Kamis, 29 April 2010

Chapter 3: Sea

“Dua minggu?”

Mr. Joash mengangguk kepada Kepala Sekolah Evans Holygates yang ada di hadapannya. Kepala Sekolah—yang tampak agak kaget—menatap delapan shield metal yang ada di atas mejanya.

“Ya. Orang tua mereka tadi menemuiku dan berkata seperti itu.”

“Ann Mightray, Celiann Amherst, Renee Hainsworth, Ruthven Ecclair, Stephen Wickliff, Tiffany Sherrine, Vincent Nightray, dan Zach Samlerr,” gumam Kepala Sekolah Holygates sambil menatap daftar yang diserahkan Mr. Joash. “Hmm. Suatu kebetulan bahwa mereka semua adalah pengendali api dari kelasmu—dan mereka memang berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas IX-6, bukan begitu?”

Mr. Joash tersenyum.

Well, meski begitu...” ucap Kepala Sekolah. “Bukan berarti tugasmu berkurang, Joash.”

Senyum di Mr. Joash menipis.

“Jaga kelas hukuman selama dua jam pelajaran.”

Dan senyum itu telah berubah menjadi sebuah senyum keki.

***

“HOEEEEKKKH!”

“Aku tak menyangka kau yang bengal itu—” Celiann menggelengkan kepala. “—ternyata lemah dengan laut.”

Renee menarik kepalanya dan menatap Celiann, berusaha memberikan tatapan mengerikan di sela-sela wajahnya yang memelas karena mual.

“Aku tidak suka naik kapal, dasar berisik!” gusarnya. “Pasti aku akan selalu mabuk jika—HOEEEKKH!”

Tiffany meringis melihat pemandangan melalui pintu toilet yang setengah terbuka itu. Celiann tampak memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat apa yang dikeluarkan Renee dari mulutnya. Tiffany mendesah. Sudah sejak berangkat dari Pelabuhan Liverpool tadi, Renee terus begini. Sama seperti Celiann; tak ia sangka Renee punya kelemahan dengan laut.

Ia berbalik dan dapat melihat Stephen, Zach, dan Vincent yang sedang duduk di sofa yang mengitari sebuah meja persegi. Mereka sedang menikmati punch gratis yang disediakan pihak kapal.

“Hei!” sapa Tiffany sembari duduk di sebelah Vincent. “Mana Ruthven dan Ann?”

“Mungkin sedang berduaan,” kikik Zach.

“Oh—sebentar. Kukira seharusnya kita menggunakan nama samaran,” dalih Vincent bingung.

Well, nama itu hanya digunakan untuk mengenalkan diri ke orang-orang. Canggung juga jika kita saling memanggil memakai nama samaran,” Tiffany mengangkat bahu. Kemudian, ia melirik Stephen yang sedang terdiam—gelas di genggamannya masih penuh akan punch. Tiffany tersenyum geli.

“Ada apa, Tuan Clifford?” sindirnya. “Tidak suka dengan namamu? Aku tidak terima protes, lho.”

Stephen mendengus. “Nama itu aneh.”

“Benarkah?” tanya Tiffany, masih dengan nada menyindir. “Padahal arti nama itu tak jauh beda dengan namamu, kau tahu? Dan—oh, pasti kau akan menyukai nama itu jika kuberitahu bahwa nama itu dibuatkan oleh Adelaide.”

Mata Stephen membelalak, sementara Tiffany tergelak bersama Zach dan Vincent.

“Sialan kau,” umpat Stephen saat Tiffany dan Vincent ber-high five.

“Aku mau istirahat dulu. Kabari aku jika ada apa-apa,” Tiffany berdiri, kemudian melangkah naik ke lantai dua kapal tersebut. Di tangga, ia berpapasan dengan Ruthven. Tiffany sempat menanyakan dimana Ann kepada Ruthven, dan pemuda itu bilang, gadis itu sedang sibuk bergosip dengan kawan-kawannya di Deordical melalui video phone.

Dan benar saja; begitu sampai di lantai dua, ia dapat melihat Ann sedang menatap layar telepon genggamnya. Tiffany berhasil mengintip dan ia tahu bahwasannya Chloe dan Shann lah yang sedang bercakap-cakap dengannya. Tiffany tampak tak terlalu peduli dan berjalan terus menuju hotel mini di kapal itu. Sebenarnya itu hanyalah ruangan dimana terdapat dua puluh tempat tidur dalam kapsul—mengikuti model sebuah hotel di Jepang. Ia melirik kapsul mana yang kosong, kemudian memasukinya dan mencoba untuk tidur di tengah ombang-ambing riak laut.

***

BRAAK!

Piip piip piip!

Suara alarm itu membangunkan Tiffany yang sedang menikmati tidurnya. Segera ia keluar dari kapsulnya, dan menemukan berbagai orang kalang kabut, berlari panik tak karuan.

Darurat, darurat! Kebocoran pada kabin depan! Darurat, darurat! Ini bukan latihan! Sekali lagi, kebocoran pada kabin bawah! Segera berkumpul di tempat sekoci!

Apa?! batin Tiffany. Ia pun berlari, mencari kawan-kawannya yang lain ke tempat sekoci. Di sana sudah banyak penumpang yang berkumpul, dan mereka tampak kebingungan. Tiffany menerobos kerumunan itu, sampai akhirnya ia mendengar namanya dipanggil. Begitu ia menoleh, Renee bersama kawan-kawannya yang lain sudah berkumpul di satu titik.

“Ada apa ini?!” tanya Tiffany berteriak, berharap suaranya terdengar di tengah kebisingan itu.

“Mereka bilang kabin depan bocor dan kapal ini akan tenggelam—kau tidak dengar pengumumannya, hah?!” Renee balas berteriak.

“Tapi kami merasa tidak ada benturan dengan karang sama sekali!” kini giliran Ruthven yang berteriak.

Bugh!

Para penumpang menjerit. Kemiringan kapal baru saja bertambah, sementara sekoci baru saja berhasil diturunkan. Berbondong-bondong orang berusaha mendapatkan tempat di sekoci tersebut.

“Oh, tidak! Hidup kita akan berakhir tragis seperti di Titanic!” jerit Ann.

“Kau terlalu banyak nonton film!!” sengit Celiann.

“Oke, mari kita tenang dahulu!” ucap Tiffany. “Ruthven. Kau bilang tak ada benturan dengan karang sama sekali, kan?”

“Ya!” kembali Ruthven berteriak.

“Kalau begitu, ada kemungkinan sabotase!” seru Tiffany. “Mungkin saja ada orang lain yang berusaha menenggelamkan kapal ini! Kita harus mengeceknya!”

“Apa?! Dengan keadaan seperti ini?! Kau gila?!” Ann berusaha mencegah.

“Tidak, jangan semua!” ucap Tiffany. “Zach! Steph!” Tiffany menoleh kepada kedua pemuda itu. “Kalian rasa kalian bisa menangani urusan ini?”

Stephen menatap Zach. Zach mengangguk.

“Oke! Selamatkan diri kalian ke sekoci! Bawa ransel kami!” Stephen melempar tasnya kepada Renee, disusul Zach yang melempar tasnya ke Ruthven. Kemudian, Celiann, Ann, Vincent, Ruthven, Tiffany, serta Renee berusaha menaiki sekoci, sementara Stephen dan Zach mencoba memeriksa apa yang terjadi.

***

Air yang menggenang di kabin bawah sudah mencapai dada Stephen dan Zach yang bertubuh cukup tinggi itu. Dan itu menyulitkan mereka berdua untuk mencari lubang tempat air masuk.

“Sialan. Aku tidak bisa melihatnya,” maki Stephen sambil terus menerobos.

“Kita harus menyelam untuk bisa melihat lubang tersebut,” usul Zach.

Stephen pun berhenti. Sembari mematikan jentik api di tangannya—yang berfungsi sebagai penerangan di ruangan yang agak gelap itu, ia berbalik ke hadapan Zach.

“Oke. Dalam hitungan ketiga,” ia mulai mengambil napas. “Satu, dua, ...—”

Mereka berdua menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air, kemudian mulai menyelam. Dengan menyelam, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan sebuah lubang di ujung kabin. Segera mereka berenang mendekati lubang itu. Dirabanya lubang yang rupanya masih terasa panas tersebut—bahkan masih ada sedikit percik api yang sebenarnya kasat mata jika mereka berdua tidak melihatnya lebih teliti.

Bam!

Sebuah bayangan melintas dengan cepat di sebelah kapal, dan Zach serta Stephen dapat melihat jelas bayangan itu. Refleks mereka naik ke permukaan air yang mulai meninggi setinggi belikat mereka.

“Lubang itu berbentuk lingkaran yang hampir sempurna,” ucap Zach dengan napas yang megap-megap. “Masih hangat. Estimasi waktunya sekitar lima belas menit yang lalu.”

“Tidak mungkin lubang itu disebabkan karena berbenturan dengan karang—itu pasti dibuat,” terka Stephen.

“Ya. Tapi sebelum itu, apa kau lihat bayangan besar tadi?!” tanya Zach sembari mengencangkan suara. “Apakah itu hiu—”

Tiba-tiba saja, kapal bergoyang kencang, dan Stephen merasa bahwa kapal ini tinggal memiliki waktu kurang dari dua menit sebelum akhinya benar-benar karam.

“Cepat! Kita harus keluar dari sini!” teriak Stephen. Zach mengangguk, dan mereka mulai menyelam kembali, berusaha keluar melalui lubang yang mereka teliti tadi. Zach terlebih dahulu keluar dan berusaha berenang ke permukaan laut.

Tetapi ada sebuah firasat aneh yang tiba-tiba berkelabat di pikirannya. Memutuskan untuk menoleh, ia kemudian terbelalak.

Stephen!!

***

Deordical Academy. Murid-murid sedang menjalani acara makan siang mereka. Karell, Scarrell, Kellisha, Vineesha, dan Scallon sedang bercuap-cuap ria di tempat duduk mereka sambil menyantap makan siang mereka yang terhitung enak; garlic bread serta spaghetti dan cokelat hangat.

“Hei, menurut kalian, apakah mereka sudah sampai Irlandia?” tanya Scarell.

“Hm?” tanya Kellisha bingung. “Siapa?”

“Astaga, Kell! Anak-anak elemen api—hebat sekali kau lupa dengan mudahnya!” keluh Vineesha.

“Ah, masa?” tanya Kellisha. “Kenapa aku tidak ingat?”

Sambil mencibir, Karell berkata, “Reparasi dulu, tuh, otakmu.”

Setelah tawa mereka akan kebodohan Kellisha berhenti, Scallon menimpali. “Setahuku, perjalanan dari Liverpool ke Dublin dapat ditempuh selama lima jam. Jadi kurasa mereka sudah sampai sekarang.”

“Kecuali jika kapal mereka menabrak gunung es seperti Titanic,” canda Karell, diikuti tawa mereka. Tapi tawa mereka itu tak berlanjut panjang sampai suara berita di televisi menginterupsi mereka.

...sebuah kapal yang sedang melakukan perjalanan dari Liverpool, Inggris, menuju Dublin, Irlandia, dilaporkan baru saja mengalami kecelakaan. Untuk itu, sudah ada reporter kami, Aishling McCoughney, yang melaporkan langsung dari pelabuhan Dublin.

Bersamaan dengan bergantinya layar televisi menjadi liputan langsung dari pelabuhan Dublin, kelima anak itu saling melempar pandangan ragu.

Pemirsa. Sekarang saya berada di pelabuhan Dublin, tempat dimana sebuah kapal penumpang mengalami kecelakaan saat mereka sudah tinggal menempuh sekitar lima belas meter untuk mencapai pelabuhan. Kapal penumpang milik perusahaan Unijack bernomor 032, seperti yang anda lihat di belakang saya—” reporter wanita dengan suaranya yang agak berteriak itu menunjuk kapal yang badannya sudah tenggelam itu. “—sudah tidak bisa dibawa ke pelabuhan. Tetapi dengan usaha sigap awak kapal, seluruh penumpang...—oh, maaf, mohon tunggu sebentar.

Wanita itu tampak menerima kabar dari earphone yang dipakainya. Setelah menganggukan beberapa kali, ia kembali berbicara. “Maaf, ada sedikit ralat. Baru saja diketahui masih ada dua penumpang yang belum selamat dan menaiki sekoci. Kini, tim SAR sedang berusaha menyelamatkan kedua penumpang tersebut.

Karell menoleh kepada teman-temannya. “Oh, tidak.... Apa mungkin...?” bisiknya terkesiap.

***

Pupil mata keenam orang itu melebar—jelas sekali mereka ketakutan. Menatap ke kapal di sana, mereka makin shock begitu melihat kapal itu tenggelam.

Tenggelam tak menyisakan apapun.

Termasuk juga Zach dan Stephen.

“Stephen! Stephen!!” refleks Renee beteriak sekencang-kencangnya, berusaha mencari kawannya.

“Zach! Stephen!” Tiffany ikut berteriak, dan akhirnya Ann, Vincent, Ruthven, dan Celiann juga ikut berteriak. Tetapi satu menit, dua menit, bahkan sampai lima menit, tak ada satupun respon.

Ann terisak, terlihat sebutir air di ekor matanya. Kaki Vincent bergetar. Tak mungkin...tak mungkin...

Pyak!

Mereka menegakkan kepala mereka kembali, kemudian menelengkan kepala mereka kemana-mana, berusaha mencari suara itu.

Pfuahh!

“Uhukk! Hah! Hahh!”

Ann dan Celiann termengu senang, sementara Tiffany dan Vincent menghela napas lega melihat sosok Zach muncul ke permukaan. Tampak ia merangkul Stephen, kentara sekali karenanya ia agak sulit berenang menerjang arus laut yang agak kencang itu. Segera awak kapal di sekoci melemparkan tali. Diraih tali itu oleh Zach, dan tali itu membantunya mencapai sekoci. Ruthven dan Renee mengulurkan tangan, kemudian menarik Zach dan Stephen ke dalam sekoci.

