Senin, 24 Mei 2010

Chapter 7: Chosen (part 1)

Pada tahun 2021 ini, Irlandia adalah salah satu negara yang masih mempertahankan gaya klasiknya di tengah-tengah modernisasi yang mewabah. Lihat saja Grafton Street yang tak berubah fasadnya sejak masa lampau, juga rumah-rumah penduduk di pesisir perairan yang masih sangat kelihatan old-fashioned, seakan-akan mereka masih hidup di tahun 80-an.

Termasuk juga rumah yang sedang dipantau oleh Ann, Renee, Zach, Stephen, dan Ruthven dari balik semak-semak yang bergemul di depan sebuah pagar hitam yang tinggi. Rumah yang luas itu memang bergaya klasik, dengan panorama Lough Lene—sebuah danau yang mengagumkan—di belakangnya. Lima belas bodyguard berperan serta dalam penjagaan rumah itu bersama dengan puluhan kamera CCTV yang terpasang di setiap sudutnya.

Mansion keluarga Acklesenn.



Derap langkah yang terdengar refleks membuat kelima remaja itu menoleh. Tiffany, Vincent, dan Celiann baru saja membungkuk-bungkuk mendekati mereka.

“Aku, Vince, dan Celiann sudah mengecek sistem pertahanan rumah ini. Dan kurasa aku bisa meminta bantuan Elsenn serta Austin lagi untuk menjebol pertahanan rumah ini,” terang Tiffany dengan suara yang rendah. “Kita butuh sebuah software yang lebih mutakhir lagi—pertahanan mansion ini rupanya jauh lebih ketat.”

“Kedengarannya bagus,” gumam Renee dengan rambut yang lebih rapi berkat Ann. “Kapan software-nya bisa selesai?”

Well, melihat dari tingkatan yang agak sulit, kurasa dua hari lagi, pada siang hari, kita baru bisa mendapatkannya,” tutur Tiffany.

“Itu cukup lama,” komentar Vincent.

“Kita tidak bisa melakukan penyelundupan pada siang hari—terlalu riskan,” lanjut Celiann. “Kupikir kita dapat lakukan pada saat twilight—petang menuju malam.”

Wha—geez, berarti waktu tidur kita berkurang lagi?” keluh Zach. Segera Ann memberikan tatapan dasar-cowok-pemalas.

“Oke. Kalau begitu, kita harus segera cari motel terlebih dahulu,” ucap Tiffany. “Well, sebenarnya aku berharap kita dapat menemukan motel lain milik keluarga Clifford.”

Stephen hanya membalas tatapan menyindir Tiffany dengan cara memutar bola matanya.

***

Waiting...
You are connected.

“Gahh, puji Tuhan ada WiFi,” desis Tiffany. Jemarinya mulai melakukan sedikit senam pada keyboard netbook, begitu pula pada mouse yang dipasangnya. Ia membuka Skype, lalu log in dengan identitasnya, sampai akhirnya ia menemukan sebuah nama pada daftar orang yang sedang online. Ia menggeser cursor ke nama tersebut, kemudian diklik sampai akhirnya muncul sebuah jendela yang tak lama kemudian disusul dengan tampilan dua orang dalam suasana yang agak gelap—maklum waktu sudah menunjukkan tengah malam, baik di Inggris maupun Irlandia.

Hei, Tiff! How’s Ireland?” sapa Elsenn.

Tiffany tersenyum geli. “Keren. Estinese harus ke sini lain kali. Ah, kalian dimana?”

Di perpustakaan Phoenix of Corresta. Kita berhasil mendapatkan kuncinya,” tutur Austin.

Alis Tiffany bertaut. “Phoenix of Corresta?” tanyanya sembari melipat tangan. “Oke, kalau kalian tidak keberatan, boleh aku tahu bagaimana cara mendapatkan kuncinya? Apa kalian menyamar jadi cewek? Karena setahuku Phoenix of Corresta dikhususkan untuk perempu—”

OH, hei Tiffany!!” Suara Dhynella yang menusuk telinga itu membuat Tiffany refleks menutup telinganya. Matanya membelalak menatap layar netbooknya. Ia dapat melihat Dhynella baru saja muncul tiba-tiba di antara Elsenn dan Austin. Tampaknya Elsenn dan Austin juga kaget—mereka juga menutup kedua kuping mereka dengan tangan mereka masing-masing.

Dhyn, apa yang kau lakukan?!” tanya Elsenn dengan suara tertahan. “Harusnya kau menjaga pintu!

Ups!” pekik Dhynella. “Hehe, maaf.” Dan setelahnya, gadis itu hilang ditelan kegelapan sembari bersenandung.

Austin mendesah sembari menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan kanannya. “Kurasa apa yang terjadi barusan sudah menjawab pertanyaanmu tadi.

“Sabar, ya.”

Oke, jadi apa yang kita dapat sekarang?

Tiffany berdeham. “Cukup sulit—pertahanan sebuah mansion bahkan lebih rumit daripada sebuah akademi,” jelasnya. “Aku sudah membuat detilnya, dan sudah sedikit merancang software-nya. Tapi tampaknya masih agak berantakan. Boleh minta tolong rapikan, kan? Besok siang bisa jadi?”

Bisa kulihat dulu datanya?” tanya Elsenn.

“Aku transfer sekarang.”

Tiffany mengirim data yang dimaksud kepada Elsenn dan Austin. Membiarkan Austin dan Elsenn menelaahnya dahulu, ia membuka berbagai situs, namun tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya. Tiffany memejamkan mata sejenak sembari memijat keningnya. Terlihat sekali ia lelah dan mengantuk. Ia membuka mata kembali setelah merasa agak baikan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara Elsenn yang menyapa.

Kurasa kami bisa menyelesaikannya siang esok lusa,” ujar Austin.

“Trims, kawan-kawan,” senyum Tiffany. “Well, kurasa aku harus tidur sekarang. Salam untuk teman-teman yang lain.”

Oke. Selamat tidur.

“Sampai jumpa.”

Tiffany menekan tombol sign out dan mematikan netbook-nya, kemudian bersandar sejenak pada kursi yang didudukinya, sebelum memasukkan netbook-nya ke tas dan keluar dari kafe 24 jam di dekat motel itu.

***

Deordical Academy, Liverpool, Inggris.
Keesokan harinya.

“Tidakkah itu menyenangkan?” pekik Dhynella senang. “Tadi malam, aku, Elsenn, dan Austin berhasil berbicara dengan Tiffany secara diam-diam di perpustakaan Corresta!”

Dan berbagai respon pun datang dari anak-anak kelas IX-6 yang ikut dalam pembicaraan tersebut. Mereka bertanya kepada Dhynella bagaimana keadaan Tiffany, apa yang ia lakukan bersama dengan Elsenn serta Austin, dan sebagainya. Suara-suara itu menggema jelas di telinga seorang Fey Hartwell.

