Mr. Joash mengangguk kepada Kepala Sekolah Evans Holygates yang ada di hadapannya. Kepala Sekolah—yang tampak agak kaget—menatap delapan shield metal yang ada di atas mejanya.
“Ya. Orang tua mereka tadi menemuiku dan berkata seperti itu.”
“Ann Mightray, Celiann Amherst, Renee Hainsworth, Ruthven Ecclair, Stephen Wickliff, Tiffany Sherrine, Vincent Nightray, dan Zach Samlerr,” gumam Kepala Sekolah Holygates sambil menatap daftar yang diserahkan Mr. Joash. “Hmm. Suatu kebetulan bahwa mereka semua adalah pengendali api dari kelasmu—dan mereka memang berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas IX-6, bukan begitu?”
Mr. Joash tersenyum.
“Well, meski begitu...” ucap Kepala Sekolah. “Bukan berarti tugasmu berkurang, Joash.”
Senyum di Mr. Joash menipis.
“Jaga kelas hukuman selama dua jam pelajaran.”
Dan senyum itu telah berubah menjadi sebuah senyum keki.
***
“HOEEEEKKKH!”
“Aku tak menyangka kau yang bengal itu—” Celiann menggelengkan kepala. “—ternyata lemah dengan laut.”
Renee menarik kepalanya dan menatap Celiann, berusaha memberikan tatapan mengerikan di sela-sela wajahnya yang memelas karena mual.
“Aku tidak suka naik kapal, dasar berisik!” gusarnya. “Pasti aku akan selalu mabuk jika—HOEEEKKH!”
Tiffany meringis melihat pemandangan melalui pintu toilet yang setengah terbuka itu. Celiann tampak memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat apa yang dikeluarkan Renee dari mulutnya. Tiffany mendesah. Sudah sejak berangkat dari Pelabuhan Liverpool tadi, Renee terus begini. Sama seperti Celiann; tak ia sangka Renee punya kelemahan dengan laut.
Ia berbalik dan dapat melihat Stephen, Zach, dan Vincent yang sedang duduk di sofa yang mengitari sebuah meja persegi. Mereka sedang menikmati punch gratis yang disediakan pihak kapal.
“Hei!” sapa Tiffany sembari duduk di sebelah Vincent. “Mana Ruthven dan Ann?”
“Mungkin sedang berduaan,” kikik Zach.
“Oh—sebentar. Kukira seharusnya kita menggunakan nama samaran,” dalih Vincent bingung.
“Well, nama itu hanya digunakan untuk mengenalkan diri ke orang-orang. Canggung juga jika kita saling memanggil memakai nama samaran,” Tiffany mengangkat bahu. Kemudian, ia melirik Stephen yang sedang terdiam—gelas di genggamannya masih penuh akan punch. Tiffany tersenyum geli.
“Ada apa, Tuan Clifford?” sindirnya. “Tidak suka dengan namamu? Aku tidak terima protes, lho.”
Stephen mendengus. “Nama itu aneh.”
“Benarkah?” tanya Tiffany, masih dengan nada menyindir. “Padahal arti nama itu tak jauh beda dengan namamu, kau tahu? Dan—oh, pasti kau akan menyukai nama itu jika kuberitahu bahwa nama itu dibuatkan oleh Adelaide.”
Mata Stephen membelalak, sementara Tiffany tergelak bersama Zach dan Vincent.
“Sialan kau,” umpat Stephen saat Tiffany dan Vincent ber-high five.
“Aku mau istirahat dulu. Kabari aku jika ada apa-apa,” Tiffany berdiri, kemudian melangkah naik ke lantai dua kapal tersebut. Di tangga, ia berpapasan dengan Ruthven. Tiffany sempat menanyakan dimana Ann kepada Ruthven, dan pemuda itu bilang, gadis itu sedang sibuk bergosip dengan kawan-kawannya di Deordical melalui video phone.