“Bodoh! Kenapa kalian lama sekali?!” teriak Renee kepada Zach dan Stephen yang kini terduduk sambil terbatuk-batuk. Tapi sesungguhnya di balik nadanya yang sangar itu, ia benar-benar lega bahwa mereka berdua selamat.

“Uhuk! Tali sepatu Steph—uhuk—tersangkut—hahh—sehingga aku harus menarik—uhuk, uhuk!!”

“Sudah, tenangkan diri kalian dahulu,” Tiffany menepuk bahu Stephen dan Zach. “Ceritakan kepada kami segalanya saat kita sudah di daratan.”

***

Stephen mengenakan pakaiannya yang kering, kemudian berjalan keluar dari kamar mandi. Ia melangkah mendekati teman-temannya yang sudah menempati tempat duduk di ruang tunggu pelabuhan Dublin. Didudukinya tempat duduk di sebelah Zach yang sudah terlebih dahulu mengganti bajunya yang basah. Dapat dilihatnya teman-temannya yang lain duduk dengan tampang mereka yang masih shock. Bahkan Ann—yang tampaknya sedang menelpon Hannah itu—terus-terusan berbicara dengan orang di ujung telepon dengan nada kalut dan panik.

Pemirsa, saya laporkan langsung dari pelabuhan Dublin, kini semua penumpang telah dievakuasi, termasuk dua orang yang belum terselamatkan tadi. Kini, mereka tengah dikumpulkan di ruang tunggu 3A di pelabuhan Dublin untuk diinterogasi.

“Ya! Kami semua memang selamat—seperti yang kau lihat di televisi,” Stephen menoleh mendengar suara Ann yang kencang itu. “Kau tahu dua penumpang yang dimaksud tadi? Itu Stephen dan Zach!!”

Stephen mendengus mendengar namanya disebut, kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Ann. “Lalu bagaimana sekarang?”

“Kita harus menunggu. Nanti kita akan diinterogasi,” jelas Vincent.

“Sebelum itu, mungkin kalian bisa memberi tahu kami soal hasil investigasi kalian,” ujar Tiffany.

Maka dengan itu, mereka menunduk sedikit—termasuk Ann yang sudah memutuskan sambungan dengan Hannah, agar mereka jadi lebih dekat dan pembicaraan mereka tidak diketahui.

“Kami menemukan sebuah lubang—itu pasti,” Stephen memulai ceritanya. “Yang aneh, lubang itu berbentuk sebuah lingkaran yang sepintas terlihat sempurna. Karenanya, agak aneh jika lubang itu disebabakan karena kapal menabrak karang.”

“Lubang itu kira-kira berdiameter lima puluh sentimeter,” timpal Zach. “Dan ketika kami raba, pinggirannya masih hangat. Kesimpulannya, lubang itu masih baru dan dibuat dengan alat.”

“Ada seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal itu,” ucap Celiann. “Tapi siapa...? Dan kenapa...?”

“Hei!”

Kedelapan anak itu menengadah. Seorang petugas pelabuhan baru saja menginterupsi diskusi mereka.

“Saatnya kalian diinterogasi,” ujarnya sembari berlalu.

Mereka saling memandang lagi. “Apakah kita harus memberitahu mereka soal hal ini?” tanya Zach.

“Tidak. Simpanlah itu terlebih dahulu,” jawab Tiffany. “Cepat atau lambat, mereka pasti menyadarinya sendiri.”

Maka mereka bangkit, kemudian mulai berjalan mendekati tim interogasi yang terdiri atas tiga orang itu. Secara bergantian, mereka memberikan keterangan soal insiden itu kepada mereka, sampai akhirnya dua jam kemudian, mereka diizinkan untuk pergi. Melangkahlah mereka keluar dari area pelabuhan, mencapai sebuah halte di pinggir jalan raya.

“Bis nomor berapa?” tanya Celiann.

“Tujuan?” Vincent—yang paling dekat dengan sebuah papan pengumuman—segera menengadah, mulai membaca informasi yang tertera di sana.

“Dublin. Pusat kota.”

Stephen mendelik kepada Celiann.

“Bukan Westmeath?”

“Silahkan saja jika kau mau ke sana sekarang,” cibir Celiann. “Kau lelah, Steph. Zach juga. Kalian hampir saja mati tenggelam di Laut Irlandia. Tidakkah kalian ingin istirahat dulu?”

“Dan tentu saja Dublin adalah destinasi yang tepat untuk istirahat,” ucap Tiffany.

Vincent menelusuri sekali lagi papan yang dibacanya supaya informasi yang didapatnya lebih meyakinkan.

“E5. Pukul 15:00.”

Ruthven mengerling jam tangannya.

“Sekitar sepuluh menit lagi. Duduk saja dulu.”

Mereka pun duduk di bangku panjang yang relatif sepi itu. Namun karena tidak kebagian tempat, maka Tiffany, Vincent, dan Ruthven memutuskan untuk berdiri dan bersanda pada tiang.

Sepuluh menit kemudian, terlihat kendaraan dari pelupuk mata di ujung sana.

Rabu, 28 April 2010

Chapter 3>>>Buku Jelek Dengan Cover Bagus Part. 1

Hem, belajar sebagai seorang mysticalist ternyata sangat menyenangkan—magic is fun. Oke, sebenarnya kalian tidak akan mendapatkan kesenangan yang sesungguhnya jika kalian tidak merasakannya sendiri. Tapi, aku berbaik hati dan bersedia menceritakannya kepada kalian.

Banyak hal—atau pekerjaan—yang menjadi lebih mudah dengan bantuan kekuatan pikiran kita. Yep, Deordical Academy mengajarkan ini pada para mysticalist. Renee Hainsworth menantang anak Defense adu pedang. Dan, Ia berhasil mengalahkannya—bahkan—tanpa menyentuh pedang itu sedikit pun. Kalian pasti tercengang, aku juga. Pedang Renee bergerak dengan sendirinya. Dan, itulah yang membuat anak Defense yang malang itu lari ketakutan. Ini membuat Renee dan Miles Thornton—sebagai ketua kelas Satu-Enam—dimarahi.

Ada lagi, Austin Lincoln, Fey Hartwell serta Ruthven Ecclair membuat ratusan burung-burungan kertas dan menerbangkannya di ruang makan, hingga membuat suasana gaduh. Tapi, menurutku itu keren. Bayangkan, burung-burung kertas itu terbang berkeliaran ke seluruh pelosok ruang makan seakan hidup. Tapi sayangnya, seorang guru pengendali api tidak tinggal diam—Ia menjentikan jarinya dan seketika, burung kertas ‘hidup’ itu terbakar dan menjadi serpihan-serpihan abu. Miles pun kena marah (lagi).

Sekarang, izinkan aku bercerita sedikit tentang Masa Orientasi—karena ada hal penting yang harus kalian tahu—yang telah selesai sekitar seminggu yang lalu, dengan bimbingan dari para Dewan Senior. Setiap kelas dibimbing oleh—sekurangnya—seorang Dewan senior. Kelas Satu-Enam—yang sangat dibanggakan ini—mendapatkan bimbingan dari seorang Anabelle Martinez, gadis sekitar lima belas tahun—dua tahun lebih tua dari para junior tingkat satu, berambut ikal panjang keemasan, tinggi proporsional, langsing, cantik dan—seperti kata Dhynella—sangat sempurna.

Sejauh ini, mereka—para junior tingkat satu—belum bisa membuktikan tanggapan-tanggapan para senior—selain Dewan Senior—tentang sifat sok berkuasa dan bermuka dua yang dimiliki para Dewan Senior. Semua tanggapan itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang para junior lihat selama ini. Sangat mustahil dan pelik, bahwa para Dewan Senior yang terlihat layaknya malaikat penghuni surga—dengan segala kelebihan yang melimpah, akan berubah menjadi setan jahat buruk rupa dari neraka. Well, disinilah kita semua dituntut untuk mempelajari dua hal ini:

  1. Jangan mudah percaya terhadap tanggapan orang lain—kecuali, jika kau sudah melihat pembuktiannya.
  2. Jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya—seperti inner beauty atau inner handsome?

Mungkin, menurut kalian, untuk menerapkan dua prinsip sederhana ini adalah hal yang sangat mudah. Tapi, pada kenyataannya, dua hal diatas jauh—sangat-sangat jauh—lebih sulit daripada kelihatannya. Sebut saja Schallon, Naisha, Allena serta Vineesha—para jenius dari Satu-Enam, mereka lebih memilih mengerjakan dua ratus soal matematika dengan pangkat bilangan diatas lima puluh dibanding harus melaksanakan dua prinsip yang sulit dicerna itu. Bagaimana dengan kalian? Aku tahu kalian masih tetap memegang pendirian kalian tentang mudahnya kedua prinsip tadi. Tapi, tunggu sampai kalian mengalami kejadian seperti ini:

Jasper dan Chloe—si kembar Sullivan—berjalan menyusuri koridor lantai empat, menuju ke ruang kelas Satu-Enam yang berada di ujung koridor. Itu biasa, tapi ada sesuatu yang tidak biasa pagi ini. Semua murid kelas lain—yang juga berada di koridor—memandang mereka berdua dengan tatapan aneh; seperti tatapan merendahkan yang bercampur dengan rasa kasihan dan ditambahkan dengan tatapan mengejek yang konyol.

“ Apa mereka melihat ke arah kita, Jazzy?” tanya Chloe pada Jasper—yang berjalan tepat di kanannya—dengan suara nyaris tak terdengar.

“ Entahlah. Lagipula kau tidak usah merasa seperti artis. Belum tentu mereka melihat ke arahmu.” jawab Jasper menyebalkan. Chloe berhenti tiba-tiba dan Jasper pun seketika ikut berhenti. “ Ada apa lagi?” tanyanya tak bersemangat.

“ Hei, jelas-jelas mereka melihat ke arah kita. Kau ini sangat tidak peka ya. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Atau, Ha! ada selai cokelat yang masih tersisa di sekitar mulutku?” Chloe mengeluarkan sehelai tissue dari kantung blazer seragamnya dan dengan terburu-buru mengelapi sekitar mulutnya dan saat Ia melihat permukaan tissuenya, dahinya berkerut; tissue-nya masih bersih. “ Hem, tidak ada noda apa-apa. Jadi apa yang salah?”

“ Aku tidak tahu, bodoh. Lebih baik kita bergegas masuk kelas, menghindari mereka memandangi kita lebih lama.” keluh Jasper kemudian menarik tangan Chloe dengan tak sabaran.

Pertanyaan si Kembar Sullivan langsung terjawab saat mereka sampai di kelas. “ kalian lihat bagaimana mereka memandangi kita?” tanya Zach Samlerr yang duduk di meja sebelah jendela, menatap keanehan yang terjadi di luar kelas.

“ Jadi mereka melakukan itu juga kepadamu?” tanya Chloe antusias.

“ Yah, begitulah. Bukan hanya kalian berdua dan aku. Tapi, kepada semua anak-anak Satu-Enam.” jawab Zach, masih memandang keluar jendela.

“ BERHENTI MENATAPKU SEPERTI ITU, ATAU KALIAN AKAN TAHU AKIBATNYA. HEI, KAU JANGAN TERTAWA. MEMANGNYA ADA YANG LUCU DI SINI?” Renee masuk ke kelas dengan wajah merah padam, menahan kemarahannya yang terlanjur Ia lampiaskan kepada pintu ruang kelas—saksi bisu yang malang. “ Apa sih mau mereka? Memang ada yang salah denganku pagi ini? Aku mengakui kekalahan MU semalam memang agak memalukan, tapi Red Devil akan membalasnya, aku berjanji akan balik menatap kalian seperti tadi.” Renee meninju-ninju daun pintu kelas.

“ Hei, anak bodoh di depan pintu, mereka bukan memandangimu karena kekalahan memalukan ‘tim kesayanganmu’ semalam. Asal kau tahu saja, hal itu sungguh tidak penting untuk dijadikan alasan mengapa mereka memandangimu.” sindir Stephen dari sudut kelas.

“ Hei, anak bodoh di sudut kelas, jangan pernah memanggilku dengan sebutan si ‘anak bodoh di depan depan’. Kau akan tahu akibatnya, heh.” balas Renee.

Baiklah, mari kita keluar dari pertempuran ini.

“ Jadi, apa alasan mereka memandangiku seperti itu, hmm—maksudku memandangi kita semua seperti itu?” tanya Renee. Sekarang semua anak-anak Satu-Enam sudah berkumpul di ruang duduk asrama Hollyn, karena asrama itulah yang paling sepi dan berpenghuni paling sedikit.

“ Yep. Kita baru berada di sini selama kurang dari dua minggu. Dalam waktu sesedikit itu, kita bahkan belum sempat melakukan kesalahan apa-apa, maksudku kesalahan yang besar—selain menakut-nakuti murid Defense dan membuat gaduh suasana makan malam.” tambah Elsenn disusul sahutan setuju dari yang lain.

“ Pasti ada sesuatu di balik ini semua, yang tidak kita tahu dan harus kita cari tahu.”

* * *

“ Kalian berusaha mengambil perhatian dari para guru hanya karena kalian telah dicap sebagai anak-anak unggulan. Kalian tidak peduli bagaimana nasib kelas lain—yang yah, tidak seunggul kalian. Kalian ingin menyingkirkan kami semua, karena kalian ingin menjadi satu-satunya yang berhasil mengangkat nama Deordical Academy. Benar kan? Pada kenyataanya, kalian hanya anak-anak sok tahu, pengacau, pembuat onar, egois dan munafik.” jelas Patrick Morgan, ketua angkatan tingkat satu. Dia berdiri di depan kelas Satu-Enam. Berkata dengan lantang tanpa rasa takut sedikit pun. Anak-anak Satu-Enam mendengarkan dengan tenang, tanpa rasa marah. Mereka jelas-jelas tahu diri, mereka bukanlah orang seperti yang dikatakan bocah kurus ceking ini. Dia pasti telah dipengaruhi seseorang. Ya, pasti ada orang dibalik layar yang merencanakan ini semua.