Tetapi Fey bukanlah tipe orang yang suka berbicara. Ia lebih suka duduk dengan tenang sambil membaca buku, seperti yang dilakukannya sekarang. Ia baru saja meminjam sebuah buku dari perpustakaan. Entah buku apa itu; Fey hanya mengambilnya secara acak, berhubung ia sedang tidak ada kerjaan.

Ia membuka halaman berikutnya. Dan artikel kali ini tampak membuatnya tertarik. Matanya pun mulai menelusur dari baris ke baris, membaca dan menyerap informasi dari artikel itu.

“Hmm,” Fey menggumam mengerti. Tak lama kemudian, sepintas ide berkelabat di benaknya. Ia segera bangkit dan berusaha mencari komputer yang terakses dengan internet.

***

Westmeath, Irlandia.
Esok harinya lagi.

“Hei, Tiff. Bangun.”

“Mm...”

“Tiff...”

“Mmmh...”

“...”

“...AWW!” Tiffany langsung terbangun begitu merasakan panas pada telapak kakinya. Matanya—yang telah kembali menjadi setengah terbuka setelah sempat membelalak tadi—itu dapat melihat Celiann yang baru saja mematikan jentik api di jarinya. Dengan keadaan setengah sadar itu, ia bahkan sempat bertanya-tanya mengapa Celiann bisa menggunakan pengendaliannya—tentu saja; ini, kan, di dalam ruangan. Mereka masih bisa menggunakannya selama tidak tersiram hujan Kenelzh.

“Apakah kau baru saja berusaha membunuhku?!” tanya Tiffany dengan suara yang meninggi.

Well, kalau tidak dengan cara itu, kau tidak akan bangun, kan?” ucap Celiann, membuat Tiffany memutar bola matanya. “Omong-omong, Elsenn baru menghubungiku. Katanya software-nya sudah jadi.”

Tiffany melirik jam yang ada di samping tempat tidur. Jam menunjukkan pukul satu siang. Ia kembali menoleh kepada Celiann yang hanya mengangkat bahu. Oh, Tuhan. Sudah berapa lama aku tertidur?



Celiann dan Tiffany memasuki kafe yang tadi malam dikunjungi oleh Tiffany itu. Kawan-kawan mereka sedang duduk menikmati makan siang mereka, maka mereka ikut serta. Setelah Tiffany dan Celiann memesan makanan mereka, Tiffany menyalakan netbook-nya dan mendapatkan sebuah e-mail dari Elsenn.

Yo. Semoga berhasil.
—E dan A

Senyum di wajah Tiffany melebar begitu melihat attachment e-mail tersebut. Segera ia mengunduh semuanya, sebelum akhirnya mengirimkan pesan lagi kepada dua siswa IT genius Deordical itu.

Terima kasih banyak! Wish us bunch of lucks ;))

***

Petang datang. Zach mendadak menjadi tukang payung. Ia—apesnya—terpilih untuk melindungi Tiffany beserta netbook-nya agar tidak terkena tetesan hujan. Sambil menggerutu, ia terus memayungi Tiffany yang sedang berkutat dengan software kiriman Elsenn dan Austin dan berusaha menjebol pertahanan mansion Acklesenn. Kedelapan orang itu kini sedang duduk di bawah sebuah pohon—yang hanya memberi perlindungan 20% dari hujan, di depan mansion Acklesenn pada lokasi yang tersembunyi dari para bodyguard.

“Dan...” Tiffany menekan tombol Enter. Saat itu juga, sirine berbunyi, membuat mereka sedikit panik, begitu juga bodyguard-bodyguard penjaga itu.

Perhatian kepada seluruh bodyguard! Dalam hitungan ketiga, kalian harus berlari mengelilingi Lough Lene selama tiga puluh kali! Diulangi, dalam hitungan KETIGA, kalian semua HARUS berlari mengelilingi Lough Lene selama TIGA PULUH KALI!!

Suara dari pengeras suara itu membuat mulut kedelapan remaja tersebut menganga lebar, bahkan mungkin satu baskom sampah dapat muat masuk ke dalam mulut mereka. Para bodyguard juga saling memandang, keheranan bagaimana suara galak itu kini menggema di seluruh mansion tersebut. Bukankah tuan mereka sedang pergi ke luar negeri?

Satu...

Namun aba-aba itu tak pelak membuat mereka bersiap di gerbang.

Dua...

TIGA!!!

Dan para bodyguard itu berlari keluar dari mansion tersebut, menyisakan para pelayan yang kebingungan bukan main melihat tingkah para bodyguard tersebut. Sementara itu, delapan pengendali api yang masih bersembunyi itu masih menganga.

“Apa-yang-sebenarnya-terjadi?” tutur Renee.

“Kurasa Elsenn memberikan sedikit bumbu ‘humor’ pada software-nya,” terka Tiffany, masih kaget. “Ia mungkin mengambil sampel suara pria galak di internet dan membuatnya menjadi...yeah, menjadi seperti ini...”

“Hei, berapa lama kira-kira mereka akan berlari?” tanya Ruthven naif.

“Aku berani bertaruh belum sampai setengah jalan, para bodyguard itu sudah mati kecebur ke dalam danau,” jawab Zach asal.

“Elsenn itu...” Celiann menggeleng-gelengkan kepala. “Ia tidak bisa membedakan antara humor dan serius, ya? Well, humor yang satu ini memang membantu, sih.”

“Tapi dia membuat humor yang akan membunuh banyak orang—berlari keliling danau tiga puluh kali? Yang benar saja,” tambah Vincent. “Jangan-jangan ia punya dendam pribadi dengan para bodyguard itu.”

“Mungkin mereka mencuri teddy bear milik Elsenn.” Stephen tak kalah asalnya.

“Hah?! Elsenn punya teddy bear?!” Dan dengan suksesnya, Ann percaya akan bualan itu.

“Oke, teman-teman. Fokus,” desis Tiffany. “Para bodyguard itu bisa saja mati konyol dalam waktu sepuluh menit. Tapi mereka juga dapat kembali ke sini, memamerkan perut six pack mereka dengan bangga karena mereka berhasil melawan maut dalam sepuluh menit pula. Jadi sekarang, Renee, Ruthven, Ann, Vince, Steph, kalian masuk ke dalam sana dan cari pedangnya. Celiann, Zach, tetap di sini bersamaku.”

Mereka semua mengangguk. Ann, Renee, Ruthven, Stephen, dan Vincent bangkit, kemudian masuk ke dalam mansion tersebut melalui gerbang tanpa penjaga yang terbuka lebar.

***

Halaman belakang mansion Acklesenn benar-benar luas, mungkin lebih luas daripada mansionnya sendiri. Halaman itu sarat akan semak-semak dan terdapat belasan, bahkan mungkin puluhan pohon willow yang besar dan rindang. Dari sana, dapat juga terlihat Lough Lene yang jaraknya kira-kira hanya sepuluh meter dari sana, yang berarti mereka juga dapat melihat wajah kelelahan para bodyguard bodoh itu.

