“Celiann!“ Irish melambaikan tangannya. Terlihat Leslie dari belakang mengikutinya.
“Ada apa?“ balas Celiann. Ia terlihat lemas sekali hari ini. Selain karena ia lelah akibat patroli semalam, ia juga merasakan firasat buruk. Sudah seminggu ia menunggu permainan Nellson yang kedua setelah yang pertama, dua orang telah gagal. Nellson sepertinya sudah mengincar hal itu sejak awal, lagipula ia sepertinya tidak akan berani memasukkan Ruine ke dalam dewan keamanan.
“Hasil try out bersama kemarin sudah keluar, aku baru saja melihatnya di shield metal,” sahut Leslie. Celiann yang tadinya melamun menyebabkan ia hanya mengangguk acuh tak acuh. Ia pun mengutak-atik shield metalnya dan mencari namanya.
…
IPA : 85
Celiann Amherst
MTK : 60
B. Inggris : 90
IPA : 70
Chloe Sullivan
…
Celiann menatap shield metalnya dengan mata membesar dan mulut setengah terbuka. Apa-apaan nilai ini?! serunya dalam hati. Aku mengerjakannya dengan baik, tapi kenapa nilainya seperti ini?! Tidaaakkk! Semenit kemudian Celiann tidak merubah pandangannya. Ia juga terpaku di tempatnya. Sampai…
“Celiann! Kalau kau tidak cepat, kau akan terlambat masuk kelas!” seru Irish dari balkon kelasnya. Celiann mengerutkan keningnya kemudian hanya bisa menghela nafas panjang. Permainan keduakah?
Peraturan Deordical Academy nomor satu, jangan biarkan permainan menguasaimu.
***
Fey menyimak sederet paragraf yang baru saja ia baca di sebuah novel yang kemarin dipinjamnya dari perpustakaan yang berbeda dengan perpustakaan tempat ia menghabiskan waktu siangnya sekarang.
Aku adalah pengkhianat yang selamanya pengkhianat. Beribu-ribu kali aku mencoba tetap saja aku tidak dapat memasuki lingkaran itu lagi karena sejak awal aku adalah lingkup luar dari mereka. Selama aku di tempat ini, aku mengikuti seluruh permainan mereka, kemudian aku akan menghancurkannya. Ya, aku akan menghancurkan lingkaran itu dan membakarnya. Karena aku adalah pengkhianat.
Fey menghela nafas pendek saat kalimat itu mulai menggaung-gaung di dalam pikirannya. Ia tidak sanggup membaca lagi, kemudian merebahkan kepalanya di atas meja. Namun ia semakin membayangkan bagaimana akhir nasib si tokoh utama. Akankah dia tetap menjadi pengkhianat? Ataukah dia kembali dan membangun sebuah lingkaran baru? Sebenarnya jawabannya ada dalam dirinya sendiri. Karena dia adalah si tokoh utama itu. Tokoh utama dalam kisah hidupnya.
“Hei, sudah dengar tentang Nellson dan anak junior itu?”
Fey mengangkat kepalanya, membuyarkan paksa lamunannya, saat mendengar suara-suara di dalam perpustakaan itu. Ia pun mendengarkannya dengan hati-hati. Masalah Nellson dan anak junior yang tak lain adalah Ruine ini, cukup menarik perhatiannya.
“Ini pertama kalinya Nellson tertarik dengan anak junior. Katanya anak junior itu terus melawannya. Biasanya, tak ada yang berani kan, melawan Nellson itu?”
“Ya, apalagi kalau sudah terjebak dalam permainannya. Biasanya tak ada yang pernah selamat karena itu.”
Fey menaikkan sebelah alisnya kemudian matanya terpaku pada shield metal di tangan kirinya. Ia baru ingat, ia belum melihat nilai try out kedua yang dikeluarkan sejak tadi pagi. Tapi sebelum ia mencapai namanya, ia terpaku pada sebuah nama. Nilainya bisa dibilang buruk, namun bagi Fey itu justru menjadi pertanda bagus bagi dirinya. Ia meraih handphonenya kemudian mencari nama itu di phonebooknya. Setelah menemukannya, ditekanlah opsi call. Dua dering terlewat sampai sebuah suara dari lawan bicaranya, membuatnya tersenyum kecil.
“Celiann disini. Ada apa Fey?”
Ini kesempatanku untuk memenangkan permainannya, bisik Fey dalam hati.
***
Perpustakaan Phoenix of Kronosa. 14.34 PM.
“Kukira ada apa, ternyata kau mau mengajariku untuk mengikuti ujian susulan. Thanks, Fey,” ujar Celiann seraya meletakkan notebooknya di atas meja. Kemudian ia menarik sebuah kursi yang terletak tepat di hadapan Fey. Fey tersenyum kecil kemudian berkata,
“Kau sendirian?”
“Tidak. Tadi setelah kau menghubungiku, Ruu bersikeras ingin menemaniku sampai perpustakaan. Katanya sebagai sesama teman kita harus saling membantu. Dan kini dia menghilang entah kemana. Sepertinya ada yang ingin dia cari disini.”
“Ruine suka membaca buku?” Sial. Dia juga menyadarinya, pikir Fey.
“Sangat, Fey. Tapi akhir-akhir ini dia suka membaca buku-buku sejarah tentang keluarga-keluarga bangsawan di dunia.”
“Keluarga bangsawan? Apa kau tahu apa yang ia cari? Mungkin aku bisa membantunya.”
“Hmm… akhir-akhir ini dia berbicara tentang Gawlore dan Baskerville. Tapi aku tidak tahu, apa yang dimaksud dengan kedua kata itu. Aku pernah mendengarnya, tapi aku tidak pernah tahu bahwa itu merupakan keluarga bangsawan juga.”
Gawlore… dan Baskerville. Apa yang dia pikirkan? Fey berfikir lagi. Tapi ia tidak memiliki petunjuk lebih, kecuali… ia bertemu dan berbicara langsung dengan dia.
“Fey, kau melamun. Ada apa?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Kita mulai sekarang saja, Celiann.”
Celiann mengerutkan keningnya namun pada akhirnya dia hanya menjawab, “baiklah.”
“Hmm… sejarah… sejarah…,” Ruine kembali menelusuri setiap deret buku yang ada. Sebenarnya ia tak perlu repot mencari buku tentang sejarah keluarga Baskerville kalau saja topik itu ada di internet. Tapi sayangnya tidak ada satupun yang menunjukkan hasil pencarian itu. Dan ia hampir saja bosan kalau sekarang jarinya tidak menunjuk pada sebuah buku berjudul History of Baskerville.
Buku tebal dengan hardcover pula, ditariknya dengan tangan kanannya. Tiba-tiba lemari di samping lemari terletaknya buku itu runtuh ke dalam tanah dan memunculkan sebuah pintu besar berarsitektur mewah. Disentuhnya pintu itu dan merasa bahwa pintu itu sudah lama ada. Setelah berfikir sebentar diletakkanlah kembali buku itu tanpa berniat untuk membacanya sedikitpun dan pintu itu menghilang seperti sedia kala. Ruine tersenyum kecil, kemudian ia segera pergi dan mencari Celiann. Ia pun menemukan Celiann dan Fey yang sepertinya masih belajar bersama. Ruine yang tadinya berencana untuk meninggalkan mereka berdua, terdiam di tempatnya saat melihat Fey menyadari kehadirannya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat keduanya. Ia agak kaget saat Fey tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya. Ruine pun menyambut tangannya disertai dengan sebuah senyum miring. Setelah melepaskan tangan masing-masing, Ruine pun membiarkan keduanya kembali masuk ke dalam dunia mereka. Ia sedikit mengasihani Fey, karena ia tidak tahu apa yang dirinya tahu. Permainan kedua, kau berhasil. Namun permainan ketiga, kau gagal Fey, bisik Ruine dalam hati. Karena aku tahu, apa yang kau tidak tahu.



