Para anak baru dibariskan di depan gerbang utama Deodical Academy. Dari situ, anak-anak baru bisa melihat gedung utama Deordical Academy. Gedung utama itu dikelilingi oleh sebelas buah gedung asrama dan tiga buah gedung sekolah—jurusan defense, jurusan ordinary dan jurusan mystical. Tidak ada yang membedakan ketiga gedung itu. Hanya lambang besar yang berbeda di masing-masing gedung.
“ Wow, ini keren. Dimana gedung sekolah Mysticalist? Asramanya kok terlihat biasa saja sih? Tidak ada yang spesial. Luas sekali. Apa ada angkutan sekolah sebagai transportasi antar gedung? Apa aku akan betah di sini? Waah, pepohonannya besar dan rindang, aku akan membuat rumah-rumahan pohon di sini.” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut para anak-anak baru. Sabar saja, akan terjawab sebentar lagi.
Mrs. Turner berdiri di depan. Disampingnya berjejer para kepala asrama, semuanya wanita. Mereka membawa sebuah clipboard yang berisi daftar anak baru yang masuk ke asrama mereka. “ Kalian cari nama kalian di clipboard-clipboard itu. Segera masuk ke kamar kalian, membereskan diri, merapikan barang-barang. Pukul empat sore, kalian berkumpul lagi di halaman gedung utama. Tur singkat dan perkenalan.” jelas Mrs. Turner.
“ Aku di Fauncer Dormitory. Kalian dimana?” ucap Dhynela.
“ Yaaah, kita tidak bersama. Aku di Meire Dormitory. Kau dimana Dillon?” ujar Ada sedih.
“ Yang jelas aku sudah pasti tidak bersama kalian berdua—aku cowok. Cheire Dormitory.”ucap Dillon.
“ Hmm, kita masih bisa bertemu saat makan, jam bebas, jam istirahat dan mudah-mudahan kita sekelas.” ucap Ada lagi.
“ Yeah. Kurasa kita harus segera ke asrama masing-masing. Jangan sampai terlembat di tur nanti.” sergah Dillon kemudian berbalik sambil melambai, berlalu. Ada dan Dhynella pun berpisah.
* * *
Ada dan tiga orang anak baru lainnya berjalan berdampingan dengan Ms. Rivera, kepala asrama Meire Dorm. Sekilas tentang Ms. Rivera—menurut pandangan Ada—muda, berkulit putih, anggun, baik dan keibuan. Ya, alangkah senangnya memiliki ibu asrama seperti dia, pikir Ada.
Mereka berlima berhenti di depan sebuah kamar bertuliskan angka: 81. “ Ini kamar kalian. Silahkan masuk.” ucapnya sambil membukakan pintu kamar tadi.
Anak-anak baru itu masuk dengan ragu-ragu. Tapi, akhirnya mereka masuk juga. “ Kau, Naisha Kinsley. Kau kupilih menjadi ketua kamar. Mereka bertiga tanggung jawabmu.” ujar Ms. Rivera kepada salah satu anak baru tadi, yang berkaca mata dan berambut marun panjang dikepang.
Naisha membuka mulutnya untuk mengajukan keberatan, tapi segera Ia tutup kembali cepat-cepat. “ Kau tidak keberatan kan, Ms. Kinsley?”
Naisha mengangguk tegas dan tersenyum.
“ Oke, baiklah. Kalian bisa mulai merapikan barang-barang kalian. Aku permisi dulu.” Ms. Rivera berbalik menuju pintu, keluar dan berlalu.
“ Hmm, maaf sebelumnya kalau ada yang keberatan dengan depilihnya aku menjadi ketua kamar. Ini sama sekali bukan keinginanku.” ujar Naisha pelan.
“ Tak apa. Aku melihat kau orang yang bertanggung jawab.” ucap salah satu dari mereka. Yang lain mengiyakan. “ Aku Alice Whitney.”
“ Aku Ansell McFadden. Senang bertemu kalian semua.”