“Kau serius makam Siegfried ada di sini?” tanya Renee.

“Tyra yang berkata seperti itu,” Ann mengangkat bahu.

Well, maka pencarian ini akan menjadi pencarian yang melelahkan,” gumam Ruhven, sembari mulai mencari, disusul oleh teman-temannya yang lain. Mereka mencari di setiap sudut yang memungkinkan; semak belukar misalnya—yang ternyata hasilnya nihil. Ruthven bahkan sempat menyempatkan diri memanjat salah satu pohon dan melihat dari atas apakah ada semacam batu nisan atau sebagainya. Tetapi, hal semacam itu tak kunjung ditemukan juga.

“Sial. Jangan-jangan senior eksentrik itu menipu kita semua.” Bersamaan dengan itu, Stephen melangkahkan kaki kirinya ke depan, menginjak sebuah batu—

BUGH!

“AAAH!” Dengan cepat, sebuah lubang besar terbentuk, membuat Stephen, Ann, dan Vincent—yang berdiri cukup berdekatan—terjatuh ke dalamnya. Pendaratan mereka tidak berjalan sempurna, sehingga kini mereka terjembap di dasar lubang—berupa tanah basah—yang dalamnya kira-kira enam meter itu.

“...u-ukh...” Stephen mengangkat kepalanya. Samar-samar, ia dapat melihat sesuatu pada dinding lubang tersebut, namun ia tidak yakin apakah itu.

“Hei, kalian tidak apa-apa—whoa, apa itu?!” Renee dan Ruthven yang baru saja berjongkok di tepian lubang tersebut terperangah melihat hal yang sama seperti Stephen, yang kini mereka yakini sebagai sebuah terowongan rahasia.

Stephen, Vincent, dan Ann perlahan-lahan bangkit. Kini mereka terperangah seperti Ruthven dan Renee, sama kagetnya seperti mereka. Pikiran mereka bertanya-tanya bagaimana bisa ada sebuah terowongan di tempat seperti ini.

“Menurutmu, terowongan itu tembus kemana?” tanya Ann.

“Kita tak pernah tahu sebelum menelusurinya,” tutur Stephen.

“Oke, kalau begitu, tunggu aku. Aku akan masuk ke dalam.” Renee mulai menjulurkan kaki kanannya ke dalam lubang.

“Tu-tunggu.” Namun ia menundanya begitu mendengar suara Vincent. “Bukankah lebih baik kau dan Ruthven menunggu di atas? Ingat tentang bodyguard itu.”

“Tapi mereka sudah diawasi oleh Cel—”

“Kurasa Vincent benar,” Ruthven menginterupsi. “Lagipula, jika mereka sudah selesai, siapa yang akan menarik mereka keluar?”

Renee terdiam untuk berpikir sejenak. Tak lama kemudian, ia menghela napas. “Baiklah. Semoga berhasil.”

Stephen mengangguk, kemudian berbalik menghadap terowongan itu. Ia mengambil obor tua yang tergantung di samping terowongan.

“Ayo.”

Disambut anggukan Ann dan Vincent, ketiga orang itu mulai berjalan menyusuri terowongan itu. Stephen membuat sebuah percik api yang berukuran sedang dan menyulut obor tua yang dipegangnya, sehingga mereka memiliki penerangan sekarang. Terowongan itu benar-benar gelap. Mereka tidak bisa melihat banyak hal. Maka pendengaran mereka benar-benar dibutuhkan di sini; yang mereka dengar hanyalah langkah kaki mereka, suara hujan di luar, serta desisan berbagai binatang—yang membuat Ann agak ngeri, bahkan tanpa sadar, ia memegang pergelangan tangan Vincent di belakangnya dan memegang bahu Stephen di depannya.

Setelah mereka melangkah selama tak lebih dari dua menit, mereka sampai di mulut terowongan. Terowongan itu berakhir pada sebuah ruangan yang tidak bisa Stephen lihat isinya. Karena itu, ia membuat sebuah bola api besar dan menerbangkannya. Bola itu melesat mengelilingi ruangan, sehingga obor yang ada di setiap ruangan itu menyala.

Dan bersamaan dengan itu, mereka tak dapat melakukan apa-apa kecuali terperangah karena melihat isi ruangan itu.

Senin, 10 Mei 2010

Chapter 6: Train

“Bisa saya minta tiket anda?”

Celiann dan Vincent memberikan masing-masing dua tiket—sebagai representasi atas dua orang lainnya yang tidak bisa memberikan tiket mereka berhubung keadaan mereka sekarang—kepada petugas berseragam itu. Petugas itu meneliti tiket mereka, kemudian merobek pinggirannya dan memberikannya kembali kepada Vincent dan Celiann.

“Semoga perjalanan anda menyenangkan.”

“Terima kasih,” ucap Vincent dan Celiann bersamaan, sembari dengan kepergian petugas itu dari ruangan mereka. Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Tapi dari ruangan di samping, mereka dapat mendengar berbagai ocehan seperti, “ANN, BOTAKI SAJA RAMBUTNYA!” ataupun “JANGAN DENGARKAN DIA, ANN! BRENGSEK KAU, STEPHEN!” dan juga “RUTHVEN, BISAKAH KAU MENENANGKAN KEDUA ORANG INI?! AKU TIDAK BISA BERKONSENTRASI MERAPIKAN RAMBUT RENEE—DIA BISA SAJA MENJADI BOTAK BETULAN!”

Celiann mendesah mendengar teriakan-teriakan itu. Jauh lebih melegakan berada di ruangan ini; duduk di samping Vincent yang sibuk menggeluti sketsanya, juga memandang kepada Tiffany dan Zach yang tertidur di hadapan mereka—mereka berdua sama-sama orang yang bangun terakhir pagi ini dan tentunya sama-sama tidak suka bangun pagi sehingga harus melanjutkan tidur mereka sekarang. Celiann menahan tawanya. Geli baginya melihat Zach yang mulutnya menganga lebar dan juga Tiffany yang secara tak sadar menyandarkan kepala di bahu Zach.

“Mereka terlihat seperti Jasper dan Chloe versi berandal,” tukas Celiann, membuat Vincent menengadah dan ikut tersenyum. Celiann melanjutkan, “Wajah mereka cukup mirip—lihat hidung mereka yang sama-sama besar. Jangan-jangan mereka saudara kembar yang sudah lama terpisah.”

Vincent tertawa kecil. “Mungkin. Dan oh—Chloe dan Jasper juga lumayan berandal, kok.”

Celiann tertawa lagi. Ekor matanya melirik buku sketsa Vincent, dan ia dapat melihat seorang pria yang tampak gagah. Gambarnya itu membuatnya tertarik.