Dan benar saja; begitu sampai di lantai dua, ia dapat melihat Ann sedang menatap layar telepon genggamnya. Tiffany berhasil mengintip dan ia tahu bahwasannya Chloe dan Shann lah yang sedang bercakap-cakap dengannya. Tiffany tampak tak terlalu peduli dan berjalan terus menuju hotel mini di kapal itu. Sebenarnya itu hanyalah ruangan dimana terdapat dua puluh tempat tidur dalam kapsul—mengikuti model sebuah hotel di Jepang. Ia melirik kapsul mana yang kosong, kemudian memasukinya dan mencoba untuk tidur di tengah ombang-ambing riak laut.
***
BRAAK!
Piip piip piip!
Suara alarm itu membangunkan Tiffany yang sedang menikmati tidurnya. Segera ia keluar dari kapsulnya, dan menemukan berbagai orang kalang kabut, berlari panik tak karuan.
“Darurat, darurat! Kebocoran pada kabin depan! Darurat, darurat! Ini bukan latihan! Sekali lagi, kebocoran pada kabin bawah! Segera berkumpul di tempat sekoci!”
Apa?! batin Tiffany. Ia pun berlari, mencari kawan-kawannya yang lain ke tempat sekoci. Di sana sudah banyak penumpang yang berkumpul, dan mereka tampak kebingungan. Tiffany menerobos kerumunan itu, sampai akhirnya ia mendengar namanya dipanggil. Begitu ia menoleh, Renee bersama kawan-kawannya yang lain sudah berkumpul di satu titik.
“Ada apa ini?!” tanya Tiffany berteriak, berharap suaranya terdengar di tengah kebisingan itu.
“Mereka bilang kabin depan bocor dan kapal ini akan tenggelam—kau tidak dengar pengumumannya, hah?!” Renee balas berteriak.
“Tapi kami merasa tidak ada benturan dengan karang sama sekali!” kini giliran Ruthven yang berteriak.
Bugh!
Para penumpang menjerit. Kemiringan kapal baru saja bertambah, sementara sekoci baru saja berhasil diturunkan. Berbondong-bondong orang berusaha mendapatkan tempat di sekoci tersebut.
“Oh, tidak! Hidup kita akan berakhir tragis seperti di Titanic!” jerit Ann.
“Kau terlalu banyak nonton film!!” sengit Celiann.
“Oke, mari kita tenang dahulu!” ucap Tiffany. “Ruthven. Kau bilang tak ada benturan dengan karang sama sekali, kan?”
“Ya!” kembali Ruthven berteriak.
“Kalau begitu, ada kemungkinan sabotase!” seru Tiffany. “Mungkin saja ada orang lain yang berusaha menenggelamkan kapal ini! Kita harus mengeceknya!”
“Apa?! Dengan keadaan seperti ini?! Kau gila?!” Ann berusaha mencegah.
“Tidak, jangan semua!” ucap Tiffany. “Zach! Steph!” Tiffany menoleh kepada kedua pemuda itu. “Kalian rasa kalian bisa menangani urusan ini?”
Stephen menatap Zach. Zach mengangguk.
“Oke! Selamatkan diri kalian ke sekoci! Bawa ransel kami!” Stephen melempar tasnya kepada Renee, disusul Zach yang melempar tasnya ke Ruthven. Kemudian, Celiann, Ann, Vincent, Ruthven, Tiffany, serta Renee berusaha menaiki sekoci, sementara Stephen dan Zach mencoba memeriksa apa yang terjadi.
***
Air yang menggenang di kabin bawah sudah mencapai dada Stephen dan Zach yang bertubuh cukup tinggi itu. Dan itu menyulitkan mereka berdua untuk mencari lubang tempat air masuk.
“Sialan. Aku tidak bisa melihatnya,” maki Stephen sambil terus menerobos.
“Kita harus menyelam untuk bisa melihat lubang tersebut,” usul Zach.