“ Apa dasarmu sehingga kau menilai kami seperti itu?” tanya Miles dengan tenang.

“ Aku punya mata dan telinga, bodoh. Aku bisa mengetahui apa saja rencana busuk kalian terhadap kami semua. Tadinya, kami pikir kalian memang layak menjadi kelas paling unggul; kalian pintar, rajin dan ramah. Tapi, seseorang telah membuat kami sadar, bahwa sesungguhnya kalian sangat jauh dari kata layak. Kalian memang pintar, tapi kalian menggunakan kepintaran kalian itu untuk sesuatu yang tidak—sangat-sangat tidak—mulia.”

Naisha bangkit dari tempat duduknya dan mulai berbicara. “ Kau tadi bilang bahwa seseorang telah membuat kalian sadar. Perlu digarisbawahi di kata ‘seseorang’.”

Patrick tersenyum licik. “ Dewan Senior. Mereka ada di pihak kami. Mereka akan balik menyingkirkan kalian. Saatnya bagi kalian untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Deordical Academy.”

Sebenarnya, bukan Patrick yang harusnya tersenyum licik. Tapi, para Satu-Enamlah yang tersenyum licik.

* * *

Selasa, 27 April 2010

Chapter 2>>>Hari Pertama dan Pembagian Kelas

Setelah kurang dari lima jam menempuh perjalanan darat dengan kereta, punggung anak-anak terasa keram. Begitu juga, tiga anak tadi. Dhynella saking lelahnya, ia meninggalkan koper-kopernya di tempat pengumpulan koper. Untungnya, Dillon berbaik hati untuk membawakannya. Ada apa sebenarnya? Dillon bukan orang yang seperti itu? Maksudku, dia baik tapi tidak pernah se-cowok ini? Oke, kita cari tahu nanti. Aku pasti akan menceritakannya.

Para anak baru dibariskan di depan gerbang utama Deodical Academy. Dari situ, anak-anak baru bisa melihat gedung utama Deordical Academy. Gedung utama itu dikelilingi oleh sebelas buah gedung asrama dan tiga buah gedung sekolah—jurusan defense, jurusan ordinary dan jurusan mystical. Tidak ada yang membedakan ketiga gedung itu. Hanya lambang besar yang berbeda di masing-masing gedung.

“ Wow, ini keren. Dimana gedung sekolah Mysticalist? Asramanya kok terlihat biasa saja sih? Tidak ada yang spesial. Luas sekali. Apa ada angkutan sekolah sebagai transportasi antar gedung? Apa aku akan betah di sini? Waah, pepohonannya besar dan rindang, aku akan membuat rumah-rumahan pohon di sini.” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut para anak-anak baru. Sabar saja, akan terjawab sebentar lagi.

Mrs. Turner berdiri di depan. Disampingnya berjejer para kepala asrama, semuanya wanita. Mereka membawa sebuah clipboard yang berisi daftar anak baru yang masuk ke asrama mereka. “ Kalian cari nama kalian di clipboard-clipboard itu. Segera masuk ke kamar kalian, membereskan diri, merapikan barang-barang. Pukul empat sore, kalian berkumpul lagi di halaman gedung utama. Tur singkat dan perkenalan.” jelas Mrs. Turner.

“ Aku di Fauncer Dormitory. Kalian dimana?” ucap Dhynela.

“ Yaaah, kita tidak bersama. Aku di Meire Dormitory. Kau dimana Dillon?” ujar Ada sedih.

“ Yang jelas aku sudah pasti tidak bersama kalian berdua—aku cowok. Cheire Dormitory.”ucap Dillon.

“ Hmm, kita masih bisa bertemu saat makan, jam bebas, jam istirahat dan mudah-mudahan kita sekelas.” ucap Ada lagi.

“ Yeah. Kurasa kita harus segera ke asrama masing-masing. Jangan sampai terlembat di tur nanti.” sergah Dillon kemudian berbalik sambil melambai, berlalu. Ada dan Dhynella pun berpisah.

* * *

Ada dan tiga orang anak baru lainnya berjalan berdampingan dengan Ms. Rivera, kepala asrama Meire Dorm. Sekilas tentang Ms. Rivera—menurut pandangan Ada—muda, berkulit putih, anggun, baik dan keibuan. Ya, alangkah senangnya memiliki ibu asrama seperti dia, pikir Ada.

Mereka berlima berhenti di depan sebuah kamar bertuliskan angka: 81. “ Ini kamar kalian. Silahkan masuk.” ucapnya sambil membukakan pintu kamar tadi.

Anak-anak baru itu masuk dengan ragu-ragu. Tapi, akhirnya mereka masuk juga. “ Kau, Naisha Kinsley. Kau kupilih menjadi ketua kamar. Mereka bertiga tanggung jawabmu.” ujar Ms. Rivera kepada salah satu anak baru tadi, yang berkaca mata dan berambut marun panjang dikepang.

Naisha membuka mulutnya untuk mengajukan keberatan, tapi segera Ia tutup kembali cepat-cepat. “ Kau tidak keberatan kan, Ms. Kinsley?”

Naisha mengangguk tegas dan tersenyum.

“ Oke, baiklah. Kalian bisa mulai merapikan barang-barang kalian. Aku permisi dulu.” Ms. Rivera berbalik menuju pintu, keluar dan berlalu.

“ Hmm, maaf sebelumnya kalau ada yang keberatan dengan depilihnya aku menjadi ketua kamar. Ini sama sekali bukan keinginanku.” ujar Naisha pelan.

“ Tak apa. Aku melihat kau orang yang bertanggung jawab.” ucap salah satu dari mereka. Yang lain mengiyakan. “ Aku Alice Whitney.”

“ Aku Ansell McFadden. Senang bertemu kalian semua.”

“ Aku Adelaide Holywell. Ya, semoga kita bisa menjadi tim yang baik.”

Dan mereka pun saling berkenalan. Deordical Academy sangat menyenangkan sejauh ini, setidaknya begitulah menurut pandanganku.

* * *

Bagimana dengan asrama-asrama lain?

Di Enless Dorm: Austin Lincoln mendapatkan partner yang tepat. Ia bertemu dengan Fey Hantway dan Ruthven Ecclair, mereka bertiga sama-sama suka game online.

Di Leyte Dorm: Karrel Eastcote yang bersifat humoris plus hiperbolis harus menyesuaikan diri di lingkungan anak-anak pendiam yang serius—Annalise Fletcher, Hanna Kithley dan Allena Harcourt.

Di Cheire Dorm: Dillon Humphrey bertemu dengan si ‘cowok penolong’ di kereta—Elsenn Hantway.

Di Sousei Dorm: Ruinne Ashhford berada satu kamar dengan teman sekampunghalamannya—Arriley Spencer dan Shann Campney. Mereka bertiga juga sekamar dengan Cellian Amherts, cewek boyish yang menyukai olahraga lari.

Di Quine Dorm: Sherline Northcote mendapat teman ‘adu mulut’ yang pas, Scarell Houston. Sementara Lydia Shrewsbury dan Vineesha Connelly memutuskan untuk diam.

Di Holynn Dorm: Neff Ethelbert berencana akan membuat band bersama Felix Craiss, Zach Samlerr dan Jasper Sullivan, yang diberi nama 101 band—karena mereka mendapat kamar nomor 101.

Di Suisei Dorm: Chloe Sullivan dan Anne Mightray mencoba membujuk Irish Aldaine dan Avaline Macauley untuk bergabung di ekstrakurikuler baris berbaris bersama murid-murid Ordinary.

Di Aushley Dorm : Aylie Carnbell dan Tiffany Sherrine mencoba kamera SLR terbaru mereka dan menjadikan Leslie Chicester dan Kellisha Whittaker sebagai ‘model gratisan’ mereka.

Di Audley Dorm: Miles Thornton mencoba merakit sebuah Aerogenerator bersama Stephen Wickliff dan Vincent Nightray. Dan sepertinya berhasil.

Terakhir, Di Fauncer Dorm: Schallon Audrey dan Helen Flaherty mencoba bersabar dan mulai membiasakan diri dengan kekacauan dan kebisingan yang dibuat oleh Dhynella Neilenn dan Renee Hainsworth.

* * *

Ada, Dhynella dan Dillon bertemu lagi di halaman gedung utama saat acara tur dan perkenalan. Mereka berkumpul bersama anak-anak baru lainnya, membicarakan berbagai hal. Termasuk tentang pembagian kelas.

“ Jadi besok akan ada pengumuman tentang pembagian kelas. Ya, kita akan mendapatkan surat beramplop tertutup di ruang pribadi—ruang kamar—kalian. Itu sudah jadi tradisi sejak dulu. Sejak angkatan ibunya ibuku—umm, atau sebelumnya lagi. Uuh, entahlah yang jelas sudah sejak lama.” cerita salah seorang dari mereka.

Dillon secara blak-blakan dan tanpa permisi—seperti bisasanya—langsung bertanya: “ Apa yang ditulis di surat itu?”

“ Hanya pernyataan ke kelas mana kita masuk. Misalnya : Patricia Walker masuk di kelas Satu-Delapan. Yah, kurang lebih seperti itu.” tukas anak itu.

“ Selamat sore, anak-anak.” Mr. Holygate, kepala Deordical Academy, berdiri di podium halaman utama. Jika kau tidak tahu siapa dia, akan kujelaskan secara garis besar: dia adalah seorang penghipnotis terhebat abad ini, plus, seorang ahli defense. Jadi kau jangan berani-berani dengannya.

Disamping kanannya, berdiri para staff-staff penting, Mrs. Turner terlihat di sana—ternyata dia bukan hanya menjabat sebagai staff kesiswaan, tapi juga sebagai kepala asrama. Sedangkan di sebelah kirinya, berjejer para senior dengan jubah hitam panjang berlencana. Yep, merekalah Dewan Senior—seperti yang Dhyn lihat di stasiun.

“ Lihat, dia ada di sana.” Dhyn berseru girang sambil mengguncang-guncang bahu Ada dan Dillon.

Mr. Holygate memperkenalkan diri, memberikan sedikit tips untuk menyesuaikan diri di sekolah ini, menjelaskan tentang misi dan visi sekolah ini dan sebagainya. Dan, ini membuat sebagian dari anak-anak baru sedikit bosan. Setidaknya, ini tidak berlaku bagi para pemuja Dewan Senior—seperti Dhyn.

Dilanjutkan dengan perkenalan para staff. Kau tahu, ini malah semakin membuat anak-anak baru bertambah bosan. Sebagian besar dari para staff adalah seorang tua yang gemuk, berambut putih, berkacamata tebal dan dengan muka yang terlipat-lipat.

Well done, sekarang saatnya perkenalan para Dewan Senior. Tepat di sebelah kiri Mr. Holygate, berdiri sang ketua Dewan Senior, yang tak lain dan tak bukan adalah putra dari Mr. Holygate sendiri, William Holygate. Bentuk wajah dan postur tubuh William memang merupakan hasil jiplakan Mr. Holygate kala muda. William menjelaskan sedikit tentang dirinya—membuat Dhyn dan para pemuja Dewan Senior lainnya hampir terkena serangan jantuk dadakan—serta tujuan dari Dewan Senior sendiri.

Di sebelah William, berdiri Alan Russels, wakil ketua Dewan Senior. Dari penampilan luarnya, terlihat bahwa Alan adalah seorang yang pendiam, agak kutu buku dan, dari penampilannya yang maskulin itu, dia juga seorang yang cowok banget—menurut pendapat Dhyn.

“ Dia juga keren. Uuh, mengapa para Dewan Senior diciptakan sesempurna ini—layaknya dewa-dewa di Olympus? Aku jadi sulit menentukan pilihan nih. Pilihannya terlalu sulit.” seru Dhynella, entah pada siapa.

Dillon mendengus. “ Dasar perempuan.”

“ Hei, aku juga perempuan. Dan, aku tidak seperti perempuan yang kau maksud tadi.” protes Ada.

Dan perkenalan pun selesai. Dilanjutkan dengan tur singkat mengelilingi area sekolah. Dimulai dari gedung utama. Sesuai namanya, gedung ini adalah gedung pokok dan terbesar dibanding gedung-gedung lainnya. Gedung ini berisi fasilitas-fasilitas sekolah yang bisa dipergunakan bagi ketiga jurusan, seperti ruang makan bersama, ruang belajar, ruang rekreasi, ruang pertemuan, perpustakaan umum—di setiap gedung sekolah juga ada perpustakaan yang lebih kecil, sanatorium dan ruang olahraga.

Dilanjutkan dengan berkeliling gedung sekolah Mystical Direction—Jurusan Mistikal. Di gedung inilah, para calon mysticalist—sebutan bagi murid Mystical Direction—akan belajar tentang banyak hal yang berbau mistik. Yah, kau perlu bersabar. Aku akan menjelaskannya pada chapter berikutnya.

* * *

Seperti yang dikatakan oleh anak baru yang kemarin, pagi ini, para anak baru mendapati sebuah amplop di ruang kamar mereka. Dhynella Neilenn beranjak gesit dari tempat tidurnya dan segera mengambil amplop itu.

Setengah jam kemudian, Ia telah selesai membereskan tempat tidur, mandi dan berpakaian. Ia berlari keluar dari gedung asrama dengan tergesa-gesa, menuju gedung utama. Hari pertama sekolah, tentunya dengan kelas dan teman baru.

Dhyn mendorong pintu kaca gedung utama, berlari menaiki tangga—tiga anak tangga sekaligus. Hingga Ia sampai di lantai tiga. Pintu ruang pertemuan terpampang jelas di depan matanya. Ia menghela nafas panjang dan segera masuk melewati pintu kayu tinggi itu.

Ruang pertemuan sangat ramai. Pagi itu memang akan dilaksanakan upacara pembukaan semester baru, sekaligus makan pagi bersama. Para anak baru berkumpul di barisan-barisan sesuai dengan kelas barunya—yang tertulis di surat penempatan kelas.