“Hei, siapa dia?” Celiann lebih mencondongkan kepalanya ke sketsa Vincent.

“Oh. Hanya karakter ciptaanku. Well, sebenarnya ini adalah bayanganku tentang seorang Siegfried Acklesenn.”

Celiann manggut mengerti. Rupanya, dalam bayangan Vincent, Siegfried Acklesenn adalah seorang dengan rambut panjang, dengan sebuah luka sayat persis di bawah matanya. Pria itu memegang pedang, membuatnya terlihat seperti ksatria sejati.

“Dia benar-benar pria yang hebat,” gumam Celiann. “Bisa menyelamatkan dunia sendirian.”

“Yeah,” komentar Vincent pendek.

Celiann menoleh ke jendela yang ada di sebelah Vincent, mengamati setiap butiran air yang turun. “Apakah kita bisa seperti dia—mengulang keberhasilannya?”

“...jujur, aku tidak yakin.”

“...begitu juga denganku.”

Mereka larut dalam keheningan. Pikiran mereka yang sejalan lantas tidak membuat mereka bersemangat—bagaimana caranya mereka bisa semangat jika pikiran mereka sama-sama pesimistik?

“Dia adalah seorang pria dewasa yang gagah perkasa, sementara kita...” Celiann mendesah. “...hanya delapan bocah ingusan yang tak punya kekuatan seperti dia. Dan pedang itu...—”

“—yeah, bahkan kita belum menemukan pedangnya. Dan dari situlah aku sudah tidak yakin; apakah kita bisa menemukan pedang itu?”

“...ya.”

Celiann kembali terdiam, namun tak lama kemudian, ia kembali menarik napas panjang dan menghelanya perlahan-lahan. “Tetapi meski begitu...” lanjutnya. “...aku cukup bersyukur karena bisa ikut dalam perjalanan ini.”

Vincent melirik Celiann.

“Karena pelajaran ini, aku jadi lebih mengenal kalian semua. Well, memang sudah lama sekali kita berada dalam satu kelas; kelas pengendalian api. Tapi jujur, aku belum begitu mengenal kalian semua. Aku jadi tahu Ann ternyata orang yang suka panik, Tiff dan Zach yang suka tidur, Renee yang rupanya lemah dengan laut, dan kau...,” Celiann menolehkan kepalanya kepada Vincent. “Di balik kacamata dan wajah misteriusmu itu—yang kadang dianggap aneh oleh teman-teman, aku baru saja tahu bahwasannya kau punya fantasi yang begitu hebat, bahkan kau bisa melukiskan seorang Siegfried Acklesenn dengan mengagumkan.”

Kini, mata Vincent benar-benar terarah pada Celiann.

“Setidaknya, perjalanan ini lebih menyenangkan daripada kehidupan sekolah yang membosankan itu,” tambah Celiann.

Vincent tersenyum. “Well, kita sudah terlanjur melakukan perjalanan ini,” ucap Vincent. “Maka kenapa kita tidak melanjutkannya? Siapa tahu hal yang baik sedang menunggu di akhirnya.”

Celiann membalas senyuman Vincent sembari menepuk tangan kawannya itu. Dan tanpa mereka sadari, kereta mulai melambat, sampai akhirnya benar-benar berhenti.

***

Minggu, 09 Mei 2010

Chapter 5: Runaway

DICARI!
Delapan remaja yang buron dari Liverpool, Inggris

  • Caitlyn Stenberg
  • Carina Walton
  • Christopher Clifford
  • Halley Holt
  • Leith Brodbeck
  • Nicholas Anholts
  • Rachel Charlton
  • Riley Lachance

Segera hubungi Kepolisian Dublin jika anda melihatnya. Akan ada hadiah bagi yang dapat menemukan mereka.


Dengan adanya foto mereka pada selebaran tersebut, maka lengkap sudah keterkejutan Ruthven dan Renee. Tapi seiring dengan mengerasnya sirine polisi di telinga Renee, maka ia sadar bahwa mereka tak bisa terus menerus mematung dan harus segera memberitahukan hal ini kepada kawan-kawan mereka.

“Ayo.” Ia segera menarik tangan Ruthven yang bergeming, kemudian berlari sekencang-kencangnya menuju motel. Tak ada Mrs. Clifford di meja respsionis, maka mereka segera naik ke atas.

“Beritahu kawan-kawan agar berkemas dalam lima menit,” ucap Renee kepada Ruthven ketika mereka sampai di depan kamar mereka masing-masing. Segera mereka masuk ke dalam.

Renee menemukan Celiann yang sedang menyisir rambutnya, Ann yang baru keluar dari kamar mandi, serta Tiffany yang masih tertidur. Melihat rambut Renee, mulut Ann menganga kaget, begitu juga Celiann—bahkan sisirnya sampai jatuh ke lantai.

“Cepat! Kita harus segera pergi dari sini. Kita dianggap sebagai buronan yang kabur dari Inggris!” kilah Renee cepat sambil mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam ranselnya.

“Ada apa dengan rambutmu?!” tanya Celiann heran.

“Akan kuceritakan nanti, sekarang cepat berkemas!!” tukas Renee panik. Maka Ann segera membereskan barang-barangnya, sementara Celiann membangunkan Tiffany—yang tampak ogah dibangunkan dan kebingungan begitu melihat kepanikan kawan-kawannya. Lima menit kemudian, mereka berhasil membereskan barang-barang mereka dan keluar dari dalam ruangan. Mereka dapat melihat Ruthven—yang sudah mengenakan kacamatanya—sedang menjelaskan segalanya kepada para cowok yang masih tampak tak percaya dengan apa yang terjadi.

Renee merebut kertas selebaran yang digenggam Ruthven, kemudian memberikannya kepada Celiann, Ann dan Tiffany. Sontak mereka bertiga terkesiap kaget melihatnya, tetapi Steph, Vince, dan Zach tak kalah kaget begitu melihat rambut Renee. Rene pun cepat bertindak.

“Ayo, segera kita keluar dari sini sebelum para polisi itu menemukan kita!” Ia segera berlari disusul teman-temannya. Mereka menuruni tangga dengan cepat, kemudian berlari menuju arah pintu motel.

Tetapi langkah mereka terhenti begitu melihat Mrs. Clifford di meja resepsionis. Wanita itu sedang menggenggam sebuah kertas dan membacanya. Bahkan dari jauh pun Renee dan Ruthven dapat menerawang bahwasannya itu adalah kertas pengumuman pencarian mereka.

Mendengar suara langkah yang tergesa-gesa dan baru berhenti, Mrs. Clifford menoleh dan terkesiap, menatap kedelapan remaja itu tak percaya.

“Christopher.” Tetapi kini pandangan matanya beralih kepada Stephen. “Kau...buron?”

“Oh, Tuhan,” desah Stephen. Ia menatap Renee, dan Renee memberikan tatapan buatlah-kebohongan-yang-bagus.

