan Stephen. Segera mereka mengambil langkah-langkah besar yang cepat, meninggalkan Tiffany sendiri, dan masuk ke dalam ruang pengamanan yang terbuka lebar.
“Hei, Mr. Sheldon, Mr. Nick!” seru Renee kencang kepada dua pria yang sedang menatap layar-layar dari kamera CCTV dengan malas. “Lihat apa yang kami punya—donat dan kartu poker!”
Seketika juga, wajah kedua pria itu menjadi cerah. Segera mereka berempat duduk mengelilingi sebuah meja yang ada di pojok ruangan dan bermain kartu sembari mengemil donat. Namun sesungguhnya, Renee dan Stephen tak pernah menyentuh, apalagi memakan donat-donat tersebut.
Karena sesungguhnya donat itu mengandung obat tidur yang kemudian merobohkan Sheldon Hemingway serta Nick Thomas, dua penjaga sekolah yang kerjanya tak pernah becus itu.
Dengan buru-buru, Renee dan Stephen menyeret kedua pria itu keluar dari ruangannya—bahaya jika mereka dibiarkan di ruangan ini, kemudian memberikan tanda pada Tiffany. Tiffany melangkah masuk ke dalam ruang pengaman, dan memasukkan CD ke dalam sebuah CPU. CD itu merupakan CD untuk menjebol sistem keamanan Deordical agar esok saat pagi menjelang, kamera CCTV mati sejenak sehingga tak ada yang dapat mengetahui kepergian mereka. Selain itu, ada juga program untuk menjebol sistem shield metal agar alat itu tidak dapat mendeteksi keberadaan mereka. Semua program ini dibuatnya sendiri, dengan bantuan Austin dan Elsenn yang cukup pandai dalam elektronika.
Jemarinya yang lentik terus menari-nari di atas keyboard yang ada pada layar touchscreen komputer tersebut. Tangannya juga kadang mengganti dari satu jendela ke jendela lain—
“Tiffany?”
Tiffany melonjak kaget, kemudian berbalik sambil menjentikkan jarinya sehingga keluar api di ujung telunjuknya—jaga-jaga untuk melindungi diri. Ia makin shock begitu melihat ternyata orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu adalah gurunya sendiri.
“Mr. Joash?” tanyanya gugup. “Apa yang anda lakukan di sini?”
“Harusnya aku yang tanya begitu,” ucap Mr. Joash skeptis. “Apa yang sedang kau kerjakan?”
“T-ti-tidak ada.”
“...oh,” gumam Mr. Joash mengerti. “Kalau begitu, boleh permisi sebentar dari komputer itu?”
Dalam hati, Tiffany merutuk sifat Mr. Joash yang begitu teliti dan waspada. Pelan-pelan, ia mencoba mengulurkan jarinya ke layar komputer untuk menutup program yang sedang dipakainya. Namun Mr. Joash dapat mendorongnya minggir dan ia berhasil mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya.
“Aha,” pekiknya. “Salah satu muridku baru saja mencoba meretas jaringan keamanan Deordical Academy.”
“M-ma-maafkan aku, Mr. Joash! Tapi aku berani sumpah aku juga tidak ingin melakukannya!” cepat-cepat Tiffany membela diri. “Renee yang merencanakan semuanya—aku terdesak!!”
Mr. Joash berbalik dengan alis yang bertaut. “Rencana apa?”
Tiffany terdiam. Bibir bawahnya sudah tergigit.
“Tiffany, aku takkan melaporkanmu ke sidang jika kau berkata jujur.”
Tiffany masih terdiam, sampai akhirnya ia menghela napas. “Aku mendengar pembicaraanmu dengan guru-guru tempo hari yang lalu tentang Hujan Kenelzh. Aku memutuskan untuk menelitinya dan akhirnya hal ini bocor ke tangan para pengendali api di kelasku. Dan Renee—kau tahulah—merencanakan untuk kabur bersama besok pagi dengan mengatakan bahwa kami pulang ke rumah dan mencari makan Siegfried Acklesenn...”
Mr. Joash tampak menyerap perkataan Tiffany. “Hmp. Andai aku bisa menarik kata-kataku kembali dan melaporkan rencana ini ke sidang.”
Mata Tiffany membelalak.
“Oh, Mr. Joash! Kumohon—”
“Tapi,” ucap laki-laki itu lagi. “Setiap ada awal, selalu ada akhir. Dan jika sesuatu tak bisa berakhir, maka harus ada sesuatu yang mengakhirinya. Kurasa...kalian bisa menghentikan hujan ini.”
Kini Tiffany menatap Mr. Joash yang tersenyum. Awalnya, ia sempat tak percaya.
“Kau tidak akan mengadukan kami ke sidang?”
“Tentu tidak. Aku memang tidak bisa ikut, tapi aku bisa membantu kalian dari sini.”
“Bagaimana caranya?”
Mr. Joash membisu sejenak. “Akan kupikirkan nanti. Yang pasti, aku akan membantu kalian. Kapan kalian berangkat?”
“Esok subuh.”
“Hm, cepat juga,” gumam Mr. Joash.
“Well, sebenarnya kami sudah merencanakan dari beberapa hari yang lalu. Tapi kau baru menangkapku sekarang.”