“ Aku Adelaide Holywell. Ya, semoga kita bisa menjadi tim yang baik.”
Dan mereka pun saling berkenalan. Deordical Academy sangat menyenangkan sejauh ini, setidaknya begitulah menurut pandanganku.
* * *
Bagimana dengan asrama-asrama lain?
Di Enless Dorm: Austin Lincoln mendapatkan partner yang tepat. Ia bertemu dengan Fey Hantway dan Ruthven Ecclair, mereka bertiga sama-sama suka game online.
Di Leyte Dorm: Karrel Eastcote yang bersifat humoris plus hiperbolis harus menyesuaikan diri di lingkungan anak-anak pendiam yang serius—Annalise Fletcher, Hanna Kithley dan Allena Harcourt.
Di Cheire Dorm: Dillon Humphrey bertemu dengan si ‘cowok penolong’ di kereta—Elsenn Hantway.
Di Sousei Dorm: Ruinne Ashhford berada satu kamar dengan teman sekampunghalamannya—Arriley Spencer dan Shann Campney. Mereka bertiga juga sekamar dengan Cellian Amherts, cewek boyish yang menyukai olahraga lari.
Di Quine Dorm: Sherline Northcote mendapat teman ‘adu mulut’ yang pas, Scarell Houston. Sementara Lydia Shrewsbury dan Vineesha Connelly memutuskan untuk diam.
Di Holynn Dorm: Neff Ethelbert berencana akan membuat band bersama Felix Craiss, Zach Samlerr dan Jasper Sullivan, yang diberi nama 101 band—karena mereka mendapat kamar nomor 101.
Di Suisei Dorm: Chloe Sullivan dan Anne Mightray mencoba membujuk Irish Aldaine dan Avaline Macauley untuk bergabung di ekstrakurikuler baris berbaris bersama murid-murid Ordinary.
Di Aushley Dorm : Aylie Carnbell dan Tiffany Sherrine mencoba kamera SLR terbaru mereka dan menjadikan Leslie Chicester dan Kellisha Whittaker sebagai ‘model gratisan’ mereka.
Di Audley Dorm: Miles Thornton mencoba merakit sebuah Aerogenerator bersama Stephen Wickliff dan Vincent Nightray. Dan sepertinya berhasil.
Terakhir, Di Fauncer Dorm: Schallon Audrey dan Helen Flaherty mencoba bersabar dan mulai membiasakan diri dengan kekacauan dan kebisingan yang dibuat oleh Dhynella Neilenn dan Renee Hainsworth.
* * *
Ada, Dhynella dan Dillon bertemu lagi di halaman gedung utama saat acara tur dan perkenalan. Mereka berkumpul bersama anak-anak baru lainnya, membicarakan berbagai hal. Termasuk tentang pembagian kelas.
“ Jadi besok akan ada pengumuman tentang pembagian kelas. Ya, kita akan mendapatkan surat beramplop tertutup di ruang pribadi—ruang kamar—kalian. Itu sudah jadi tradisi sejak dulu. Sejak angkatan ibunya ibuku—umm, atau sebelumnya lagi. Uuh, entahlah yang jelas sudah sejak lama.” cerita salah seorang dari mereka.
Dillon secara blak-blakan dan tanpa permisi—seperti bisasanya—langsung bertanya: “ Apa yang ditulis di surat itu?”
“ Hanya pernyataan ke kelas mana kita masuk. Misalnya : Patricia Walker masuk di kelas Satu-Delapan. Yah, kurang lebih seperti itu.” tukas anak itu.
“ Selamat sore, anak-anak.” Mr. Holygate, kepala Deordical Academy, berdiri di podium halaman utama. Jika kau tidak tahu siapa dia, akan kujelaskan secara garis besar: dia adalah seorang penghipnotis terhebat abad ini, plus, seorang ahli defense. Jadi kau jangan berani-berani dengannya.