Stephen pun mengalihkan pandangan kembali kepada Mrs. Clifford. “Tidak, Bi. Tidak—selebaran itu benar-benar salah! Aku tidak buron! Aku tidak pernah melakukan tindak kriminal apapun! Percayalah padaku!”

Suasana hening sejenak. Mrs. Clifford menatap tajam kepada mata Stephen. Tak lama kemudian, ia mendesah.

“Aku percaya padamu,” ucap Mrs. Clifford. “Aku percaya tak ada anggota keluarga Clifford yang melakukan tindak kriminal sampai menjadi buron dan dicari banyak polisi. Lagi, kau adalah keponakanku dari kakakku yang begitu kusayangi.”

Stephen tersenyum tipis, begitu juga kawan-kawannya yang lain. Tak mereka sangka kebohongan mereka dapat membantu mereka sampai sejauh ini.

“Terima kasih atas pengertiannya, Bibi. Tapi kita harus segera pergi sebelum para polisi itu menemukan kita,” kata Renee cepat.

“Soal itu, kalian tak usah khawatir,” Mrs. Clifford mengibaskan tangannya. Kemudian, sambil merendahkan suaranya dan menunjuk ke suatu titik, ia berkata, “Pergilah ke gudang belakang. Kalian akan menemukan lubang yang langsung tembus sampai stasiun kereta Dublin. Aku di sini akan mengatasi segalanya.”

Kedelapan anak itu saling bertatapan.

“Pergilah!”

Akhirnya kedelapan anak itu mengangguk, kemudian berlari ke arah yang ditunjuk Mrs. Clifford. Dan tak lama setelah itu, mereka menemukan sebuah pintu. Satu-satunya pintu di sana yang mereka yakini adalah gudang yang dimaksud Mrs. Clifford. Stephen membuka pintunya, dan mereka dapat melihat berbagai benda-benda bekas bertumpukan di sana. Mata mereka mulai mencari-cari manakah lubang yang dimaksud oleh Mrs. Clifford sampai Celiann menemukan sesuatu di lantai gudang tersebut.

Ini yang dimaksud dengan lubang itu?”

Ketujuh kawannya segera berkerubung. Ada sebuah penutup gorong-gorong berukir tulisan-tulisan dalam bahasa Gaelik dan juga sebuah gambar yang mereka juga tak pahami apakah itu. Tapi mereka tahu pasti bahwa inilah lubang yang dimaksud oleh Mrs. Clifford.

“Maksudnya lubang comberan?!” suara Ann meninggi. “Oh, sial. Padahal aku baru saja mandi.”

“Sudahlah, tak ada jalan lain. Ayo, cepat!” tukas Renee. Maka Ruthven segera mengangkat penutup lubang itu dan menggesernya. Renee-lah yang pertama masuk, kemudian disusul dengan Celiann, Ann, Vincent, Zach, Tiffany, Ruthven, sampai akhirnya Stephen yang terakhir masuk dan menutup kembali lubang tersebut.

Ya, rupanya lubang itu memang benar merupakan sebuah saluran air. Saluran air yang tampaknya sudah tak terpakai lagi—terbukti dari dinding dan dasarnya yang cukup kering. Dan tentunya juga berbagai sarang laba-laba dan tikus yang berkeliaraan sampai membuat para cewek menjerit beberapa kali.

Tapi mata Renee akhirnya menemukan kembali sebuah penutup lubang setelah selama sepuluh menit mereka berjalan. Perlahan-lahan, Renee membuka tutup tersebut dan menyembulkan kepalanya. Ia dapat melihat bangunan Stasiun Dublin di seberang jalan sana, dan begitu ia memutar kepalanya, rupanya mereka ada di bawah sebuah kafe, dimana rumbai-rumbai merah menggantung di jendelanya, sehingga membuat kepalanya tidak terkena hujan.

Renee cepat-cepat naik ke jalanan, kemudian membantu teman-temannya naik satu per satu. Mereka menaikkan tudung mereka, lalu berlari menerobos hujan, menyebrangi jalan sampai akhirnya mereka tiba di Stasiun Dublin.

“Jadi sekarang kita langsung ke Westmeath, eh?” tanya Vincent.

“Begitulah,” jawab Renee. “Kapan kereta berikutnya akan jalan?”

Mereka menengadah dan melihat bahwa kereta berikutnya menuju Westmeath akan berangkat pukul 13:15. Mereka menoleh kepada jam dinding yang menunjukkan pukul 13:10.

“...EH?!” mereka baru sadar bahwa waktu yang dimiliki mereka tipis. Maka mereka segera berlari ke loket yang terhitung sepi itu. Renee segera mengeluarkan sebuah kartu dari kantungnya—kartu dari pamannya yang membuat mereka dapat menaiki pesawat, kapal, dan kereta secara cuma-cuma—kemudian sedikit menggedor kaca loket—membuat sang penjaga loket agak melonjak kaget.

“Delapan tiket, ke Westmeath, sekarang!!” serunya. Petugas itu pun dengan sigap mencetak delapan tiket yang dipesan Renee. Renee segera mengambilnya, kemudian bersama teman-temannya yang lain berlari menuju peron 4C. Dapat didengar oleh mereka deru mesin kereta yang akan membawa mereka ke Westmeath.

Segera mereka berlari masuk ke dalam kereta melalui pintu yang terdekat dari mereka. Dan bertepatan dengan masuknya Stephen sebagai orang terakhir, kereta itu berjalan.

Chapter 4: Áth Cliath

“Rin!”

Ruine menutup bukunya. Lagi-lagi, desahnya kesal. Ia menoleh kepada pemuda yang tengah berdiri dengan senyum lebarnya yang bagi Ruine, senyum itu adalah senyum tolol sekaligus paling memuakkan di muka bumi ini.

“Belum cukup kau menggangguku?”

Elsenn masih tersenyum lebar. “Kelas pengendalian elemen sudah mau mulai, lho. Ayo kita pergi.”

Ruine memutar bola matanya. Ia begitu berharap ada Celiann yang membantunya menyingkirkan orang menyebalkan ini.

“Elsenn, kau bilang satu jam itu sudah mau mulai?” tanya Ruine jengah sembari berbalik dan mulai berjalan menjauhi pemuda Hantway itu, mendekati Arriley Spencer yang tampak sedang sibuk berbincang dengan Avaline Macauley. “Sudah, deh. Aku mau pergi. Omong-omong, pacarmu mencarimu, tuh.”

Elsenn menautkan alis.

“Pacar?”

“Hei, Elsenn!”

Elsenn menoleh, menemukan sosok seorang Sherline Northcote, tak jauh dari tempatnya. “Ada apa?”

“Umm, bisa bantu aku dan Lydia?”

Elsenn terdiam sejenak, kemudian mendesah.

“Bantu apa?”