Dhyn berusaha mencari barisan kelas barunya. Sekali lagi Ia melihat kertas surat yang ada di genggaman tangannya untuk memastikan. Tertulis: Kelas Satu-Enam. Sesekali Ia bertanya kepada anak baru yang melewatinya: “ kau tahu dimana barisan kelas Satu-Enam?”

Dan akhirnya, Ia sampai di sebuah barisan. Barisan kelas Satu-Enam. Ia berjinjit untuk melihat siapa saja yang ada di barisan itu. Tapi, sayangnya, Adelaide dan Dillon tidak ada di situ. Ya ampun, hari-hari sekolahku akan kelam tanpa mereka berdua, isaknya dalam hati. Berlebihan? Memang begitulah seorang Dhynella Neilenn yang sesungguhnya.

“ Dhynellaaa. Kau masuk Satu-Enam?” Seseorang bersorak dari belakangnya.

“ Ada. Ya ampuun, aku mencarimu. Ya, aku masuk Satu-Enam. Kau? Disini?” balas Dhyn.

“ Wah, aku senang sekali bisa sekelas denganmu, Dhyn. Semalam aku tidak bisa tidur, memikirkan ini. Huuh, leganya.” jawab Ada.

Dhynella menoleh ke arah pintu masuk ruang pertemuan, mencari seseorang. “ Bagaimana dengan Dillon?” tanya-nya.

“ Entahlah, aku belum melihatnya sejak tadi pagi. Mungkin dia sedang bersama teman sekamarnya.”

“ Ngg, apa dia tidak mau lagi berteman dengan kita?” tanya Dhyn. Tersirat rasa khawatir di suaranya.

“ Heh? Kau ini memikirkan apa sih? Tidak mungkinlah. Kita ini saudara—maksudku sudah seperti saudara. Lagipula, dia sudah mulai dewasa, dia juga harus berinteraksi dengan sesama laki-laki—tidak hanya dengan kita.” jelas Ada. Dia juga sebenarnya merasakan sama seperti Dhyn. Sepuluh tahun selalu bertiga, dan sekarang dipisahkan.

“ Oh.”

“ Oh? Aku tahu, jangan-jangan kau memang benar-benar ada perasaan dengannya?”

“ Eh, bukan begitu—maksudku, bukan sepenuhnya begitu. Tapi—seperti yang kau bilang—kita ini kan sudah seperti saudara.”

“ Hai, gals. Lihat aku masuk di kelas mana!” Dillon tiba-tiba datang di antara mereka dengan surat penempatan kelas di depan dada. “ Satu-Enam. Kita sekelas, dude.” Dillon bersorak gembira. Disusul sorakan—gembira juga—dari Dhyn dan Ada.

Entah karena terlalu senang atau apa, secara refleks Dhyn maju dan memeluk Dillon.

“ Hmm.” Ada berdeham, sengaja dibuat keras. “ Aku merasa dijadikan tembok di sini.”

Mereka berdua langsung tersadar dan saling menjauhkan diri.

“ Refleks.” ucap Dhyn tertunduk. Aku yakin wajahnya pasti memerah sekarang, tebak Ada. Yap, begitu juga dengan Dillon.

“ Oh, iya-iya. Aku juga minta maaf.”

Wah, wah, sepertinya memang ada apa-apa di sini.

* * *

Chapter 2: Acklesenn

“Boleh pinjam bukumu?”

Naisha mendelik.

“Yang mana?”

“Daftar nama. Aku tahu dari Alice.”

“Oh,” komentar Naisha pendek sembari membuka lokernya dan mengeluarkan buku berjudul Kamus Internasional Nama dan Artinya. Ia memberikan buku tersebut kepada Tiffany. Untung saja Naisha bukan gadis yang ingin tahu urusan orang, tetapi dengan bodohnya, Tiffany malah menjelaskan maksud dirinya meminjam buku tersebut karena berpikir Naisha akan salah paham.

“I-ini untuk keperluan fiksiku, kok. B-bu-bukan hal-hal aneh seperti...uhm—kau tahulah. A-aku gadis baik-baik, kok. A-aku—”

“Astaga, Tiffany,” Naisha tertawa anggun. “Aku tidak berpikir bahwa kau adalah gadis seperti itu. Lagipula, memangnya dengan memiliki atau membaca kamus nama, otomatis bahwa sang pembaca sedang...—kau bisa lanjutkan sendiri.”

Tiffany menutup mulutnya. Kenapa ia harus begitu sering salah dalam berbicara?

“A-aku ada urusan. Sampai jumpa. Akan kukembalikan nanti—trims,” sebelum wajahnya makin memerah karena malu, Tiffany segera berlari meninggalkan Naisha dan menuju ke taman sekolah. Ia duduk di sebuah gazebo yang tertutup semak-semak dan menghempas semua barang yang didekapnya tadi ke lantai; kamus nama yang dipinjamnya dari Naisha, binder, dan sebuah pulpen. Diambilnya pulpen dan binder dari atas lantai, kemudian dibukanya binder miliknya kepada sebuah halaman kosong. Setelahnya, ia mulai membuka kamus yang masih tergeletak di lantai. Nama demi nama ia telusuri, dan ketika ia menemukan nama yang cocok, dituliskannya di binder miliknya.

“Hei!”

“AH!” Tiffany melonjak kaget begitu merasakan tepukan di bahunya. Refleks dengan itu, ia juga menutup bindernya, kemudian merangkak mundur. Begitu ia menengadah, ia dapat melihat dengan jelas sebuah cengiran terukir di wajah seorang Adelaide Holywell.

“Ada!” jerit Tiffany gusar. “Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Harusnya aku yang tanya begitu—tumben sekali kau ada di sini,” Adelaide mengangkat bahu. “Biasanya Stephen yang ada di sini.”

Tiffany tersenyum mengejek. “Kau ke sini mau mencarinya, ya?”

Spontan wajah Adelaide memerah. “D-duh, b-bu-bukan! Serius! Aku hanya kebetulan lewat!”

Tiffany menaikkan alisnya. “Aha. Aku mencium kebohongan di sini.”

Ada merengut.

“Oke, kau setengah benar—aku memang ada niat untuk mencari Stephen ke sini. Hari ini giliran kami yang mengisi Daily Chore dan aku sudah menyelesaikan setengahnya. Tapi aku tidak menemukannya, jadi kupikir ia ke sini, berhubung ini tempat favoritnya—”

“Hebat kau sampai tahu tempat favoritnya.”

Kini Adelaide mencibir, membuat Tiffany tertawa puas.

“Kau sendiri sedang apa di sini?”

Tiffany segera berhenti tertawa dan tahu bahwa harusnya ia tidak boleh mengatakan apa-apa soal apapun yang berhubungan dengan rencana pelarian para pengendali api dari Estinese. Ia segera memalingkan wajah dan berkata, “B-bukan apa-apa.”

“Aha. Aku mencium kebohongan di sini.”

Tiffany menatap Adelaide—yang sedang tersenyum lebar itu—tidak senang. Gadis itu baru saja mencuri ucapannya.

“Ah, ayolah, beritahu aku!” pinta Adelaide. “Aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa-siapa, kok.”

“Tidak boleh.”

“Ayolah.”

“Tidak, tidak, tidak.”

“Aaah!!” Karena kesal, Adelaide pun berusaha merebut binder yang dipegang oleh Tiffany. Tiffany mati-matian menggenggam erat bindernya, namun Adelaide juga tak kalah mati-matiannya merebut benda tersebut. Karena kepayahan, tak sengaja Tiffany melepas bindernya dan kini binder itu sudah ada dalam genggaman tangan Adelaide.

“Kembalikan!!” Tiffany berusaha merebut kembali bindernya yang telah dibuka oleh Adelaide. Namun, Adelaide cukup gesit untuk menjauhkan binder tersebut dari tangan sang pemilik selagi ia membacanya.

“Heeei, nama-nama apa ini?” tanya Adelaide penasaran membaca isi buku tersebut.

Pasrah, Tiffany menghela napas. “Hanya sebagian rencana untuk naskah fiksiku berikutnya.”

“Oh,” komentar Adelaide pendek. “Lalu mengapa ada nama Ann, Celiann, Renee, Ruthven...—oh, bukankah ini nama-nama pengendali api dari kelas kita?”

Tiffany sudah lelah. Gadis di hadapannya ini sulit untuk dibohongi. Karena terpaksa, ia mendesah.

“Dengar, Adelaide,” ucapnya dengan nada serius. “Yang akan kuberitahukan ini adalah rahasia. Kau ingat? R-A-H-A-S-I-A. Jadi jangan berani-berani kau adukan ke siapa-siapa, apalagi kepada Miles, atau Dhynella dan Ansell yang ribut, apalagi para guru.”

Adelaide mengangguk bersemangat. “Tak masalah. Kau bisa percaya padaku.”

Tiffany menggerakkan sudut matanya ke setiap penjuru, memastikan tak ada yang memerhatikan mereka. Setelah dipastikan aman, ia kembali menoleh kepada Adelaide dan menatapnya tajam.

“Kami, para pengendali api, berencana untuk melakukan pelarian esok saat fajar menjelang.”
Adelaide membelalak.

“APA?!”

“Bisakah kau tidak berteriak?!” ujar Tiffany dengan suara tertahan, membuat Adelaide menutup mulutnya dan mempersilahkan Tiffany melanjutkan. “Kami lari sesungguhnya bukan karena kami muak akan permasalahan sekolah. Kau tahu hujan yang sekarang sedang turun? Hujan ini bernama Hujan Kenelzh dan hujan ini mematikan kekuatan kami para pengendali api. Untuk menghentikan hujan ini, kami butuh mencari Pedang Api Abadi—satu-satunya benda yang dapat menghentikan hujan yang sebenarnya buatan Profesor Lansford, kriminal nomor satu di dunia.”

Adelaide terdiam sebentar, mencerna apa yang dikatakan oleh Tiffany.

“Bisa kau jaga rahasia itu?”

Tak lama kemudian, Adelaide mengangguk. “Tenang saja.”

Tiffany menyunggingkan senyum kecil. “Trims.”

“Lalu untuk apa nama-nama ini?” tanya Adelaide sambil kembali menelusur tulisan tangan Tiffany.

Well, aku berpikir tak mungkin jika kita menggunakan nama asli kita nanti—itu akan membuat pihak sekolah gampang mendeteksi kami. Jadi, umm...aku memutuskan untuk membuat nama samaran untuk kami.”

Wajah Adelaide mencerah.

“Keren! Mau kubantu?”

Tiffany mengangkat bahu sambil melebarkan senyumnya.

***

Acklesenn, Acklesenn... Celiann mengerutkan dahi sambil berjalan menelusuri koridor sehari sebelum keberangkatan. Ia baru ingat rasanya pernah mendengar nama Acklesenn tersebut. Karena penasaran, ia pun berjalan menuju perpustakaan. Ia menempelkan kartunya, kemudian berjalan menuju komputer katalog dan mengetikkan nama Acklesenn.

Kali ini, beberapa nama buku ditampilkan di layar. Namun, ada satu buku yang membuat Celiann mengernyit.

Data Murid Deordical Academy Angkatan 3
Rak A1 baris 1

ASTAGA!

Celiann tak kuasa untuk tidak melongo. Namun yang membuatnya malu adalah karena ia baru saja menyuarakan apa yang menggema di pikirannya. Seluruh orang yang ada di perpustakaan menatapnya tidak senang.

“Ups...maaf...” ringis Celiann menutup mulutnya, kemudian berlari keluar dari perpustakaan. Ia melangkah menuju Suisei Dorm yang terletak di Corresta. Saat ia memasuki gedung asrama tersebut, beberapa gadis memandangnya heran; jelaslah Celiann bukan penghuni gedung asrama tersebut.

Ia sampai di depan kamar dengan nomor 431. Secepat mungkin ia mengetuk pintu tersebut dan tak lama kemudian, sosok Ann muncul di balik pintu yang dibukanya.

“Celiann?” tanya Ann heran.

“Tyra anak kelas pertama SMA Deordical berada di Suisei, kan?”

Ann mengernyit. “Ya. Lalu?”

“Temani aku menemuinya.”

“Untuk?”

Celiann memutar bola matanya. “Tyra Acklesenn!!” jeritnya malas.

Ann membelalak mendengar nama marga kakak kelasnya tersebut. “Astaga, astaga! Kenapa kita baru sadar?!”

“Maka itu, ayo temani aku!”

Tanpa basa-basi, Ann mengangguk dan memandu Celiann turun menuju lantai 2. Langkah mereka terhenti begitu mereka sampai di depan kamar dengan nomor 202.

“Ini kamarnya,” ucap Ann, kemudian berkacak pinggang. “Geez, kenapa kita baru sadar sekarang?” Seraya dengan gumamannya itu, Celiann mengetuk pintu kamar tersebut. Pintu itu baru terbuka pada kali kedua Celiann mengetuk, dan orang yang membukakannya adalah seorang gadis dengan rambut yang berhighlight biru. Ia tampak mengernyit memandang Celiann dan Ann.

“Tyra Acklesenn?” tanya Celiann skepstis.

“Ya?” gadis itu masih keheranan.

“Hai, kenalkan, aku Celiann Amherst,” Celiann menjabat tangan Tyra. “Dan dia—”

“Ann, bukan?” Tyra menunjuk Ann sementara satu tangannya masih menjabat tangan Celiann. “Ann yang tinggal di lantai empat? Yang juga pengendali api itu?”

“Yup,” jawab Ann pendek. Ia baru ingat bahwa gadis di hadapannya ini juga merupakan pengendali api.

Tyra menyudahi acara jabat tangan dengannya dan Celiann. “Ada yang salah?”

Well, sebenarnya kami ingin bertanya sedikit tentang salah satu kerabatmu—aku tidak tahu orang ini kerabat dekatmu atau bukan...” ucap Celiann menggantung. “Kau tahu Siegfried Acklesenn?”

Tyra makin mengernyit. “Aku tidak pernah bertemu dengannya berhubung dia sudah lama sekali meninggal. Namun namanya begitu diagung-agungkan di keluargaku.”