Disamping kanannya, berdiri para staff-staff penting, Mrs. Turner terlihat di sana—ternyata dia bukan hanya menjabat sebagai staff kesiswaan, tapi juga sebagai kepala asrama. Sedangkan di sebelah kirinya, berjejer para senior dengan jubah hitam panjang berlencana. Yep, merekalah Dewan Senior—seperti yang Dhyn lihat di stasiun.
“ Lihat, dia ada di sana.” Dhyn berseru girang sambil mengguncang-guncang bahu Ada dan Dillon.
Mr. Holygate memperkenalkan diri, memberikan sedikit tips untuk menyesuaikan diri di sekolah ini, menjelaskan tentang misi dan visi sekolah ini dan sebagainya. Dan, ini membuat sebagian dari anak-anak baru sedikit bosan. Setidaknya, ini tidak berlaku bagi para pemuja Dewan Senior—seperti Dhyn.
Dilanjutkan dengan perkenalan para staff. Kau tahu, ini malah semakin membuat anak-anak baru bertambah bosan. Sebagian besar dari para staff adalah seorang tua yang gemuk, berambut putih, berkacamata tebal dan dengan muka yang terlipat-lipat.
Well done, sekarang saatnya perkenalan para Dewan Senior. Tepat di sebelah kiri Mr. Holygate, berdiri sang ketua Dewan Senior, yang tak lain dan tak bukan adalah putra dari Mr. Holygate sendiri, William Holygate. Bentuk wajah dan postur tubuh William memang merupakan hasil jiplakan Mr. Holygate kala muda. William menjelaskan sedikit tentang dirinya—membuat Dhyn dan para pemuja Dewan Senior lainnya hampir terkena serangan jantuk dadakan—serta tujuan dari Dewan Senior sendiri.
Di sebelah William, berdiri Alan Russels, wakil ketua Dewan Senior. Dari penampilan luarnya, terlihat bahwa Alan adalah seorang yang pendiam, agak kutu buku dan, dari penampilannya yang maskulin itu, dia juga seorang yang cowok banget—menurut pendapat Dhyn.
“ Dia juga keren. Uuh, mengapa para Dewan Senior diciptakan sesempurna ini—layaknya dewa-dewa di Olympus? Aku jadi sulit menentukan pilihan nih. Pilihannya terlalu sulit.” seru Dhynella, entah pada siapa.
Dillon mendengus. “ Dasar perempuan.”
“ Hei, aku juga perempuan. Dan, aku tidak seperti perempuan yang kau maksud tadi.” protes Ada.
Dan perkenalan pun selesai. Dilanjutkan dengan tur singkat mengelilingi area sekolah. Dimulai dari gedung utama. Sesuai namanya, gedung ini adalah gedung pokok dan terbesar dibanding gedung-gedung lainnya. Gedung ini berisi fasilitas-fasilitas sekolah yang bisa dipergunakan bagi ketiga jurusan, seperti ruang makan bersama, ruang belajar, ruang rekreasi, ruang pertemuan, perpustakaan umum—di setiap gedung sekolah juga ada perpustakaan yang lebih kecil, sanatorium dan ruang olahraga.
Dilanjutkan dengan berkeliling gedung sekolah Mystical Direction—Jurusan Mistikal. Di gedung inilah, para calon mysticalist—sebutan bagi murid Mystical Direction—akan belajar tentang banyak hal yang berbau mistik. Yah, kau perlu bersabar. Aku akan menjelaskannya pada chapter berikutnya.
* * *
Seperti yang dikatakan oleh anak baru yang kemarin, pagi ini, para anak baru mendapati sebuah amplop di ruang kamar mereka. Dhynella Neilenn beranjak gesit dari tempat tidurnya dan segera mengambil amplop itu.
Setengah jam kemudian, Ia telah selesai membereskan tempat tidur, mandi dan berpakaian. Ia berlari keluar dari gedung asrama dengan tergesa-gesa, menuju gedung utama. Hari pertama sekolah, tentunya dengan kelas dan teman baru.