***

Bis itu telah mencapai pusat kota Áth Cliath, yang juga biasa disebut dengan Dublin; ibukota Republik Irlandia yang juga memiliki nama lain Blackpool, dengan populasi lebih dari lima ratus ribu dan tempat dimana banyak orang Gaelikan berkumpul. Kedelapan orang itu turun dari bis di depan distrik belanja bernama Grafton Street, dimana mereka langsung disambut oleh pemandangan yang relatif sepi.

“Grafton Street adalah salah satu pusat perbelanjaan teramai di dunia,” terang Vincent. “Tapi kurasa karena hujan ini...”

Mereka menatap prihatin kepada para pengamen jalanan—salah satu hal yang khas dari Grafton Street. Tak ada satupun dari mereka yang bersemangat melakukan atraksi mereka; menari, menyanyi, bermain sulap, pantomim. Bahkan ada juga yang berteduh dengan wajah murung, kecewa karena hujan ini.

Celiann lah yang pertama kali memecah kesunyian tersebut. “Sekarang, kita harus cari tempat istirahat terlebih dahulu. Ayo.”

Mereka mengangguk, kemudian melangkah menyusuri Grafton Street yang hanya dilalui beberapa orang tersebut. Sesekali, mereka melemparkan koin kepada para pengamen jalanan yang ada di sana, mengembalikan sediki senyum mereka.

Keluar dari Grafton Street, mereka menukik sedikit dan menemukan sebuah losmen khusus backpackers yang terlihat cukup nyaman. Setelah berbincang sedikit, mereka memutuskan untuk masuk dan segera mereka melihat wanita yang kira-kira berumur 40-an yang menjaga meja resepsionis.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya skeptis.

“Hai, uhm, kami ingin menyewa kamar,” ujar Tiffany.

Wanita itu memandangi mereka satu per satu.

“Untuk kalian berdelapan?”

“Ya.”

Wanita itu terdiam sejenak, kemudian berbalik mengambil dua buah kunci. “Dua kamar cukup—satu ruang memiliki dua tempat tidur tingkat. Ada di lantai tiga.”

“Baguslah, karena tentu saja aku tidak boleh berada dalam satu kamar bersama cewek-cewek menyebalkan ini,” dengus Stephen sambil tertawa sinis.

Sebelum ada yang berkomentar, Tiffany cepat-cepat berbalik menghadap Stephen dan berbicara dengan nada yang tertahan. “Biarkan aku yang mengurus semua ini. Jika kau ribut, maka akan kupanggil kau dengan nama Christopher Clifford untuk selamanya.”

Tiba-tiba, wanita itu menengadah dan menoleh kepada mereka. Tatapannya kaget seakan-akan ia baru saja melihat bulan jatuh di hadapannya. Namun sesungguhnya, ia menatap tajam kepada Stephen Wickliff.

“Christopher?” tanya wanita itu. “Kau Christopher Clifford?”

“Err, uhm...” Stephen berdeham. “Y-ya.”

Wajah wanita itu berubah menjadi cerah. “Astaga!” pekiknya. “Aku tak menyadarinya karena kau tampak berbeda dengan foto yang ditunjukkan ibumu. Katanya kau akan datang dari Belfast dua hari lagi?”

“A-apa—AWW!”

“Yeah, kami memajukan jadwal perjalanan kami,” Tiffany memasang senyum manis setelah menyikut perut Stephen.

“Dan...” wanita itu menatap Tiffany bingung. “Siapa kau?”

“Pacar—AKH!”

“Aku temannya, begitu juga yang lain.” Senyum di wajah Tiffany berubah agak masam setelah ia menginjak kaki Zach yang berdiri di sebelahnya. Senyum di wajahnya makin terlihat terpaksa begitu mendengar ada kekehan dari yang lainnya di belakang.

Wanita itu bertaut alis kepada Stephen. “Kukira kau datang sendiri.”

“Ngomong-ngomong, aku Caitlyn Stenberg,” Tiffany berjabat tangan dengan wanita itu. “Chris tidak menceritakan apa-apa kepada kami soal Bibi.”

“Oh, aku adik dari ibunya. Ellyane Clifford—senang bertemu denganmu,” ucap wanita itu menyudahi jabat tangannya dengan Tiffany. Dan saat itulah Celiann serta Vincent menoleh dan menemukan papan yang tidak disadari keberadaannya sejak mereka masuk tadi. Sebuah papan bertuliskan “Clifford Motel”.

Well, kalau begitu, karena aku sudah berjanji kepada ibumu, maka kalian boleh menyewa kamar dengan gratis!”

Mereka semua termengu.

“Serius?” tanya Ann.

“Tentu. Silahkan naik ke atas!” serunya, membuat wajah kedelapan remaja itu mencerah. Segera mereka melangkah menuju tangga melingkar yang ada di pojok ruangan.

“Sudah kubilang, nama Christopher Clifford itu tak terlalu buruk,” bisik Tiffany mengejek saat melangkah bersama Stephen.

***

“Ha! Kena kau!!”

Irish menengadah. Ia sebal juga kepada Neff dan Felix di hadapannya yang dari tadi sedang adu pedang. Irish sendiri sedang membaca buku di pinggir balkon yang teduh dan tidak terkena hujan. Ia juga bingung kenapa ia memilih tempat itu—perpustakaan ramai, jadi ia malas berkutat di sana. Ia pikir terjebak bersama Neff dan Felix di balkon yang luas ini takkan mengapa-apa. Tapi sepertinya setelah ini akan ada apa-apa.

“Sialan!” Irish mendengar Neff memaki, kemudian berusaha menghunuskan pedang ke pinggang Felix.

“Eits!” Felix berhasil menghindar. “Kau perlu seratus tahun lagi untuk mengalahkanku!”
Neff tidak menyerah. Ia berlari, kemudian saling beradu pedang dengan Felix—pedang mereka menempel, sama-sama memberikan tekanan yang kuat, berusaha untuk mendorong lawan ke belakang. Tapi yang ada tekanan itu sama kuatnya, sehingga salah pedang terbang melayang....

...mengenai Irish.

Hampir. Puji Tuhan pedang itu membentur dinding yang ada di belakang Irish.

Irish termengu shock, begitu juga dengan Neff dan Felix. Dan tak lama kemudian, amarah dari dalam diri Irish berkobar. Ia bangkit, dan membuat bola air yang begitu besar. Dilemparkannya bola itu kepada Felix dan Neff.

“Aah!!’ Bola itu melempar Neff dan Felix dan mereka terpental cukup jauh sampai hampir menabrak dinding pemagar balkon. Tapi yang lebih membuat mereka shock adalah bola itu berhasil membuat lubang pada dinding bata pemagar balkon.