“Kau tahu beberapa hal lagi tentangnya?” Celiann masih berhati-hati dalam bertanya. “Misalnya...dimana ia dimakamkan?”

Alis Tyra kini bertaut.

“Masuklah.”

Tyra membuka pintu lebih lebar sehingga Celiann dan Ann dapat masuk ke dalam kamar Tyra. Kamar itu sepi. Tampaknya penghuni lainnya sedang pergi keluar dan tingggal Tyra yang ada di sana. Tyra menyeret dua kursi untuk dua tamunya duduki sebelum ia menyeret satu kursi lagi untuk didudukinya.

“Oke, mengapa kalian menanyakan makamnya?” tanya Tyra menyelidik. “Kalian mau mengincar Pedang Api Abadi?”

Celiann memandangi Ann sebelum ia memalingkan mukanya kepada Tyra dan berkata, “Begitulah.”

Well, well,” gumam Tyra. “Banyak sekali orang yang mengincar pedang itu untuk keuntungan mereka sendiri. Yeah, tentu saja; nilai sejarah pedang itu, kan, tinggi sekali. Jadi...?”

“Tidak, tidak, tidak,” Celiann cepat-cepat membantah karena tahu apa yang diperkirakan oleh Tyra. “Sungguh, kami tidak bermaksud untuk mencari keuntungan dengan pedang tersebut. Alasan kami adalah hujan ini.”

Tyra menolehkan kepalanya kepada jendela yang ditunjuk oleh Celiann. Ia dapat melihat butir-butir air yang membasahi kaca yang berembun.

“Ah. Hujan yang membuat para pengendali api menjadi pecundang di mata pengendali lainnya.”

Ann dan Celiann agak mengernyit mendengar pemilihan kata yang digunakan kakak kelas mereka itu.

“Hujan ini dinamakan Hujan Kenelzh dan pernah berlangsung 700 tahun yang lalu. Dan anggota keluargamu, Siegfried, berhasil menghentikan hujan ini dengan Pedang Api Abadinya. Dan...uh, kami berpikir, mungkin dengan pedang tersebut, kami dapat menghentikan hujan ini,” jelas Celiann.

“Jika hujan ini terus dibiarkan, kemungkinan besar banjir akan melanda bumi dan...kau tahu kelanjutannya...” sambung Ann.

Tyra terkesiap. “Wow,” komentarnya. “Aku tak bisa membayangkan jika New York kotaku tercinta itu terhempas banjir.”

“Err, maaf. Bukankah kau berasal dari Irlandia?” tanya Celiann.

“Aku memang orang Irlandia, tapi aku lahir dan besar di NY,” jawab Tyra. “Itulah mengapa aku tidak memiliki aksen Gaelik.”

Celiann dan Ann saling bertatapan, berpikir bahwa mungkin kehidupan kota metropolitan itu yang membuatnya berani untuk memberikan highlight biru kepada rambutnya. Untung tak ada peraturan sekolah tentang cat rambut.

Well, oke. Jika itu mau kalian, aku akan beritahu dimana makam Siegfried Acklesenn sebenarnya.”

Celiann dan Ann membelalakkan mata.

“Kau tahu makamnya?” tanya Celiann.

“Sebenarnya ini hanya rahasiaku dan kakak sepupuku, berhubung kami tahu betapa agungnya Siegfried dan pedangnya tersebut,” ucap Tyra. “Makamnya ada di belakang mansion keluarga Acklesenn. Aku dan kakak sepupuku sempat menemukannya, namun kami tak berani macam-macam.”

“Maaf, tapi dimanakah mansion Acklesenn berada?” tanya Ann.

Tyra menautkan alis.

“Tentu saja ada di kampung halaman kami.”

***

“IRLANDIA?!” Tiffany melonjak kaget.

“Ya,” jawab Celiann. “Aku dan Ann menemui Tyra, kakak kelas yang juga bermarga Acklesenn, dan rupanya ia tahu keberadaan makam Siegfried. Ia bilang makamnya ada di mansion milik keluarga Acklesenn di daerah Westmeath, dekat Lough Lene.”

Tiffany termengu tak percaya, sementara wajah Renee malah terlihat cerah.

“Keren! Aku jadi tak sabar untuk esok pagi!” soraknya. “Tiff, kau sudah siapkan softwarenya, kan?”

Untuk kesekian kalinya, Tiffany mendesah. “Ya.”

“Bagus,” Renee tersenyum lebar. “Aku juga sudah siapkan makanannya. Steph?”

Stephen yang duduk di tempatnya mengacungkan satu pak kartu poker tinggi-tinggi, membuat senyum Renee makin lebar.

“Oke. Kurasa kita bisa memulai rencananya sekarang,” gumam Renee. “Ayo, Steph, Tiff.”

Maka ketiga orang itu berjalan keluar dari kelas, melangkahkan kaki mereka menuju ruang pengamanan, dimana pusat kendali keamanan Deordical berpusat di sana. Sebelum masuk ke dalam sana, mereka sempat mengendap di balik tembok, memastikan bahwasannya tak ada satu orang pun yang sedang lewat.

“Ayo, Stephen,” ucap Renee yang kemudian disambut dengan anggukan Stephen. Segera mereka mengambil langkah-langkah besar yang cepat, meninggalkan Tiffany sendiri, dan masuk ke dalam ruang pengamanan yang terbuka lebar.

“Hei, Mr. Sheldon, Mr. Nick!” seru Renee kencang kepada dua pria yang sedang menatap layar-layar dari kamera CCTV dengan malas. “Lihat apa yang kami punya—donat dan kartu poker!”

Seketika juga, wajah kedua pria itu menjadi cerah. Segera mereka berempat duduk mengelilingi sebuah meja yang ada di pojok ruangan dan bermain kartu sembari mengemil donat. Namun sesungguhnya, Renee dan Stephen tak pernah menyentuh, apalagi memakan donat-donat tersebut.

Karena sesungguhnya donat itu mengandung obat tidur yang kemudian merobohkan Sheldon Hemingway serta Nick Thomas, dua penjaga sekolah yang kerjanya tak pernah becus itu.

Dengan buru-buru, Renee dan Stephen menyeret kedua pria itu keluar dari ruangannya—bahaya jika mereka dibiarkan di ruangan ini, kemudian memberikan tanda pada Tiffany. Tiffany melangkah masuk ke dalam ruang pengaman, dan memasukkan CD ke dalam sebuah CPU. CD itu merupakan CD untuk menjebol sistem keamanan Deordical agar esok saat pagi menjelang, kamera CCTV mati sejenak sehingga tak ada yang dapat mengetahui kepergian mereka. Selain itu, ada juga program untuk menjebol sistem shield metal agar alat itu tidak dapat mendeteksi keberadaan mereka. Semua program ini dibuatnya sendiri, dengan bantuan Austin dan Elsenn yang cukup pandai dalam elektronika.

Jemarinya yang lentik terus menari-nari di atas keyboard yang ada pada layar touchscreen komputer tersebut. Tangannya juga kadang mengganti dari satu jendela ke jendela lain—

“Tiffany?”

Tiffany melonjak kaget, kemudian berbalik sambil menjentikkan jarinya sehingga keluar api di ujung telunjuknya—jaga-jaga untuk melindungi diri. Ia makin shock begitu melihat ternyata orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu adalah gurunya sendiri.

“Mr. Joash?” tanyanya gugup. “Apa yang anda lakukan di sini?”

“Harusnya aku yang tanya begitu,” ucap Mr. Joash skeptis. “Apa yang sedang kau kerjakan?”

“T-ti-tidak ada.”

“...oh,” gumam Mr. Joash mengerti. “Kalau begitu, boleh permisi sebentar dari komputer itu?”

Dalam hati, Tiffany merutuk sifat Mr. Joash yang begitu teliti dan waspada. Pelan-pelan, ia mencoba mengulurkan jarinya ke layar komputer untuk menutup program yang sedang dipakainya. Namun Mr. Joash dapat mendorongnya minggir dan ia berhasil mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya.

“Aha,” pekiknya. “Salah satu muridku baru saja mencoba meretas jaringan keamanan Deordical Academy.”

“M-ma-maafkan aku, Mr. Joash! Tapi aku berani sumpah aku juga tidak ingin melakukannya!” cepat-cepat Tiffany membela diri. “Renee yang merencanakan semuanya—aku terdesak!!”

Mr. Joash berbalik dengan alis yang bertaut. “Rencana apa?”

Tiffany terdiam. Bibir bawahnya sudah tergigit.

“Tiffany, aku takkan melaporkanmu ke sidang jika kau berkata jujur.”

Tiffany masih terdiam, sampai akhirnya ia menghela napas. “Aku mendengar pembicaraanmu dengan guru-guru tempo hari yang lalu tentang Hujan Kenelzh. Aku memutuskan untuk menelitinya dan akhirnya hal ini bocor ke tangan para pengendali api di kelasku. Dan Renee—kau tahulah—merencanakan untuk kabur bersama besok pagi dengan mengatakan bahwa kami pulang ke rumah dan mencari makan Siegfried Acklesenn...”

Mr. Joash tampak menyerap perkataan Tiffany. “Hmp. Andai aku bisa menarik kata-kataku kembali dan melaporkan rencana ini ke sidang.”

Mata Tiffany membelalak.

“Oh, Mr. Joash! Kumohon—”

“Tapi,” ucap laki-laki itu lagi. “Setiap ada awal, selalu ada akhir. Dan jika sesuatu tak bisa berakhir, maka harus ada sesuatu yang mengakhirinya. Kurasa...kalian bisa menghentikan hujan ini.”

Kini Tiffany menatap Mr. Joash yang tersenyum. Awalnya, ia sempat tak percaya.

“Kau tidak akan mengadukan kami ke sidang?”

“Tentu tidak. Aku memang tidak bisa ikut, tapi aku bisa membantu kalian dari sini.”

“Bagaimana caranya?”

Mr. Joash membisu sejenak. “Akan kupikirkan nanti. Yang pasti, aku akan membantu kalian. Kapan kalian berangkat?”

“Esok subuh.”

“Hm, cepat juga,” gumam Mr. Joash.

Well, sebenarnya kami sudah merencanakan dari beberapa hari yang lalu. Tapi kau baru menangkapku sekarang.”

Mr. Joash terkekeh geli, kemudian mengacak-acak rambut muridnya tersebut. “Berhati-hatilah. Pulanglah dengan selamat.”

Tiffany tersenyum.

“Sudah selesai dengan programmu?”

Tiffany membalikkan badan. “Sebentar lagi.” Ia mulai duduk dan berkutat dengan layar komputer lagi.

“Program apa yang kau gunakan untuk meretas jaringan sekolah yang super canggih ini?”

“Mmm, aku hanya mengatur agar kamera CCTV mati saat kami pergi esok, dan juga mengatur agar kalung para anjing penjaga menggelitik mereka sehingga mereka pergi kalang kabut dan penjaga pintu harus sibuk mengejar anjing itu dan kami punya peluang untuk keluar. Dan—oh. Aku juga mengatur agar shield metal kami agar pihak sekolah tidak bisa mendeteksi keberadaan kami.”

Whoa, keren. Ternyata kau sehebat itu—”

“Elsenn Hantway dan Austin Lincoln membantuku membuat program ini,” sela Tiffany.

“Tetap saja hebat,” lanjut Mr. Joash. “Tapi yang mau kutanyakan; bukankah shield metal selalu diminta jika siswa akan pulang?”

“Kami sudah mengumpulkan shield metal bekas—yang rupanya banyak disimpan di gudang—dan berencana akan memberikannya kepada Miles—ketua kelas kami. Oh, seluruh anak kelas kami memang sudah tahu rencana kami.”

“Oke,” Mr. Joash mengangguk. “Tapi bukankah jika ada siswa yang ingin pulang, orangtua harus menemui pihak sekolah?”

Tiffany membelalak, kemudian menghentakkan kakinya. “Sial! Kami belum memikirkannya.”

“Nah, mungkin bantuanku bisa diharapkan di sini.” Tiffany menoleh kepada Mr. Joash. “Aku bisa mengambil shield metal kalian dan berkata pada peninggi sekolah bahwa aku sudah menemui orangtua murid kalian.”

“Itu ide bagus,” pekik Tiffany. Ia bangkit dan merunduk, mengeluarkan CD dari CPU. “Trims, Mr. Joash.”

Setelah mendapat anggukan dari Mr. Joash, Tiffany melengos pergi. Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat berucap, “Oh, ya. Kurasa Renee dan Stephen menyeret Mr. Sheldon dan Mr. Nick yang sukses tertidur ke gudang.”

***

Secercah cahaya mentari berusaha menelusup melalui celah-celah awan kelabu. Meski masih kalah dengan awan-awan itu, namun cahayanya masih dapat menyinari lembah hijau, dimana Deordical berdiri dengan megah.

Dan tak jauh dari bangunan itu, tampak delapan orang bertudung, dengan ransel di punggung mereka, berjalan mengarungi lembah tersebut, menjauh dari Deordical dan mencoba mencapai jalan raya yang tak jauh dari sana.

“Tunggu.” Tiffany yang memimpin perjalanan itu berhenti dan berbalik kepada kawan-kawannya yang ikut berhenti. “Sebeluum kita melanjutkan, aku sudah membuatkan nama samaran untuk kita agar tak ada yang mengetahui keberadaan kita yang sebenarnya.”

“Whoa. Kau ini rupanya penuh persiapan juga,” gumam Zach.

“Kupikir kau tidak setuju dengan rencana ini,” Renee tersenyum menyindir, membuat Tiffany memutar bola matanya.

“Celiann Amherst,” Tiffany menunjuk Celiann dengan telunjuknya. “Sekarang kau adalah Carina Walton.”

Celiann tersenyum, tampak suka dengan nama itu.

“Ann,” Tiffany melempar pandangan kepada Ann. “Kau adalah Rachel Charlton.”

“Hampir mirip dengan namamu, Cel—uhm, Carina,” Ann menatap Celiann geli.

“Zach Samlerr,” Tiffany menunjuk Zach. “Riley Lachance.”