Stephen pun berhenti. Sembari mematikan jentik api di tangannya—yang berfungsi sebagai penerangan di ruangan yang agak gelap itu, ia berbalik ke hadapan Zach.
“Oke. Dalam hitungan ketiga,” ia mulai mengambil napas. “Satu, dua, ...—”
Mereka berdua menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air, kemudian mulai menyelam. Dengan menyelam, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan sebuah lubang di ujung kabin. Segera mereka berenang mendekati lubang itu. Dirabanya lubang yang rupanya masih terasa panas tersebut—bahkan masih ada sedikit percik api yang sebenarnya kasat mata jika mereka berdua tidak melihatnya lebih teliti.
Bam!
Sebuah bayangan melintas dengan cepat di sebelah kapal, dan Zach serta Stephen dapat melihat jelas bayangan itu. Refleks mereka naik ke permukaan air yang mulai meninggi setinggi belikat mereka.
“Lubang itu berbentuk lingkaran yang hampir sempurna,” ucap Zach dengan napas yang megap-megap. “Masih hangat. Estimasi waktunya sekitar lima belas menit yang lalu.”
“Tidak mungkin lubang itu disebabkan karena berbenturan dengan karang—itu pasti dibuat,” terka Stephen.
“Ya. Tapi sebelum itu, apa kau lihat bayangan besar tadi?!” tanya Zach sembari mengencangkan suara. “Apakah itu hiu—”
Tiba-tiba saja, kapal bergoyang kencang, dan Stephen merasa bahwa kapal ini tinggal memiliki waktu kurang dari dua menit sebelum akhinya benar-benar karam.
“Cepat! Kita harus keluar dari sini!” teriak Stephen. Zach mengangguk, dan mereka mulai menyelam kembali, berusaha keluar melalui lubang yang mereka teliti tadi. Zach terlebih dahulu keluar dan berusaha berenang ke permukaan laut.
Tetapi ada sebuah firasat aneh yang tiba-tiba berkelabat di pikirannya. Memutuskan untuk menoleh, ia kemudian terbelalak.
Stephen!!
***
Deordical Academy. Murid-murid sedang menjalani acara makan siang mereka. Karell, Scarrell, Kellisha, Vineesha, dan Scallon sedang bercuap-cuap ria di tempat duduk mereka sambil menyantap makan siang mereka yang terhitung enak; garlic bread serta spaghetti dan cokelat hangat.
“Hei, menurut kalian, apakah mereka sudah sampai Irlandia?” tanya Scarell.
“Hm?” tanya Kellisha bingung. “Siapa?”
“Astaga, Kell! Anak-anak elemen api—hebat sekali kau lupa dengan mudahnya!” keluh Vineesha.
“Ah, masa?” tanya Kellisha. “Kenapa aku tidak ingat?”
Sambil mencibir, Karell berkata, “Reparasi dulu, tuh, otakmu.”
Setelah tawa mereka akan kebodohan Kellisha berhenti, Scallon menimpali. “Setahuku, perjalanan dari Liverpool ke Dublin dapat ditempuh selama lima jam. Jadi kurasa mereka sudah sampai sekarang.”
“Kecuali jika kapal mereka menabrak gunung es seperti Titanic,” canda Karell, diikuti tawa mereka. Tapi tawa mereka itu tak berlanjut panjang sampai suara berita di televisi menginterupsi mereka.
“...sebuah kapal yang sedang melakukan perjalanan dari Liverpool, Inggris, menuju Dublin, Irlandia, dilaporkan baru saja mengalami kecelakaan. Untuk itu, sudah ada reporter kami, Aishling McCoughney, yang melaporkan langsung dari pelabuhan Dublin.”
Bersamaan dengan bergantinya layar televisi menjadi liputan langsung dari pelabuhan Dublin, kelima anak itu saling melempar pandangan ragu.
“Pemirsa. Sekarang saya berada di pelabuhan Dublin, tempat dimana sebuah kapal penumpang mengalami kecelakaan saat mereka sudah tinggal menempuh sekitar lima belas meter untuk mencapai pelabuhan. Kapal penumpang milik perusahaan Unijack bernomor 032, seperti yang anda lihat di belakang saya—” reporter wanita dengan suaranya yang agak berteriak itu menunjuk kapal yang badannya sudah tenggelam itu. “—sudah tidak bisa dibawa ke pelabuhan. Tetapi dengan usaha sigap awak kapal, seluruh penumpang...—oh, maaf, mohon tunggu sebentar.”
Wanita itu tampak menerima kabar dari earphone yang dipakainya. Setelah menganggukan beberapa kali, ia kembali berbicara. “Maaf, ada sedikit ralat. Baru saja diketahui masih ada dua penumpang yang belum selamat dan menaiki sekoci. Kini, tim SAR sedang berusaha menyelamatkan kedua penumpang tersebut.”
Karell menoleh kepada teman-temannya. “Oh, tidak.... Apa mungkin...?” bisiknya terkesiap.
***
Pupil mata keenam orang itu melebar—jelas sekali mereka ketakutan. Menatap ke kapal di sana, mereka makin shock begitu melihat kapal itu tenggelam.
Tenggelam tak menyisakan apapun.
Termasuk juga Zach dan Stephen.
“Stephen! Stephen!!” refleks Renee beteriak sekencang-kencangnya, berusaha mencari kawannya.
“Zach! Stephen!” Tiffany ikut berteriak, dan akhirnya Ann, Vincent, Ruthven, dan Celiann juga ikut berteriak. Tetapi satu menit, dua menit, bahkan sampai lima menit, tak ada satupun respon.
Ann terisak, terlihat sebutir air di ekor matanya. Kaki Vincent bergetar. Tak mungkin...tak mungkin...
Pyak!
Mereka menegakkan kepala mereka kembali, kemudian menelengkan kepala mereka kemana-mana, berusaha mencari suara itu.
Pfuahh!
“Uhukk! Hah! Hahh!”
Ann dan Celiann termengu senang, sementara Tiffany dan Vincent menghela napas lega melihat sosok Zach muncul ke permukaan. Tampak ia merangkul Stephen, kentara sekali karenanya ia agak sulit berenang menerjang arus laut yang agak kencang itu. Segera awak kapal di sekoci melemparkan tali. Diraih tali itu oleh Zach, dan tali itu membantunya mencapai sekoci. Ruthven dan Renee mengulurkan tangan, kemudian menarik Zach dan Stephen ke dalam sekoci.
“Bodoh! Kenapa kalian lama sekali?!” teriak Renee kepada Zach dan Stephen yang kini terduduk sambil terbatuk-batuk. Tapi sesungguhnya di balik nadanya yang sangar itu, ia benar-benar lega bahwa mereka berdua selamat.
“Uhuk! Tali sepatu Steph—uhuk—tersangkut—hahh—sehingga aku harus menarik—uhuk, uhuk!!”
“Sudah, tenangkan diri kalian dahulu,” Tiffany menepuk bahu Stephen dan Zach. “Ceritakan kepada kami segalanya saat kita sudah di daratan.”
***
Stephen mengenakan pakaiannya yang kering, kemudian berjalan keluar dari kamar mandi. Ia melangkah mendekati teman-temannya yang sudah menempati tempat duduk di ruang tunggu pelabuhan Dublin. Didudukinya tempat duduk di sebelah Zach yang sudah terlebih dahulu mengganti bajunya yang basah. Dapat dilihatnya teman-temannya yang lain duduk dengan tampang mereka yang masih shock. Bahkan Ann—yang tampaknya sedang menelpon Hannah itu—terus-terusan berbicara dengan orang di ujung telepon dengan nada kalut dan panik.