Felix dan Neff menatap lubang itu tak percaya. Biasanya, kekuatan sebuah bola—baik dari elemen apapun—takkan berdampak separah ini. Irish mendengus kesal sembari menutup bukunya dan berjalan sebal ke dalam ruangan. Felix dan Neff saling menatap, kemudian lari sekencang-kencangnya sebelum pihak sekolah mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.

***

Renee terbangun. Jujur, ia masih mengantuk dan belum ingin pergi dari alam mimpi. Namun orkestra yang sedang melakukan resitalnya di lambung Renee memaksanya pergi.

Ia menengadah. Celiann yang tidur di tempat tidur bagian atas masih terlelap, begitu pula dengan Ann dan Tiffany. Ia pun bangkit, kemudian mencuci mukanya di wastafel yang ada di kamar mandi. Menyisir rambut sebahunya, ia pun memutuskan untuk tidak menguncirnya—hal yang biasa dilakukannya dengan rambutnya.

Perlahan-lahan, ia membuka pintu kamarnya, kemudian melangkah turun ke bawah. Dilihatnya meja resepsionis kosong. Tetapi ia mendengar pintu utama dibuka. Dipercepat langkahnya sampai ke lantai bawah dan menemukan sesosok pemuda yang berdiri di ambang pintu yang telah terbuka sedikit.

“Ruthven?”

Merasa namanya dipanggil, pemuda itu menoleh. Renee dapat melihat wajah Ruthven yang terlihat lebih segar tanpa kacamata yang biasanya bertengger di sana itu. Renee tersenyum.

“Mana kacamatamu?” tanya Renee geli. “Dipecahkan Stephen, eh?”

“Hal yang sama harusnya kutanyakan juga mengenai rambutmu,” jawab Ruthven. “Tidak, Steph tidak memecahkannya. Aku lupa membawanya, dan aku terlalu malas untuk mengambil lagi ke atas—perutku sudah tidak tahan lagi untuk dimasukki oleh makanan.”

“Sama denganku,” senyum Renee sambil mendekati pemuda itu. “Ayo, sekalian beli untuk yang lainnya.”

Ruthven mempersilahkan Renee keluar dahulu, kemudian baru dirinya. Mereka melangkah, menukik memasuki kawasan Grafton Street. Tak perlu lama melangkah, mereka langsung menemukan sebuah bistro fastfood yang menjadikan fish and chips sebagai menu andalan mereka. Segeralah mereka masuk, memesan dua fish and chips untuk mereka makan di tempat dan enam lagi untuk dibungkus dan dibawa kembali ke motel. Setelah mendapat pesanannya, mereka duduk di salah satu tempat yang masih kosong; sebuah meja bulat dengan dua buah kursi.

“Ahh, akhirnya bisa makan juga,” Renee segera mencelupkan kentang gorengnya ke dalam saus tartar. “Mm, enak juga.”

“Semua kentang goreng rasanya sama, Renee,” Ruthven tertawa geli.

“Kecuali kentang basi,” gumam Renee dengan mulut yang penuh dengan kentang goreng.
Sejenak, mereka diam, mencoba untuk menghabiskan makanan dengan tenang. Namun tak lama kemudian, Ruthven tak bisa menahan hasratnya untuk bertanya.

“Apa kau pikir kita akan sukses?”

Renee menengadah.

“Maksudmu?”

Well, kau tahu...” tukas Ruthven. “Menemukan pedang Siegfried Acklesenn, mengalahkan Fionn Lansford, dan menghentikan hujan ini dalam waktu dua minggu. Bagiku, itu agak mustahil. Apalagi dengan kekuatan kita yang terbatas ini.”

“Ck, kau pesimis sekali, sih?” desis Renee. “Aku percaya, bahkan dalam waktu kurang dari satu minggu, kita akan mengalahkan Lansford dan anak buahnya, kemudian kembali ke Deordical sebagai pahlawan.”

Alis Ruthven bertaut. Pahlawan? Benarkah mereka akan kembali sebagai pahlawan? Ruthven sering mendengar berbagai kisah pahlawan, terutama pahlawan super seperti yang ada di komik-komik. Tapi apakah mereka bisa kembali ke Deordical dengan menyandang gelar pahlawan karena telah menyelamatkan dunia? Agak mustahil baginya.Mereka bukan Superman yang punya tatapan laser, bukan Batman yang punya berbagai persenjataan lengkap, maupun Spiderman yang bisa bergelantungan dari satu gedung ke gedung lainnya. Mereka hanyalah remaja sekolahan biasa—well, kecuali dengan ilmu pengendalian mereka. Tapi bahkan ilmu pengendalian mereka tak bisa digunakan karena hujan ini.

Ruthven menggeleng dan melanjutkan makannya. Ia sempat menengadahkan kepala dan melihat ada tiga polisi yang sedang memesan fish and chips di konter. Ruthven sempat melakukan kontak mata dengan salah satu dari mereka. Tapi ia merasa tak ada apa-apa, jadi ia melanjutkan makannya.

Dan rupanya, perasaannya itu salah besar.



DOR!

Suara tembakan yang keras itu membuat seluruh orang dalam bistro itu menjerit serta menunduk, tak terkecuali Ruthven dan Renee yang berlindung di bawah meja mereka.

“Apa itu?!” bisik Renee kepada Ruthven. Tapi sebelum Ruthven dapat menjawabnya, meja mereka terkena tembakan, sehingga mereka harus berlari ke belakang sofa yang ada di dekat mereka. Namun tembakan itu tak kunjung berhenti ketika mereka telah berdiam di belakang sofa.

“Aku curiga polisi itu yang melakukannya,” ucap Ruthven.

“Polisi apa?! Kenapa?!”

“Kita lihat nanti. Sekarang, kita harus mengalahkan mereka dahulu,” Ruthven mengeluarkan shield metal dari balik jaketnya, kemudian mengeluarkan pistol dari dalam sana. “Untung shield metal ini bisa menyimpan senjata—setidaknya petugas keamanan imigrasi tak mendapati bahwa kita membawa pistol.”

Ruthven bangkit dan membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu menekan pelatuk dan...DOR! Ia berhasil menumbangkan salah satu polisi. Segera ia merunduk lagi sebelum ada peluru yang melukai tubuhnya.

“Tembakan yang bagus,” puji Renee.

“Masih ada dua lagi,” Ruthven menarik slide pistolnya. Ia kembali bangkit dan merubuhkan dua polisi yang tersisa dengan pistolnya. Merasa sudah aman, Renee pun bangkit, kemudian bersama Ruthven, ia mendekati tiga jasad polisi tersebut. Betapa kagetnya mereka begitu menemukan tak ada darah yang berceceran. Yang lebih membuat mereka kaget adalah apa yang mereka temukan di balik pakaian mereka.

Cyborg police,” gumam Ruthven. “Mereka hanya robot-robot yang terprogram.”

“Terprogram untuk membunuh kita?!” tanya Renee gusar.

DOR!

PRANG!