Dhyn mendorong pintu kaca gedung utama, berlari menaiki tangga—tiga anak tangga sekaligus. Hingga Ia sampai di lantai tiga. Pintu ruang pertemuan terpampang jelas di depan matanya. Ia menghela nafas panjang dan segera masuk melewati pintu kayu tinggi itu.
Ruang pertemuan sangat ramai. Pagi itu memang akan dilaksanakan upacara pembukaan semester baru, sekaligus makan pagi bersama. Para anak baru berkumpul di barisan-barisan sesuai dengan kelas barunya—yang tertulis di surat penempatan kelas.
Dhyn berusaha mencari barisan kelas barunya. Sekali lagi Ia melihat kertas surat yang ada di genggaman tangannya untuk memastikan. Tertulis: Kelas Satu-Enam. Sesekali Ia bertanya kepada anak baru yang melewatinya: “ kau tahu dimana barisan kelas Satu-Enam?”
Dan akhirnya, Ia sampai di sebuah barisan. Barisan kelas Satu-Enam. Ia berjinjit untuk melihat siapa saja yang ada di barisan itu. Tapi, sayangnya, Adelaide dan Dillon tidak ada di situ. Ya ampun, hari-hari sekolahku akan kelam tanpa mereka berdua, isaknya dalam hati. Berlebihan? Memang begitulah seorang Dhynella Neilenn yang sesungguhnya.
“ Dhynellaaa. Kau masuk Satu-Enam?” Seseorang bersorak dari belakangnya.
“ Ada. Ya ampuun, aku mencarimu. Ya, aku masuk Satu-Enam. Kau? Disini?” balas Dhyn.
“ Wah, aku senang sekali bisa sekelas denganmu, Dhyn. Semalam aku tidak bisa tidur, memikirkan ini. Huuh, leganya.” jawab Ada.
Dhynella menoleh ke arah pintu masuk ruang pertemuan, mencari seseorang. “ Bagaimana dengan Dillon?” tanya-nya.
“ Entahlah, aku belum melihatnya sejak tadi pagi. Mungkin dia sedang bersama teman sekamarnya.”
“ Ngg, apa dia tidak mau lagi berteman dengan kita?” tanya Dhyn. Tersirat rasa khawatir di suaranya.
“ Heh? Kau ini memikirkan apa sih? Tidak mungkinlah. Kita ini saudara—maksudku sudah seperti saudara. Lagipula, dia sudah mulai dewasa, dia juga harus berinteraksi dengan sesama laki-laki—tidak hanya dengan kita.” jelas Ada. Dia juga sebenarnya merasakan sama seperti Dhyn. Sepuluh tahun selalu bertiga, dan sekarang dipisahkan.
“ Oh.”
“ Oh? Aku tahu, jangan-jangan kau memang benar-benar ada perasaan dengannya?”
“ Eh, bukan begitu—maksudku, bukan sepenuhnya begitu. Tapi—seperti yang kau bilang—kita ini kan sudah seperti saudara.”
“ Hai, gals. Lihat aku masuk di kelas mana!” Dillon tiba-tiba datang di antara mereka dengan surat penempatan kelas di depan dada. “ Satu-Enam. Kita sekelas, dude.” Dillon bersorak gembira. Disusul sorakan—gembira juga—dari Dhyn dan Ada.
Entah karena terlalu senang atau apa, secara refleks Dhyn maju dan memeluk Dillon.
“ Hmm.” Ada berdeham, sengaja dibuat keras. “ Aku merasa dijadikan tembok di sini.”
Mereka berdua langsung tersadar dan saling menjauhkan diri.
“ Refleks.” ucap Dhyn tertunduk. Aku yakin wajahnya pasti memerah sekarang, tebak Ada. Yap, begitu juga dengan Dillon.
“ Oh, iya-iya. Aku juga minta maaf.”
Wah, wah, sepertinya memang ada apa-apa di sini.
* * *



Tidak ada komentar:
Posting Komentar