Zach menyeringai lebar.

“Ruthven Ecclair—Leith Brodbeck.”

Ruthven tersenyum tipis.

“Renee Hainsworth—Halley Holt.”

“Keren!” decak Renee kagum dengan wajah yang gembira. “Seperti nama komet!”

“Stephen Wickliff—Christopher Clifford.”

Stephen mendengus pelan. Tampaknya, ia kurang senang dengan nama tersebut. Namun Tiffany tak menggubrisnya.

“Dan Vince...” Tiffany menatap Vincent. “Nicholas Anholts. Tapi mungkin kita bisa memanggilmu Nick.”

Vincent mengangguk. “Oke.”

“Gunakan nama-nama itu saat perjalan kita—aku tak terima protes soal nama itu. Aku sudah membuatnya susah payah, jadi lebih baik kalian hargai,” ucap Tiffany arogan. “Ayo jalan. Kita tidak punya waktu yang cukup lama.”

“Hei, tunggu! Bagaimana denganmu?” seruan Vincent membuat Tiffany menghentikan langkahnya. “Siapa nammu?”

Tiffany terdiam sebentar, sampai akirnya ia berbalik kepada teman-temannya dan tersenyum.

“Caitlyn. Caitlyn Stenberg.”

Senin, 26 April 2010

Chapter 1>>>Lingkungan Baru, Teman Baru dan Kehidupan Baru

“ Adaaaa! Ayo berangkaaaat!” Dhynella Neilenn berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar sahabatnya, Adelaide Holywell, dengan gusar. Sudah ke—entah keberapa—puluh kali Ia berteriak kepada Ada untuk mengajaknya cepat berangkat. Dan sudah keberapa puluh kali juga, Ada hanya menjawab dengan: “ Yoo, sebentar lagiii.”

“ Berapa lama kata ‘sebentar lagi’-mu itu, heh?” Dhynella bertanya dengan sinis.

“ Entahlah.”

Akhirnya Dhynella memutuskan untuk duduk diam di ruang duduk keluarga Holywell. Entah apa yang sedang ia lakukan dengan I-Phone 3Gs terbarunya sehingga bisa membuatnya tenang. Oke, Well, harus kutekankan, Dhynela Neilenn, anak bungsu dari keluarga Neilenn, adalah orang yang hampir tidak pernah diam. Selalu rusuh dan kesana-kemari seperti bola bekel. Ya, begitu pun Ada. Dia tidak jauh berbeda dengan Dhyn.

Hari ini mereka akan berangkat ke Deordical Academy, sekolah berasrama terbaik untuk dekade ini. Yang jelas mereka sangat senang dan tidak sabar. Dan beginilah jadinya jika kedua perasaan itu berlebihan: “ Sudah lengkap semuanya? Hei, kau sudah membawa perlengkapan tidur? Sebaiknya perlengkapan tidur dan mandi disimpan di tas yang berbeda, akan lebih mudah. Whooa, dimana charger laptopku? GGDDUBBRAAK, hati-hati dong, Sarah. Aku sedang terburu-buru.” dan sebagainya...

“ Beres.” Ada berjalan menuju ruang duduk, menghampiri Dhyn dengan kedua koper di kedua tangannya.

“ Oh, akhirnya. Kau hanya bawa koper dua?” Dhyn bertanya hampir dengan nada tak percaya. Ada mengangguk. Tidak ada yang salah dengan kedua kopernya, pikir Ada. “ Memangnya kau bawa koper berapa?” tanya Ada balik.

Dhynella menelengkan kepalanya kearah pintu depan. Disana berjejer tiga buah koper besar dan dua buah travel bag ukuran sedang. Ada melongo dengan bola mata membesar sebesar umm—bola basket? Tapi, Ada cepat-cepat menutup mulutnya. Ia sudah tau tabiat teman sejak kecilnya itu.

“ Dimana Dillon?” tanya Ada. Dillon? Siapa Dillon? Oke, sebaiknya aku menceritakannya dulu. Sepuluh tahun yang lalu, mereka bertiga sama-sama bersekolah di taman kanak-kanak yang sama. Mereka mulai bersahabat. Dan, saat keluarga Humphrey—keluarga Dillon—pindah ke sebelah rumah keluarga Holywell, mereka bertiga jadi semakin sering bermain bersama. Itu berlangsung sampai sekarang. Hingga akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk bersekolah di sekolah yang sama (lagi).

“ Kau menanyakan hal yang sudah kau tahu jawabannya.” jawab Dhyn sinis.

“ Ngaret maksudmu?”

“ Kita sudah berteman sejak sepuluh tahun yang lalu, dude. Dan kurasa kau sudah cukup mengenal dan mengetahui kalau Dillon adalah tukang ngaret.”

Oke, Ada menyerah. Ia duduk disamping Dhyn dan mencoba mengintip apa yang sedang dilakukannya dengan I-Phone terbarunya.

“ Asal kau tahu, Deordical Academy melarang kita membawa alat komunikasi dan elektronik ke dalam lingkup sekolah. Saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada I-Phone kesayanganmu itu, Dhyn.” goda Ada dengan berlebihan.

Dhyn tidak menanggapi godaan Ada barusan.

“ Halooo. Ya ampun—kalian menungguku? Sudah lama? Maaf, tadi aku sudah mencoba untuk...” Dillon masuk tanpa permisi. Dan, itu memang sudah menjadi kebiasaannya dari dulu.

“ Oke, oke. Aku mengerti. Kau pasti akan bilang : ‘Maaf, tadi aku sudah mengcoba untuk sangat cepat dan membuat kalian tidak perlu menunggu’. Kami sudah tau.” sergah Ada.

“ Baiklah. Kali ini aku benar-benar minta maaf. Aku sangat berharap untuk tidak mengacaukan kebahagianan kita di hari pertama di Deordical Academy. Oke?” ucap Dillon.

“ Oke, ayo kita berangkat sekarang juga.” Dhyn bangkit dengan gesit disusul Ada dan Dillon.

“ Sebaiknya kita berpamitan dulu dengan Mrs. Holywell.” ucap Dillon.

“ Mom, kami akan berangkat.” sahut Ada. Mrs. Holywell berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri mereka bertiga. “ Apa aku tidak perlu ikut, untuk mendampingi kalian?” tanyanya sedikit khawatir.

“ Tidak usah, Mom. Kami bisa sendiri.”

* * *

Stasiun sangat ramai hari itu. Dhyn, Dillon dan Ada mencoba untuk saling berdekatan untuk menghindari adanya salah satu dari mereka yang tersesat. Di papan keberangkatan tertulis: Deordical Academy jalur tujuh. Mereka bertiga pun mendorong trolley koper mereka menuju jalur tujuh.

Di jalur tujuh, terlihat kebanyakan dari mereka telah memakai seragam Deordical Academy. Mereka para senior. Sebagian dari mereka juga memakai tambahan jubah hitam dengan lencana keemasan yang berjejer. “ Mereka pasti para Dewan Senior.” ucap Ada. Kakaknya, yang sekarang berada di tingkat dua, menceritakan semua tentang Deordical Academy minggu lalu, termasuk tentang dewan senior yang agak sok berkuasa.

Mereka menghampiri Mrs. Turner. Sebelum berangkat, Mrs. Holywell memang berpesan agar mereka segera menemui Mrs. Turner saat sampai di stasiun. “ Dia adalah staff murid baru. Dia akan memberi kalian instruksi lebih lanjut setelah itu.” pesannya.

“ Mrs. Turner, kami siswa baru dari Brighton. Aku Dhynella Neilenn, ini Adelaide Holywell dan ini Dillon Humphrey. Senang bertemu denganmu.” Mereka bertiga menjabat tangan Mrs. Turner bergantian.

“ Halo. Aku Miranda Turner. Senang bertemu kalian juga. Oh, kalian silahkan berkumpul di barisan itu. Dan tunggu aku datang menghampiri kalian lagi untuk memberi intruksi selanjutnya.”

“ Terima kasih banyak, Mrs. Turner.” ucap Ada seraya tersenyum.

“ Sama-sama, Ms. Holywell.” balasnya.

Mereka bertiga berpisah dengan staff murid baru itu dan segera berjalan menuju kerumunan anak-anak tak berseragam—seperti mereka bertiga. Dillon duduk di bagian depan trolley kopernya. Begitu juga dengan Ada dan Dhynella.

“ Ada, kau lihat senior itu. Dia keren.” ucap Dhyn dengan mata berbinar-binar.

Ada menatap Dillon dan mereka memutar bola mata. “ Uh, oke, lebih keren mana dibanding cowok yang kau temui di bandara di China?” tanya Dillon. Dhyn tak menjawab. Matanya masih berbinar memandangi senior itu.

“ Harga kacang sedang melambung, Dillon.” ucap Ada sambil tertawa. Ha ha!

Dillon merengut. Ia mengambil bola kaki kesayangannya—yang selalu mengkilat sepanjang waktu—dan memainkannya di ujung kaki. “ Belum selesai memandangi senior itu?” Dillon mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Dhyn. “ Sadarlah, dia bahkan sudah tidak ada di tempatnya.” ucapnya lagi. Dhynella tak bergeming.

“ Sudahlah, Dillon. Lagipula, tidak ada urusannya denganmu, kan? Oh, aku tahu. Kau jealous kan?” goda Ada lagi.

“ Dalam mimpimu!” sahut Dillon dan Ia kembali memainkan bola kakinya.

“ Hei, bola yang keren. Itu keluaran terbaik dan termasuk limited edition. Hanya ada beberapa di Inggris. Wow, dimana kau mendapatkannya?” Seorang cowok—yang juga anak baru—menepuk pundak Dillon. Kelihatannya dia juga seorang football freak sama seperti Dillon.

“ Well, pamanku bekerja sebagai manager di pabrik pembuatan bola ini. Dan, Ia mamberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku yang kesepuluh.” jawab Dillon.

“ Cool.” Cowok itu masih memandangi bola di tangan Dillon. “ Oh, aku Stephen Wickliff. Senang bertemu denganmu.” ucapnya sambil menjulurkan tangan. Mereka berdua berjabat tangan.

“ Dillon Humphrey. Jadi menurutmu siapa yang akan menang di Liga Champion musim ini?” Dan pembicaraan pun terus berlanjut.

Dillon sudah mendapat teman baru, Dhynella masih asyik memperhatikan cowok-cowok senior sementara Ada masih duduk diam di trolley kopernya. Bosan, pikirnya. Ia mengeluarkan CD album Crush-nya David Archuleta dan hendak menyetelnya di CD Player.

“ Kau Archangel juga? Senangnya. Akhirnya ada juga yang memiliki pandangan sama denganku.” Seorang cewek anak baru menghampiri Ada dan berjongkok di sampingnya.

“ Oh, hehe, iya. CD ini jimatku.” Ada mengeluarkan CD dari Playernya dan memasukannya kembali ke tempat CD.

“ Jadi, siapa namamu?” tanya cewek itu.

“ Adelaide Holywell, dari Brighton. Kau?”

“ Tiffany Sherrine. London.”

Akhirnya, Ada menemukan teman baru juga.

* * *

Ada, Dhynella dan Dillon bergegas mencari tempat duduk untuk tiga orang—untuk mereka—saat Mrs. Turner kembali dan memberi intruksi untuk segera masuk ke dalam gerbong kereta untuk anak baru. Tak lama kemudian, Dillon berteriak dari ujung gerbong : “ Disini!” sambil melambaikan tangan ke arah kedua temannya. Ada dan Dhyn berusaha menerobos kerumunan orang untuk sampai ke ujung gerbong, tempat Dillon berada.

Tempat duduk di ujung lorong—yang ditemukan Dillon—adalah tempat duduk untuk empat orang. Terdiri dari dua banjar, masing-masing memuat dua orang, saling berhadapan dan sebuah meja di tengah-tengahnya. Dillon duduk di sebelah Dhynella. Sementara Ada duduk sendiri di pinggir, menghadap keluar jendela kaca kereta.

“ Apa tempat ini kosong?” tanya seorang cewek berambut sebahu dengan potongan bob. Dilihat dari baju yang ia kenakan, aku yakin dia juga seorang anak baru.

“ Ehm—yeah. Seperti kelihatannya.” jawab Dillon.

“ Boleh aku duduk di sini? Tempat lain sudah penuh.” ucap cewek itu lagi.

Mereka bertiga—Ada, Dhyn, serta Dillon—mengangkat kepala dan menoleh ke sekitar. Memang sudah penuh, pikir mereka. “ Silahkan. Kami tidak keberatan.” ucap Ada.

“Terima kasih.” ujar cewek itu sambil tersenyum.

Ia mencoba mengengkat travel bag-nya—yang bertuliskan SHERLINE NORTHCOTE—ketempat koper yang berada di atas kepala penumpang. Ia terlihat agak kesulitan—umm, atau benar-benar kesulitan? Travel bag-nya terlihat berat plus tingginya yang kurang memungkinkan untuk menaikan travel bag-nya ke tempat koper yang cukup tinggi. Oke, dia dinyatakan benar-benar kesulitan.

Ada mengisyaratkan Dillon untuk membantunya. “ Kau laki-laki.” desis Ada. Dillon baru saja akan membantu saat seseorang datang. “ Boleh aku bantu?” seorang cowok—juga anak baru—tinggi dan agak kurus, menawarkan diri untuk membantu. Ia tanpa kesulitan, berhasil menaikan travel bag cewek—yang mungkin bernama Sherline Northcote—tadi ke tempatnya secara rapi.

“ Terima kasih banyak. Aku Sherline Northcote.” ucap cewek tadi yang ternyata benar-benar bernama Sherline Northcote.

“ Aku Elsenn Hantway. Senang bertemu denganmu. Umm—dan akan sangat lebih menyenangkan lagi, jika kita bisa bertemu lagi dalam satu kelas.” ujar cowok kurus tadi sambil tersenyum. Mereka pun saling berjabat tangan.

* * *

Chapter 1: Rain

“Tiff?”

“...”

“Tiff?”

“...”