Kali ini suara tembakan terdengar disertai dengan pecahnya kaca jendela bistro tersebut. Ruthven dan Renee refleks menunduk, tapi tak lama kemudian, mereka kembali bangkit dan mereka dapat melihat empat cyborg police sedang menodongkan senjatanya kepada mereka berdua.

“Tembak lagi, Ruthvy!” jerit Renee. Maka Ruthven kembali melancarkan tembakan, dan kali ini empat polisi berhasil dikenainya. Namun begitu ia ingin menumbangkan polisi ketiga...

CTAK!

“Apa?!”

CTAK! CTAK CTAK!

“Sial, pelurunya habis!” maki Ruthven sambil membanting pistolnya sampai hancur.

“Kau hanya mempersiapkan tiga peluru?! Dasar bodoh!” teriak Renee.

“Aku tak punya banyak waktu untuk mempersiapkan—”

DOR!

Tembakan itu membuat pertengkaran mereka tertunda dan refleks menundukkan badan. Tembakan itu terus-terusan berlanjut hingga mereka tak bisa bangkit.

“Oke, kau bisa marah padaku nanti, tapi sekarang pikirkan dulu rencana lain untuk mengalahkan robot-robot itu!” Ruthven mengeraskan suaranya agar terdengar di sela-sela kebisingan tembakan tersebut.

Renee menengadah dan melihat meja yang kini menjadi sebuah dinding yang melindunginya serta Ruthven dari tembakan-tembakan polisi itu. Sejurus ide pun terlintas di pikirannya.

“Bantu aku angkat meja ini,” Renee menyeringai.

“Hah?!”

“Sudahlah, lakukan saja!”

Tanpa basa-basi lagi, Renee dan Ruthven memegang meja itu, kemudian mengangkatnya, membuat para cyborg police itu menatap saling menatap keheranan. Renee menyeringai.

“LEMPAAAR!”

Dengan teriakan itu, kedua remaja itu melempar meja yang mereka pegang dan sukses merubuhkan keempat polisi tersebut. Mereka mengatur napas mereka yang berantakan.

“Kerja bagus, partner,” Renee mengulurkan tangannya, dan Ruthven pun menepuk telapak tangan gadis itu.

“Ayo, kita harus segera keluar dari sini—kita tak bisa membuat keributan di tempat umum,” ujar Ruthven. Renee mengangguk setuju. Mereka segera mengambil langkah-langkah cepat menuju pintu. Rencana mereka adalah pergi segera kembali ke motel, memberitahukan segala hal gila yang terjadi pada mereka sekarang.

Namun rencana itu tidak berjalan mulus begitu mereka melihat ada tujuh cyborg police yang telah menghadang jalan mereka di luar pintu. Yang membuat mereka makin frustasi adalah light saber yang tergenggam erat di tangan mereka.

“Brengsek,” umpat Renee, saling bertolak punggung dengan Ruthven, berusaha mempertahankan diri. “Sekarang bagaimana cara mengalahkan Jedi-Jedi ini?”

“Mungkin dengan menerapkan berbagai seni bela diri yang selama ini kita pelajari,” desis Ruthven.

“Terdengar bagus,” ucap Renee. “Kau mahir dalam apa?”

“Capoeira. Kau?”

“Aikido,” Renee tersenyum bersemangat. “Oke, lakukan kapan saja kau siap.”

“Aku selalu siap.”

Dan setelah selesainya perbincangan singkat itu, mereka berdua menendang lawan terdekat mereka dengan kaki kanan mereka, dilanjutkan dengan melakukan berbagai tonjokan dan pukulan maut ke tubuh keras para polisi tersebut. Ruthven menghadapi empat polisi cyborg itu, sementara Renee menghadapi sisanya. Ruthven, dengan tubuhnya yang lentur itu, berhasil membuat keempat polisi robot itu tunduk dengan berbagai jurus capoeira yang dikuasainya.
Begitu juga dengan Renee. Tidak seperti Ruthven yang tenang dalam menghadapi musuh-musuhnya, ia selalu berteriak setiap meluncurkan tendangan maupun tonjokan. Terlihat sekali ia bersemangat dalam pertengkaran itu. Tapi tak lama kemudian, ia mendapat ganjaran atas perilakunya yang terlalu semangat itu.

Tanpa disadarinya, seorang polisi yang masih bertahan tak jauh di belakang Renee berlari ke arah Renee yang sibuk menyikat polisi lainnya. Dan Renee terlambat menyikapi gerakan tersebut. Ia sempat menoleh, tapi ia harus kehilangan sesuatu dari dirinya.



“AKH!”

Rambut sebahunya mengenai light saber polisi tersebut. Kini rambutnya yang tadinya sebahu itu tinggal setengkuknya.
Melihat guguran rambutnya di jalanan membuat amarahnya tersulut. Sambil berteriak, ia menyerang polisi yang memotong rambutnya dan dalam satu kali pukulan yang keras, kepalan tangan Renee berhasil menembus dada polisi tersebut sampai bolong.



Renee dan Ruthven saling berdiri berdekatan, mengatur napas mereka yang tak karuan. Bola mata mereka terfokus kepada tujuh robot yang telah tersungkur di jalanan Grafton yang basah itu. Ada satu robot yang bahkan sampai kejang sebab adanya reaksi air dengan listrik di tubuhnya.

Ekor mata Ruthven dapat melihat rambut Renee, namun ia tak terlalu mempermasalahkannya, berhubung ia tahu bagaimana sifat gadis ini jika disinggung tentang hal yang tidak disukainya—jelas sekali ia terlihat kesal dengan perubahan gaya rambutnya yang tidak disengaja.

Ngiiing! Nguing, nguing!

Ruthven dan Renee menoleh ke belakang. Tak ada cahaya yang nampak, namun mereka tahu beberapa mobil polisi sedang mengarah ke daerah Grafton.

“Ayo, kita harus segera pergi dari sini,” tanggap Ruthven cepat, disambut anggukan Renee. Mereka segera berlari mengarah kembali ke motel. Tetapi kembali ekor mata Ruthven yang sensitif itu menyadari ada sesuatu. Kali ini, bukan dari seorang Renee, melainkan dari tembok sebuah bangunan di Grafton Street.

Matanya membulat kaget melihat sesuatu yang ada di tembok tersebut. Langkahnya terhenti, membuat Renee terpaksa menghentikan langkahnya juga. Ia mendekati kawannya yang masih termengu kaget itu.

“Hei! Ayo, cepat! Polisi akan datang!” tukas Renee sambil memegang tangan Ruthven dan menggoyang-goyangkannya. Tetapi Ruthven tak merespon. Malahan, tangannya yang tak terpegang oleh Renee melepas sebuah kertas yang tertempel di tembok itu. Renee memicingkan matanya melihat tingkah laku Ruthven, namun kemudian ia juga ikut menjadi shock begitu melihat isi kertas yang Ruthven pegang sekarang.