Mr. Joash terkekeh geli, kemudian mengacak-acak rambut muridnya tersebut. “Berhati-hatilah. Pulanglah dengan selamat.”
Tiffany tersenyum.
“Sudah selesai dengan programmu?”
Tiffany membalikkan badan. “Sebentar lagi.” Ia mulai duduk dan berkutat dengan layar komputer lagi.
“Program apa yang kau gunakan untuk meretas jaringan sekolah yang super canggih ini?”
“Mmm, aku hanya mengatur agar kamera CCTV mati saat kami pergi esok, dan juga mengatur agar kalung para anjing penjaga menggelitik mereka sehingga mereka pergi kalang kabut dan penjaga pintu harus sibuk mengejar anjing itu dan kami punya peluang untuk keluar. Dan—oh. Aku juga mengatur agar shield metal kami agar pihak sekolah tidak bisa mendeteksi keberadaan kami.”
“
Whoa, keren. Ternyata kau sehebat itu—”
“Elsenn Hantway dan Austin Lincoln membantuku membuat program ini,” sela Tiffany.
“Tetap saja hebat,” lanjut Mr. Joash. “Tapi yang mau kutanyakan; bukankah shield metal selalu diminta jika siswa akan pulang?”
“Kami sudah mengumpulkan shield metal bekas—yang rupanya banyak disimpan di gudang—dan berencana akan memberikannya kepada Miles—ketua kelas kami. Oh, seluruh anak kelas kami memang sudah tahu rencana kami.”
“Oke,” Mr. Joash mengangguk. “Tapi bukankah jika ada siswa yang ingin pulang, orangtua harus menemui pihak sekolah?”
Tiffany membelalak, kemudian menghentakkan kakinya. “Sial! Kami belum memikirkannya.”
“Nah, mungkin bantuanku bisa diharapkan di sini.” Tiffany menoleh kepada Mr. Joash. “Aku bisa mengambil shield metal kalian dan berkata pada peninggi sekolah bahwa aku sudah menemui orangtua murid kalian.”
“Itu ide bagus,” pekik Tiffany. Ia bangkit dan merunduk, mengeluarkan CD dari CPU. “Trims, Mr. Joash.”
Setelah mendapat anggukan dari Mr. Joash, Tiffany melengos pergi. Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat berucap, “Oh, ya. Kurasa Renee dan Stephen menyeret Mr. Sheldon dan Mr. Nick yang sukses tertidur ke gudang.”
***
Secercah cahaya mentari berusaha menelusup melalui celah-celah awan kelabu. Meski masih kalah dengan awan-awan itu, namun cahayanya masih dapat menyinari lembah hijau, dimana Deordical berdiri dengan megah.
Dan tak jauh dari bangunan itu, tampak delapan orang bertudung, dengan ransel di punggung mereka, berjalan mengarungi lembah tersebut, menjauh dari Deordical dan mencoba mencapai jalan raya yang tak jauh dari sana.
“Tunggu.” Tiffany yang memimpin perjalanan itu berhenti dan berbalik kepada kawan-kawannya yang ikut berhenti. “Sebeluum kita melanjutkan, aku sudah membuatkan nama samaran untuk kita agar tak ada yang mengetahui keberadaan kita yang sebenarnya.”
“Whoa. Kau ini rupanya penuh persiapan juga,” gumam Zach.
“Kupikir kau tidak setuju dengan rencana ini,” Renee tersenyum menyindir, membuat Tiffany memutar bola matanya.
“Celiann Amherst,” Tiffany menunjuk Celiann dengan telunjuknya. “Sekarang kau adalah Carina Walton.”
Celiann tersenyum, tampak suka dengan nama itu.
“Ann,” Tiffany melempar pandangan kepada Ann. “Kau adalah Rachel Charlton.”
“Hampir mirip dengan namamu, Cel—uhm, Carina,” Ann menatap Celiann geli.
“Zach Samlerr,” Tiffany menunjuk Zach. “Riley Lachance.”
Zach menyeringai lebar.
“Ruthven Ecclair—Leith Brodbeck.”
Ruthven tersenyum tipis.
“Renee Hainsworth—Halley Holt.”
“Keren!” decak Renee kagum dengan wajah yang gembira. “Seperti nama komet!”
“Stephen Wickliff—Christopher Clifford.”
Stephen mendengus pelan. Tampaknya, ia kurang senang dengan nama tersebut. Namun Tiffany tak menggubrisnya.
“Dan Vince...” Tiffany menatap Vincent. “Nicholas Anholts. Tapi mungkin kita bisa memanggilmu Nick.”
Vincent mengangguk. “Oke.”
“Gunakan nama-nama itu saat perjalan kita—aku tak terima protes soal nama itu. Aku sudah membuatnya susah payah, jadi lebih baik kalian hargai,” ucap Tiffany arogan. “Ayo jalan. Kita tidak punya waktu yang cukup lama.”
“Hei, tunggu! Bagaimana denganmu?” seruan Vincent membuat Tiffany menghentikan langkahnya. “Siapa nammu?”
Tiffany terdiam sebentar, sampai akirnya ia berbalik kepada teman-temannya dan tersenyum.
“Caitlyn. Caitlyn Stenberg.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar