Senin, 05 Juli 2010

Chapter 8: Chosen (part 2)

“HA, kau lihat itu?!”

Tiffany dan Celiann terbahak melihat layar netbook. Lebih tepatnya, mereka terbahak melihat objek pada layar tersebut yang ditunjuk Zach. Seorang bodyguard baru saja berputar terhunyung layaknya orang mabuk di tepi danau, dan saat itu juga, seorang bodyguard yang meleng berlari menabraknya, sehingga kedua bodyguard itu sukses jatuh ke dalam danau dan tenggelam.

“Lihat—bahkan mereka tak punya kekuatan untuk setidaknya mengangkat tangan dan meminta tolong!” Tiffany menyeka air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

“Dan tak ada satupun yang menyadari tenggelamnya mereka—oh, kasihan sekali!” tawa Celiann.

Ya, sedari tadi, mereka terus menertawakan tingkah laku konyol para bodyguard yang sudah kelelahan dan tak sanggup berlari lagi—apalagi dihadang oleh hujan yang terus turun. Tiffany mengendalikan CCTV yang berada paling dekat dengan danau, sehingga mereka bertiga dapat melihat pemandangan yang menjadi bahan tertawaan itu.

Di tengah-tengah tawanya, sudut mata Tiffany dapat melihat ada sesuatu pada taskbar-nya. Tulisan.

Tiffany Sherrine (tiffsher@mail.co.uk)
Inbox: 103
Spam: 8 (1)

Ia lupa ada WiBro yang tampaknya berasal dari dalam mansion, sehingga ia bisa mengakses internet. Tulisan di taskbar itu rupanya adalah status dari alamat e-mail miliknya. Ia mengernyit melihat angka satu yang terkurung di sebelah angka delapan. Ada surat yang belum terbaca. Surat itu memang terletak di spam. Tetapi kadang server e-mail-nya suka menaruh e-mail penting ke folder spam.

Maka ia menggerakkan cursornya membuka folder spam, dan dahinya makin mengerut begitu melihat pengirim surat tersebut.

From: Fey Hartwell (fey_hartwell@mail.co.uk)
Subject: (No subject)

“Fey mengirim e-mail?” gumam Tiffany pelan, sampai Zach dan Celiann—yang sibuk mengobrol di belakang tentang para bodyguard bodoh itu—tidak mendengarnya. Ia membuka e-mail tersebut dan dapat melihat sebaris pesan dari Fey.

Kurasa ini dapat membantumu. Kutemukan dari sebuah buku yang kubaca.

Tiffany melirik ke bawah pesan itu. Matanya agak membulat membaca judul artikel tersebut.

“Pedang Api Abadi...?”

Ia pun mulai membaca artikel yang diberikan oleh Fey tersebut.

Pedang Api Abadi
Pedang Api Abadi ialah pedang yang dimiliki oleh Siegfried Acklesenn, seorang pria asal Irlandia yang berhasil menghentikan Leonas dan Hujan Kenelzh yang dibuatnya. Sekarang, pedang ini tak diketahui keberadaannya, meskipun banyak yang mengatakan bahwa pedang ini bersemayam bersama jenazah Siegfried pada makamnya—yang juga tak diketahui keberadaannya.

Paragraf itu memang biasa saja. Bagi Tiffany, paragraf berikutnya adalah paragraf yang mengguncang pikirannya.

Menurut cerita yang beredar, pedang ini memiliki koneksi dengan pemiliknya—dalam kasus ini adalah Siegfried Acklesenn. Pedang ini tak bisa digunakan oleh sembarang orang. Pedang itu sendiri yang akan menentukan siapakah yang pantas menggunakan pedang itu.Orang itu haruslah orang yang kuat dan tidak memiliki rasa takut.

Ia makin tercengang begitu melihat kalimat terakhir dari paragraf kedua itu.

Jika orang yang tidak pantas memegang pedang ini, maka konon katanya pedang itu akan menghantarkan panas yang membuat darah mendidih.

Matanya terpaku pada kalimat itu. Mulutnya mengaga lebar karena kaget. Oh, tidak, oh tidak...

“Kita harus segera menyusul mereka!” Tiffany tahu-tahu bangkit dan berlari, membuat Celiann serta Zach kaget bercampur panik. Mereka segera mengejar Tiffany yang sudah tergopoh-gopoh memasuki mansion Acklesenn.

“Hei, hei! Tunggu—ini payungnya!!” Dan bahkan seruan Zach itu tak digubris oleh Tiffany.

***

“Apa...ini...?”

Stephen, Ann, dan Vincent masih tercengang dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Di ujung ruangan itu, sebuah rangka yang sudah berwarna cokelat dan mengenakan baju zirah bersandar di dinding. Berbagai hewan antropoda sudah mengerubunginya—jelas membuat Ann jijik. Namun kemudian, mata mereka bertiga terpusat pada benda yang tertancap di tanah, berada di samping jasad tersebut.

“Pedang...Api...Abadi...” bisik Vincent. “Tak salah lagi. Ini adalah makam Siegfried Acklesenn.”

“Jadi maksudmu jasad di sana adalah Siegfried?” tanya Ann. “Jelas sekali dia tidak mendapat perawatan tubuh sebelum mati. Aku bisa membuat makalah sejarah tentang tidak adanya keberadaan salon dan alat kecantikan pada abad 14.”

Stephen menatap Pedang, kemudian jasad Siegfried, kemudian Pedang, Siegfried, Pedang, dan akhirnya ia terfokus pada pedang tersebut. Dengan mantap, ia pun mengambil satu langkah.

“Tunggu.” Tapi bahkan tepat pada saat telapak kakinya akan berpijak untuk membuat langkah pertama, kembali Vincent mencegah. “Menurutmu kita harus langsung mengambil pedang tersebut? Bukankah baiknya kita menunggu Tiff?”

Stephen mengernyit. “Untuk apa?”

“Aku setuju dengan Vincent,” ujar Ann. “Lebih baik kita menunggu Tiff—dia lebih paham soal pedang ini. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika pedang ini kita ambil tanpa izin.”

“Ck, ayolah!” dengus Stephen. Kini ia sudah berada di samping pedang tersebut. “Dia sudah mati, Ann. Lagi, kita mengambil pedangnya untuk kebaikan.” Bersamaan dengan itu, Stephen mencabut pedang tersebut dari tanah dan mengacungkannya kepada Ann dan Vincent. Pedang itu sama sekali tak termakan oleh waktu; tak ada sedikit pun karat yang menodai pedang tersebut. Malahan, pedang itu tampak berkilau, membuat Stephen, Ann, dan juga Vincent tak berkutik di hadapannya.

DRRR!

Tapi kemudian, terasa guncangan pada ruangan itu, membuat beberapa kerikil dan debu jatuh dari langit-langit ruangan. Mereka bertiga saling melempar pandangan, dan tanpa saling mengucap sepatah kata pun dan tanpa berpikir panjang, mereka segera berlari menyusuri terowongan dan sampai di ujung. Menengadah ke atas, mereka melihat Renee dan Ruthven. Dan tanpa aba-aba, kedua orang itu berusaha menolong mereka bertiga untuk naik, sebelum akhirnya lubang itu tertutup kembali secara ajaib tanpa meninggalkan bekas apapun.

Mereka berlima menatap area yang tadinya merupakan lubang menuju makam Siegfried itu dengan tatapan heran dan kaget. Tapi tak lama kemudian, suara langkah dari belakang membuat mereka berbalik. Dan dari jarak lima belas meter, mereka dapat melihat Tiffany, Zach, dan Celiann sedang berusaha mendekati mereka.

“Tunggu! Jangan dia—astaga....” Seruan Tiffany itu kemudian berubah menjadi sebuah bisikan begitu ia telah mendekat. Ia menatap pedang yang dipegang Stephen dengan tatapan tak percaya. Berkali-kali bibirnya berkontur membentuk kata “astaga” yang sama sekali tak terbaca maupun terdengar oleh kawan-kawannya.

“Ya, Tiff.” Renee tersenyum lebar, mengira bahwa Tifany kaget dan senang melihat pedang yang dipegang Stephen. Ia mengambil satu langkah ke depan, sehingga kini jaraknya tinggal sepuluh sentimeter.

“Kita telah mendapatkannya,” ucap Renee sembari berbalik kepada Stephen yang ada di belakangnya. “Pedang Api Abadi.” Renee mengulurkan tangannya. Dengan itu, Stephen tahu bahwa Renee ingin mengambil pedang tersebut. Maka ia pun menyodorkannya kepada Renee. Segera Tiffany sadar.

“Jangan!”

Ctak!

Terlambat.

Ting!

“AWW!” Renee cepat-cepat mengibaskan tangannya, membuat pedang itu jatuh ke tanah berumput yang basah itu. Ia menatap Stephen dengan tatapan tak percaya sekaligus kesal.

“Sialan! Kau mencoba untuk membunuhku, ya?!” tanya Renee marah besar, kini memegangi telapak tangannya. “Tadi itu panas, tahu?!”

“Apa?! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa!” Stephen mencoba membela diri. Masih menatap Renee dengan sebal, ia berjongkok dan mengambil pedang itu kembali.

“Tidak bisa sembarang orang yang memegang pedang tersebut.” Begitu Stephen menggenggam pedang tersebut, suara Tiffany terdengar di telinganya. Ia bangkit dan menatap Tiffany seperti yang kawan-kawannya lakukan sekarang.

“Hanya orang-orang terpilih lah yang dapat memegang dan memiliki pedang tersebut. Orang yang tidak kenal akan rasa takut,” terang Tiffany perlahan-lahan. “Jika pedang itu dimiliki—tidak, bahkan disentuh oleh orang yang tidak terpilih, maka pedang itu bisa menghantarkan panas yang mematikan.”

Dengan berakhirnya penjelasan itu, maka tak pelak, semuanya menegakkan kepala dan menolehkannya kepada satu titik. Titik yang sebenarnya adalah orang yang berdiri di tengah-tengah mereka dan menggenggam pedang pada tangannya.

“A-apa...?”

“Stephen Wickliff,” ucap Tiffany. “Kini kau adalah pemilik dari Pedang Api Abadi itu.”

Jumat, 02 Juli 2010

Chapter 5-Move, Fight, Get Back

Elsenn membuka matanya dari tidur nyenyaknya sejak seminggu yang lalu ia tidak bisa tidur sedikitpun karena menahan sakit. Sakit di kakinya akibat terjatuh saat pertandingan lari estafet itu. Untungnya, gara-gara ia terjatuh, kemenangan kelasnya tidak terlepas. Pada akhirnya kelasnya menang. Ia harus berterimakasih pada Dillon dan Ruthven, yang berlari setelahnya, tentunya pada Celiann juga karena gadis itu telah menolongnya.

          Boleh dibilang, ia jatuh tanpa sebab yang jelas karena sejak awal pertandingan ia merasa kakinya sakit namun tidak ada luka. Karena sakit itu pula, ia merasa kesal dan akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya saat berlari. Namun semakin banyak kakinya digerakkan, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sejak ia menabrak seorang perempuan yang tak lain adalah lawannya saat itu, ia mulai merasakan sakit di kakinya. Ya, sejak bertemu dia. Elsenn bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mengamati sesaat kakinya yang mulai berwarna kebiruan. Ia tak mengerti mengapa. Ia pun cengan cepat memakai seragamnya, meraih tas dan laptopnya kemudian keluar dari kamarnya, berjalan menuju gedung sekolahnya.

          “Pagi, Elsenn!” sebuah suara menyadarkannya dari lamunannya. Sosok Dhynella sudah muncul tepat di samping Elsenn, tersenyum ceria seperti biasanya. Elsenn hanya bisa memberinya senyum palsu.

          “Bagaimana kondisi kakimu?“ ujar Dhynella lagi.

          “Sudah lebih baik dari seminggu lalu, Dhyn,” balas Elsenn berbohong.

          “Oh, ya? Baguslah kalau begitu. Membosankan sekali kalau bukan kau yang biasanya.” Dhynella tersenyum lagi pada Elsenn, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

          Thanks,” hanya kata itu yang mampu Elsenn ucapkan dari mulutnya. Dhynella menepuk punggungnya friendly kemudian berlari ke arah Adelaide yang baru saja melambaikan tangannya pada keduanya.

          Elsenn menghela nafas. Dhynella bukanlah orang pertama yang ia bohongi. Ia menahan sakit setiap harinya dan itu jelas sangat berat untuknya. Ia tidak mengerti. Ya, hanya tidak mengerti. Tapi apakah ketidakmengertiannya itu malah membawanya kepada kemungkinan hal yang buruk lagi? Elsenn selalu mengatakan pada dirinya sendiri, berulang-ulang kali. Ia bahkan tidak bisa menceritakannya pada Reo, sahabatnya yang paling ia percaya, juga Erissa, saudaranya sendiri. Tapi ia tahu, kali ini ia pasti dapat melakukan segalanya sendiri. Ya, ia akan meminta penjelasan perempuan yang telah menabraknya sebelum pertandingan itu. Ia tahu betul ini pasti ada kaitannya dengannya. Michelle Northan, si bungsu dari salah satu keluarga mafia terbesar di dunia.