“Pemirsa, saya laporkan langsung dari pelabuhan Dublin, kini semua penumpang telah dievakuasi, termasuk dua orang yang belum terselamatkan tadi. Kini, mereka tengah dikumpulkan di ruang tunggu 3A di pelabuhan Dublin untuk diinterogasi.”
“Ya! Kami semua memang selamat—seperti yang kau lihat di televisi,” Stephen menoleh mendengar suara Ann yang kencang itu. “Kau tahu dua penumpang yang dimaksud tadi? Itu Stephen dan Zach!!”
Stephen mendengus mendengar namanya disebut, kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Ann. “Lalu bagaimana sekarang?”
“Kita harus menunggu. Nanti kita akan diinterogasi,” jelas Vincent.
“Sebelum itu, mungkin kalian bisa memberi tahu kami soal hasil investigasi kalian,” ujar Tiffany.
Maka dengan itu, mereka menunduk sedikit—termasuk Ann yang sudah memutuskan sambungan dengan Hannah, agar mereka jadi lebih dekat dan pembicaraan mereka tidak diketahui.
“Kami menemukan sebuah lubang—itu pasti,” Stephen memulai ceritanya. “Yang aneh, lubang itu berbentuk sebuah lingkaran yang sepintas terlihat sempurna. Karenanya, agak aneh jika lubang itu disebabakan karena kapal menabrak karang.”
“Lubang itu kira-kira berdiameter lima puluh sentimeter,” timpal Zach. “Dan ketika kami raba, pinggirannya masih hangat. Kesimpulannya, lubang itu masih baru dan dibuat dengan alat.”
“Ada seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal itu,” ucap Celiann. “Tapi siapa...? Dan kenapa...?”
“Hei!”
Kedelapan anak itu menengadah. Seorang petugas pelabuhan baru saja menginterupsi diskusi mereka.
“Saatnya kalian diinterogasi,” ujarnya sembari berlalu.
Mereka saling memandang lagi. “Apakah kita harus memberitahu mereka soal hal ini?” tanya Zach.
“Tidak. Simpanlah itu terlebih dahulu,” jawab Tiffany. “Cepat atau lambat, mereka pasti menyadarinya sendiri.”
Maka mereka bangkit, kemudian mulai berjalan mendekati tim interogasi yang terdiri atas tiga orang itu. Secara bergantian, mereka memberikan keterangan soal insiden itu kepada mereka, sampai akhirnya dua jam kemudian, mereka diizinkan untuk pergi. Melangkahlah mereka keluar dari area pelabuhan, mencapai sebuah halte di pinggir jalan raya.
“Bis nomor berapa?” tanya Celiann.
“Tujuan?” Vincent—yang paling dekat dengan sebuah papan pengumuman—segera menengadah, mulai membaca informasi yang tertera di sana.
“Dublin. Pusat kota.”
Stephen mendelik kepada Celiann.
“Bukan Westmeath?”
“Silahkan saja jika kau mau ke sana sekarang,” cibir Celiann. “Kau lelah, Steph. Zach juga. Kalian hampir saja mati tenggelam di Laut Irlandia. Tidakkah kalian ingin istirahat dulu?”
“Dan tentu saja Dublin adalah destinasi yang tepat untuk istirahat,” ucap Tiffany.
Vincent menelusuri sekali lagi papan yang dibacanya supaya informasi yang didapatnya lebih meyakinkan.
“E5. Pukul 15:00.”
Ruthven mengerling jam tangannya.
“Sekitar sepuluh menit lagi. Duduk saja dulu.”
Mereka pun duduk di bangku panjang yang relatif sepi itu. Namun karena tidak kebagian tempat, maka Tiffany, Vincent, dan Ruthven memutuskan untuk berdiri dan bersanda pada tiang.
Sepuluh menit kemudian, terlihat kendaraan dari pelupuk mata di ujung sana.