“TIFF!”

“DUH! Aku sudah bangun, Lena!” keluh Tiffany sambil mengerang. “Kau tak perlu menyiramku pakai airmu seperti itu!”

Allena mencibir.

“Kau tidak berkonsentrasi sejak pelajaran sejarah, kau tahu?”

Well, kenyataannya tidak begitu.”

WELL, kenyataannya begitu, Lady Tiffany Sherrine Yang Agung,” Allena memutarbalikkan perkataan teman sebangkunya itu. “Kau bengong pada pelajaran sejarah, menguap pada pelajaran fisika, dan kau tidur di pelajaran trigonometri. Dan Ansell sukses mengambil fotomu saat tidur—ia bilang foto itu akan dimasukkan ke internet.”

Mata Tiffany membelalak, sebelum akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya dan berteriak.

“ANSELL MCFADDEN, HAPUS FOTO ITU ATAU HIDUPMU TAKKAN PERNAH TENANG!!”

***

Menjadi seorang pengendali api umumnya akan dianggap mulia, mengingat bahwa pada masa kini, sudah tidak terlalu banyak penerus dari pengendali yang konon merupakan raja dari semua elemen itu.

Tapi hal itu tidak berlaku untuk seorang Tiffany Sherrine.

Ia hanyalah seorang gadis yang moody dan tidak terlalu populer di Deordical. Tidak seperti Celiann Amherst dan Ruthven Ecclair yang atlet lari, atau Ann Mightray yang merupakan salah satu petinggi di kelompok baris berbaris. Juga Renee Hainsworth yang ditakuti setiap kali ia melangkah di koridor, Zach Samlerr yang merupakan kalkulator berjalan, Vincent Nightray yang konon akan menjadi seniman yang mengalahkan pencapaian Picasso di masa mendatang, ataupun Stephen Wickliff yang...yang...yah, minimal dia punya satu penggemar; Adelaide Holywell, si gadis cantik pengendali air.

Dan Tiff? Ia hidup normal tanpa bakat yang gemilang. Oke, mungkin menulis atau fotografi. Tapi Aylie Carnbell, Ruu Ashford, serta Ada sepertinya lebih berbakat dalam bidang itu.

Jadi inilah ia; seorang Tiffany Sherine melangkah di koridor menuju lokernya, mengambil keperluan yang ia butuhkan untuk mengikuti ilmu pertahanan. Setelahnya, ia kembali melangkah ke kelas, menemukan Ann, Ruthven, dan Vincent di dalam sana, serta buku Renee dan Stephen di atas meja mereka masing-masing.

“Siang,” gumamnya pelan sebelum menghempaskan dirinya di kursinya.

“Hei, Tiff. Aku berhasil membuat gambar baru,” Vincent mencolek bahunya dari belakang, membuat Tiffany menoleh—menatapinya dengan tatapan malas. Tiffany meraih gambar ombak yang berada di genggaman Vincent dan menatapinya. “Menurutmu bagaimana?”

“Mmm. Bagus.”

Alis Vincent bertaut. “Kau serius tidak?”

“Kau pikir aku berbohong?”

Well, kau tampak tidak semangat—faktor yang membuatmu terlihat seperti tidak serius.”

Tiffany menguap sembari mengembalikan gambar Vincent kepada tuannya. “Begitulah. Aku mengantuk. Dan moodku sedang berantakan.” Dalam kepalanya, menggema suara Allena yang mengatakan bahwa Ansell berhasil mendapatkan fotonya saat ia tidur. Tiffany mendesis sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya di meja.

Brak!

Suara itu tak pelak langsung membuat Tiffany mengadahkan kepalanya, melirik ke samping kiri dengan tatapan gusar. Stephen sedang berdiri di antara kursi miliknya dan kursi milik Tiff—kebetulan kursi mereka bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh jalan kecil. Pemuda itu tampak tersenyum lebar ke arah pintu.

“BISAKAH kau berjalan lebih TENANG?!” tukas Tiffany gusar, meski Stephen tampak tak menggubrisnya dan masih tersenyum lebar kepada Dillon yang berdiri di ambang pintu. Seraya itu pula, bel berbunyi.

“Awas kau, Steph!” teriak Dillon dari pintu dengan nada setengah tertawa—ya, kelihatan jelas sekali bahwa dua sahabat itu baru saja bercengkrama. Setelah Dillon menghilang dari ambang pintu, Stephen memandang Tiffany yang masih tampak kesal kepadanya.

“Dasar tukang sewot,” cibirnya sebelum ia duduk. Tiffany menggeram menahan amarahnya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidak menghiraukan Stephen—serta senyum nakal yang mengembang di wajah Ann yang duduk di depan Stephen—dan kembali berusaha untuk pergi ke alam mimpi.

“Siang, anak-anak,” suara Mr. Joash kembali membuat Tiff mengadahkan kepalanya—dan juga kembali menggerutu kesal karena usahanya gagal lagi. Mr. Joash berdiri di belakang meja guru, bersamaan dengan koor anak-anak yang membalas sapaan itu. “Kurasa kita bisa langsung memulai pelajaran hari ini, bukan begitu?”

“Terserah kau saja,” Renee memutar bola matanya.

Well then, kalau begitu kita akan belajar bagaimana membuat badai api,” Mr. Joash menyalakan komputernya, dan seluruh murid dapat melihat presentasi yang telah dibuat oleh Mr. Joash untuk pelajaran hari ini.

“Badai api, salah satu ilmu yang cukup dahsyat bagi pengendali api—setidaknya jika dibandingkan dengan bola api,” ucap Mr. Joash kemudian menggeser ke slide berikutnya, dimana di slide itu ditunjukkan sebuah animasi yang memperagakan prinsip kerja badai api.

“Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana, namun butuh energi yang cukup besar juga. Kita tinggal mengerahkan semua energi api yang ada dalam diri kita sampai membakar diri kita, kemudian meneriakkan mantera untuk ‘menerbangkan’ api itu ke lawan kita.” Mr. Joash menggeser ke slide berikutnya, dimana tertoreh sebuah mantera yang dibutuhkan untuk menggunakan jurus itu.

“Khusus untuk ilmu ini, kita memakai mantra—hei, takkan sekompleks dengan mantera-mantera kelas Mystical, kok. Manteranya adalah Sthram Preirofa. Sebenarnya, kita butuh meneriakkan mantera itu dengan cukup keras juga, berhubung teriakkan itu juga memberikan energi yang dibutuhkan untuk menghempaskan badai tersebut,” Mr. Joash menyudahi presentasi itu. “Kurasa presentasi ini singkat saja, yang penting kalian sudah punya gambaran tentang ilmu ini. Lebih baik sekarang kita praktekkan langsung. Ayo.”

Dengan aba-aba itu, seluruh anak-anak mengikuti Mr. Joash keluar dari kelas menuju atap sekolah. Deordical punya dua atap sekolah, tapi mereka tahu pasti satu atap lagi digunakan oleh para pengendali angin.

“Zach, kurasa kau dapat giliran pertama,” ucap Mr. Joash kepada anak-anak didiknya yang duduk bersandar pada dinding bata pendek yang membatasi pinggiran atap. Zach bangkit kemudian berdiri mendekati gurunya. Ia berdiri menyampingi kawan-kawannya, menghadap ke pintu atap—supaya badainya tidak terkena dan melukai anak-anak lain.

“Sekarang, pusatkan pikiranmu. Buat api menyelimuti tubuhmu, kemudian hempaskan api tersebut ke arah pintu. Anggaplah pintu itu adalah musuhmu.”

Zach mengangguk, sebelum akhirnya ia menatap pintu besi tersebut. Ia memusatkan fokusnya, kemudian dapat dilihat oleh anak-anak lain bahwa api sudah mulai membakar tubuh Zach.

Sthram Preirofa!!”

Dengan teriakan tersebut, api dari tubuh Zach menghempas pintu tersebut. Ya, ia berhasil melakukan jurus itu. Ia tersenyum lebar, bangga atas pencapaiannya.

...harusnya begitu.

Apa yang terjadi adalah kini Celiann berdiri di samping pintu dengan mata yang membelalak kaget. Ia baru saja tiba dari toilet dan ia bisa saja terkena api Zach jika dia tidak melindungi dirinya dengan pintu yang sedang dibukanya.

Tatapan Celiann yang kaget itu lama-lama berubah jadi tatapan marah. Kini, Zach yang membelalak begitu melihat amarah Celiann muncul dengan wujud api yang membakar tubuhnya.

Sthram Preirofa!!”

Zach dan Mr. Joash segera menghindar sebelum api Celiann menghanguskan tubuh mereka.

***

Usaha Tiffany untuk tidur masih juga belum berhasil sampai pelajaran terakhir untuk serentetan pendidikan Defense hari ini. Kini, ia sedang menatap pertarungan pedang antara Renee dan Stephen dalam pelajaran ilmu pedang. Keduanya tampak sama-sama terbakar oleh api amarah, berhubung mereka memang selalu bertengkar. Namun begitu, sebenarnya mereka akrab sekali seperti saudara.

“Langitnya menyeramkan.”

Tiffany menoleh. Aylie dan Helen tampak sedang sibuk memperbincangkan langit di atas sana. Karena penasaran, Tiffany pun mengadahkan kepalanya. Seperti apa kata Aylie, langit di atas begitu menyeramkan. Warnanya hitam kelam, dan berkali-kali terlihat cahaya kilat yang diikuti suara gemuruh petir.

“Awannya tebal sekali,” Leslie pun ikut terlibat dalam konversasi tersebut. “Tampaknya hujan akan turun kali ini. Yeah, kau tahu, kan, dari kemarin, cuaca memang sudah mendung, namun hujan juga tak kunjung turun.”

“Tapi yang kemarin, awannya tidak setebal ini dan langit juga tak segelap ini,” kilah Helen cepat.

Tiffany tampak tak tertarik dengan pembicaraan ketiga sahabatnya itu. Ia memutuskan untuk mencoba usahanya tidur kembali. Namun tak lama setelah membenamkan kepalanya ke kedua pahanya yang terlipat, apa yang dibicarakan Helen menjadi kenyataan; tetes air hujan pertama jatuh ke kepala Tiffany sebelum akhirnya rintik-rintik hujan mulai menderas.

“Hei, kita sudahi pelajaran kali ini—ayo, segera berteduh semuanya!” komando Mr. O’Shea selaku guru ilmu pedang. Keempat puluh anak Estinese—setelah pelajaran pengendalian empat elemen, mereka kembali bergabung menjadi satu—segera masuk ke dalam bangunan utama sekolah, kemudian membereskan barang-barang mereka yang ada di loker sebelum akhirnya kembali ke asrama mereka masing-masing.

***

“Pemirsa sekalian, seperti yang kita ketahui, sudah lima hari lamanya hujan turun membasahi kawasan kita. Namun yang lebih mengejutkannya lagi, semua daerah di muka bumi juga mengalami hujan yang tak kalah derasnya. Belum ada ilmuwan yang dapat menjelaskan apa-apa tentang hujan ini. Curah hujan yang sekarang turun memang masih menunjukkan angka 40 milimeter, yang berarti masih masuk ke golongan hujan sedang. Namun, jika hujan ini terus berlanjut, bahkan curah hujan meningkat, dikhawatirkan dampak yang parah akan melanda.”

Beberapa siswa tampak serius memandangi layar televisi yang ada di kantin sambil menggeluti makan siang mereka. Tiffany—yang baru saja menaruh nampan makananannya—tampak kurang tertarik dengan berita tersebut, namun sebenarnya telinganya menyerap informasi yang diberitakan.

Ia melangkah keluar menuju lokernya, mengambil barang-barang yang diperlukan untuk rentetan pelajaran Defense hari ini. Sebenarnya, ia agak malas mengikuti pelajaran Defense hari ini, terutama pelajaran empat elemen. Sejak hujan turun, ia dan anak-anak pengendali api lainnya tidak bisa menggunakan pengendalian api mereka. Api yang mereka kendalikan selalu padam oleh tetesan air hujan. Padahal, selama ini, mereka masih bisa menggunakan pengendalian mereka meskipun hujan turun. Ya, api pengendali memang tidak bisa dipadamkan oleh air biasa.

Tiffany mengunci lokernya dan berjalan kembali menuju ruang kelas pengendalian elemen. Namun begitu telinganya mendengar sesuatu saat ia melintas di depan ruang rapat para guru, ia tak bisa tahan untuk tidak menempelkan telinganya di pintu.

“Akuilah aku memang benar; hujan ini bukan hujan biasa!” Tiffany dapat mendengar suara Mr. Joash yang cukup keras dari dalam sana.

“Joash, kau berkata layaknya kau tak pernah melihat hujan.”

“Anak-anak didikku tak pernah ada yang berhasil menggunakan ilmu pengendalian api mereka setelah hujan ini turun!” sengit Mr. Joash. “Kalian tahu api pengendali tidak mudah dipadamkan, bahkan oleh pengendali air sekalipun—hanya pengendali air yang hebat yang dapat memadamkan api para pengendali api.”

Untuk sejenak, kesunyian menghampiri ruangan tersebut.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita bahkan tidak tahu siapa dalang di balik semua ini.”

Well, sebenarnya aku punya analisis, namun aku sendiri masih meragukan kebenarannya,” ucap Mr. Joash. “Kalian tahu Fionn Lansford?”

Tiffany menahan napas mendengar nama tersebut. Profesor Doktor Fionn Switzerland Lansford, salah satu profesor terjenius yang pernah ada dan juga salah satu kriminal terjenius yang pernah ada. Ia pernah ditahan karena usahanya menguasai dunia dengan alat-alat temuannya, namun kini ia telah bebas.

“Aku baru saja mengetahui bahwasannya dia adalah salah satu pengendali air yang hebat.”

Kini, Tiffany terkesiap.

“Darimana kau tahu akan hal itu?”

“Aku punya teman pengendali air yang mengenal orang itu,” ucap Mr. Joash. “Aku curiga bahwa obsesinya menjadi diktator itu belum juga terhapus dari otaknya dan ia meluncurkan cara lain seperti mengulangi apa yang terjadi 700 tahun yang lalu.”