 

***

 

Perpustakaan Phoenix of Kronosa. Sepulang sekolah.

          “Rin? Kau baik-baik saja?” tanya Reo khawatir saat melihat perubahan muka sahabatnya itu saat menatap sebuah pedang kecil di tangannya, yang terbuat dari perak itu. Lagipula ia juga tak mengerti bagaimana bisa dia membawa benda seperti itu, tanpa perasaan khawatir jika ada saja guru yang melihatnya.

          “Tidak,” balas Ruine dengan penuh kejujuran. Ia memandangi pedang di depannya beberapa detik lagi kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Reo dan berkata, “kenapa kau melihatku seperti itu?”

          “Ah… aku tidak habis pikir kenapa kau sampai serius melayani setiap kata-kata dan permainan Nellson. A-aku tidak tahu mengapa dia melakukan ini dan siapa dia sebenarnya, tapi ini yang paling aku takutkan dari dulu. Kalau kau sudah terlibat dengannya, kau tidak bisa kembali lagi.”

          “Aku tidak bodoh, Reo. Aku tahu semuanya. Aku selalu tahu semuanya tentang kalian.”

 

Kelas IX-6. Pada saat yang sama.

          “Jadi… kau belum menemukan kaset rekamannya?” tanya Adelaide untuk ketiga kalinya. Ia tidak yakin pada apa yang ia dengar dari Irish, bahwa kaset rekaman dari handycamnya hilang dan tidak dapat ditemukan. Dan Irish, untuk ketiga kalinya menggeleng.

          “Ada, lagipula itu hanya kaset rekaman, kan. Yang penting handycammu tidak hilang. Apa ada sesuatu yang sebelumnya telah kau rekam disana?”

          “Irish, kaset rekaman itu lebih penting dari rekaman-rekaman yang sebelumnya. Ehm, begini Irish Aldaine, kau tentu dapat melihat dengan jelas Elsenn jatuh saat pertandingan itu, kan? Aku mulai merasakan ada hal yang tidak wajar dengannya mengingat Elsenn tidak mudah kehilangan energinya seperti itu KECUALI dia telah mengalami sesuatu sebelumnya. Dan kau ingat, sebelum mereka ada di stadion, secara otomatis mereka pasti ada di ruang tunggu dan handycamku adalah satu-satunya alat yang merekam seluruh kejadian di bagian lorongnya. Jadi, dengan kata lain, aku yakin ini pasti ada kaitannya dengan hilangnya kaset rekamanku yang terakhir!”

          “Adelaide Holywell! Hentikan permainan detektif-detektifanmu itu! Memangnya para senior mau melakukan apa pada Elsenn?”

          “Sesuatu yang berbahaya, jelas!” Ada berteriak lebih keras. Mukanya memerah setiap detik ia menarik nafas dan berusaha agar suaranya lebih keras daripada Irish.

          “Kubilang hentikan analisa asal-asalanmu itu!”

          “Aku tidak-

          “Hentikan,” ujar Stephen pelan, seraya memasuki kelas dan menatap Irish dan Ada, satu per satu. Meneliti raut muka mereka. Kemudian dia menarik lengan Ada, memaksanya agar dia mau mengikutinya keluar kelas.

          “Apa… Stephen?”

          “Benarkah apa yang kau katakan tadi?” tanya balik Stephen.

          “Apa…?”

          “Benarkah… Elsenn dalam bahaya?” suara Stephen memelan, seolah-olah ia takut akan kenyataan yang akan diberikan Ada.

          “Ya, mungkin benar apa kata Irish kalau aku hanya menganalisa asal-asalan, tapi dugaanku tidak pernah salah.”

          “Terus cari kaset rekaman itu. Aku akan membuat Elsenn bicara.”

 

***   

 

          “Astaga, Elsenn. Ada apa denganmu?!” tanya Stephen panik saat melihat lebam-lebam di wajah Elsenn. Begitu juga dengan kedua tangannya, bahkan terdapat goresan-goresan layaknya telah dikenai benda tajam. Kemeja putihnya bernodakan darah, entah darahnya atau darah orang lain. Dan saat melihat kakinya, ia menatap tak percaya bahwa ada darah yang sedikit demi sedikit terus mengalir. Pandangannya sayu, mukanya sangat pucat, dan ia terlihat lemas sekali.

          Stephen segera meraih tangannya dan memapah Elsenn masuk ke dalam kamarnya. Dibantunya Elsenn agar ia dapat berbaring di tempat tidur. Ia pun meraih jaketnya dan berniat untuk keluar asrama, mencari pertolongan. Tapi Elsenn menarik tangannya, dan mengatakan satu kalimat di sisa-sisa kesadarannya,

          “Reo… kau hanya boleh… memanggil Reo.”

Chapter 4-Lose or Die

Pelajaran olahraga hari ini sungguh membosankan karena Mr. Haphfurd, entah kenapa sejak tadi tak bosan-bosannya membolak-balik daftar nilai kelas mereka. Dan pandangannya, serius sekali sampai Miles saja tak berani menegurnya. Guru yang masih berumur 19 tahun itu melakukannya seraya mengunyah satu potong sandwich di mulutnya. Sesekali telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, mengenyahkan keheningan. Sampai akhirnya, dia menghentikan semua aktivitasnya dan menatap lurus ke depan, menatap seluruh muridnya. Kontan semuanya menegakkan tubuhnya. Dan akhirnya dia berbicara.

          “Celiann, Dillon, Elsenn, dan Ruthven. Kalian berempat akan mewakili kelas ini untuk mengikuti lomba lari estafet. Sepulang sekolah nanti kita akan mulai berlatih di lapangan atletik Phoenix of Kronosa. Dan untuk sementara ini, tidak ada olahraga dulu.”

          Dillon bersorak. Elsenn yang tadinya menopangkan kepalanya di kedua tangannya, menatap Mr. Haphfurd tidak berminat. Ruthven menatap guru itu tidak percaya, mengingat larinya tidak tergolong sangat cepat. Celiann memiliki pandangan yang persis seperti Ruthven. Setidaknya itu memberikan alasan bagi Mr. Haphfurd untuk mempertimbangkan sekali lagi keputusannya. Namun ia berjalan keluar kelas begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun. Celiann merengut kesal.

          “Celiann sukses ya!” seru Shann tidak memperdulikan apa yang Celiann rasakan saat ini. Satu, ia satu tim dengan dua orang laki-laki yang dibencinya, Dillon dan Elsenn. Ia tak masalah akan kehadiran Ruthven, tapi lain jika kedua orang pembawa masalah itu. Dua, waktunya untuk bermain dan beristirahat menjadi berkurang karena kemungkinan besar latihan akan diadakan setiap hari mengingat lomba akan berlangsung seminggu lagi. Tiga, ia tidak punya cukup waktu untuk berfikir mengenai permainan Nellson, padahal ia mungkin hanya orang satu-satunya yang memperdulikan akan hal itu sampai tidak sempat memikirkan hal lain. Beruntung hasil try out ketiga yang diadakan tidak lama setelah try out kedua lebih bagus tentunya.

          “Celiann, aku tidak peduli kau mau mati atau tidak, yang penting kau harus menang!” ujar Audrey yang tidak kalah tidak berperasaannya. Seluruh murid Deordical Academy dari berbagai tingkatan dan section, seluruhnya pasti tahu sebuah perlombaan sudah seperti deklarasi perang antara murid-murid senior dan murid-murid junior. Celiann menatap kedua sahabatnya dengan tatapan putus asa namun pada akhirnya ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa bersiap sepulang sekolah nanti.

 

          ***

 

Lapangan atletik Phoenix of Kronosa. 14.20 AM.

       Mr. Haphfurd melirik jam tangannya. Kemudian ia melayangkan pandangannya kembali ke arah keempat muridnya. Dillon, yang memang dikenal sebagai pelari tercepat di tingkat junior telah menyelesaikan lima putaran lapangan sebagai latihan hari ini sejak tiga menit yang lalu dan kini sedang beristirahat di pinggir lapangan. Sedangkan Ruthven, ia sudah menyelesaikan empat putaran tanpa berkata-kata karena ia tahu percuma saja ia melayangkan protes kepada Mr. Haphfurd.

          Mr. Haphfurd kemudian memandangi Elsenn dengan pandangan kesal. Ia baru saja berlari untuk putaran keempat dengan santai. Ia tak peduli Mr. Haphfurd mengamatinya dari jauh atau tidak, ia hanya berlari sesukanya. Celiann sendiri mulai terengah-engah saat menyelesaikan tiga putaran penuh apalagi Mr. Haphfurd memandanginya seolah-olah ia adalah anak yang tidak berguna.

          Mr. Haphfurd kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan atletik itu. Ia merasa ada yang mengamatinya, entah dari dekat atau dari jauh. Tubuhnya kemudian terpaku saat melihat seorang perempuan tiba-tiba ada di dekatnya. Perempuan itu tidak memperdulikan reaksinya, ia hanya mengamati dengan santai ketiga temannya yang masih ada di lapangan. Mr. Haphfurd hampir saja mau berbicara, namun perempuan itu terlebih dahulu berujar,

          “Siang, Mr. Haphfurd. Maaf mengganggu sesi latihanmu.” Ruine melirik ke arah guru itu seraya tersenyum miring. Mr. Haphfurd berusaha bersikap acuh tak acuh saat mendapat tanggapan santai dari perempuan itu.

          “Apa yang kau lakukan disini, Ruine Ashhford?” tanyanya dingin.

          “Melihat mereka latihan,” jawab Ruine polos.

          “Maksudku, mengapa kau hadir tiba-tiba di sampingku? Aku banyak mendengar reputasi tidak wajar tentangmu dari murid-muridku.”

          “Apa… anda juga masuk dalam permainan Nellson? Aku melihat kombinasi yang tidak bagus dalam pengelompokan mereka untuk lomba lari estafet. Tapi setelah kupikir lagi, pasti tidak akan ada jawaban, kan?”

          Mr. Haphfurd berusaha tidak menanggapinya. Namun kemudian ia menatap Ruine dengan pandangan kosong kemudian berkata,

          Silly. Kau selalu berpikiran buruk, ya.”

 

***

         

          Ruthven merenggangkan badannya selagi menunggu intruksi selanjutnya dari Mr. Haphfurd. Namun pandangan matanya tidak lepas dari Mr. Haphfurd yang menghabiskan waktunya sejak satu jam yang lalu berbicara di handphonenya. Mau tak mau ia penasaran siapa yang menghubungi Mr. Haphfurd sampai selama itu. Ia pun mengambil botol minumnya, dan menghabiskan setengah dari air mineral di dalamnya. Pandangannya kemudian terpaku pada Neff, yang baru saja memasuki lapangan atletik Phoenix of Kronosa, melambaikan tangannya pada dirinya kemudian berlari ke arahnya. Saat Neff di depannya pun Ruthven hanya kebingungan menatapnya.

          “Kau menyambutku seperti musuh saja. Padahal aku sudah merelakan waktu dan tenagaku untuk melihatmu berlatih disini,” ujar Neff.

          “Aku tidak butuh kau melihatku. Kau pasti ada perlu dengan Dillon, kan?”

          “Ya, mengingat ada penyaringan pemain untuk klub sepak bola, aku mau bertanya bagaimana detailnya. Tapi keadaanmu rasanya juga perlu dikhawatirkan.”

          “Apa?” Ruthven bertanya skeptis.

          “Kau tidak apa-apa sejauh ini? Pertandingannya dua hari lagi dan kami tidak akan memaafkanmu kalau kau kalah.”

          “Memangnya apa lagi yang dikatakan para senior itu?”

          “Aku tidak tahu pasti tapi sejak kejadian antara Chloe-Nellson-Arriley itu, rumor tentang skandal kepala sekolah kita diangkat kembali karena belum sempat diselesaikan. Jadi selain aku khawatir padamu, lebih tepatnya karena kemampuan larimu yang tidak sangat cepat, aku agak khawatir pada Celiann. Kecil kemungkinannya, kalau ia bilang ia tidak tahu masalah rumor itu.”

          “Oh ya? Tapi sejauh ini dia terlihat baik-baik saja. Dan tolong jangan mengejekku dengan frontal seperti itu.”

          “Ups, maaf, maaf. Lalu, kenapa aku merasa juga ada yang aneh dengan Mr. Haphfurd hari ini. Dia begitu menikmati waktunya melalui pembicaraan di teleponnya itu.” Ruthven mengangguk.

          “Ah, aku mengerti,” kata Neff lagi, “hanya satu orang yang dapat membuatnya berlama-lama di telepon. Nellson Authbert.” Satu-satunya orang yang paling mengerti semua hal di dunia ini.

 

Ruang Teknisi. Stadion utama Deordical Academy. 07.23 AM.

       “Irish! 25 kamera pengawas di tribun timur sudah siap, sedangkan di tribun barat, baru 23 kamera pengawas yang aktif,” ujar Allisha, salah satu panitia dari kelas 92. Sebuah kamera yang sejak awal dikalungkan di lehernya tidak juga dilepaskannya sejak dua jam yang lalu. Irish mengangguk kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke seratus dua puluh layar di depannya, memastikan tepat jam delapan nanti, semua kamera pengawas sudah menyala.

          “Ms. Aldaine! Kita kekurangan dua bangku di ruang VIP.” Kali ini salah satu junior yang memanggilnya. Irish, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar, menunjuk Allisha. Irish memutar matanya saat hampir seluruh kamera menyala, hanya tersisa dua kamera. Satu kamera, sekarang. Irish mengetuk-ngetukkan jarinya kesal, karena satu kamera itu tidak juga menyala padahal waktu pertandingan tinggal lima menit lagi.

          “Allisha!”

          “Duh, Irish, tidak perlu berteriak begitu, aku di dekatmu. Ada apa?” balas Allisha.

          “Kenapa sejak tadi kamera nomor sepuluh tidak menyala?”

          “Oh ya? Di bagian mana?” Irish segera menunjuk laptopnya, lebih tepatnya ke sebuah titik bertuliskan angka romawi sepuluh. Allisha mengerutkan dahinya, kemudian mengangguk-angguk mengerti.

          “Lorong dekat ruang tunggu, ya. Kemarin saat aku melihatnya, kondisinya masih baik-baik saja. Mungkin kamera itu rusak. Lagipula, Irish, lokasi itu sepertinya hanya dilalui para peserta yang bertanding di waktu terakhir, kan. Kurasa tidak ada masalah akan itu dan kita juga tidak punya waktu lagi.”

          “Kita harus mencari penggantinya. Apapun yang dapat digunakan sebagai pengganti kamera pengawas itu, kita harus tetap mencarinya,” balas Irish keras kepala.

          “Irish! Bagaimana persiapannya?” seru Adelaide saat ia melenggang masuk dengan santai, tidak peduli tatapan beberapa murid yang masih sibuk di dalam ruangan itu. Irish sendiri menatapnya dengan mata terbinar-benar, lebih tepatnya ke arah sebuah handycam yang sedang digenggam Ada.

          “Ada, kumohon pinjamkan handycammu!”

 

Ruang Tunggu. Stadion Utama Deordical Academy. 11.35 AM.

          Dillon memastikan untuk kedua kalinya bahwa tali sepatunya telah terikat, kemudian ia memandang ketiga temannya yang masih sibuk mempersiapkan diri mereka. Celiann yang sedang memasang ikat kepalanya kemudian Elsenn dan Ruthven yang sibuk membaca sesuatu yang ada di lembaran-lembaran kertas yang sedang mereka genggam.

          “Apa yang kalian baca?” tanya Dillon. Elsenn hanya mengangkat kepalanya kemudian ia mengacuhkan sahabatnya, kembali pada kertas-kertas itu. Sedangkan Ruthven, ia tidak memperdulikan pertanyaan Dillon sekalipun sehingga membuat prince charming itu mendengus kesal. Celiann menahan tawanya saat melihat Dillon seperti itu, karena biasanya ia-lah yang selalu ada di pihak yang menahan kekesalan.

          “Mereka sedang membaca data tentang lawan terakhir kita,” ujar Celiann, menjawab pertanyaan Dillon. Dillon menatap Celiann, kemudian ia menatap kedua teman laki-lakinya, dan kembali menatap Celiann lagi. Ia pun berjalan mendekati Celiann dan menarik tangannya, kemudian membawanya keluar ruang tunggu. Elsenn mengangkat kepalanya lagi, melirik ke arah pintu ruang tunggu, kemudian tertawa kecil.

          “Apa yang kau tertawakan, El?” tanya Ruthven kebingungan.

          “Kau lihat tampang Dillon tadi. Hah! Ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu! Lucu sekali!” Tawa Elsenn semakin keras.

          “Hei, lebih baik kau susul dia sebelum dia semakin marah padamu.”

          “Yah! Memangnya kau mau apa lagi? Pertandingan kita sudah sebentar lagi, kaut tahu?” Ruthven menunjuk kedua sepatunya yang belum terikat rapi. Elsenn mengangkat bahunya kemudian keluar dari ruang tunggu, berlari kecil. Ruthven segera mengikat tali sepatunya, namun setelah itu bukannya keluar dari ruang tunggu ia meraih kertas-kertas yang sengaja ditinggalkan Elsenn. Ia hanya perlu membaca data satu orang lagi. Ia meraih kertas itu, baru beranjak dari ruang tunggu.

          “Ouch!” Ruthven kemudian mendengar suara rintihan dua orang, namun dengan tipe suara yang berbeda. Ruthven mempercepat jalannya kemudian melihat Elsenn terjatuh terduduk dan juga seorang perempuan yang sama-sama terjatuh, tepat di atas Elsenn. Perempuan itu segera bangkit dan berkali-kali meminta maaf pada Elsenn kemudian ia berbalik, ke arah stadion. Ruthven menatapnya lekat-lekat, kemudian dia beralih menatap selembar kertas yang ia bawa. Dia…

         

Stadion Utama Deordical Academy. 11.45 AM.

          “Pertandingan final antara kelas IX-6 dan X-2! IX-6 posisi pertama ditempati oleh putri kepala sekolah kita, Celiann Amherst! Posisi kedua, Elsenn Hantway. Posisi ketiga, Ruthven Ecclair. Dan posisi terakhir, Dillon Humphrey! Sedangkan X-2, posisi pertama ada Saphire Eloinne. Posisi kedua, Michelle Northan. Posisi ketiga, Nathaniel Holywell. Dan posisi terakhir, Nevian Hepburd. Nah, siapakah yang akan menang tahun ini?! Apakah sang senior, atau malah sang junior?? Ya, semua peserta telah bersiap di posisi masing-masing. One… Two… Three, GO!“

 

          Setelah pembawa acara meneriakkan aba-aba, Celiann segera berlari sebisa mungkin bukan secepat mungkin. Ia sebenarnya malas sekali harus mengikuti lomba ini kalau saja Mr. Haphfurd tidak memaksanya dan ini semua demi kelasnya. Entah apa yang ada di pikiran Mr. Haphfurd, padahal masih banyak anak laki-laki lainnya yang kemampuan berlarinya lebih cepat dari Celiann.

          Celiann kembali fokus. Dilihatnya Elsenn sudah menunggu di depan. Ia terlihat berkeringat padahal ia belum berlari dan ia terlihat seperti menahan sakit. Celiann mau tak mau mengerutkan keningnya, mengira-ngira apa yang telah terjadi pada Elsenn. Namun saat Elsenn menyambar tongkat kelas mereka dengan kasar, mau tak mau Celiann hanya mendengus kesal. Ia mengatur nafasnya, kemudian memperhatikan Elsenn berlari dengan kecepatan yang lebih baik daripada saat latihan. Namun Michelle, lawan mereka berada pada garis yang seimbang. Celiann tak menyangka kakak kelasnya itu dapat menyaingi kecepatan lari Elsenn. Celiann dari jauh terus menatap Elsenn. Namun ada yang aneh dengan laki-laki yang akhir-akhir ini suka membuatnya marah itu. Celiann dapat melihat kecepatannya semakin melambat. Dan kemudian, ia… jatuh.

          Celiann ingin berlari mengejar Elsenn, namun mengurungkan niatnya saat melihat Ruthven telah melakukan apa yang diniatkannya. Celiann kemudian berlari memasuki lorong di bagian tribun barat, dan berlari melewati lorong yang menuju tribun utara. Saat melihat Elsenn kesulitan membawa tubuhnya sendiri, Celiann mendekatinya kemudian memapahnya ke ruang kesehatan. Dan itu adalah pertama kalinya Celiann melihat Elsenn begitu lemah dan tidak bertenaga seakan-akan semua tenaganya telah terserap habis oleh suatu hal. Setelah Elsenn meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja, Celiann meninggalkannya sendirian di ruang kesehatan. Celiann kemudian berjalan dengan segala kebingungan akan kejadian tadi. Namun ia mengehentikan langkahnya saat melihat sosok Ruine. Ia memutuskan untuk menjulurkan sedikit badannya untuk mengintip apa yang sedang terjadi. Dan betapa kagetnya Celiann saat melihat Ruine meretakkan dinding lorong dengan sebuah pedang kecil tergenggam di tangan kanannya dan Nellson tepat persis di depannya. Mereka saling bertatapan tanpa mengeluarkan satupun kata. Celiann terus memperhatikan mereka sampai ia tiba-tiba melihat, sahabatnya itu menundukkan kepalanya tanpa melepaskan pedangnya dan ia juga melihat Nellson menyeringai lebar. Buruk. Namun di samping itu, semua berjalan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja meskipun pada akhirnya hal itu membawa masalah yang lebih buruk lagi dari sebelumnya.