Alis Tiffany bertaut.

“Joash, kau bahkan belum lahir pada tahun itu.”

“Namun aku cukup pandai untuk mengetahui hal itu karena aku tahu di jaman ini sudah ada buku dan internet,” sepertinya Mr. Joash menggunakan nada yang menyindir. “700 tahun yang lalu, terjadi Hujan Kenelzh yang mirip—bahkan mungkin sama—seperti apa yang terjadi sekarang.”

“Dan bagaimana caranya hujan itu berhenti? Hujan itu tak mungkin bertahan sampai 700 tahun lamanya, kan?”

Well, itu...”

Tiffany memundurkan kepalanya dan melangkah mundur. Ia memang penasaran akan apa yang akan dikatakan Mr. Joash berikutnya, namun hasratnya untuk mencari informasi sendiri soal Hujan Kenelzh itu lebih besar, sehingga ia mulai berlari. Ia sempat berpikir untuk pergi ke ruang komputer, namun ia tahu ruangan itu tidak boleh dipakai kecuali saat pelajaran yang bersangkutan—dikhawatirkan anak-anak akan menggunakan internet untuk alasan yang tidak benar. Jadi ia berbelok menuju perpustakaan.

Sesampainya di sana, ia membuka pintu dan langsung disambut oleh hembusan pendingin ruangan yang membuatnya menggigil sejenak—perpustakaan memang dikenal sebagai ruangan yang paling dingin. Ia menempelkan kartu perpustakaannya di tempat yang telah disediakan, kemudian mendekati komputer katalog. Ia mengetikkan Hujan Kenelzh, dan monitor hanya menunjukkan satu judul buku yang menjelaskan tentang hal ini.

Sejarah Milenium Pertama, Seri Ketiga: Tahun 1300-1400, oleh Ernesto Fonseca.
Rak C3 baris 4.

Maka Tiffany berjalan menuju rak yang ditunjuk. Ia menelusuri koridor antara rak C3 dan C4, menelengkan kepala kepada rak C3, khususnya kepada baris keempat rak tersebut. Menemukan judul yang ia cari, ia mengambil buku tersebut, kemudian duduk di salah satu tempat yang kosong dan mulai membuka buku itu, mencari halaman yang akhirnya ia temuka beberapa saat kemudian.

Hujan Kenelzh
Hujan Kenelzh merupakan salah satu fenomena terburuk yang pernah terjadi di muka bumi ini. Terjadi pada pagi hari 13 April 1321, hujan turun secara serempak di seluruh muka bumi. Para penduduk awalnya menganggap bahwa hujan ini adalah hujan biasa. Namun begitu menyadari bahwa sudah satu minggu hujan ini tidak berhenti-henti juga, masyarakat menyadari bahwa ada yang aneh dari hujan yang turun ini.

Meskipun curah hujan hanya berkisar antara 20 sampai 50 milimeter, namun karena hujan terus berlanjut tanpa henti sampai hampir dua minggu, banjir pun mulai melanda dan melalap habis pulau-pulau di bagian Oseania dan Karibia, serta hampir menenggelamkan kepulauan di Asia Tenggara.

Seorang prajurit asal Irlandia, Siegfried Ackelsenn, konon menjadi satu-satunya orang yang berani mencari tahu tentang hujan ini. Rupanya, seorang ahli mistik bernama Leonas-lah yang menciptakan hujan mistik ini. Ia bermaksud untuk menghancurkan dunia dengan banjir yang diciptakannya secara perlahan-lahan melalui Hujan Kenelzh. Siegfried, dengan Pedang Api Abadi yang dimilikinya, berhasil mengalahkan Leonas dan menghentikan Hujan Kenelzh tepat sebulan setelah hujan pertama kali berlangsung.

Yang menjadi misteri sampai sekarang adalah Pedang Api Abadi yang dimiliki oleh Siegfried. Pedang yang dinamakan sebagai artian “api yang tak kalah oleh air” ataupun “semangat yang tidak pernah mati” ini tak pernah diketahui keberadaannya. Konon, pedang ini masih dipegang oleh Siegfried sendiri, yang berarti ada pada jasad Siegfried. Namun makam Siegfried yang sesungguhnya juga tak pernah diketahui kepastiannya.


Teng...teng...!

Lonceng telah dibunyikan, tanda sesi pelajaran Defense akan segera dimulai. Tiffanny pun segera menutup buku tersebut dan mendekapnya. Setelah mengisi daftar peminjaman buku, ia segera keluar dari perpustakaan dan berlari menuju kelasnya.

Ia dapat melihat seluruh kawan-kawannya sesama pengendali api dari Estinese sedang duduk. Terlihat jelas sekali dari wajah mereka bahwa mereka bosan. Tiffany memandang meja guru. Mr. Joash belum datang, dan Tiffany yakin bahwa penyebab Mr. Joash belum datang adalah perdebatan itu.

Tiffany menduduki kursinya, kemudian kembali berkutat dengan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Ia berusaha untuk mendalami kisah tentang Hujan Kenelzh beserta Siegfried Acklesenn dan Pedang Api Abadinya tersebut.

“Untuk apa kau terus-terusan begitu?”

Tiffany menoleh kepada Celiann yang mengernyit pada Renee. Gadis itu tengah duduk di mejanya—meja, bukan kursi—dan sudah sedari tadi ia memetik jarinya, membuat percikan api keluar dari jemarinya tersebut.

“Aneh,” gumam Renee. “Aku bisa membuat api di dalam sini, tapi jika di luar, aku tidak bisa membuat api.”

“Bodoh. Kau baru sadar sekarang, padahal hal itu sudah terjadi sejak hari pertama hujan?” Stephen tersenyum sinis.

Renee mengerut dan turun dari mejanya, kemudian menggebrak meja tersebut, membuat satu kelas melonjak kaget.

“Lantas MENGAPA jika aku baru sadar sekarang?!” tanya Renee tidak senang.

“Jadi kita tidak bisa membuat api karena hujan tersebut?” Ann berusaha mengembalikan pembicaraan ke topik sebelum kedua orang itu mulai membuat kerusuhan.

“Tapi bukankah api pengendali tidak bisa padam begitu saja jika terkena air?” kata Ruthven. “Api pengendali hanya bisa padam oleh air dari pengendali, itupun pengendali yang cukup mahir.”

“Darimana kau tahu?” alis Zach bertaut.

“Mr. Joash pernah menjelaskannya. Kau tidak masuk.”

“Jadi intinya, kau beranggapan bahwa sesungguhnya hujan ini disebabkan oleh seorang pengendali air yang hebat?” tanya Celiann.

Well, aku tidak berkata begitu,” Ruthven mengangkat bahu.

Sementara perdebatan itu berlanjut, Vincent masih menggeluti sketsa yang dibuatnya. Namun ujung matanya dapat melihat Tiffany yang duduk di depannya tampak diam. Vince berpikir bahwa mungkin gadis itu—akhirnya—berhasil mendapatkan sesi tidur yang nyaman. Tetapi begitu ia melihat tangan Tiffany tampak membalik halaman sebuah buku, ia jadi penasaran apa yang sedang dilakukan oleh kawannya itu. Ia meletakkan pensilnya, kemudian bangkit dan berjalan ke depan mendekati meja Tiffany. Gadis itu tampak tak menyadari kedatangannya, jadi Vincent memutuskan untuk mengintip sedikit apa yang dibaca oleh Tiffany.

“Hujan Kenelzh?” Vincent mengernyit. “Apa itu?”

Tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya, Tiffany menjawab cuek. “Kemungkinan besar yang membuat kita tidak bisa menggunakan ilmu pengendalian kita.”

Tiffany terus membaca halaman tersebut. Namun, ia merasa aneh begitu ia menyadari bahwa sejak ia berbicara tadi, seisi kelas menjadi sunyi. Perlahan-lahan, ia menengadah dan menemukan bahwasannya seluruh pasang mata di kelas tersebut memandanginya.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Renee memastikan.

Tiffany Sherrine baru saja membuat langkah yang salah; ia baru saja membeberkan apa yang belum menjadi kebenaran.

Ia mendesah tanda menyerah sembari menghempaskan punggunya kepada sandaran kursinya. Kemudian, ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan kelas sambil membawa buku tersebut.

Well, sebenarnya aku tidak mau memberitahukan hal ini sebelum aku tahu kebenarannya, tapi...” Tiffany menghela napas. “Yeah, jadi aku baru saja melintas di depan ruang rapat guru dan mendengar bahwa Mr. Joash menduga bahwa hujan ini adalah hujan yang dibuat oleh Profesor Lansford.”

“Kriminal gila itu?” tanya Celiann.

“Begitulah,” Tiffany mengangkat bahu. “Hujan yang dibuatnya adalah Hujan Kenelzh—hal yang sedang kuselidiki sekarang ini.” Tiffany menyerahkan buku yang dipegangnya kepada Renee, membiarkan gadis itu membaca apa yang ada di halamannya sementara ia sendiri menjelaskan Hujan Kenelzh itu.

“Singkatnya, fenomena dengan karakteristik yang sama seperti ini pernah terjadi 700 tahun yang lalu. Hujan yang sesungguhnya dibuat oleh seorang ahli mistik bernama Leonas berlangsung selama satu bulan dan berhasil membuat pulau-pulau kecil di Oseania tenggelam habis karena banjir. Seorang prajurit asal Irlandia, Siegfried Acklesenn, berhasil untuk menghentikan Leonas dan hujan tersebut setelah dua bulan berlangsung dengan Pedang Api Abadi yang dimilikinya. Pedang Api Abadi ini dianggap sebagai satu-satunya ‘api yang tidak bisa mati oleh air’.”

“Jadi menurutmu semua ini—”

“Menurut Mr. Joash,” Tiffany meralat perkataan Ann.

“Yeah, apapun itu. Jadi begitu? Hujan ini adalah hujan Kenelzh?”

“Mr. Joash belum berani mengatakan bahwa itu benar. Namun bukankah segalanya sama seperti apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu? Dan kalian tahu, kan, tujuan Profesor Lansford selama ini?”

“Menguasai dunia dengan alat-alat anehnya itu?” tanya Vincent.

“Tujuannya sama dengan Leonas.”

Kesunyian menghampiri ruangan itu. Masing-masing dari mereka berpikir.

Renee menciptakan suara dengan menutup buku tersebut. “Jadi jika ada Leonas, ada Siegfried yang menghentikannya,” ucapnya. “Dan jika ada Profesor Lansford sebagai Leonas, maka ada seseorang dengan Pedang Api Abadi tersebut yang berperan untuk menghentikan Profesor Lansford.”

“Masalahnya...” Tiffany mendesah. “Pedang Api Abadi itu tidak pernah diketemukan. Ada yang berkata bahwasannya pedang itu bersama Siegfried. Dan—”

Well, kalau begitu, cari saja orang bernama Siegfried itu,” seru Zach enteng.

“Dia sudah mati, bodoh,” dengus Celiann.

“—yang menjadi poin masalah kedua adalah...kuburan Siegfried Acklesenn tidak pernah diketemukan seperti halnya pedangnya,” Tiffany melanjutkan perkataannya.

Renee menaruh bukunya di meja, kemudian menepuk tangannya sekali. “Terdengar seperti tantangan bagiku—aku suka itu.”

Apa?!” Tiffany membelalak. “Renee, kebenaran akan analisis ini bahkan belum terbukti kebenarannya, tapi kau sudah bertindak gegabah dengan memutuskan untuk mencari pedang itu—kau gila, ya?!”

Senyum di bibir Renee malah makin mengembang. “Aku tidak berkata seperti itu dan kau malah memberikanku ide untuk mencarinya—kau jenius, Tiffany!”

Tiffany melongo. Ia kembali membuat kesalahan; mengusulkan sesuatu yang sesungguhnya belum diusulkan, padahal itu ide buruk.

Renee berbalik menghadap keenam kawannya yang lain. “Jadi, bagaimana menurut kalian? Tertantang untuk mencari makam Siegfried?”

“Kedengarannya keren,” komentar Stephen.

“Yeah, sepertinya asyik,” timpal Zach.

“Kau mau menerobos keluar komplek Deordical? Gila! Kita bisa diseret ke sidang!” ucap Tiffany.

Geez, itu akan menjadi sidang keduaku*,” gumam Ruthven. Dalam bayangannya, terbayang sidang tentang insiden kecurangan dalam lomba estafet beberapa waktu lalu, dimana ia dibawa ke dalam sidang sebagai saksi.

“Tiff, kau tidak tahu bahwa petugas keamanan kita mudah sekali dibodohi?” Renee tertawa. “Berikan saja makanan—bahkan yang diberi obat tidur sekalipun mereka takkan menyadarinya—dan kartu poker. Selesai.”

Tiffany berkacak pinggang sambil mengernyit, masih kurang setuju akan usul berani Renee ini.

“Lalu bagaimana caranya kita mengetahui lokasi makam Siegfried?” tanya Ann.

Well, ya, entahlah. Karenanya kita akan mencarinya.”

“Dan uang untuk transportasinya?” sambung Celiann.

“Pamanku bekerja di Trans-European Transport Networks,” Renee mengangkat bahu. “Kita bisa ke mana saja dengan gratis selama kita di Eropa—ayolah, takkan sampai Asia, kan?”

“Itu untuk transportasi laut atau udara. Bagaimana dengan transportasi darat seperti taksi atau bis atau apalah?”

“Memang kau tidak punya tabungan?”

Celiann terdiam.

“Terserahlah.”

“Oke, kuanggap kalian semua setuju!” seru Renee—membuat Tiffanny makin membelalak. “Tiga hari lagi, kita berangkat!”

Yang mengejutkan, anak-anak itu menunjukkan secercah antusiasme, terutama Stephen, Zach, dan tentu saja Renee.

Maka dengan itu, lengkap sudah catatan kebodohan Tiffany; ia tidak bisa mencegah kawan-kawannya untuk tidak menerobos keluar Deordical Academy.